SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
MALU 2


__ADS_3

Reon duduk dibangkunya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Revan melirik Carlos dengan tatapan aneh.


"Kamu kenapa?" tanya Revan yang mulai penarasan pada sahabatnya itu.


"Seneng aja," ucap Reon dengan tersenyum membuat Revan merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Revan, apa hal ini akan terus berlanjut? maksudku, apa orang itu masih mengawasi kita?" tanya Reon yang mendadak wajahnya berubah menjadi sendu.


"Tidak tau, mungkin hal inilah yang disebut sulit, kita yang selalu menyelesaikan masalah dengan cepat setiap waktu, dan sekarang harus menyelesaikan masalah seperti ini, benar-benar teka-teki," ucap Revan kemudian memasukkan ponselnya kedalam laci mejanya saat sudah mengatur mode senyap.


"Ah, aku fikir semuanya bisa selesai dengan cepat, tapi ternyata ..... aku sudah sedikit lelah harus terus bersembunyi seperti pencuri saat menemui Liona," ucap Reon dengan punggung yang bersandar pada punggung kursi dengan kepala yang mendogak keatas, menatap nanar langit-langit ruangan itu.


Revan yang mendengar hal itu, hanya menghembuskan nafasnya, lalu teringat pada Rania.


'Sebab itulah, aku memilih mencintainya tanpa memberitahunya terlebih dahulu, karena keselamatannya adalah hal yang utama, terlebih lagi karena ia jauh.' Ucap Revan dalam hati kemudian menoleh pada Reon.


'Karena itulah, aku tidak ingin memberitahu kalian untuk saat ini, karena mulut kalian yang terlalu ember,' ucap Revan dalam hati mendegus kesal, membuat Reon menoleh padanya.


"Kau tidak mengumpat padaku dalam hatikan, Van?" tanya Reon tiba-tiba dengan menoleh pada Revan.


"Tidak," singkat padat dan jelas, membuat Reon mengurungkan niatnya untuk berbicara kembali.


* * *


Bel istirahat siang pun berbunyi membuat semua siswa dan siswi berlari kecil kearah kantin sekolah, untuk menyegarkan otak mereka, sekaligus mengisi perut mereka.


"Reon, apa kau bisa mengurus sesuatu?" tanya Revan tiba-tiba disela-sela makan mereka yang tadinya sunyi.


"Apa? jika aku bisa, akan kulakukan," ucap Reon mantap.


"Belikan aku buku ditoko buku, pulang sekolah nanti, akan kukirimkan contoh bukunya lewat pesan." ucap Revan tanpa menoleh kearah Reon.


"Baiklah," ucap Reon tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, ia tidak tahu, jika menyetujui hal itu, akan membuatnya malu ditoko buku nanti.


* * *


Pukul 4 sore.

__ADS_1


Revan dan Reon berjalan menuju parkiran sekolah, dengan berjalan santay.


"Oh iya, Van. Beberapa bulan lagi, kita akan ujian semester satu 'kan? jika kita lulus nanti, kau ingin melanjutkannya dimana?" tanya Reon yang sudah duduk cantik diatas motornya, bersiap untuk memakai helmnya.


"Negara S," ucap Revan singkat kemudian memakai helmnya, "Jangan lupa untuk membelikanku nanti, aku duluan," ucap Revan lagi, kemudian menyalakan mesin motornya meninggalkan Reon yang masih terdiam dengan wajah terkejutnya.


Reon pun mengelengkan kepalanya, menyingkirkan fikiran yang sempat singgah dibenaknya, fikiran yang jelas tidak akan pernah Revan lakukan.


Ia segera melajukan motornya meninggalkan parkiran sekolah, setelah tadi melihat sekilas Liona yang berjalan kearah gerbang.


Tujuh menit kemudian.


Reon menghentikan motornya diparkiran toko buku, kemudian ia pun membuka helmnya lalu merongoh saku jaketnya, mengambil ponselnya untuk mengirim chat pada Revan.


"Van, kau ingin dibelikan buku apa sih, cepetan! aku ingin segera pulang!" isi pesan Reon pada sahabatnya itu lewat aplikasi berwarna hijau dengan gambar telfon ditengahnya.


Tidak lama kemudian, ponsel Reon berdering, tanda pesan masuk.


"Masuk dulu kedalam toko buku itu!" isi pesan Revan yang membuat Reon terbelalak.


Reon menoleh kekanan dan kekiri tapi tidak menemukan keberadaan Revan disana.


"Tau lah, kau 'kan orang yang selalu bertanya sebelum masuk kesuatu tempat, cerewet," isi pesan Revan yang terdengar jengkel pada sahabatnya itu.


"Iya-iya, ini aku sudah berjalan masuk kedalam toko buku," isi pesan Reon dengan berjalan memasuki toko buku.


"Tunggu dulu, aku akan kembali kerumah terlebih dahulu, jangan pergi sebelum aku mengirimkanmu pesan," isi pesan Revan yang bagaikan perintah mutlak dimata Reon.


"Sia**n, kenapa dia tidak mengirimkannya saja dulu, baru kemudian pulang! apa dia sengaja menyuruhku menunggu disini," ucap Reon lirih melihat sekeliling ruangan itu, dimana kebanyakan adalah gadis remaja.


"Sia**n!" umpat Reon kesal kemudian berjalan mendekat kearah meja dan duduk dengan wajah datarnya, dana didalam hati yang mengumpat kesal pada sahabatnya itu.


Sepuluh menit kemudian.


Reon mengerang kesal, sudah sepuluh menit ia menunggu pesan dari sahabat menyebalkannya itu, bahkan beberapa remaja memandang kearahnya dengan tatapan kagum sekaligus suka, membuat Reon ingin segera meninggalkan tempat itu.


Reon bangkit dari duduknya dan berniat untuk beranjak dari sana, tapi deringan ponselnya membuat ia menghentikan langkahnya.


"Ini buku yang harus kau beli untukku, jangan kembali sebelum menemukannya," isi pesan Revan membuat Reon terbelalak melihat pesan Revan beserta foto yang ia kirim.

__ADS_1


"Gi*a," ucap Reon sedikit meninggikan suaranya membuat dirinya menjadi pusat perhatian dengan tatapan aneh.


Dengan kesal Reon melangkahkan kakinya kearah rak buku, lebih tepatnya rak buku khusus novel dan parahnya novel romantis.


'Ya tuhan, berikanlah karma yang lebih buruk dari ini pada pria dingin itu, pantas saja dia memintaku untuk pergi, ternyata buku yang ingin ia beli adalah buku bej*t sia**n, sejak kapan ia doyan dengan buku bej*+t seperti ini,' ucap Reon dalam hati, dengan sesekali mengumpat kesal pada Revan.


Dengan tangan yang gemetar, Reon mengambil buku sia**n itu lalu berjalan kekasir untuk segera membayarnya.


Reon meletakkan buku itu dengan wajah datarnya, dengan hati yang merintih menahan malu.


'Sia**n ... Revan sia**n,' umpat Reon kesal dalam hati.


Kasir itu sedikit tersentak melihat buku yang ingin dibeli oleh Reon, atau lebih tepatnya novel.


Kasir itu yang seorang wanita, menatap Reon bergantian dengan buku yang ia pengang saat ini.


"Apa anda yakin tuan? hanya ini?" tanya kasir itu dengan ragu.


Reon menganggukkan kepalanya dengan cepat, beberapa gadis mulai menoleh kearahnya, dan kemudian mengelengkan kepala mereka, tidak percaya.


Setelah membayar buku itu, Reon segera keluar dari toko buku itu, dengan berjalan tergesa-gesa kemotornya.


"Teman Kamp**t," umpat Reon dan kemudian memakai helmnya dan segera menyalakan mesin motornya meninggalkan parkiran itu.


* * *


Sementara itu, Revan sudah tiba dirumahnya dan kini tengah duduk diruang tamu, dengan laptop dipangkuannya, fokus mengerjakan pekerjaan kantor yang dikirim oleh sang ayah padanya.


"Kau mau kemana?" tanya Revan tanpa menoleh pada Revin yang berpakaian rapi dan bersiap untuk keluar dari pintu utama.


"Pergi jalan-jalan Brother," ucap Revin singkat kemudian berjalan keluar setelah mendapat anggukan kepala oleh sang kakak.


Tidak lama setelah Revin keluar, Reon masuk dengan wajah masamnya mendekat pada Revan yang masih fokus pada laptopnya.


Reon menaruh novel itu diatas meja dihadapan Revan dengan perasaan kesal.


"Ini! aku pulang dulu," ucap Reon kemudian berlalu keluar dari rumah meninggalkan Revan yang terdiam menatap kepergiannya.


"Dia kenapa?" tanya Revan pada dirinya sendiri dan kemudian menutup laptopnya, lalu mengambil novel itu dan berjalan naik lantai atas dengan cepat menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2