
Satu tahun yang lalu.
Seorang pria tengah membaca buku ditaman belakang sekolahnya dijam istirahat, Dia membaca bukunya dengan begitu serius, ia menghembuskan nafasnya berkali-kali, ia tahu jika seseorang tengah mendekat kearahnya dengan mengendap.
Seorang gadis terus saja mengendap berniat untuk mengangetkan seorang pria yang tengah asyik membaca buku.
"DOR!" ucap gadis itu dengan menepuk bahu pria itu tiba-tiba tapi sama sekali tidak ada reaksi terkejut atau apapun.
Pria itu hanya berwajah datar menangapi hal yang sudah biasa dilakukan oleh gadis itu padanya, mencoba untuk mengangetkannya tapi sama sekali tidak mempan.
Gadis itu mengembulkan pipinya kesal dengan pria itu yang sama sekali tidak bereaksi dengan apa yang ia lakukan tadi.
"Kau menyebalkan, Revan. kau selalu saya datar seperti itu, sama sekali tidak terkejut, membosankan," ucap gadis itu kesal dengan pria dihadapannya yang tidak lain adalah Revan.
Gadis itu kemudian duduk dikursi taman disamping Revan dan menatap kesal sahabatnya itu.
"Itu tidak akan berpengaruh padaku, kalau pada Reanan mungkin saja bisa?" ucap Revan santay dan kembali fokus pada buku ditangannya.
"Dasar es batu, aku rasa wanita yang akan menjadi pacarmu nanti, pasti akan menyesal karena sudah menyukai pria dingin sepertimu." ucap gadis itu yang bernama Denia.
Revan hanya melirik sekilas kearah gadis yang sudah ia anggap seperti saudarinya, sekaligus satu-satunya teman perempuan yang bisa dekat dengannya.
"Aku tidak akan dekat dengan perempuan mana pun, kecuali kau, karena mereka menyebalkan, aku juga dekat denganmu itu karena kau cerewet," ucap Revan santay membuat Denia menatapnya kesal.
"Cih, dasar kulkas," ucap Denia yang sudah menjadi kebiasaannya memanggil Revan disaat sedang kesal pada pria datar di dekatnya.
Revan hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Denia, senyum yang hanya ia perlihatkan pada keluarga dan temannya, termasuk Denia, selain dari pada itu, hanya ada wajah datar tanpa ekspresi.
"Kenapa kau tidak pergi makan siang, apa kau sama sekali tidak lapar?" tanya Denia yang penasaran dengan pria yang selalu sibuk membaca buku ditaman belakang sekolah saat waktu istirahat, dari pada harus pergi kekantin untuk makan siang.
"Aku tidak lapar," ucap Revan singkat yang hanya membuat Denia memutar bola matanya malas.
"Terserah kau sajalah, bagaimana jika hari minggu nanti, kita pergi kehutan kesuatu tempat yang baru saja aku temukan beberapa hari yang lalu, tempatnya sangat menyenankan loh," ucap Denia dengan raut wajah berbinar senang.
Revan nampak berfikir kemudian menganggukkan kepalanya membuat Denia tersenyum senang.
"Baiklah, awas saja ya, jangan sampai lupa seperti hari-hari sebelumnya," ucap Denia mencoba mengingat setiap kali mengajak Revan untuk jalan-jalan ketempat menyenangkan yang ia temukan, tapi selalu saja gagal, meski Revan sudah berjanji padanya, tapi tetap saja tidak bisa datang karena sibuk.
"Aku janji," ucap Revan membuat Denia menyodorkan jari kelingkingnya untuk membuat janji layaknya anak kecil.
Revan menghembuskan nafasnya kemudian mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Denia.
"Baiklah, awas saja ya, aku pergi dulu, ingin makan siang," ucap Denia kemudian berlari meninggalkan Revan untuk segera ke kantin dan makan siang.
Revan hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku gadis itu, Revan menoleh kebelakang saat merasakan seperti ada seseorang yang sedang mengawasinya.
Revan segera mengelengkan kepalanya mencoba untuk mengabaikan hal itu, yang hanya akan membuatnya tidak fokus.
Pukul 4 sore.
Revan keluar dari kelas dan berjalan beriringan dengan Reon keparkiran.
"Revan!" suara seorang gadia yang berteriak membuat Revan dan Reon menoleh kebelakang dan menatap datar pada gadis yang berlari kearah mereka.
"Maaf ya, hehe, hampir aja buat kamu nunggu," ucap Denia dengan cengegesan pada kedua pria dihadapannya itu.
"Kalau aku tidak masalah, Denia. tapi pria yang satu ini," ucap Reon melirik kearah Revan yang menatap datar kearahnya.
"Ya sudah, ayo," ucap Denia kemudian merangkul kedua pria itu dan segera keparkiran.
Dua puluh menit kemudian.
Revan menghentikan motornya didepan gerbang panti asuhan tempat Denia tinggal. Denia adalah anak yatim piatu, ia sekolah karena beasiswa yang ia terima sehingga membuatnya bisa bersekolah disekolah elit tempat Revan.
Denia turun dari motor, kamudian melambaikan tangannya pada Revan yang sudah menancap gas motornya meninggalkan tempat itu.
Denia masuk kedalam panti asuhan dengan hati yang senang, karena sahabat baiknya akan pergi bersama dengannya dihari minggu ketempat spesial yang baru ia temukan beberapa hari yang lalu.
Pertemuan Denia dan Revan berawal dari ketidak sengajaan, dimana Denia yang tidak sengaja menumpahkam jus keseragam Revan, bukannya marah, Revan malah berwajah datar, dan hal itu membuat Denia penasaran dan berusaha untuk mengenal pria itu lebih jauh agar bisa berteman baik dengannya, dan akhirnya hal itu terwujud.
Tanpa Denia sadari, seseorang tengah mengawasinya dari kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sementara itu, Revan menghentikan motornya saat sudah tiba dirumahnya, ia segera turun dari motornya dan berjalan memasuki rumah.
"Aku pulang!" Revan sedikit berteriak dan terus berjalan hingga tiba diruang tamu dimana seorang pria yang wajahnya tidak jauh berbeda dengannya tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Cie, yang baru saja datang kencan dengan pacarnya," ledek Revin membuat Revan kesal bukan main dan refleks melemparkan helm yang ia pengang kearah Revin.
Revin reflesk menghindar membuat helm itu hanya mengenai bantal sofa.
"Dih, sadis banget, yang aku katakan 'kan fakta," ucap Revin dengan mengelus dadanya dan menatap kearah sang kakak yang tengah bersiap untuk mengejarnya.
"Mommy, Brother datang kencan!" teriak Revin dan segera berlari menaiki tangga untuk segera kekamarnya dan mengunci pintu.
"Dasar sia**n, sini kau!" teria Revan dan segera mengejar Revin menaiki tangga.
Revin dengan cepat menutupi pintu kamarnya dan menguncinya membuat Revan berdecak kesal.
"Dasar adik sia**n," umpat Revan kemudian berjalan kearah pintu kamarnya dan masuk kedalam lalu menutup pintu.
Pukul 8 malam.
Revan kini berada didalam kamarnya tengah berkutak dengan laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh sang ayah, tentu saja pekerjaan kantor.
Pintu terbuka tanpa diketuk, dan Revan bisa menebak, bahwa yang masuk kekamarnya adalah Revin.
Revin berjalan mendekati sang kakak yang begitu asyik dengan laptopnya sambil duduk diatas tempat tidur dengan punggung yang bersandar pada sandaran tempat tidur.
Revin merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur sang kakak dengan raut wajah yang begitu senang.
"Brother, apa kau benar-benar tidak menyukai Denia?" tanya Revin tiba-tiba membuat Revan mendongak dan menatap adiknya itu.
"Tidak!" ucap Revan singkat padat dan jelas.
Revin menatap kesal pada kakaknya itu, yang selalu saja menjawab singkat jika sedang berbicara.
'Sia**n,' umpat Revin dalam hati yang ditujukan untuk Revan.
"Apa kau sama sekali tidak berniat untuk memiliki kekasih, Brother. masa kau kalah denganku yang sudah memiliki mantan 50," ucap Revin membanggakan diri.
__ADS_1
Revan memghembuskan nafasnya lalu menutup laptopnya dan menaruhnya diatas meja disamping tempat tidur karena pekerjaannya sudah selesai.
"Tidak" Lagi-lagi singkat padat dan jelas membuat Revin benar-benar jengkel.
"Ayolah Brother, kau tidak mungkin 'kan hanya ingin berkutak dengan laptopmu itu sampai kau tua," ucap Revin kesal pada kakaknya itu.
Lagi-lagi Revan menghembuskan nafasnya kemudian berbicara.
"Aku tidak akan memiliki pacar atau apapun, jika aku menyukai seseorang, maka aku akan langsung menikahinya setelah lulus kuliah, aku tidak ingin terlalu direpotkan oleh urusan seperti yang kamu lakukan, karena itu menyebalkan, dan jika bisa ... berhentilah fokus pada gadis-gadis itu, lebih baik jika kau membantu daddy dan juga aku untuk mengurus perusahaan," ucap Revan panjang lebar membuat Revin terdiam.
Revin menatap Revan dengan tatapan tidak percaya, tidak percaya jika kakaknya itu juga bisa berbicara panjang kali lebar.
'Wah, aku tidak tahu, jika Brother juga bisa bicara sepanjang ini,' ucap Revin dalam hati dengan mengelengkan kepalanya.
"Urusan seperti itu sangat membosankan, belum 5 menit aku mengerjakannya, aku sudah bosan seketika, dan itu sangat tidak enak dan menyebalkan," ucap Revin kemudian terduduk dan menatap sang kakak serius.
"Brother, apa pendapatmu tentang orang-orang yang Daddy bilang adalah para bodyguard yang ia latih itu?," ucap Revin yang mulai kepo dengan pendapat sang kakak tentang orang-orang berjas hitam yang sering mereka lihat saat pergi berlatih beladiri dengan sang ayah.
Orang-orang yang dimaksud Revin adalah anggota Dragon night, Revan dan Revin tidak tahu jika mereka adalah kelompok mafia sang ayah.
"Entahlah" ucap Revan singkat.
Revin lagi-lagi berwajah datar mendengar ucapan sang kakak.
"Brother, kalau menurutku, akan lebih baik, jika kau fokus pada beladiri, jangan hanya pada urusan perusahaan," ucap Revin yang kesal dengan sang kakak yang hanya berlatih 30 menit kemudian beristirahat.
Revan tidak terlalu ingin belajar beladiri karena dirinya merasa jika beladiri hanya akan membuatnya susah untuk fokus pada urusan kantor, padahalkan dirinya ingin membantu sang ayah agar tidak terlalu kesusahan dengan urusan kantor.
Jadi, bisa dibilang, jika Revin lebih handal melawan sepuluh orang lebih dibanding sang kakak.
"Sudahlah, keluar dari kamarku, aku ingin tidur," ucap Revan membuat Revin menghembuskan nafasnya kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati pintu.
"Kalau begitu, Good night, my Brother," ucap Revin kemudian keluar dari kamar sang kakak lalu menutup pintu.
Revan menghembuskan nafasnya dan mengelengkan kepalanya lalu membaringkan tubuhnya.
"Pacaran hanya akan membuat pusing saja, lebih baik jika langsung nikah saja, mudah dan tidak merepotkan," ucap Revan kemudian memejamkan matanya untuk segera tidur.
Pukul 2 siang.
Hari ini adalah hari minggu, Revan tengah bersiap-siap untuk segera pergi menjemput Denia untuk berjalan-jalan dihari minggu yang cerah.
"Mom, Dad, aku pergi dulu," ucap Revan saat tiba diruang tamu dan mendapati kedua orang tuanya yang tengah duduk disofa bersantay dihari minggu ini.
"Hati-hati dijalan," ucap Arian dengan senyum diwajahnya.
Revan hanya menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari rumah dan mendekat pada motor besarnya yang sudah terparkir.
Revan segera menaiki motornya lalu menyalakan mesin motornya dan menacap gas meninggalkan rumahnya.
"Ada apa?" ucap Arian pada Ana yang hanya terdiam menatap Revan yang keluar dari rumah.
"Tidak apa-apa," ucap Ana pada suaminya itu dengan tersenyum.
'Perasaanku tidak enak,' ucap Ana dalam hati dengan menghembuskan nafasnya.
Tiga puluh menit kemudian.
"Apa yang kita lakukan disini?" tanya Revan dengan melihat sekeliling yang sangat sepi, bahkan mobil pun tidak ada yang berlalu lalang.
"Ikut saja, ada tempat yang bagus," ucap Denia menarik tangan Revan agar mengikutinya pergi ketempat yang begitu bagus menurutnya.
Saat Revan tiba dipanti asuhan tadi, Denia segera naik kemotor dan meminta Revan untuk segera menamcap gas ketempat ini, yang menurut Revan sangat sepi.
Revan merasakan firasat buruk tapi ia tetap mengikuti langkah Denia dengan lesu.
Lima menit berjalan, akhirnya mereka tiba ditempat yang dimaksud Denia, tempat yang begiti indah, dimana Revan dapat melihat pemandangan yang begitu indah, bangunan pencakar langit yang tersusun rapi dan sangat enak dipandang.
"Gimana bagus 'kan?" ucap Denia dengan nada suara yang begitu senang.
"Sangat bagus," ucap Revan dengan senyum mengembang diwajahnya.
"Hahaha, aku benarkan ... jika nanti kau memiliki pasangan, kau bisa membawanya kesini, dia pasti akan sangat senang," ucap Denia dengan tersenyum pada Revan.
"Itu masih sangat lama tau," ucap Revan dengan melihat pemandangan kota yang begitu indah.
"Iya sih, tapi 'kan ...," Denia menghentikan ucapannya saat tiba-tiba terdengar suara berisiki dibelakang mereka.
"Siapa itu?" ucap Revan dan menarik Denia kebelakang tubuhnya.
Tidak lama kemudian, 7 orang memakai topeng muncul kehadapan Revan dan Denia.
Denia mulai gemetar melihat hal itu sedang Revan jangan ditanya lagi, dia menatap dingin kearah 7 orang itu yang sudah bersiap dengan senjata mereka untuk segera menyerang Revan.
Sati orang maju untuk memukul Revan, dengan cepat Revan menendang perut pria itu dan segera menarik tangan Denia menjauh dari tempat itu.
Pria itu meringis dan segera bangkit lalu memberi isyarat pada agar segera mengejar Revan dan Denia.
Revan terus berlari dengan menarik tangan Denia dengan memengang ponselnya mencoba menelfon seseorang.
Drrt ... drrt ... drrt.
Revin tengah duduk dicafe bersama dengan Reon dam Carlos untuk menikmati hari minggu, karena bingung mengatur jadwal kencan pacar-pacarnya, akhirnya Revin memutuskan untuk mengajak kedua sahabatnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Revin segera mengangkat telfon yang tidak lain dari sang kakak.
"Halo Brot ...," Ucapan Revin terhenti karena Revan sudah berbicara.
"Revin! segera ke hutan sebelah selatan, ada pembunuh ... Aduh," suara Revan yang terdengar diseberang telfon begitu panik dan tiba-tiba terdengar suara ringisan.
Revin segera mematikan panggilannya lalu berlari keluar dari cafe untuk segera pergi ketempat sang kakak.
"Revin ada apa?" ucap Reon dan Carlos dengan berlari menyusul Revin keparkiran.
"Revin tidak menjawab dan memilih untuk segera memakai helmnya lalu naik kemotornya untuk segera pergi karena kakaknya dalam bahaya sekarang.
"Telfon para bodyguard itu, minta mereka ke hutan sebelah selatan sekarang!" titah Revin dan segera menancap gas untuk kehutan sebelah selatan kota.
Reon segera mengambil telfonnya dan menghubungi orang yang dimaksud oleh Revin yang tidak lain adalah anggota Dragon night.
__ADS_1
Carlos dan Reon juga sering kemarkas Dragon Night untuk berlatih beladiri, jadi mereka juga mengenal beberapa orang disana seperti Desta, sama seperti Revan dan Revin, mereka juga tidak tahu jika tempat yang sering mereka datangi itu adalah markas Mafia.
Sementara Itu, Revan meringis saat tiba-tiba kakinya tersandung dan terjatuh hingga ponselnya terlempar cukup jauh, Denia segera membantu Revan untuk berdiri dan sedetik kemudian kembali berlari karena para pembunuh itu sudah mendekat kearah mereka.
Revan tidak peduli dengan kakinya yang sakit akibat terjatuh tadi, yang ada dalam fikirannya sekarang hanyalah lari dari para pria itu.
Saat beberapa mereka sudah hampir tiba dimotor Revan, tiba-tiba Denia mendorong Revan hingga terjatuh cukup jauh dan hampir mencapai motornya dan terdengar suara suara tembakan yang membuat Revan menoleh kebelakang.
DOR
Revan membulatkan matanya dengan sempurna hingga hampir keluar dari tempatnya, tubuh Denia tumbang didepan Revan dengan peluru yang tepat mengenai jantungnya.
Revan gemetar hebat melihat hal itu dan segera mendekati Denia yang sudah terkapar ditanah detik-detik menjelang kematian.
"DENIAAA," teriak Revan dengan memeluk tubuh Denia yang sudah tidak bernyawa.
Para pembunuh itu menatap datar kearah Revan yang memeluk tubuh Denia dengan tubuh yang gemetar.
"Sekarang bunuh dia," titah salah satu pembunuh itu.
Salah satu pembunuh yang membawa pedang mendekat kearah Revan dan siap untuk menebas kepala Revan.
Para pembunuh itu terkejut, saat Revan tiba-tiba memengang pedang itu yang sudah hampir mengenainya dan membuat telapak tangannya mengalirkan darah segar.
Revan mendongak membuat pembunuh yang memengang pedang itu terkejut, terkejut karena melihat iris mata Revan yang berubah menjadi merah.
Perlahan-lahan Revan berdiri masih dengan memengang pedang itu dan dengan telapak tangan yang terus menerus mengeluarkan darah.
Tiba-tiba Revan menendang pria itu hingga terpental cukup jauh hingga sampai dihadapan teman-temannya, sedang pedangnya ada ditangan Revan.
Revan berjalan memutari mayat Denia dan berjalan perlahan mendekat kearah para pembunuh itu yang masih dengan keadaan terkejut.
Tiba-tiba, Revan maju dan menebas pembunuh yang menembak Denia hingga kepalanya terpisah dari tubuhnya.
Para pembunuh yang melihat hal itu, terkejut dan siap untuk menyerang Revan tapi, Revan jauh lebih cepat, hingga membuat mereka tidah dapat menghindar dari tebasan pedang Revan.
Lima menit kemudian.
Semua pembunuh itu telah tewas dengan keadaan yang cukup mengenaskan, dimana anggota tubuh mereka sudah tidak menyatu dengan tubuh mereka.
Revan menjatuhkan pedang yang ia gunakan untuk menebas para pembunuh itu dan berjalan dengan lunglay kearah mayat Denia dengan tangan yang dipenuhi darah parah pembunub itu dan juga darah dari telapak tangannya.
Revan mengedipkan matanya dan iris matanya kembali normal, 5 langkah Revan melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia jatuh pingsan dengan posisi wajah yang mengenai tanah..
Dua menit kemudian.
Revin menghentikan motornya dan segera membuka helmnya dan terkejut dengan apa yang ia lihat, Revin berjalan mendekat dan menelan salivanya dengan susah payah melihat hal dihadapannya yang seakan ingin membuatnya memuntahkan isi perutnya.
Revin terkejut melihat Denia yang terbaring pucat pasi, Revin segera mendekat kearah sang kakak.
"Brother! Brother," panggil Revin ketika membalik badan sang kakak dan menaruh kepala Revan dipangkuannya.
"Brother! brother!" teriak Revan lagi dengan mata yang mulai ingin menangis.
Dua menit kemudian.
Dua mobil hitam berhenti didekat motor Revan dan Revin, diikuti oleh dua motor.
Para anggota Dragon night segera turum dari mobil dan berjalan mendekat kearah Revin dan segera mengangkat tubuh Revan untuk segera dilarikan kerumah sakit.
Revin segera mendekati Desta yang mengangkat tubuh Denia.
"Di ... dia masih hi ... hidupkan?" tanya Revin dengan suara terbata takut jika apa yang ia fikirkan benar adanya.
Desta mengelengkan kepalanya membuat badan Revin lepas dan terduduk seketika, Desta segera membawa tubuh Denia ke mobil untuk segera dibawa kerumah sakit.
Reon dan Carlos membuka helmnya dan terkejut dengan apa yang mereka lihat.
Reon segera berlari menjauh dari sana dan memuntahkan isi perutnya sedang Carlos mendadak menelan salivanya dengan susah payah dan kembali memakai helmnya dan membayangkan hal-hal yang menyenangkan agar isi perutnya tidak keluar seperti Reon.
Tiga hari sejak kejadian itu.
Ana yang mendengar hal itu syok bukan main, tapi Arian mencoba untuk menenangkan istrinya itu.
Sudah dua hari sejak Revan tersadar dari pingsannya tapi sama sekali tidak mengeluarkan satu patah kata pun dari bibirnya membuat Ana menatap putra sulung dengan tatapan prihatin yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Saat ini, Revin tengah duduk berhadapan dengan Revan yang duduk dibrangkarnya, sementara Ana pergi kekantin untuk sarapan, setelah tadi dibujuk oleh Revin.
Revin mencoba untuk mengajak Revan berbicara, tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh Revan yang hanya terdiam dengan tatapan mata kosong seperti tidak ada kehidupan.
Revin menghembuskan nafasnya kemudian beranjak dari duduknya untuk membiarkan sang kakak sendiri, sedang Reana berada dirumah sang kakek, karena Arian tidak ingin jika putrinya itu melihat kakaknya seperti sekarang.
Satu minggu kemudian.
Kini Revan sudah berada dirumah lebih tepatnya didalam kamarnya, termenung sendiri dengan tatapan mata kosong.
Arian membuka pintu kamar purtanya itu perlahan kemudian berjalan mendekat dan duduk ditepi tempat tidur disamping Revan.
"Maaf, maafkan daddy, Son. daddy tidak bisa menjaga kalian dengan baik, maafkan daddy," ucap Arian menundukkan kepalanya merasa bersalah dengan putranya itu.
"Aku ingin menjadi kuat," ucap Revan tiba-tiba membuat Arian mendongak dan mendapati Revan yang menatapnya.
"Aku tahu, jika daddy berbohong padaku tentang mereka hanya pata bodyguard terlatih, mereka mafia 'kan? daddy juga 'kan?" ucap Revan membuat Arian tersentak.
Arian menatap iris mata putranya itu, yang mulai kembali seperti dulu, tidak seperti beberapa hari sebelumnya yang sama sekali tidak ada kehidupan disana.
Saat Arian ingin berbicara, tiba-tiba pintu terbuka membuat kedua orang itu menoleh dan mendapati Revin yang berdiri dengan menatap mereka.
"Aku juga ingin menjadi kuat, agar hal seperti ini tidak terulang lagi," ucap Revin menundukkan kepalanya kemudian menatap sang ayah dengan tekat yang kuat.
Arian yang melihat hal itu hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Baiklah, aku berharap kalian akan siap untuk menghadapi hal-hal yang buruk kedepannya, daddy akan tetap melindungi kalian dari jauh," ucap Arian membuat Revin tersenyum dan segera berlari dan memeluk sang ayah begitu pun dengan Revan memeluk Arian dengan raut wajah datarnya.
'Aku tidak akan membuat orang lain menjadi korban lagi, tidak akan pernah, aku akan melindungi semua hal yang aku sayangi, kehidupan gelap akan segera hadir, aku tidak akan melibatkan orang luar lagi, tidak akan,' ucap Revan dalam hati tekat yang bulat sangat bulat yang seorang pun tidak akan bisa menghancurkannya.
Perlahan-lahan Revan mulai melupakan hal itu, tapi ketika ingatan masa lalu itu kembali, maka ia akan gemetar dengan keringat dingin yang ditubuhnya, itu hanya akan berhenti ketika meminum obat menenang yang selalu sedia dikamarnya.
***Masalalu yang kelam akan mengubah seseorang yang lemah lembut menjadi kejam, ada beberapa rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang luar, rahasia yang akan terus terkubur dan tertutup rapat didalam fikiran.
__ADS_1
Entah siapa yang akan bisa menjadi obat penenang yang bisa membuat kita melupakan masa lalu itu, sisi gelap itu, dan semuanya hanya akan menjadi rahasia diri sendiri***.
* * *