SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
DIMULAI


__ADS_3

Pukul 6:05 pagi.


Kini Revan, Revin, Reon dan Carlos berada didepan kampus mereka, bersiap untuk masuk ke gerbang kampus.


"Kita langsung masuk kekelas," ucap Revan, dan ketiga orang itu hanya mampu menganggukkan kepala mereka.


Mereka mendudukkan diri dikursi masing-masing, dan berpura-pura membaca buku mata kuliah mereka, dengan sesekali berbisik.


"Revan, ada yang ingin ku tanyakan padamu," ucap Carlos dengan suara yang begitu pelan.


"Apa?" tanya Revan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku dengan sesekali tangannya membetulkan letak kacamata bulatnya.


"Bukankah kau mengatakan jika salah satu dari mata-mata itu adalah dosen," ucap Carlos dan Revan hanya berdehem, "Terus profesi yang duanya itu apa?" tanya Carlos membuat Reon dan Revin menoleh padanya, lalu menoleh pada Revan.


"Satu pelayan kantin, dan satunya lagi pengawas gerbang," ucap Revan pelan membuat ketiga pria itu terdiam.


"Jadi salah satu dari penjaga tadi itu ....," Carlos mengantung ucapannya dengan mulut yang sedikit terbuka.


Cukup lama mereka berada didalam kelas, akhirnya jam kelas pun dimulai, dan para mahasiswa dan mahasiswi mulai masuk kekelas.


* * *


Hampir 2 jam mereka didalam kelas, akhirnya jam istirahat pun tiba, tepat pukul 11 siang.


Revan dan Reon menatap aneh pada dua orang dihadapan mereka yang tengah meminum jus seperti orang bertanding.


"Ada apa dengan mereka berdua?" tanya Reon dengan mata yang tidak berkedip menatap kedua pria dihadapannya.


"Tidak tahu, mungkin sedang bertanding siapa yang bisa menghabiskan jus dengan cepat," ucap Revan santai dan menatap aneh pada kedua orang itu.


"Akhirnya ... rasa hausku hilang juga," ucap Carlos setelah bersendawa cukup keras, membuat para mahasiswi melirik aneh padanya.


"Bisakah kau sedikit sopan, Car," ucap Reon pada sahabatnya itu.


Carlos hanya mengedikkan bahunya, tanda tidak peduli. Toh, yang penting bukan Felisia yang melihatnya, jadi sah-sah saja dia melakukan hal itu, lagi pula tidak ada yang bisa mengisi hatinya, yang sudah terukir nama Felisia.


Tiba-tiba ponsel Carlos berdering, membuat ketiga sahabatnya mendogak dan menatapnya.


Carlos terdiam, dengan mengernyitkan alisnya, merasa aneh dengan nama yang tertera dilayar ponselnya.

__ADS_1


Revin yang penasaran pun mencoba mengintip, siapa yang menelfon sahabatnya itu.


Revin terdiam melihat nama seseorang dilayar ponsel Carlos.


'Vivian ...,' ucap Revin dalam hati, dengan menatap Carlos yang kini mengangkat telfon dari adiknya itu.


"Halo, Vi. Ada apa?" tanya Carlos saat mengangkat telfon dari Vivian.


"Halo, kak. Vivian rindu," ucap Vivian manja diseberang telfon.


"Benarkah? Aku belum pergi selama setahun, dan kamu sudah rindu?" ucap Carlos mengoda adiknya itu, dengan suara yang cukup pelan, takut jika mahasiswi lain mendengarnya, terutama pelayan yang tengah melayani beberapa mahasiswa dikantin itu.


Revin mendadak murung, selama sebulan ini, Vivian sama sekali tidak pernah menelfonya, meski hanya menanyakan kabarnya, membuat Revin lesuh seketika.


Revan menatap Revin dengan tersenyum kecil, ia menyadari jika adiknya itu sedang dilama kepanjang dari di landa asmara.


Revan mengigit bibir bawahnya, berusaha menahan tawanya. Reon melirik aneh kearah Revan yang terlihat seperti menahan tawa, membuat pria beriris mata kuning keemasan itu mengernyit.


Vivian berdecak kesal, mendengar ucapan sang kakak yang sangat mengesalkan baginya.


"Kakak jangan seperti itu dong, masa tidak rindu denganku sih," ucap Vivian mengembulkan pipinya, seolah Carlos melihat hal itu.


Carlos tertawa kecil mendengar hal itu, ia sangat suka membuat adiknya itu kesal seperti sekarang.


Carlos menaikkan sebelah alisnya, tanda bertanya pada pria dihadapannya itu.


Revan mengulurkan tangannya, dengan tersenyum. Carlos mengangguk mengerti lalu memberikan ponselnya pada Revan.


"Halo, Vi. Apa kau tidak rindu padaku?" tanya Revan dengan suara yang sengaja dibuat mesra.


Revin yang menundukkan kepalanya, mendogak dan menatap kesal pada sang kakak.


"Kak Revan, Vivi rindu kok sama kak Revan," ucap Vivian dengan riangnya diseberang telfon.


"Aku fikir cuma aku saja yang rindu denganmu. Oh iya, ada seseorang yang sangat rindu padamu juga loh," ucap Revan membuat Reon dan Carlos mengernyit heran.


"Benarkah? Siapa kak Revan?" tanya Vivian antusias.


Revan hanya mengelengkan kepalanya, lalu menyodorkan ponsel Carlos pada Revin. Carlos dan Reon semakin mengernyit heran, dan terus bertanya-tanya dalam hati mereka.

__ADS_1


'Ada apa ini? Tidak mungkin kan si Revin rindu pada Vivian?' tanya Carlos dan Reon dalam hati, tidak percaya.


Revin segera menyambar ponsel Carlos ditangan sang kakak, membuat pemilik ponsel terkejut.


"Halo bocil, kenapa kau tidak pernah menelfonku, apakau tidak rindu padaku?" ucap Revin dengan nada sok marahnya.


Reon dan Carlos mengerjap bingung dengan apa yang mereka lihat, sedang Revan semakin menahan tawanya, rupanya adiknya itu malu-malu kucing juga ya.


"Ish, apaan sih. Siapa juga yang rindu dengan pria ngeselin kayak kamu," ucap Vivian dengan nada malasnya, yang membuat Revin tersenyum dalam hati.


"Tapi aku rindu tau," ucap Revin membuat Carlos dan Reon terdiam, begitupun dengan Vivian diseberang telfon, "Rindu ingin membuatmu kesal," lanjut Revin dengan tertawa puas.


Carlos dan Reon menghembuskan nafas mereka, untung tidak seperti yang mereka fikirkan. Revan mengelengkan kepalanya, entah sampai kapan adiknya itu akan merahasiakan perasaannya pada Vivian, meski dirinya sebenarnya tidak jauh berbeda.


"Dasar pria menyebalkan," teriak Vivian diseberang telfon lalu memutuskan panggilan sepihak dengan pipi yang merona merah.


Revin tertawa tanpa suara lalu menyeka air matanya dibalik kacamata bulatnya itu.


Revin menyodorkan ponsel itu pada pemiliknya, dan Carlos dengan cepat menyambar ponselnya lalu mengelengkan kepalanya.


"Dasar kau!" ucap Carlos kesal yang semakin membuat Revin tertawa tanpa suara.


* * *


Kini mereka telah kembali masuk kedalam kelas, untuk menyelesaikan kelas terakhir mereka sebelum pulang.


Dosen yang mengajar kali ini adalah mata-mata yang menyamar, dan mereka berempat telah siapa untuk melakukan rencana yang sudah mereka susun dengan rapi.


Revin mengopor sebuah benda kecil pada Carlos lewat bawah meja, Carlos berpura-pura menunduk untuk mengambil pulpennya dan juga benda itu.


Mereka menyimak dengan seksama apa yang diterangkan oleh dosen itu. Mereka berdecak kagum melihat mata-mata itu, yang memainkan perannya dengan sangat baik.


Dua jam telah berlalu kelas telah selesai, dan para mahasiswa dan mahasiswi bergegas keluar dari kelas, terkecuali dengan Revan, Revin, Reon dan Carlos.


"Pak, biar saya bantu," ucap Carlos saat tiba dihadapan dosen tersebut, dan berniat membantu membawa beberapa tumpukan buku milik dosen itu.


Revan, Revin dan Reon tersenyum saat melohat dosen itu menganggukkan kepalanya, menerima bantuan dari Carlos.


Carlos pun membawa separuh tumpukan buku itu, dan mengikuti dosen itu keluar dari kelas menuju parkiran.

__ADS_1


Revan, Revin dan Reon saling menatap satu sama lain, kemudian tersenyum penuh arti.


'Serangan dimulai,' ucap mereka bertiga dalam hati, dengan senyum dibibir mereka.


__ADS_2