SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
MENJAUH


__ADS_3

Selesai makan malam, Revin segera menaiki anak tangga untuk segera pergi kekamarnya untuk beristirahat, ia ingin sekali mengatakan jika dirinya dam Vivian sama sekali tidak memiliki hubungan apapun, tapi Revin jelas tidak tega mengatakan hal itu melihat senyum diwajah ibunya.


'Sia**n, aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan tuh bocil, tapi bisa-bisanya mommy dan bibi Fania mengira jika aku dan tuh bocil pacaran. suka saja tidak, bagaimana mungkin bisa pacaran, aku juga tidak doyan dengan bocil, bisa-bisa aku dikira pedofil lagi,' ucap Revin dalam hati dengan melangkahkan kakinya dengan lesuh menuju kamarnya.


Revin membuka pintu kamarnya dengan lesuh kemudian melangkahkan kakinya memasuki kamarnya.


Revin terkejut saat melihat Revan duduk diatas tempat tidurnya dengan menatap arahnya dan tidak lupa dengan tangan yang ia lipat didepan dada.


Revin menelan salivanya dengan susah payah kemudian menutup pintu dan berjalan perlahan mendekati Revan.


"Brother ... apa yang kau lakukan disini?" tanya Revin dengan nada bicara yang begitu gugup dengan sesekali menelan salivanya dengan susah payah.


"Sebenarnya apa yang terjadi? bagaimana bisa bibi Fania mengira dirimu pacaran dengan Vivian?" ucap Revan dengan menatap Revin dengan tatapan intimidasi.


Revin segera membaringkan tubuhnya disamping Revan yang terduduk dan menatap datar kearahnya.


"Ceritanya panjang, Brother. padahal aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun dengan Vivian," ucap Revin dengan tubuh yang terlentang dan sesekali menghembuskan nafasnya.


Revan nampak berfikir sejenak kemudian berbicara.


"Sebaiknya kau harus segera menjelaskan kesalahpahaman ini, jika tidak, maka siap-siap untuk menerima konsekuensinya," ucap Revan kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pintu.


Revan memengang knock pintu lalu menghembuskan nafasnya dan menoleh sekilas pada Revin yang masih saja terlentang dengan menatap langit-langit kamarnya.


"Konsekuensi dari hal ini, akan menyebabkan dirimu dalam masalah besar, jadi bergegaslah menyelesaikannya," ucap Revan kemudian keluar dari kamar Revin lalu menutup pintu.


Revin mengernyit mendengar ucapan sang kakak yang bisa jadi benar akan terjadi, Revin menatap nanar langit-langit kamarnya dan perlahan-lahan memejamkan matanya berusaha untuk tidur, karena besok ia harus mengerjakan sesuatu yang pasti akan menguras jiwa dan raganya.


Sementara itu, Revan masuk kedalam kamarnya dan berjalan perlahan ketempat tidur miliknya setelah mengunci pintu kamarnya.


Revan membaringkan tubuhnya perlahan diatas tempat tidur dan kemudian memejamkan matanya.


Tiba-tiba Revan membuka matanya saat banyangan wajah Rania melintas difikirannya, wajah yang selalu mengahantuinya disaat seperti sekarang.


"Sia**n, apa yang terjadi padaku, kenapa aku terus mengingat dia, sadar Revan, kau tidak boleh menyukai seseorang untuk sekarang, ingat kelompok mafia tengah mengintai, siapapun bisa dalam bahaya jika berdekatan denganmu," ucap Revan pada dirinya sendiri dengan mengacak rambutnya gusar.

__ADS_1


"Aku harus segera menyelesaikan mereka, jika ... mereka pasti tidak akan membiarkan kami hidup tenang," ucap Revan dengan nafas yang sedikit tidak beraturan.


Revan kembali memejamkan matanya untuk segera tidur agar besok bisa belajar dengan tenang dan tidak mengantuk.


Pukul 6:15 pagi.


Revan terbangun dari tidurnya kemudian beranjakn dari tempat tidur untuk segera membersihkan diri.


Revan tersentak dan merasa sedikit nyeri saat membuka kaos yang ia kenakan dan tidak sengaja mengenai lengan kanannya yang masih terbungkus perban.


"Sia**n," rutuk Revan dan kembali membuka pakaiannya yang lain.


Revan membersihan diri dengan hati-hati agar air tidak mengenai lengan kanannya yang terbungkus perban.


Sepuluh menit kemudian.


Revan keluar dari kamar mandi dengan keadaan hanya mengenakan handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya.


Revan segera memakai kaos lengan pendek dengan hati-hati sebelum memakai seragam sekolahnya.


Revan berjalan keluar dari kamarnya dan segera menuruni anak tangga untuk segera sarapan dan berangkat kesekolah.


Revan berjalan memasuki ruang makan dan segera duduk dikursinya dengan santay.


Sepuluh menit berlalu, Revan mulai mengernyitkan alisnya kemudian bangkit dari duduknya berniat untuk pergi kekamar sang adik dan membangunkannya untuk pergi kesekolah.


"Kamu mau kemana, Van?" tanya Ana yang baru saja keluar dari dapur.


Reana dan Arian mendongak dan menatap Revan yang melihat kearah Ana yang berjalan mendekati meja makan.


"Mau bangunin Revin, Mom," ucap Revan dan kemudian melangkahkan kakinya.


Belum ada 3 langkah Revan melangkahkan kakinya, Ana sudah berbicara membuat Reban menoleh dengan mengkerutkan alisnya.


"Revin udah pergi dari tadi kesekolah, katanya ada urusan penting," ucap Ana membuat Revan mengkerutkan alisnya mendengar perkataan sang ibu.

__ADS_1


'Tumben Revin pergi cepat sekali, apa yang sebenarnya terjadi?' tanya Revan dalam hati bertanya pada dirinya sendiri.


Revan pun kembali duduk dikursinya untuk segera memakan sarapannya dan pergi kesekolah.


* * *


Disisi lain, diwaktu yang bersamaan, Revin tengah duduk dikursi diruangan kepala sekolah Vivian.


Revin duduk dengan melipat tangannya didepan dada dan menatap tajam pria parubaya dihadapannya.


"Maaf, ada perlu apa kamu kesini?" tanya kepala sekolah Vivian pada Revin yang menatap datar kearahnya.


"Saya peringatkan kepada bapak, untuk berhati-hati dan mendidik putri anda baik-baik," ucap Revin dengan nada suara yang datar dan tatapan mata yang tajam menatap pria parubaya dihadapannya itu.


Pria parubaya itu mengernyitkan alisnya bingung dengan apa yang dikatakan oleh Revin.


"Hari ini Vivian Sia tidak bisa masuk kesekolah dikarenakan sakit, dan mungkin selanjutnya yang akan sakit adalah putri anda, Tuan Gi," ucap Revin kemudian keluar dari ruangan itu dengan tersenyum licik.


Tuan Gi mengernyit, ia semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh Revin, Sebelum Revin kesekolah Vivian, ia sudah mampir kerumah Vivian terlebih dulu dan membei tahu Fania jika ia yang akan memberitahukan hal pada guru Vivian, jika Vivian tidak pergi sekolah.


Vivian tidak pergi kesekolah dan beralasan sakit pada sang ibu, dikarenakan masih sedikit takut dengan 4 orang yang mengurungnya digudang kemarin.


Revin berjalan santay melewati para siswa dan siswi sekolah itu untuk segera kesekolahnya dengan perasaan yang senang, senang karena nanti sore ia akan melampiaskan kemarahannya pada seseorang.


Revin naik kemotornya kemudian berniat memakai helmnya, Revin melirik sekilas kedalam sekolah dan tersenyum devil saat melihat seorang gadis yang sedang berjalan dengan kekasihnya dengan sesekali bercanda ria.


"Ck, aku kasihan dengan saudaramu, kamu yang melakukannya, tapi aku akan melampiasnya dengan saudaramu, baru kemudian mengambil alih sekolah ini ketanganku," ucap Revin kemudian memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya dan meninggalkan gerbang sekolah itu menuju kesekolahnya.


* * *


Revan menghentikan motornya diparkiran sekolahnya kemudian membuka helmnya, Revan berjalan perlahan kearah kelasnya hingga tiba-tiba seorang gadis mendekat padanya dengan senyum diwajahnya.


"Hay kak ...," Rania terdiam saat Revan melewatinya tanpa menoleh atau pun menyapa.


Rania memengang dadanya yang tiba-tiba sesak melihat Revan mengabaikannya bahkan seolah tidak melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2