SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
KOTA D


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Revan, Revin dan Reana tengah duduk diruang tamu, dengan mengerjakan pekerjaan masing-masing. Revan dan Revin dengan pekerjaan kantornya, Reana dengan tugas kuliahnya.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa-gesa, lalu segera duduk disofa disamping Revan.


Revan menoleh malas pada Carlos yang duduk disampingnya dengan nafas tidak beraturan karena terlalu terburu-buru.


"Kenapa calon pengantin bisa ada disini, menganggu kesibukan orang lain saja," ucap Revin membuat Carlos menoleh malas padanya.


"Kenapa jika aku kesini? Apakah menganggumu," ucap Carlos dengan nada yang sedikit tinggi, tanda ia tengah mengancam Revin.


"Tidak!" jawab Revin singkat lalu bangkit dari duduknya untuk ke dapur dan mengambil jus didalam lemari pendingin, untuk menurunkan amarahnya.


Revan mengelengkan kepalanya melihat hal itu, dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Revan, besok bantu aku ya," ucap Carlos membuat Revan mengernyit lalu menoleh padanya.


"Bantu apa?" tanyanya penasaran.


"Gantikan aku sebentar ke kota D untuk mengurus perusahaanku, hanya satu hari kok," ucap Carlos dengan raut wajah memohonnya.


Revan yang mendengar hal itu segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan menaiki tangga dengan membawa laptopnya.


Carlos mengedipkan matanya beberapa kali melihat hal itu, apakah itu tandanya kalau Revan setuju untuk menggantikannya pergi ke kota D?


"Reana," panggil Carlos, membuat gadis itu mendogak dan menatapnya, "Itu artinya apa?" tanya Carlos dengan tangan yang menunjuk Revan yang sudah menghilang dari tangga, mungkin sudah tiba dikamarnya.


"Itu artinya, Kakak Revan tidak mau," ucap Reana singkat, lalu kembali fokus pada laptopnya.


Carlos yang mendengar hal itu terkejut, lalu mengaruk kepalanya pusing harus meminta bantuan siapa.


Revin kembali dari dapur dengan membawa gelas berisi jus ditangannya. Ia mendudukkan bokongnya perlahan diatas sofa lalu menatap Carlos yang juga menatapnya.


"Apa?" tanyanya malas dengan raut wajah ketusnya.


"Tolong aku ya, Vin. Besok pergi ke kota D untuk mengurus perusahaanku sehari. Plis, calon adik ipar," ucap Carlos membuat Revin terdiam sedang Reana menatap datar pria itu.


'Bersikap manis saat ada maunya,' ucap Reana dalam hati, dengan mengelengkan kepalanya. 'Kakakmu licik sekali, Vivian,' lanjut Reana dalam hati dan semakin mengelengkan kepalanya.


"Hah! Kenapa bukan kamu saja," ucap Revin terkejut dengan menatap tidak percaya pada sahabatnya itu.


"Aku harus mengurus banyak hal besok, karena tiga hari lagi adalah hari pernikahanku. Apa kau sama sekali tidak mengerti akan hal itu," ucap Carlos membuat Revin menghembuskan nafasnya.


"Baiklah," ucapnya pasrah, lalu kembali mengerjakan pekerjaan kantornya.

__ADS_1


"Terima kasih, Revin," ucap Carlos yang hanya dibalas deheman oleh Revin. "Kalau begitu, aku pulang dulu ya, babay," ucap Carlos lalu segera berlari keluar dari rumah.


"Calon kakak ipar, kak Revin hebat sekali," sindir Reana dengan terkikik geli.


"Iya, hebat sekali. Seakan ingin memukulnya tadi," ucap Revin membuat Reana tertawa.


* * *


Satu hari kemudian.


Hari ini Revin akan berangkat ke kota D untuk mengurus bisnis sahabatnya itu atau lebih, tepatnya calon kakak iparnya.


"Hati-hati dijalan, jangan sampai melihat perempuan lain disana. Jika tidak, maka aku tidak akan membuatmu melihat adikku lagi!" ancam Carlos pada Revin yang kini berdiri dihadapannya, bersiap untuk segera pergi ke kota D.


"Iya tau, dasar calon pengantin," ucap Revin lalu segera berbalik untuk naik ke jet pribadi yang akan membawanya ke kota D.


"Jangan lupa untuk melakukan servis sendirian!" teriak Carlos dengan tawa dan segera berlari ke mobilnya.


Revin mengepalkan tangannya lalu menoleh dan berteriak pada teman tidak ada akhlaknya itu.


"DASAR CARLOS SIALAN!" umpat kesal Revin, lalu bergegas naik ke jet pribadinya.


* * *


Lima belas menit kemudian.


"Kak Carlos darimana?" tanya Vivian yang tengah menyiapkan dekorasi dirumahnya, membantu para pelayan.


"Antar Revin ke bandara," ucap Carlos, membuat Vivian mengernyit lalu berbalik dan menatap kakaknya itu yang tengah membantu pelayan pria mengangkat beberapa meja.


"Memangnya Revin ingin kemana?" tanya Vivian penasaran.


"Aku meminta tolong padanya untuk mengantikan aku hari ini dipertemuan antar beberapa perusahaan yang ingin kerja sama dengan perusahaan kakak. Cuma sehari ini, mungkin nanti malam sudah pulang," ucap Carlos tanpa menoleh pada adiknya itu.


"Owh, kenapa harus dia yang pergi, kan kakak bisa meminta bantuan sekertarinya kakak, kenapa harus Revin," ucap Vivian membuat Carlos terdiam, lalu menoleh padanya.


"Kamu tidak perlu khawatir, dia kuat iman kok. Kecuali jika dia liat kamu pakai baju seksi," canda Carlos membuat wajah Vivian merona merah.


"Ish, kakak bisa aja," ucapnya dan kembali membantu pelayan.


"Yang aku bilang bener kok, kalau dia liat kamu pakai baju kebesaran saja sudah mengundang hasratnya, apalagi jika kamu pakai baju seksi," ucap Carlos membuat beberapa pelayan disana terkekeh geli.


"Udah deh kak, bikin Vivi malu aja deh," ucap Vivian lalu bergegas menaiki tangga untuk ke kamarnya.


"AKI SERIUS TAU, VI," teriak Carlos dan semakin membuat wajah adiknya merona merah.

__ADS_1


* * *


Tiga jam kemudian.


Revin menghembuskan nafasnya saat tiba di bandara kota D.


"Akhirnya sampai juga," ucap Revin dengan menghembuskan nafas lega.


"Selamat datang, tuan Revin," ucap seseorang yang sudah membungkukkan separuh badannya dihapadan Revin.


"Kamu sekertarinya Carlos ya?!" tebak Revin dan pria itu menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Tuan Carlos memberitahu saya jika anda yang akan menggantikannya ke pertemuan itu, jadi saya menunggu anda sedari tadi disini," ucap pria itu dengan tersenyum ramah pada Revin.


"Siapa namamu?" tanya Revin dengan berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh sekertaris Carlos.


"Nama saya Xin, tuan," ucap pria itu.


"Mohon bantuannya untuk satu hari ini, Xin," ucap Revin dan segera masuk ke mobil, setelah pintu dibuka oleh Xin.


Xin menganggukkan kepala dengan senyum ramah diwajahnya, lalu segera mengitari mobil untuk pergi ke hotel.


"Kapan pertemuannya?" tanya Revin dengan menatap keluar jendela mobil.


"Pukul 3 sore nanti, Tuan. Masih ada 3 jam untuk anda beristirahat," ucap Xin dengan fokus kedepan.


Revin hanya menganggukkan kepala tanda mengerti, lalu perlahan-lahan ekspresi wajahnya berubah datar.


"Berapa pemilik perusahaan yang akan hadir sore nanti?" tanya Revin dengan raut wajah datarnya.


"Ada empat, tuan," jawab Xin cepat.


"Apa mereka membawa sekertaris masing-masing?" tanya Revin yang seperti orang bodoh, bukannya jelas jika para Presdir itu akan membawa sekertaris masing-masing.


'Sialan!' umpat kesal Revin dalam hati, yang ditujukan untuk dirinya sendiri.


"Iya, tuan. Apa ada masalah?" tanya Xin yang merasa aneh dengan sahabat bosnya itu.


"Tidak apa-apa," jawab Revin singkat dengan hati yang terus mengumpat pada Carlos.


'Carlos sialan! Pantas saja tidak mau pergi ke sini, karena jelas-jelas para sekertaris dari presdir-presdir tua itu akan bersikap gatal nanti. Carlos sialan!' umpat kesal Revin dalam hati dengan tangan yang terkepal, ingin sekali rasanya dia memukul Carlos sekarang juga.


* * *


"Hachiuu," Carlos memengang hidungnya yang mendadak gatal.

__ADS_1


"Kok tiba-tiba hidungku gatal ya?" tanyanya pada dirinya sendiri, kemudian kembali membantu para pelayan pria.


__ADS_2