SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
SELALU


__ADS_3

Rania memekik saat melihat lengan tangan kiri Revan berdarah. Revan mengerang menahan rasa sakit saat peluru mengenai lengannya.


"TUAN MUDA!" teriak beberapa orang berjas hitam menghampiri Revan dan Rania.


"Segera kejar orang itu!" teriak salah satu pria berjas hitam itu, dan tiga orang dengan cepat berlari untuk menangkap orang yang sudah melepaskan timah panas pada Revan.


Revan menatap aneh pada pria berjas hitam dihadapannya sekarang, sedang Rania menatap Revan dengan tatapan khawatir bahkan kini matanya terlihat berkaca-kaca.


"Sepertinya perlu ke rumah sakit," ucap pria itu dan berniat untuk membantu Revan berdiri, tapi hal itu terhenti saat tiba-tiba bogem mentah mendarat dipipinya, membuat tubuhnya oleng hingga mundur beberapa labgkah menjauh dari Revan.


Revan dan Rania tersentak melihat hal itu, mereka menoleh kearah orang yang melayangkan bogem mentah pada pria itu, yang tidak lain adalah Revin.


Pria berjas hitam itu menoleh dan menatap Revin yang menatapnya penuh dengan amarah.


"Tuan muda Revin," ucap pria itu sedikit membungkukkan badannya pada Revin.


Pria itu menatap Revan yang kini berdiri dengan Rania yang berada disampingnya, dan Revin yang menatapnya penuh dengan amarah dan tanda tanya.


Pria itu menghembuskan nafasnya, lalu berbicara, "Nama saya Wertons, saya adalah anggota militer yang ditugaskan oleh tuan Daenji untuk mengawasi nona Rania dan menjaganya," ucapnya dengan menatap Revan dan Revin yang terlihat begitu terkejut.


Revin mengepalkan tangannya, lalu berjalan menghampiri Wetons dan kembali melayangkan bogem mentah pada pria itu.


BUG!


Wertons tidak menghindar, ia menerima bogem mentah yang diberikan oleh Revin pada pipi kirinya, setelah pipi kanannya tadi.


"Dimana kau saat dia hampir ditembak, HAH! Apa kakakku harus mati lebih dulu, baru kalian muncul!" sarkas Revin penuh emosi.


Rania terkejut melihat hal itu, sedang Revan hanya menatap datar pada pria itu dan menatap adiknya dengan tatapan sulit diartikan.


"Maaf, tuan muda. Kami ada sedikit masalah tadi, sehingga membuat kami terlambat untuk berlati menghampiri nona Rania dan suasana yang tidak menguntungkan untuk kami bergerak bebas," ucap Wertons merasa sedikit lalai dalam tugasnya.

__ADS_1


Revin mengepalkan tangannya kuat dengan rahang yang mengeras menahan emosi, ia ingin sekali membunuh pria dihadapannya itu.


"Sudahlah Revin, aku baik-baik saja," ucap Revan santai membuat Rania menatapnya tidak percaya, pasalnya lengan Revan terus mengeluarkan darah.


Rania tersadar dan segera mengambil sapu tangannya, lalu mengikatkannya pada lengan Revan yang terkena peluru agar bisa menghentikan pendarahan berlebihan.


Revin menoleh pada kakaknya itu, ia menatap kesal pada Revan yang seolah hanya mendapat gigitan nyamuk.


"Kau itu selalu saja seperti ini! Apa kau tidak bosan jika lenganmu selalu menjadi sasaran empuk bagi timah panas yang akan menembus kulitmu hingga mengeluarkan darah segar seperti itu! Kau selalu saja seperti itu, tidak peduli dengan rasa khawatir orang yang menyayangimu," ucap Revin panjang lebar menasehati kakaknya itu.


Revan terdiam, begitupun dengan Wertons dan Rania. Reon dan Carlos yang baru saja tiba, segera berlari kecil menghampiri Revan dan Revin. Betapa terkejutnya mereka mendengar omelan Revin yang terdengar seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.


Teman sekolah Rania yang tadi bersembunyi kini keluar dan menatap aneh pada seorang pria yang berteriak pada orang yang mirip dengannya.


"Sebaiknya kita segera ke rumah sakit, tuan muda. Karena peluru dilengan anda perlu untuk segera dikeluarkan," ucap Wertons yang hanya mendapat tatapan dingin dari Revin.


"Baiklah," ucap Revan singkat lalu menoleh pada Rania yang berada disampingnya.


Belum sepuluh langkah Revan pergi, tiga orang yang tadi diperintah oleh Wertons untuk menangkap pria yang menembak Revan, kembali dengan pria yang berada diantara dua orang itu, dengan tangan yang dipengang kuat.


"Kami berhasil menangkapnya," ucap salah satu pria itu, dengan melirik kearah pria kini berada ditangan mereka.


Pria itu terus mencoba melepaskan diri, tapi sayangnya tidak bisa. Wertons melirik kearah pria itu lalu berniat untuk memberi perintah pada dua orang itu untuk membawa pria itu pergi ketempat introgasi yang sering mereka gunakan.


Tapi belum sempat mereka melangkah, Revin sudah lebih dulu melayangkan bogem mentahnya pada wajah pria itu, diikuti oleh bogem mentah milik Reon dan Carlos.


Dua orang yang memengang tangan pria itu terkejut, mereka hanya melihat tidak berniat untuk menghentikan pukulan-pukulan yang diberikan oleh tiga remaja itu pada pria yang kini babak belur.


"Sialan!" umpat kesal Revin lalu melayangkan tendangannya pada bagian bawah pria itu.


Reon dan Carlos bergidik mgeti melihat hal itu, temannya itu sadis sekali, bahkan menendang tempat yang begitu berbahaya tanpa rasa bersalah atau apapun. Padahal ia juga memiliki benda sensitif itu.

__ADS_1


"Segera bawah dia pergi dariku, jika tidak ... maka dia akan segera pergi ke neraka," sarkas Revin dan dua orang itu segera membawa pria yang meringis kesakitan itu pergi menjauh dari Revin.


Revan hanya menatap adiknya dengan tatapan sulit dijelaskan, ia bahkan sedikit ngeri melihat Revin menendang aset berharga pria itu, padahal ia juga memilikinya dan pasti tau kalau itu ditendang dengan sangat keras akan sangat sakit rasanya.


"Ayo!" ucap Revan lalu berjalan menuju mobil yang akan membawanya kerumah sakit.


Revan melirik sekilas Rania yang menatapnya dengan tatapan khawatir yang tidak juga lenyap dari wajah cantiknya itu Revan tersenyum agar Rania percaya bahwa ia baik-baik saja.


Rania tersenyum sayu melihat Revan yang perlahan-lahan menjauh darinya, ia menghembuskan nafasnya lalu menatap Revin yang terus berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan, karena emosi yang tidak terlampiaskan dengan sempurna.


"Apa menurutmu pria itu masih bisa bangun setelah mendapat tendangan keras seperti itu," bisik Carlos ditelinga Reon, setelah melihat Revin yang dengan entengnya menendang aset pria tadi.


Reon melirik Carlos yang menanti jawaban darinya, atau lebih tepatnya pendapat.


"Tidak tau. Sepertinya akan sulit untuk bangun lagi deh, karena tendangan Revin setara dengan tendangan finalti," jawab Reon dengan berbisik ditelinga Carlos.


Revin yang mendengar hal itu, melirik malas pada kedua sahabatnya itu.


"Jika kalian penasaran, kenapa tidak mencobanya langsung," ucap Revin membuat dua orang itu tersentak dan bersiul mengabaikan ucapan Revin.


'Teman kamp**t,' umpat kesal Revin dalam hati, lalu berusaha untuk tenang.


Revin mrnghampiri Rania lalu menyentuh bahu gadis itu dan tersenyum.


"Dia akan baik-baik saja, percayalah," ucap Revin meyakinkan Rania.


Rania mengangguk mengerti lalu tersenyum pada Revin.


Reon dan Carlos bertukar pandang satu sama lain melihat Revin yang menyentuh pundak Rania.


'Jika Revan ada disini, pasti akan segera memakan adiknya dengan tatapan tajam menusuk tulang,' ucap Carlos dan Reon dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2