SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
SALAH PAHAM


__ADS_3

Vivian segera memeluk Revin erat dengan tubuh yang lagi-lagi gemetar, Revin terkejut dengan Vivian yang tiba-tiba memeluknya.


Revin membalas pelukan gadis itu lalu kemudian membelai rambut gadis itu lembut.


"Sudah, jangan takut, aku ...," Revin mengantung ucapannya dan kemudian menghembuskan nafasnya.


"Aku akan menjagamu dan tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi, aku janji padamu," ucap Revin lembut dengan membelai rambut Vivian.


Vivian terdiam mendengar ucapan Revin, ia pun mendonga dan menatap Revin yang juga menatapnya dengan tersenyum.


Vivian semakin mempererat pelukannya pada Revin seolah tidak ingin melepaskan pria itu dari pelukannya.


* * *


Sementara itu, Carlos terus menarik Felisia menjauh dari pintu kamar Vivian, Felisia hanya menurut dengan Carlos yang menari tangannya tanpa berniat untuk melawan.


"Carlos ... kalian kok ada disini? Revin mana?" tanya Fania yang sudah berada dihadapan Carlos dan Felisia dengan membawa nampan dengan jus jeruk diatasnya.


Carlos terkejut melihat sang ibu yang sudah berada dihadapannya, ia pun segera melepaskan pengangan tangannya pada tangan Felisia.


"Itu, Ma. Revin dikamar Vivian," ucap Carlos dengan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Fania terdiam mendengar ucapan putranya itu, ia pun segera berjalan mendekat kearah pintu kamar Vivian dan membukanya perlahan.


Saat pintu terbuka sedikit, Fania terkejut dengan apa yang ia lihat, dimana Revin dan Vivian saling berpelukan dengan sesekali Revin mencium puncuk kepala Vivian.


'Revin dan Vivian benar-benar ...,' ucap Fania dalam hati mengira jika Revin dan Vivian adalah sepasang kekasih.


Fania tersenyum senang melihat hal itu lalu kemudian menutup kembali pintu kamar Vivian lalu mengetuknya.


Revin terkejut saat mendengar ketukan pintu kamar Vivian, Revin melepaskan pelukannya dari gadis itu, lalu menasehatinya.


"Besok, kamu tidak perlu pergi sekolah, lupakan semua kejadian hari ini, anggap tidak pernah terjadi, mengerti! dan lagi jangan pernah mengingat hal yang terjadi padamu kemarin," ucap Revin dan perlahan-lahan Vivian menganggukkan kepalanya.


Vivian mulai tenang dan mungkin sudah mulai membaik.


Tok ... tok ... tok.


Suara ketukan pintu kembali terdengar dari luar kamar Vivian.

__ADS_1


"Masuk," ucap Vivian dan pintu pun terbuka dan Fania masuk dengan senyum diwajahnya.


Fania menaruh nampan yang ia bawa diatas meja dikamar Vivian kemudian tersenyum pada Revin yang juga tersenyum padanya.


"Kamu baik-baik aja, sayang?" tanya Fania dengan raut wajah khawatir pada Vivian.


Vivian menganggukkan kepalanya dengan senyum diwajahnya membuat Fania bernafas lega.


"Kalau begitu, aku keluar, bibi. aku masih ada urusan dengan Carlos," ucap Revin dan Fania pun menganggukkan kepalanya.


Revin tersenyum kemudian keluar dengan mengambik jaketnya yang ada diatas meja disamping nampan jus yang Fania bawa tadi.


Revin melirik kearah tempat sampah dikamar Vivian, dan kembali menghembuskan nafasnya saat tidak sengaja melihat seragam Vivian yang terbungkus dengan kantongan plastik dan Fania sama sekali tidak menyadari hal itu.


Revin berjalan keluar dan segera mendekat kearah pintu kamar Carlos untuk berbicara dengan sahabatnya.


Revin masuk tanpa mengetuk pintu karena dia sudah terbiasa masuk kedalam kamar Carlos tanpa mengetuk pintu.


Revin menutup pintu kamar dengan cepat kemudian berjalan mendekati Carlos yang terduduk diatas tempat tidur dengan menatapnya malas.


"Aku rasa kebiasaanmu itu perlu diperbaiki, bagaimana jika aku sudah menikah nanti, apakau juga akan masuk kekamarku seperti itu," ucap Carlos dengan raut wajah membuat Revin sedikit kesal.


"Cepat jelaskan, apa yang terjadi pada adikku!" ucap Carlos yang tidak ingin basa-basi.


Revin menghembuskan nafasnya kemudian menceritakan pada Carlos saat dia menjemput Vivian tadi dan mendapati Vivian yang terkunci didalam gudang dengan keadaan yang cukup memprihatinkan.


Carlos mengepalkan tangannya, marah mendengar ada yang berani memperlakukan adiknya seperti itu.


"Sia**n, aku akan membunuh siapa pun yang berani melakukan hal seperti itu pada adikku," ucap Carlos dengan tangan yang terkepal kuat.


Revin menghembuskan nafasnya kemudian bangkit dari tidurnya lalu berdiri membuat Carlos melihat kearahnya.


"Soal itu kau tidak perlu khawatir, aku sudah menyiapkan hal yang bagus untuk memberi mereka pelajaran, sekarang cukup beri semangat pada Vivian," ucap Revin kemudian melangkahkan kakinya mendekat kearah pintu.


"Serahkan semuanya padaku," ucap Revin kemudian keluar dari kamar Carlos.


Carlos menghembuskan nafasnya berulang-ulang agar sedikit tenang, Carlos percaya jika Revin pasti akan memberi perlajaran pada orang yang sudah menyakiti Vivian, karena ketika Revin sudah mengatakan sesuatu, ia pasti akan memenuhinya.


* * *

__ADS_1


Pukul 7 malam.


Saat ini Arian dan Ana beserta ketiga anak mereka tengah makan malam dimeja makan dalam keadaan yang cukup hening.


"Mommy, besok aku akan pergi kesekolah naik motor saja ya, tanganku sudah tidak apa-apa," ucap Revan dengan mengerakkan tangan kanannya menyendokkan makanan ke mulutnya.


Ana menghembuskan nafasnya, ingin sekali ia melarang putranya itu tapi, ia tahu jika putranya yang satu ini keras kepala.


"Baiklah," ucap Ana pasrah kemudian menatap Revin.


"Revin," ucap Ana membuat putra keduanya itu mendongak dan menatap kearahnya.


"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu pada kami," ucap Ana dengan senyum diwajahnya membuat Revin mengernyit heran.


Arian, Revan dan Reana saling bertukar pandang satu sama lain, Revan mengunyah makanannya dengan mata yang menatap kearah Revin.


"Apa yang harus Revin jelaskan?" ucap Revin bertanya pada dirinya sendiri dan juga pada sang Ibu.


Ana menghembuskan nafasnya membuat keempat orang itu semakin bingung.


"Kenapa kamu tidak bilang pada mommy jika kamu dan Vivian itu pacaran," ucap Ana yang sukses membuat Revin tersedak makanan yang ia kunyah.


Arian, Revan dan Reana mematung mendengar ucapan Ana yang mengatakan jika Revin dan Vivian itu sepasang kekasih.


Arian, Revan dan Reana menatap Revin dengan tatapan tidak percaya, sedang Revin membulatkan matanya dengan sempurna dan menatap sang ibu setelah meminum air putih disampingnya.


"Siapa yang bilang sama Mommy, kalau aku sama tuh bocil pacaran," ucap Revin dengan nada suara tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kamu itu ngga usah pura-pura lagi, Fania tadi nelfon mommy dan lihat kamu dan Vivian pelukan didalam kamar, bahkan sesekali mencium puncuk kepala Vivian," kali ini bukan Revin yang tersedak, melainkan Revan.


"Uhuk ... uhuk.," batuk Revan saat mendengar ucapan sang ibunda.


Revan meminum air disampingnya kemudian menatap sang adik dengan tatapan horor.


Revin menelan salivanya dengan susah payah melihat sang kakak yang menatapnya horor.


"Tapi, Mommy aku ...," Revin mengantung ucapannya karena Ana sudah berbicara.


"Aku berharap agar kalian berdua bisa selalu bersama, ternyata benae kata orang, benci bisa jadi cinta," ucap Ana dengan senyum diwajahnya membuat Revin diam seribu bahasa.

__ADS_1


'Bagaimana ini, mommy sudah salah paham, ingin jujur tapi ...,' ucap Revin dalam hati dengan sesekali menghembuskan nafasnya membuat Revan menatapnya penuh tanda tanya.


__ADS_2