SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
ORANG TUA


__ADS_3

Revan terkejut bukan main melihat foto yang kini ada dilayar ponselnya, foto yang dikirim oleh nomor tersebut.


"Reana," lirih Revan dengan tangan terkepal dan segera berbalik berlari keluar dari kelas.


Revin, Reon dan Carlos terdiam melihat Revan yang tiba-tiba berlari keluar dari kelas. Mereka bertukar pandang satu sama lain dengan alis yang mengerut.


"Brother!" teriak Revin dan berlari mengejar Revan, diikuti oleh kedua sahabatnya.


Revan terus berlari tanpa peduli dengan teriakan tiga orang yang terus mengejarnya di belakang. Hanya ada satu hal fikirannya saat ini, yaitu keselamatan adiknya.


"BROTHER TUNGGU!" teriak Revin lalu segera mengapai tangan kakaknya itu, hingga membuat Revan menoleh padanya dengan wajah khawatir.


"Ada apa?" tanyanya dengan keringat yang bercucuran membasahi kening dan pipinya.


Reon dan Carlos berhenti disamping Revin dengan nafas yang tidak beraturan karena mengejar dua bersaudara itu.


"Reana, Reana dalam bahaya," ucap Revan dengan kekhawatiran yang terlihat jelas diwajahnya.


Revin, Reon dan Carlos bingung dengan apa yang mereka dengar, Revin meraih ponsel yang digenggam oleh Revan dan melihat jelas foto Reana saat menyalakan layar ponsel itu.


"Sialan!" umpat kesal Revin dengan menggenggam erat ponsel Revan.


"Brother, kau mau kemana?" tanya Revin saat melihat sang kakak yang berniat pergi dari sana.


"Melindungi Rania," ucap Revan lalu segera berlari untuk mencari kendaraan yang akan membawanya kesekolah Rania.


Revin, Reon dan Carlos mengernyit bingung, foto yang ada diponsel itu adalah Reana, lalu kenapa Revan mencari Rania?


Tiba-tiba mereka merasakan sesuatu yang ganjil, orang itu tidak mungkin bisa melukai Reana. Karena Reana berada pada pengawasan Arian.


"Sialan!" umpat mereka bertiga ketika menyadari jika orang itu berusaha mempermainkan mereka.


Sudah jelas jika orang itu tidak bisa melukai adik mereka di negara A, karena disana ada ayah beserta Dragon night yang setia melindungi tiga adik mereka. Jadi target orang itu adalah Rania, orang yang disayangi oleh Revan.


"Kalian pergi kembali ke kelas, aku akan menyusul Brother," titah Revin lalu segera berlari dan menghentikan taksi yang melintas.


Carlos dan Reon terdiam melihat hal itu, lagi-lagi Revin memerintah mereka untuk masuk kekelas, yang sama saja jika mereka tidak boleh ikut menyusul Revan.


"Apa kita harus mematuhi yang dia bilang?" tanya Carlos dengan menatap taksi yang membawa Revin menyusul Revan yang sudah pergi lebih dulu.


"Aku rasa tidak perlu ikut. Karena sepertinya mereka bisa menyelesaikannya, jadi sebaiknya kita masuk ke kelas untuk memberikan mereka ijin pada dosen yang mengajar nanti," ucap Reon dengan menatap kosong kedepan, entah mengapa ia merasa jika salah satu dari temannya itu akan terluka.

__ADS_1


"Kau yakin?" tanya Carlos mencoba memastikan.


Reon terdiam sejenak, lalu menatap Carlos yang juga menatapnya. Reon menghembuskan nafas, lalu berbicara.


"Aku rasa bolos sehari tidak apa-apa," ucap Reon, ia tidak akan tega membiarkan dua saudara itu pergi tanpa diikuti oleh anggota dragon night.


Carlos tersenyum lebar mendengar hal itu, dan mereka pun berlari untuk segera menghentikan salah satu taksi yang melintas.


* * *


Disisi lain, Revan terus berusaha untuk menghubungi Rania yang entah mengapa begitu lama mengangkat telfon darinya.


"Angkat sayang, angkat," ucap Revan dengan cepat.


"Halo, kak. Ada apa?" tanya Rania diseberang telfon saat mengangkat telfon dari Revan.


"Kamu dimana?" tanya Revan membuat Rania mengernyit diseberang telfon.


"Aku ada ditaman kota, hari ini Kami belajar diluar sekolah. Kenapa?" tanya Rania penasaran.


"Tidak apa-apa. Aku akan segera kesana," ucap Revan lalu mematikan telfon sepihak, membuat Rania semakin bingung.


"Ke taman kota," ucap Revan pada sopir taksi itu. Sepertinya dia harus berbicara pada Daenji untuk membawa kendaraan sendiri ke kampus, karena jika sudah keadaan seperti ini akan sulit bagi mereka jika tidak mengunakan kendaraan sendiri.


Rania terdiam saat Revan mematikan panggilan sepihak, dan dapat ia rasakan jika pria itu sedang cemas padanya.


"Rania, kau baik-baik saja?" tanya salah satu teman Rania, membuat gadis itu menoleh dan tersenyum simpul, lalu menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku baik-baik saja," ucap Rania lalu menoleh kebelakangnya.


'Kenapa aku merasa jika seseorang tengah mengawasiku ya,' ucap Rania dalam hati dengan menyentuh dadanya dan sesekali menghembuskan nafas.


* * *


BUG!


Satu pukulan mengenaik seorang pria yang memakai pakaian serbah hitam, ia meringis dan menatap kesal pada seorang pria yang memukulnya.


"Benar-benar diluar dugaan. Kau bisa membuntuti putriku hingga sampai sedekat ini dan bahkan berniat untuk membunuhnya. Sepertinya kau sudah tidak menyayangi nyawamu lagi ya?" ucap pria itu dingin yang tidak lain adalah Arian.


Arian menatap pria yang ia pukuli barusan dengan tatapan dingin dan tajam seperti belati, ia mendapat kabar dari bawahannya jika ada yang mengawasi putrinya dan berniat untuk membunuh putri kesayangannya.

__ADS_1


"Cih! Kau adalah iblis berwujud manusia, tidak punya hati!" ucap kesal pria itu dan menatap marah pada Arian.


Arian terdiam sejenak mendengar ucapan pria dihadapannya itu, memang sudah tidak sayang nyawa.


"Asal kau tau. Ini bukan salahku, ini salah kalian karena membangunkan singa yang sedang tertidur," ucap Arian datar lalu menghampiri pria yang beringsut mundur darinya.


Suara jeritan kesakitan mengema di hutan tidak jauh dari tempat Reana berada sekarang, perlahan-lahan suara jeritan itu menghilang dan kembali menjadi sunyi senyap.


"Bereskan!" ucap Arian pada bawahannya yang dengan sigap menjalankan perintah darinya.


"Aku berharap kalian tidak terlalu memaksakan diri," ucap Arian dengan menatap langit berwarna biru tanpa tertutupi awan.


Tiba-tiba ponsel Arian berdering, Arian segera mengangkat telfon yang tidak lain dari istrinya.


"Halo sayang, kenapa menelfon? Sudah rindu ya?" goda Arian membuat Ana mengelengkan kepalanya diseberang telfon. Suaminya memang tidak bisa menghilangkan sifat mesumnya, sepertinya.


"Iya, aku sudag kangen. Cepat pulang gih, aku rindu," ucap Ana membuat Arian tersenyum lebar. Anggota dragon night yang melihat hal itu, hanya bisa berpura-pura tidak melihat, karena bosnya itu akan aneh jika berbicara dengan nyonya bos.


"Rindu denganku atau dengan wajahku?" ucap Arian semakin menggoda istrinya.


"Dua-duanya, cepat kesini, jika tidak ... aku akan menghampirimu ke kantor," ucap Ana serius yang hanya membuat Arian terkekeh geli, istrinya itu tidak bisa lagi digoda seperti dulu.


"Baiklah sayang, aku kesana, I love you," ucap Arian dengan manjanya, membuat anggota dragon night berfikir, kemana sisi kejamnya tadi?


"Love you too," balas Ana lalu panggilan pun berakhir.


Arian segera berlalu dari tempat itu untuk segera menemui istrinya yang selalu ingin melihat wajah tampannya, karena mengingatkannya pada kedua putra mereka dan sekaligus mengobati rindu. Karena Daenji mengatakan jika kedua putra mereka tidak bisa untuk Video call saat ini, jadi cara yang paling jitu adalah menghabiskan waktu bersama suaminya.


* * *


Taksi yang ditumpangi oleh Revan berhenti ditaman kota tidak jauh dari kumpulan siswa dan siswi yang sedang melakukan kegiatan sosial ditaman kota.


Revan membayar taksi itu, lalu segera berlari untuk mencari Rania di keramaian itu. Revan mengusap wajahnya kasar saat tak kunjung menemukan Rania, ia mendogak berniat untuk menatap langit. Tapi matanya tidak sengaja melihat seseorang yang tengah membidik kearah keramaian itu, Revan mengikuti arah bidikan sniper sialan itu yang ternyata jatuh pada seorang gadis yang tengah berjongkok didepan seorang anak berusia 6 tahun.


Revan terkejut lalu segera berlari kencang untuk menghampiri Rania.


Semakin Revan mendekat kearah Rania, maka sniper itu juga bersiap untuk menarik pelatuk agar peluru bisa mengenai sasarannya.


"RANIA!" teriak Revan membuat gadis itu menoleh dan tersenyum melihat Revan yang berlari kearahnya.


DOR!

__ADS_1


Suara tembakan mengema membuat semua orang disana berlarian tanpa arah. Rania terkejut mendengar hal itu dan lebih terkejut lagi melihat darah segar mengenai bajunya.


"REVAN!"


__ADS_2