
Pukul 6:15 pagi.
Saat ini empat orang remaja tengah berdiri dihadapan Daenji yang duduk dengan santainya disofa, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Kenapa kami harus memakai ini, Grandpa?" tanya Revin dengan nada suara mencoba sabar.
Revan, dan Reon hanya menghembuskan nafasnya melihat penampilan mereka sekarang, sungguh tidak seperti sifat mereka.
Sedang Carlos hanya bersiul riah tanpa masalah dengan penampilannya sekarang, ia terlihat menyukai penampilannya ini.
"Ada apa? Aku rasa penampilan kalian tidak ada yang salah, malahan semakin membuat kalian terlihat pintar," puji Daenji melihat penampilan keempat cucunya itu.
Pintar? Yang benar saja! ini sungguh tidak sesuai dengan Revin maupun teman-temannya, terkecuali dengan Carlos yang sudah pernah mencoba berpenampilan seperti sekarang.
Revan menghembuskan nafasnya, lalu memakai kacamata bulat yang sedari tadi ia pegang, sungguh nasib sial untuk para cogan berpenampilan seperti culun.
"Revin, kenapa rambutmu masih terlihat acak-acakan? Franco, rapikan rambut Revin!" titah Daenji dan Franco segera mendekat kearah Revin yang perlahan-lahan memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Lepaskan! Jangan sentuh rambutku!" ucap Revin setengah berteriak, mencoba menghindar dari Franco yang merapikan rambutnya mengunakan pomade, tapi sayangnya tidak bisa.
"Sudah selesai!" ucap Franco dan kembali berjalan ketempatnya tadi.
Revan, Reon dan Carlos menoleh kearah Revin yang kini rambutnya sudah rapi, serapi rambut ketiga sahabatnya, tapi mampu membuat Carlos mengigit bibir bawahnya.
Revin menoleh kearah ketiga pria yang menatapnya dengan tatapan aneh, terutama dengan Carlos yang terlihat seperti menahan tawanya.
"Kenapa kau?" tanya Revin dan sedetik kemudian.
"Hahaha!" pecahlah tawa Carlos, sedang Revan dan Reon berusaha keras untuk menahan tawanya.
"Apa yang kau tertawakan sia**n!" umpat kesal Revin lalu merogoh ponsel disaku celananya dan mencoba melihat pantulan dirinya pada layar ponselnya.
Revin membulatkan matanya dengan sempurna seolah ingin keluar dari tempatnya, sedang Revan berusaha untuk menahan tawanya, meski penampilannya sekarang tidak jauh berbeda dari adiknya. Tapi terlihat lucu baginya, melihat penampilan adiknya sekarang.
Revin kembali menaruh ponselnya disaku celana dan mencoba mengatur nafas agar rasa kesalnya menghilang.
__ADS_1
"Kalian akan diantar kekampus mulai hari ini dan seterusnya!" ucap Daenji santai dengan menyeruput kopinya.
Lagi dan lagi keempat remaja itu hanya menurut, mereka jadi bertanya dalam hati, apa harus susah seperti ini dulu, baru kemudian senang? fikir mereka.
* * *
Mereka hanya mengunakan satu mobil, dengan Franco sebagai sopir mereka. Revan duduk dikursi samping kemudi, sedang ketiga orang itu duduk dikursi penumpang.
Lima belas menit kemudian.
Tiba-tiba Franco menghentikan mobilnya ditepi jalan, padahal gerbang kampus tinggal 30 meter lagi.
"Kenapa berhenti?" tanya Revin yang berada ditengah antara Reon dan Carlos.
"Maaf tuan muda, tuan besar mengatakan jika tidak perlu mengantarkan kalian hingga didepan gerbang, cukup 30 meter dari gerbang," ucap Franco santai membuat keempat remaja itu terdiam.
Revin berdecak kesal, lalu segera turun setelah Reon dan Carlos turun, diikuti oleh Revan.
"Tuan muda, ini kartu debit untuk kalian berempat, cukup untuk membeli sesuatu hingga pulang dari kampus," ucap Franco memberikan kartu debit pada Revan.
"Itu yang dikatakan oleh tuan besar, tuan muda. Saya permisi," ucap Franco kemudian masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan empat remaja yang mematung ditempatnya.
"Apa-apaan ini! Semua fasilitas dibatasi. Memang tidak melarang kita untuk membawa ponsel kekampus, tapi kenapa hanya satu kartu untuk empat orang, yang benar saja!" omel Revin dengan menghentakkan kakinya.
"Aku rasa inilah yang dinamakan, kesialan cogan," ucap Carlos yang semakin membuat raut wajah Revin merah padam menahan emosi.
Sudah disuruh untuk memakai baju yang begitu rapi seperti ini, dan juga dengan kacamata bulat, membuat mereka terlihat seperti pria culun tanpa kekuatan, dan sekarang mereka hanya diberi satu kartu, itupun hanya untuk jajan satu hari, yang benar saja.
Revan dan Reon bertukar pandang satu sama lain, hanya mereka berdua yang sabar disana, sedang dua orang lainnya, sudah setengah gila.
"Terima sajalah nasib kita ini, demi keluarga kita harus rela menderita, toh dari pada adik kita yang merasakan ini," ucap Reon yang memiliki kesabaran tingkat dewa.
"Ya sudah, ayo kita berjalan kesana," ucap Revan lalu melangkahkan kakinya menuju gerbang kampus.
Ketiga orang itu mengekori Revan dengan menenteng ransel dipunggung mereka, dan sungguh terlihat seperti sekumpulan cowok culun.
__ADS_1
Mereka memasuki kampus dengan hanya berwajah datar, seperti pria lemah tanpa kekuatan.
Para mahasiswa yang melihat mereka, tampak tersenyum mengejek membuat Revin mengepalkan tangannya. Revan menepuk pelan bahu adiknya itu, mengisyaratkan untuk sabar, meski ia tahu jika kesabaran adiknya itu tidak seperti dirinya.
Tidak satupun dari mahasiswi yang melirik mereka, karena yang mereka lihat hanya empat pria cupu yang sangat tidak menarik.
Carlos hanya tersenyum kecil menangapi hal yang ia hadapi sekarang, membuat Revin melihatnya dengan tatapan aneh.
'Oh Vivian, kenapa kau memiliki kakak yang aneh sih. Apa benar kalau dia akan menjadi kakak iparku nanti,' ucap Revin dalam hati dengan mengelengkan kepalanya pelan.
"Mereka siapa sih, baru datang ya. Padahalkan perkenalan mahasiswa baru sudah selesai satu minggu yang lalu,"
"Iya, mungkin aja para pria cupu itu adalah mahasiswa pindahan,"
Bisik-bisik para mahasiswi yang melihat keempat orang itu.
Revan, Revin, Reon dan Carlos mengernyit lalu bertukar pandang satu sama lain mendengar suara gosip dari mahasiswi yang mengatakan jika perkenalan mahasiswa baru sudah selesai satu minggu yang lalu.
'Grandpa sia**n!' umpat mereka dalam hati dan segera berjalan kearah kelas mereka, karena mereka mengambil jurusan yang sama, jadi mereka tidak perlu berpisah kelas.
Mereka segera mendudukan diri dikursi paling belakang, karena hanya itu saja yang ada, para mahasiswa yang berada dikelas, menatap mereka aneh, sangat aneh. Karena tidak biasanya ada kelompok cowok culun dikampus itu, selalu bersama lagi.
Revan duduk dikursi paling pojok dekat jendela, sedang Revin duduk disamping, dan Reon duduk disamping Revin, begitupun dengan Carlos yang duduk disamping Reon.
"Sia**n, ini sudah lebih dari sekedar hukuman atau pelajaran kecil," lirih Reon yang hanya didengar oleh ketiga sahabatnya.
"Sudahlah, terima saja nasib kita ini, mungkin tahun ini hingga dua tahun kedepan, adalah hari sial untuk kita," ucap Carlos santai membuat Revin melirik tajam padanya.
"Aku berharap agar tiga tahun segera berlalu," lirih Revin dengan menudukkan kepalanya menatap kebawah meja.
Hening melanda mereka, sedang para mahasiswa sibuk mengobrol dengan teman-teman masing-masing, hingga suara lirih Carlos membuat ketiga sahabatnya menoleh padanya.
"Revin," ucap Carlos lirih dengan memanggil nama Revin.
"Apa?" ucap Revin malas, sedang Revan dan Reon menatap penuh tanda tanya pada Carlos.
__ADS_1
"Itu ...," tunjuk Carlos pada seseorang diluar kelas mereka.