SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian.


Rania mengigit bibirnya khawatir jika terjadi sesuatu pada Revan, sedang Revin duduk dikursi tunggu dengan menatap Rania yang mondar mandir dihadapannya dengan raut wajah khawatir.


Revin menundukkan wajahnya berusaha untuk berfikir apa yang akan ia katakan pada sang ibu.


Sudah 25 menit Revin dan Rania menunggu diluar ruangan operasi, tapi dokter yang menangani Revan belum juga keluar.


Sedang Desta sudah pulang sedari tadi untuk melakukan hal yang diperintahkan oleh Revin.


Ana dan Arian berlari menelusuri lobi rumah sakit untuk segera tiba didepan ruang operasi.


Revin sudah menghubungi kedua orang tuanya saat Revan sudah tiba dirumah sakit tadi.


"Revin, bagaimana keadaan Revan? dia baik-baik saja 'kan?" ucap Ana menyerang Revin dengan pertanyaan berturut-turut.


"Rania?" ucap Ana yang baru menyadari jika Rania ada disana dengan baju seragam yang kotor dengan bercak darah dilengan sebelah kirinya.


"Dokter belum keluar dari ruang operasi, Mom. jadi aku tidak tau keadaan kakak bagaimana sekarang," ucap Revin dengan menundukkan kepalanya tidak mampu menatap mata sang ibu.


Arian menghembuskan nafasnya melihat hal itu, Arian segera memeluk istrinya itu yang sudah menangis.


"Percayalah, Revan akan baik-baik saja, Rania apa kamu baik-baik saja?" tanya Arian menatap gadis itu yang masih mengigit bibir bawahnya khawatir.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Ana yang mulai tenang bertanya pada Revin.


Revin menelan salivanya dengan susah payah, hal inilah yang tidak bisa ia jawab ketika sang ibu bertanya.


Saat Revin ingin berbicara, tiba-tiba Rania sudah mulai membuka suara dengan nada suara yang sedikit gemetar.


"Ini ... semua salahku, Bibi. kak Revan ... seperti ini karna salahku," ucap Rania menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Revan.


Rania mulai menangis membuat Ana menatap sendu gadis itu, ia pun berdiri dan memeluk tubuh Rania.


"Jangan salahkan dirimu, Rania. kamu tidak salah, kita berdoa bersama agar Revan baik-baik saja." ucap Ana dan Rania pun mengangguk.


Revin dan Arian saling bertukar pandang satu sama lain dan menghembuskan nafas mereka perlahan.

__ADS_1


"Mom, Reana mana?" ucap Revin bertanya pada Ana.


"Reana ada dirumah, tadi ingin ikut kesini, tapi mommy melarangnya," ucap Ana dan Revin pun mengangguk mengerti.


"Rania, bisa kau ceritakan semuanya sayang," ucap Ana membuat Revin membelalakkan matanya lalu menoleh pada sang ayah yang juga menatapnya dengan raut wajah serius.


Rania terdiam kemudian menatap Revin yang mengelengkan kepalanya berharap agar Rania tidak menceritakan kebenarannya pada sang ibu, meski memang Rania belum tau semua, tapikan tetap saja.


Rania mulai menceritakan pada Ana saat dia pulang sekolah dan berniat untuk ke toko buku untuk membeli novel, tapi saat ia berjalan keluar dari toko buku itu, tiba-tiba seseorang membekap mulutnya mengunakan kain dan perlahan-lahan kesadarannya hilang.


Saat Rania tersadar, ia sudah diikat di kursi dengan mulut yang disumpal dengan kain dengan 5 pria yang menjaganya.


"Aku tidak tahu jelasnya, Bibi. tapi pria itu menelfon nomor seseorang dan saat ku dengar suara orang yang ia telfon tenyata adalah Kak Revan. lalu kak Revan datang menolongku dan segera membawaku pergi lalu tiba-tiba peluru mengenai lengan kak Revan, Dan tidak lama itu, kak Revin datang menolong bersama ...." ucap Rania menjeda kalimatnya kemudian melirik kearah Revin yang juga menatapnya.


"Dengan polisi, dan semua penculik itu ditangkap," ucap Rania membuat Revin terkejut kemudian bernafas lega.


Ana yang mendengar hal itu hanya bisa mengigit bibir bawahnya dengan memejamkan matanya lalu kembali memeluk Rania erat.


"Pulanglah, bersihkan dirimu dulu, dan setelah itu kamu bisa kesini lagi jika kamu mau," ucap Ana dengan senyum diwajahnya.


Rania nampak berfikir kemudian mengangguk.


"Ayo," ucap Revin dan kemudian berjalan diikuti oleh Rania dibelakangnya setelah berpamitan pada Arian dan Ana.


Revin dan Rania tiba diparkiran rumah sakit, Revin segera naik ke motornya diikuti oleh Rania.


Revan membuka jaketnya lalu memberikannya pada Rania.


"Pakai ini, agar bibi Fira tidak curiga nanti," ucap Revin memberikan jaketnya pada Rania.


Rania mengangguk mengerti kemudian memakai jaket itu dan memengang pundak Revin.


Revin memakai helmnya lalu melajukan motornya meninggalkan parkiran rumah sakit menuju ke apartemen Kimso.


Dua puluh menit kemudian.


Revin menghentikan motornya diparkiran apartemen Kimso, Rania turun dari motor diikuti oleh Revin.

__ADS_1


Revin dan Rania pun berjalan untuk segera masuk ke lift, Revin memencet tombol lift dan pintu lift pun tertutup.


Rania hanya menundukkan kepalanya dengan perasaan yang begitu khawatir, Revin melirik kearah Rania yang hanya menundukkan kepalanya tidak berniat untuk berbicara.


Pintu lift terbuka, Revin dan Rania segera keluar dari lift dan berjalan kepintu apartemen Kimso.


Revin memencet bel apartemen dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka.


Fira tersenyum pada Revin lalu menatap Rania dengan tatapan tanda tanya.


"Revin! ayo masuk!" ucap Fira pada Revin dengan menatap Rania yang hanya menundukkan kepalanya.


Revin pun masuk dan berjalan kearah sofa kemudian duduk sedang Rania segera berjalan masuk ke kamarnya untuk mandi.


Revin menatap Fira yang sedang menatap Rania dengan tatapan khawatir.


"Revin, semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Fira pada pria yang tengah duduk diatas sofa.


Revin tersenyum pada Fira kemudian berbicara.


"Semuanya baik-baik saja kok, Bi. tadi ... Rania diculik dan kakakku pergi menyelamatkannya dan sekarang ada dirumah sakit," ucap Revin dengan cengegesan dan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Fira terkejut bukan main mendengar hal itu.


"Apa! bagaimana bisa hal itu terjadi, teru Rania, lalu Revan ...," ucap Fira syok dengan raut wajah khawatir.


Revin beranjak dari duduknya dan mendekati Fira, lalu mengenggam tangan Fira.


"Bibi, Rania baik-baik saja, begitu pun dengan kakakku, jadi bibi tidak perlu khawatir, oke," ucap Revin dengan tersenyum pada Fira.


Fira hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan Revin.


"Begini, Bi. mungkin Rania tidak akan pulang malam ini, karna berada dirumah sakit, tidak apa-apa 'kan?" ucap Revin membuat Fira terdiam.


Fira menganggukkan kepalanya setuju, membuat Revin tersenyum senang, Fira pun segera berjalan memasuki dapur untuk membuatkan Revin minum.


Kenapa Revin berkata seperti itu pada Fira, karna ia tahu jika Rania pasti akan menjaga Revan dirumah sakit, jadi dari pada Rania yang meminta izin, lebih baik dia saja.

__ADS_1


Revin kembali duduk disofa dan merogoh ponselnya disaku celananya dan mengaktifkan jaringan selulernya berniat bermain game.


Tiba-tiba pesan berturut-turut masuk kedalam ponsel Revin membuat Revin mendengus kesal lalu menghembuskan nafasnya.


__ADS_2