
Kedua pria itu saling bertukar pandang satu sama lain, lalu kemudian menatap Revan yang juga menatap mereka dengan tatapan dingin.
Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang pria berjas hitam menatap Revan dari atas dan bawah menilai.
"Cih ... bagaimana mungkin kau takut pada anak kecil seperti ini," ucap pria berjas hitam itu, meremehkan Revan.
"Jangan menilainya hanya dari usianya, dia itu sangat pintar dan juga licik, seperti ayahnya," ucap seorang pria berjalan keluar mendekati pria berjas hitam itu.
Pria itu mendorong Rania hingga tersungkur ke tanah dengan tangan yang diikat kebelakang dan juga dengan mulut yang sumpal dengan kain.
Revan mengepalkan tangannya kesal sekaligus marah dan menatap kedua pria yang menatapnya.
Rania menatap Revan dengan mata yang berkaca-kaca lalu mengelengkan kepalanya ingin berbicara tapi tidak bisa.
'Revan, lari! jangan kesini, pulanglah!' ucap Rania dalam hati berharap agar Revan segera pergi dari tempat itu, karna nyawanya sedang terancam.
"Ck, hanya anak kecil, apa yang ditakutkan," ucap pria berjas hitam itu berjalan melewati Rania dan mendekat pada Revan.
Pria berjas hitam itu mengangkat tangannya berniat untuk memukul Revan, tapi tiba-tiba suara tembakan mengema dihutan itu.
DOR
Suara tembakan yang entah dari mana, pria yang tadi membawa Rania keluar dari gudang mencari asal suara itu, begitu pun dengan kedua orang yang menjaga diluar.
Tiba-tiba pria berjas hitam itu terduduk dihadapan Revan dengan memengang perutnya, ketiga pria itu menatap bingung hingga Revan tiba-tiba menendang kepala pria berjas hitam itu hingga terlempar cukup jauh kearah kanan dengan perut yang terus menerus mengeluarkan darah.
Ketiga pria itu terkejut dan dengan sigap Revan menembak mereka dan dua penjaga itu mati dengan tembakan tepat mengenai kepala, sedang pria yang satunya segera menghindar lalu berteriak.
"TEMBAK DIA!" titah pria itu membuat Revan segera menarik tangan Rania yang masih terikat kebelakanh dan segera berlari menjauh dari tempat itu.
Para bawahan pria itu segera keluar dan menembak kearah Revan dan Rania.
DOR
Rania terkejut saat melihat lengan Revan yang terkena tembakan, Revan tidak peduli dengan lukanya dan terus berlari dengan menarik tangan Rania yang sudah terkepas ikatannya begitu pun dengan kain yang menyumpal mulutnya.
'Sedikit lagi,' ucap Revan dalam hati dengan tangan yang mengengam tangan Rania erat menuju kearah motornya.
"Kak Revan lenganmu!" ucap Rania sambik berlari.
Revan tidak peduli dan terus berlari meski lengannya yang terkena tembakan terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
Seseorang membidik kearah Revan dan siap menembak.
DOR
Timah panas yang menembus kepala pria yang membidik Revan.
Revan menghentikan langkahnya lalu memeluk Rania dan bersembunyi dibalik pohon.
Rania hanya terdiam dalam pelukan Revan yang begitu hangat menurutnya.
'Aku serahkan pada kalian,' ucap Revan dengan memejamkan matanya berusaha untuk menahan rasa sakit dilengan kanannya dengan posisi memeluk Rania erat.
"Tutup telingamu," bisik Revan ditelinga Rania.
Rania pun menutup kedua telinganya didalam pelukan Revan.
* * *
"Beraninya kau! akan ku pastikan kalian semua mati disini hari ini," ucap seseorang yang menembak pria yang tadi membidik Revan yang tidak lain adalah Revin.
Revin segera datang ke hutan sebelah barat kota A setelah ditelfon oleh Desta dan tidak lupa, Revin membawa pistol yang selalu ia sembunyikan didalam kamarnya.
Revin berlari maju tanpa takut dan kemudian melayangkan bogem mentahnya pada pria yang tadi memberi perintah pada orang-orang itu.
Pria itu terlempar cukup jauh dan berusaha untuk bangkit tapi, Revin dengan cepat menghampirinya dan langsung menendangnya hingga terlempar dan mengenai pohon.
Sementara para anggota Dragon night sudah menghabisi semua musuh mereka hingga hanya menyisahkan pria yang dipukuli oleh Revin.
"Beraninya pria sepertimu ingin membunuh saudaraku," ucap Revin dingin dengan iris mata yang sudah berubah menjadi merah akibat marah.
Revin berjalan mendekat kearah pria itu yang berusaha untuk kabur, tapi dengan sigap Revin menendang punggung pria itu hingga tersungkur ke tanah.
Pria itu merintih kesakitan saat Revin menginjak punggungnya dengan keras.
"Siapa yang mengirimmu atau lebih tepatnya kau dari keluarga mana?" ucap Revin dengan nada dingin bertanya pada pria itu yang wajah yang sudah mengeluarkan darah dari luka yang dibuat oleh Revin.
"Cih ... MATI PUN AKU TIDAK AKAN MEMBERITAHUKANNYA PADAMU, SIA**N," Teriak pria itu dengan wajah yang mengertak.
Revin terdiam bukan karna terkejut melainkan mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Pria yang ia injak punggungnya itu.
Revin tersenyum devil lalu semakin memperkuat pijakannya pada punggung pria itu.
__ADS_1
"Kamu loh yang minta, lagi pula aku tidak butuh jawaban darimu, aku bisa melacak kelaurgamu dengan cepat, dan kutebak kau dari keluarga Diu, maka keluarga itu, tidaka akan ada didunia mulai hari ini," ucap Revin menekan kata-katanya lalu menginjak kepala pria itu berkali-kali tanpa ampun.
Para anggota Dragon night menelan saliva mereka dengan susah payah melihat hal yang dilakukan oleh Revin.
Revin terus menginjak kepala pria itu hingga tewas bahkan masih melakukannya sampai ia benar-benar puas.
'Monster,' ucap anggota Dragon night dalam hati secara bersamaan dengan tangan yang sedikit gemetar.
Revin menyudahi kegiatannya dengan sepatu yang berlumuran darah dan iris mata yang perlahan-lahan kembali normal.
Revin berjalan mendekati Desta hingga tiba-tiba ia ingat jika sang kakak berlari bersama dengan Rania tadi.
"BROTHERR!" teriak Revin berlari mencari keberadaan sang kakak.
"Kak Revan sadar, kak Revan!" suara Rania yang berusaha untuk membangunkan Revan yang pingsan.
Revin yang mendengar suara Rania segera berlari menghampiri tempat Rania dan Revan.
Revin terkejut melihat Revan yang tidak sadarkan diri dengan lengan kanan yang mengeluarkan darah.
"BROTHER!" teriak Revin segera menepuk pelan pipi Revan.
"Kak Revin, kak Revan ... dia ...," ucap Rania dengan mata yang mulai ingin menangis.
"Tuan Revan," ucap Desta segera mengangkay tubuh Revan untuk segera membawanya kerumah sakit.
Rania nampak gemetar membuat Revin menepuk pundak Rania pelan.
"Dia akan baik-baik saja, percayalah" ucap Revin menyakinkan Rania bahwa sang kakak akan baik-baik saja meski sebenarnya ia juga sedikit takut.
Revin segera mengajak Rania untuk berjalan kearah motornya dan mengantarnya pulang.
"Aku tidak ingin pulang," ucap Rania membuat Revin menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Rania.
"Aku ingin kerumah sakit!" ucap Rania membuat Revin menghembuskan nafasnya.
Revin pun mengangguk dan segera naik ke motornya untuk segera kerumah sakit dimana Desta akan membawa Revan.
Di tengah perjalanan, Revin terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjelaskan hal itu pada sang ibu.
'Apa yang harus aku katakan pada mommy nanti,' ucap Revin dalam hati berfikir keras tentang apa yang akan ia katakan pada sang ibu.
__ADS_1