
Revin dan Reon sudah memasuki aula pernikahan Carlos, dan disambut oleh ibu mereka.
"Di mana Revan? Apa yang terjadi?" tanya Ana berturut-turut, ia khawatir pada putra pertamanya itu.
"Dia dan Daddy ke negara M, mom. Ada masalah yang harus mereka urus," ucap Revin dengan mengalihkan pandangannya kearah lain, tidak mampu menatap mata ibunya itu.
"Revin! Tatap mata mommy!" ucap Ana tegas, membuat Revin tersentak dan perlahan-lahan menatap mata ibunya.
"Jujur, apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Ana yang kini perasaannya sudah tidak enak, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan suami dan putranya.
"Se-semuanya baik-baik saja, mom," ucap Revin dengan keringat dingin membasahi keningnya, pasalnya ibunya itu sudah menatapnya tajam.
"REVIN!" teriak Ana membuat semua orang menoleh padanya.
Revin tersentak dan terus-menerus menelan salivanya dengan susah payah, ibunya kini sudah tidak bisa lagi dibohongi.
"Ra-Rania diculik, daddi dan Brother pergi ke negara M untuk menyelamatkannya," ucap Revin dengan kepala tertunduk.
Ana yang mendengar hal itu terkejut dan seketika terduduk dilantai, membuat Sarah yang berada disampingnya terkejut.
"Ana!" pekik Sarah dan segera berjongkok untuk menenangkan sahabatnya yang syok berat.
"Mom, mommy tidak perlu khawatir. Daddy dan brother akan baik-baik saja, percayalah," ucap Revin mencoba menyakinkan ibunya.
Reon segera berlari untuk mengambil air putih, sedang semua orang mulai sedikit panik melihat keadaan disana sekarang, sungguh begitu mencekam.
"Mom ... Reana mana?" tanya Revin dengan menatap kesegala sisi aula untuk mencari keberadaan adiknya.
"Tadi dia ijin ke toilet untuk membersihkan bajunya yang terkena sedikit noda jus," ucap Sarah, sedang Ana meminum air putih yang diberikan oleh Reon.
Revin terkejut mendengar hal itu dan segera berlari menuju toilet wanita melewati Rafael dan Carlson yang memasuki aula.
"Ada apa dengannya?" tanya Rafael penasaran pada Carlson.
"Sepertinya masalah yang bisa ia atasi sendiri," ucap Carlson dan kembali melangkahkan kakinya mendekat kearah Fania dan Sarah yang membantu Ana berdiri.
__ADS_1
* * *
Sementara itu, Reana sudah selesai membersihkan noda jus digaunnya, ia pun segera keluar dari toilet dan terkejut melihat seorang pria berjas hitam yang mendekat kearahnya dengan belati ditangannya.
Reana menelan salivanya dengan susah payah, dengan terus menatap pria itu yang semakin lama semakin mendekat padanya.
Pria itu semakin dekat dan hanya berjarak satu meter dengan Reana. Gadis itu mendorong tubuh pria itu kuat-kuat lalu segera berlari dengan cepat menjauh dari pria itu.
'Siapapun tolong,' ucap Reana dalam hati dan semakin berlari menuju ke taman belakang gedung itu.
"Akh!" pekik Reana saat pria itu meraih tangannya membuat ia mundur beberapa langkah.
Reana terus memukul pria itu, tapi sama sekali tidak mampan. Mata Reana membulat sempurna saat pria itu mulai berniat untuk menusukkan belati itu padanya.
Reana memejamkan matanya menanti rasa sakit yang akan ia rasakan saat belati itu menempus perutnya. Reana mengernyit saat tak kunjung merasakan sakit, ia membuka matanya dan terkejut mendapati Dion memengang belati itu hingga telapak tangannya mengeluarkan darah.
"Jangan berani menyentuhnya, sialan!" umpat kesal Dion, lalu menendang kuat-kuat pria itu hingga terpental cukup jauh darinya.
Dion berdiri dihapadan Reana dan menatap tajam pria itu, pria yang berniat untuk melukai orang yang ia cintai.
"Mundur, Reana," ucap Dion tanpa menoleh pada gadis itu.
Pria itu mencoba menusukkan belatinya pada Dion, tapi dengan lihai Dion menghindar dan melayangkan tendangan pada kepala pria itu hingga terpental dan mengenai dinding.
Dion segera meraih belati pria itu yang terjatuh ke lantai, dengan cepat ia menusukkan belati itu diperut pria itu, tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali hingga pria itu beringsut dan terjatuh ke lantai dengan darah yang terus mengalir dari perutnya.
Dion segera melepaskan belati itu dan meringis seketika, karena merasakan sakit pada telapak tangannya.
Reana terdiam melihat kejadian didepan matanya itu, ia hanya bisa mematung dan kembali menatap Dion yang berdiri dab kemudian menoleh padanya.
"Kau baik-baik sa ....," belum selesai Dion berucap, Reana sudah berhambur kepelukannya dan menangis tersedu-sedu.
Dion terdiam lalu perlahan-lahan mengusap rambut gadisnya dengan tangan kirinya, karena lukanya berada di telapak tangan kanannya.
"Sudah, jangan takut. Maaf karena membuatmu takut," ucap Dion dengan terus berusaha menenangkan Reana yang masih terus menangis di pelukannya.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, seorang pria tengah menatap mereka dari kejauhan, dengan tatapan sulit di artikan.
"Aku akan membiarkanmu hari ini," lirihnya lalu berbalik untuk kembali masuk ke aula dan melihat keadaan ibunya.
* * *
Tiga jam kemudian.
Jet pribadi Revan telah mendarat dengan sempurna disalah satu bandara di negara M. Arian dan Revan turun dengan cepat dari jet itu, lalu berjalan dengan tergesa-gesa mendekati mobil yang tersedia disana, yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
"Ke markas," ucap Arian singkat sebelum memasuki mobil, sedang Revan sudah masuk sedari tadi.
Di perjalanan ke markas dragon night yang ada di negara M, Revan tidak henti-hentinya memukul pintu mobil disampingnya, membuat sang supir sedikit tersentak.
"Sudah siapkan semuanya kan?" tanya Arian pada anggota dragon night yang menjadi sopir mereka saat ini.
"Sudah tuan, seperti yang sudah anda kirimkan lewat pesan tadi. Kami juga sudah menerima email lokasi penelfon tersebut, yang ternyata berada dibagian hutan utara kota J," jelasnya membuat Arian mengangguk mengerti lalu menatap Revan yang seperti tidak puas dengan penjelasan pria dihadapannya, yang tengah mengemudikan mobil itu.
"Lanjutkan, Gi," ucap Arian dan pria itu kembali berbicara.
"Sepertinya orang yang mengikuti pria itu cukup banyak, sekitar 100 orang lebih dan memenuhi sisi hutan. Dan sangat berbahaya jika kita mengunakan helikopter untuk menyusup lewat udara, jadi kita hanya bisa menyusup melewati beberapa cela yang tidak dijaga oleh anak buah orang itu," jelas Gi membuat Revan mengernyit.
"Dia sudah menguasai separuh hutan itu? Jadi maksudnya, dia sudah berada disana cukup lama?!" tebak Revan dengan mencekram kuat pundak GI, membuat pria itu hanya menganggukkan kepalanya dengan menahan rasa sakit akibat cengkraman kiat dipundahnya.
"Revan, tenang. Jangan terlalu emosi jika berhadapan dengan musuh, karena itu hanya akan membuat kita celaka," ucap Arian menasehati putranya.
Revan melepaskan cekraman tangannya dipundak Gi, membuat pria itu bernafas lega.
"Kami sudah menyiapkan 200 anggota dragon night yang sudah mengepung separuh dari daerah itu, hingga membuat siapapun tidak bisa keluar dari sana dengan sesuka hati mereka," kelas Gi lagi, dengan menatap wajah merah padam Revan dari kaca didalam mobil.
"Tuan, kami sudah menyiapkan semua senjata disana, jadi ... tidak perlu lagi ke markas," ucap Gi sedikit ragu, karena takut jika bosnya itu menendangnya keluar dair mobil yang berjalan ini.
"Kalau begitu, langsung ke sana!" ucap Arian, dan Gi mengangguk patuh kemudian menambah kecepatan mobil menuju hutan.
'Aku tidak berjanji jika nanti tidak membunuh putramu,' ucap Arian dalam hati dengan menatap lurus kedepan, dan mengingat wajah seseorang yang sudah lama pergi dari dunia.
__ADS_1
***
Kan, jantungku senam lagi😌😌🤠hati² ya, jantungnya ikut senam😌ðŸ¤ðŸ˜˜