SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
REVIN DAN VIVIAN 2


__ADS_3

Revin melajukan motornya menuju kesuatu tempat untuk melepas kebosanannya.


Dua puluh menit kemudian.


Revin menghentikan motornya tepat diparkiran yang tidak jauh dari taman kota, ia membuka helmnya dan kemudian turun dari motor, berjalan mendekat kearah bangku taman yang tidak jauh dari tempatnya.


Revin mendudukkan dirinya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya dan mendogak menatap langit.


Revin memejamkan matanya dengan menghembuskan nafasnya, ia terus saja meratapi dirinya sendiri yang harus menunggu tiga tahun atau mungkin empat tahun untuk menikahi Vivian.


Revin perlahan-lahan membuka matanya dan terkejut melihat wajah yang berada diatasnya wajahnya.


"Lagi bosan ya?" tanya Vivian dengan senyum diwajahnya.


Tiba-tiba Revin menarik kepala Vivian untuk menunduk, hingga ia bisa mencium kening gadis itu dengan sayang.


"Ish, apa-apaan sih. Mau kecup kening ngga bilang-bilang," ucap Vivian setelah Revin menarik tangannya kembali.


"Abis aku kangen," ucap Revin dan menoleh kearah Vivian yang kini duduk disampingnya.


"Kangen gimana sih? Baru juga ketemu beberapa hari yang lalu dipernikahan kak Reon, masih aja ngomong rindu," ucap Vivian lalu memangku tas kecil yang sedari tadi ia bawah.


"Kangen pengen peluk kamu, kangen pengen cium pipi tembem kamu, kangen semuanya," ucap Revin lalu menarik tubuh Vivian agar semakin mendekat ke sampingnya.


"Kamu makin dewasa aja deh, makin pengen cepet-cepet nikahin kamu. Tapi masih harus nunggu lagi tiga tahun," ucap Revin lesuh, lalu kembali menyandarkan punggungnya dan mendogak kelangit dengan memejamkan mata.


"Maaf," lirih Vivian, yang membuat Revin membuka matanya seketika.


"Untuk apa minta maaf? Kamu kan tidak ada salah denganku," ucap Revin lalu menoleh pada gadis disampingnya.


"Kamu beneran ngga apa-apa kalau nunggu tiga tahun lagi? Atau mungkin empat tahun," ucap Vivian dengan menatap Revin yang juga menatapnya.


"Tidak masalah bagiku. Karena menunggu adalah bagian dari proses untuk membuat kita makin dewasa dan mengerti tentang baik dan buruknya hal yang mungkin akan terjadi di masa depan," ucap Revin lalu mengulurkan tangannya dan menyelipkan anak rambut Vivian didaun telinga gadis itu.


"Kak Carlos dan kak Reon udah menikah, kak Revan juga akan menikah beberapa hari lagi, dan tinggal kamu aja yang belum menikah," ucap Vivian dengan kepala menunduk.


"Terus, apa hubungannya?" ucap Revin membuat Vivian mendogak dan menatapnya.

__ADS_1


"Aku merasa udah buat kamu tertinggal dari mereka," ucap Vivian membuat Revin tersenyum kecil.


"Aku tidak masalah jika harus menunggu selama tiga atau empat tahun, kan kamu mau kejar cita-cita kamu. Jadi tugas aku mendukung kamu biar semangat buat raih cita-cita kamu. Soal nikah, jangan terlalu kamu fikirin. Aku akan sabar nunggu tiga tahun kok atau empat tahun," ucap Revin panjang lebar dengan mengusap puncuk kepala Vivian.


"Makasih, aku tidak akan melakukan hal aneh disana, aku janji," ucap Vivian dengan mengulurkan jari kelingkingnya dihadapan Revin.


Revin tersenyum, lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Vivan.


"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Revin, saat sudah selesai mengaitkan jari kelingking masing-masing.


"Lagi jalan-jalan aja, ngga taunya malah lihat kamu yang murung gitu," ucap Vivian dengan nada lirih diakhir kalimatnya.


"Aku murung bukan karena kamu," ucap Revin berbohong, dengan senyum diwajahnya.


"Masa sih?! Terus karena apa?" tanya Vivian penasaran.


"Karena tadi brother meninggalkanku sendirian dibutik, pergi entah kemana dengan Rania," ucap Revin dengan menatap lurus kedepan.


Revin terdiam saat melihat seorang anak kecil berusia empat tahun tengah bermain bersama dengan kedua orang tuanya, dengan tawa yang begitu menenangkan ditelinganya.


Vivian kembali menoleh pada Revin yang masih menatap kearah keluarga kecil itu dengan senyum dibibirnya.


Vivian menunduk murung, hingga tiba-tiba Revin berbicara padanya.


"Kamu mau es cream?" tanya Revin tiba-tiba, membuat Vivian tersentak lalu mendogak dan menatap Revin yang juga menatapnya.


"Iya," jawab Vivian cepat, dan Revin segera bangkit dari duduknya menuju ke penjual es cream ditaman itu.


Vivian masih terus menatap kearah Revin yang begitu antusias membeli es cream untuknya.


Vivian sedikit mengernyit saat melihat Revin memberi dua es cream pada anak dari keluarga kecil tadi, yang tertawa begitu lepas bersama dengan kedua orang tuanya.


Revin bejongkok dihadapan anak itu, lalu mengusap kepala anak itu dengan gemas dan tak lupa dengan senyum diwajahnya.


Vivian mengigit bibir bawahnya melihat hal itu, ia segera tersenyum saat melihat Revin yang berjalan menghampirinya dengan tiga es cream rasa coklat ditangannya.


"Nah," ucap Revin dengan memberikan dua es cream pada Vivian.

__ADS_1


"Kok dua? Ini kebanyakan tau," ucap Vivian manja membuat Revin yang tengah bersiap menyantap es cream-nya menoleh kearah Vivian.


"Biar kamu tambah manis," ucap Revin membuat wajah Vivian merona merah.


"Mana ada makan es cream bisa tambah manis, yang ada gendut tau," ucap Vivian dengan memayunkan bibirnya, tapi tetap memakan dua es cream itu bergantian.


Revin menyeka sudut bibir Vivian dengan jempolnya, saat ada sedikit es cream yang menempel disana.


"Pelan-pelan sayang, tidak akan ada yang mengambilnya darimu," ucap Revin lalu tersenyum jahil pada Vivian.


"Katanya takut gendut, tapi tetap aja makan langsung dua," goda Revin membuat wajah Vivian merona merah.


"Kalau bukan kamu yang beli, aku ngga mau makan langsung dua," ucap Vivian membela diri.


Revin hanya menganggukkan kepalanya lalu menoleh kearah Vivian, sedang es cream-nya sudah habis ia makan.


Revin terus memandang wajah Vivian yang memakan es cream, bahkan sampai memenuhi bibirnya.


"Vivi," panggil Revin membuat gadis itu menoleh dan terkejut saat tiba-tiba Revin mengecup bibirnya dan mengecap sisa es cream disudut bibir gadis itu.


"Makin manis," ucap Revin dengan tersenyum penuh kemenangan.


Vivian masih terdiam, lalu menatap Revin dengan tatapan tidak percaya.


"Mesum," ucap Vivian lalu berbalik untuk memakan es cream-nya tanpa dilihat oleh pacarnya yang kadang kelewat mesum itu.


Revin hanya tertawa tanpa suara melihat hal itu, lalu ia kembali menatap lurus kedepan dan melihat keluarga kecil itu.


'Aku berharap ketika sudah menikah nanti akan memiliki anak yang imut seperti itu, dan wajahnya seperti kamu. Pasti akan sangat lucu dan menggemaskan,' ucap Revin dalam hati dengan senyum dibibirnya.


Vivian menoleh pada Revin saat es cream-nya telah habis, ia kembali terdiam saat melihat Revin yang menatap kedepan kearah keluarga kecil itu.


"Ayo pulang!" ucap Revin tiba-tiba, membuat Vivian tersentak dan segera menganggukkan kepalanya.


Revan dan Vivian pun bangkit dari duduk mereka, lalu berjalan dengan bergandengan tangan kearah motor Revin.


'Beri aku waktu untuk berfikir,' ucap Vivian dalam hati dengan menatap pacarnya itu.

__ADS_1


__ADS_2