SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
HUKUMAN


__ADS_3

Kini Revan, Revin, Reon dan Carlos berdiri dihadapan Daenji dengan kepala yang menunduk, merasa bersalah pada kakeknya itu.


"Apa kalian tahu dimana letak kesalahan kalian!" ucap Daenji dengan nada suara yang cukup tinggi, membuat keempat remaja itu tersentak.


"Kami kabur dari rumah," lirih Revin yang tidak sanggup melihat wajah garang kakeknya.


"Lagi!" ucap Daenji dengan menatap tajam pada keempat remaja itu.


"Karena keluar rumah tanpa ijin," ucap Revan dengan mendongak dan menatap wajah kakeknya.


"Bagus, aku fikir kalian lupa dengan hal itu. Mulai besok hingga satu bulan kedepan, kalian akan berjalan kaki ke universitas!" ucap Daenji, titik tidak pake koma.


"Segera naik ke kamar kalian!" titah Daenji dan keempat remaja itu segera bergegas menaiki anak tangga, untuk kekamar masing-masing.


Revin menutup pintu kamarnya dan berusaha untuk mengatur nafas yang tidak beraturan karena terkejut. Revin fikir, ia akan terkena masalah lebih berat, tapi ternyata cukup mudah, karena hanya berjalan kaki ke kampus selama sebulan penuh.


"Untung tidak terlalu berat hukumannya," ucap Revin menghela nafas lega.


Revan segera menutup pintu kamarnya dan berjalan ketempat tidur, ia merebahkan diri di atas tempat tidur dengan nafas memburu.


"Untung hanya berjalan kaki selama sebulan penuh, jika hukumannya tidak boleh keluar saat libur, aku bisa gila tidak bertemu dengan Rania," ucap Revan dengan mengacak rambutnya.


"Untung saja, aku fikir hukumannya akan berat. Jika tau hukumannya seperti ini, aku akan memilih kabur setiap malam," ucap Carlos dengan menghela nafas saat masuk ke kamarnya.


"Huft, kakek Daenji seram sekali saat marah. Tapi tetap saja, mami lebih seram kalau marah," ucap Reon dengan menggelengkan kepalanya yang sedikit pusing mendengar kemarahan Daenji tadi.


"Satu bulan pasti akan segera berlalu," ucap mereka dikamar masing-masing.


* * *


Satu bulan kemudian.


Pukul 5:50 pagi.


Empat orang terbangun dengan tergesa-gesa dikamar masing-masing. Mereka harus rapi sebelum jam 6 tepat, karena bisa bahaya jika orang yang ditugaskan membangunkan mereka, masuk kedalam kamar sebelum mereka bangun.


Dua puluh menit kemudian.


Revan, Revin, Reon dan Carlos keluar dari kamar masing-masing dengan pakaian yang sudah rapi dan penampilan cupu, yang menjadi penampilan sehari-hari mereka sejak satu bulan yang lalu.

__ADS_1


Mereka saling menatap satu sama lain, dan tersenyum penuh arti. Mereka sangat senang, karena hari ini adalah hari terakhir mereka berjalan kaki ke kampus.


Revin dan Carlos mulai jarang bangun telat, karena mereka berdua sudah jerah dibangunkan dengan cara yang lebih sadis dari cara Revan ataupun Reon.


Mereka turun dengan hati yang senang keruang makan dilantai dasar.


"Pagi, Grandpa," sapa mereka pada Daenji yang telah duduk di kursinya.


sejak kejadian malam itu, penjagaan semakin ketat dan bahkan tembok itu telah dipasangkan kawat besi dengan aliran listrik, membuat keempat remaja itu harus menelan saliva mereka dengan susah payah, jika mengingat ancaman Daenji jika mereka mengulangi hal yang sama.


"Jika kalian berani kabur lagi, maka aku tidak akan mengizinkan kalian keluar meski sejengkal dari mansion ini! Meski itu hari libur sekalipun,"


Mengingat hal itu membuat mereka kembali menelan saliva dengan susah payah.


"Kami pergi dulu, Grandpa," ucap mereka berpamitan pada Daenji yang hanya dibalas anggukan oleh pria parubaya itu.


* * *


"Apa pendapat kalian tentang hari-hari tenang selama sebulan ini?" tanya Revin dengan berjalan disamping kakaknya.


"Ini tidak akan bertahan lama, Vin. Cuma dua bulan saja, dan setelah itu akan ada masalah lagi," ucap Carlos dengan wajah kusutnya.


"Kau tidak akan tau, kau 'kan tidak pernah LDR," ucap Carlos keceplosan membuat Reon menatap aneh padanya.


Carlos membeku dengan menelan salivanya susah payah, lalu melirik kearah Reon yang menatapnya penuh tanda tanya. Sedang Revan dan Revin hanya acuh dan bersiul riah tanpa ingin menolong sahabatnya itu.


"Kau punya pacar, Car?" tanya Reon yang penasaran dengan pria disampingnya itu.


"Ti-tidak ada, aku 'kan hanya langsung mengatakannya saja. Apa tidak boleh?" ucap Carlos berbohong dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.


Reon semakin menatap penuh intimidasi pada Carlos, dan hal itu semakin membuat keringat dingin membanjiri kening Carlos.


"Owh, aku fikir kau punya pacar, Car. Jika punya, beritahu padaku ya. Jika tidak, maka mungkin aku akan memberi pelajaran pada sesuatu dibawah sana," ucap Reon penuh penekanan, lalu menepuk pelan bahu Carlos, membuat pria itu semakin dilanda kekhawatiran.


Bukan niat hati tidak ingin memberitahu Reon tentang hubungan rahasianya dan Felisia, hanya saja temannya yang satu itu lebih cerewet dibandingkan kedua saudara kembar itu.


Mereka pun kembali berbincang, dan tidak terasa telah tiba didepan bangunan besar tempat mereka menambah ilmu.


* * *

__ADS_1


Pukul 8 pagi.


Mereka berempat telah duduk di kursi masing-masing, menanti kedatangan dosen yang mengajar mereka. Karena semua mahasiswa dan mahasiswi telah duduk di bangku masing-masing.


Dua jam tiga puluh menit mereka mendengar dosen menerangkan didepan, dan hal itu membuat Revin bosan, begitupun dengan Carlos. Sedang Revan dan Reon menyimak dengan seksama, tanpa ada kata bosan maupun lelah.


"Akhirnya istirahat juga!" seru Revin saat kelas selesai, membuat Revan dan Reon menggelengkan kepala mereka.


"Ayo kekantin!" ajak Carlos yang diangguki oleh Revin, lalu menatap Revan dan Reon.


"Kalian duluan aja, kami akan segera menyusul," ucap Revan, lalu Revin dan Carlos pun segera berlalu keluar dari kelas menuju kantin.


* * *


"Revin, menurutmu apa aku tidak terburu-buru untuk melamar Felisia saat lulus nanti?" tanya Carlos pada Revin yang duduk dihadapannya.


Kini mereka duduk disalah satu meja didalam kantin, setelah tadi memesan makanan. Mereka berdua tidak terlalu takut lagi berbincang bebas seperti sekarang, karena tidak ada lagi mata-mata yang mengawasi mereka didalam kampus itu.


"Kenapa kau bertanya hal itu padaku, kenapa kau tidak menanyakan hal itu langsung pada Felisia, bodoh!" ucap kesal Revin dengan meminum jusnya.


"Benar juga sih, Tapikan ....," ucapan Carlos terhenti kala mendengar seorang pria berteriak kearah mereka dengan panggilan yang membuat telinga keduanya panas.


"Hey, cupu!" ucap seorang pria yang tiba-tiba mengebrak meja Revin dan Carlos dengan berteriak keras.


Revin dan Carlos menoleh dengan malas dan tak lupa tangan yang terkepal kesal.


Revin melirik wanita yang berdiri disamping pria itu, wanita yang pernah ingin bersama dengannya, mengingat hal itu membuat Revin geli sendiri.


"Pergi dan pesankan aku makan langsung!" ucap pria itu dengan menaruh selembaran uang diatas meja, dengan cara yang cukup kasar menurut Revin dan Carlos.


Para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat hal itu, hanya tertawa meremehkan.


Revin dan Carlos acuh dan bertingkah seolah tidak mendengar ucapan pria gila disamping mereka.


Pria itu kesal, dan tiba-tiba menarik kerah baju Revin, hingga membuat Revin berdiri dihadapannya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Pria itu semakin kesal, dan tiba-tiba melayangkan bogem mentahnya kepipi Revin, hingga membuat wajah Revin menoleh kesamping dan kacamatanya terlepas dari wajahnya.


Carlos terkejut melihat hal itu, sedang Revin menyentuh pipinya tanpa yang terkena bogem mentah pria itu, karena wajah Revin sedikit menunduk, jadi membuat siapapun tidak melihat wajahny dengan jelas dan karena tertutup rambut Revin yang menjadi berantakan.

__ADS_1


__ADS_2