SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
SIAL


__ADS_3

Reana terdiam sejenak kemudian menatap sang kakak yang menanti jawabannya.


"Kak Revin belum pulang, kak. emang kakak liat motor kak Revim di garasi ya?" tanya Reana dengan memasang raut wajah bingung.


"Tidak ada, tapi aku rasa dia sudah pulang," ucap Revan dengan rau wajah nampak berfikir, berfikir dimana sang adik berada.


"Memangnya ada apa sih, kak. sampai nyariin kak Revin?" tanya Reana yang penasaran.


"Tidak ada apa-apa, Rere." ucap Revan kemudian tersenyum pada Reana.


Revan kemudian berjalan ke arah tangga hingga tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menoleh pada gelas kosong diatas meja.


Revan mengernyit kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk segera ke lantai atas, lebih tepatnya ke kamarnya.


Revan berjalan menuju kamarnya dan berhenti sejenak di depan pintu kamar Revin. Revan terdiam sejenak kemudian mendekat pada pintu kamar Revin lalu mencoba membuka pintu tapi sayangnya terkunci.


"Di kunci? apa dia benar-benar belum pulang?" ucap Revan bertanya pada dirinya sendiri.


Revan segera masuk ke dalam kamarnya dan menutu pintu.


Sementara itu, Revin sedang mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat takut, iya takut jika sang kakak sampai menemukannya bisa bahaya.


Hampir 1 jam Revin berdiam didalam kamar tanpa bersuara sedikit pun, Tiba-tiba perut Revin sedikit berbunyi karna lapar, Revin mulai mondar-mandir didalam kamar, antara keluar dengan tidak.


Jika ia keluar besar kemungkinan ia akan bertemu dengan sang kakak, tapi jika ia tidak keluar, maka ia akan kepalaran.


Rasa lapar mengalahkan rasa takutnya, Revin pun membuka pintunya sedikit kemudian mengintip keluar dan sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda sang kakak.


Revin mulai berjalan perlahan keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan.


Revin segera menuruni tangga untuk segera menuju dapur. Revin menghentikan langkahnya saat sudah berada di dekat meja makan dan melihat seseorang yang baru saja keliar dari dapur dengan memengang botol air minum.


Revan berjalan keluar dari dapur setelah mengambil air minum di botol, Revan terkejut ketika melihat Revin yang mematung tidak jauh dari meja makan.


"REVIIN!" teriak Revan menyadarkan Revin dari keterkejutannya kemudian segera berlari keluar dari ruang makan.


Revan segera mengejar adiknya itu dengan cepat sebelum sampai ke tangga.


Saat Revin ingin menaiki tangga untuk segera naik ke kamarnya, tiba-tiba Revan menarik kerah baju Revin membuat Revin segera menghentikan langkahnya sebelum tercekik.


"Maaf Brother, aku minta maaf," ucap Revin meminta maaf pada kakaknya itu.

__ADS_1


Revan tidak peduli dengan permintaan maaf Revin dan memilih untuk menarik telinga adiknya itu menuju ke ruang tamu.


"Maaf, Brother. aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aduhh brother telingaku," rintih Revin tapi Revan sama sekali tidak peduli.


"Ada apaan sih, kak. ribut banget!" ucap Reana yang baru saja turun dari kamarnya karna mendengar suara teriakan sang kakak.


Rean terkejut melihat apa yang terjadi dimana Revan menarik telinga Revin hingga sampai di ruang tamu.


"Reana tolong!" ucap Revin meminta tolong pada adiknya itu.


Revan masih menarik telinga Revin yang mulai sedikit memerah.


"Aduh, brother. tolong lepaskan, telingaku nanti putus ini!" rintih Revin yang mulai sedikit kesakitan.


"Dimana motormu?" ucap Revan bertanya pada Revin.


Revin menelan salivanya dengan susah payah mendengar sang kakak yang menanyakan dimana motornya.


"Tadi masuk ke bengkel, Brother." ucap Revin berbohong.


Tidak mungkin dia memberi tahukan keberadaan motornya di rumah Carlos, bisa-bisa besok pagi ia akan jalan kaki dari rumah ke sekolah dan yang lebih mengerikan lagi, itu akan berjalan selama 1 minggu.


Revan menatap datar Revin, Revan tau jika Revin berbohong padanya.


Revan menghembuskan nafasnya kemudian melepaskan tarikannya pada telinga Revin.


Revin memengang telinganya yang merah akibat di tarik oleh sang kakak.


Arian yang baru pulang dari kantor segera masuk kedalam rumah dan terkejut melihat ketiga anaknya berkumpul di sana, dimana Revan dan Revin di sofa sedang Reana di tangga dengan menatap kedua kakaknya dengan tatapan terkejut.


"Daddy pulang," ucap Arian membuat Revin berbinar senang kemudian berdiri dari duduknya berniat untuk berlari dan mengadu pada Arian.


Belum satu langkah Revin melangkahkan kakinya, Tiba-tiba ia tersandung saat kaki Revan dengan sengaja menyandung kaki Revin membuat Revin jatuh ke lantai dengan posisi wajah yang tepat mencium lantai.


"Dasar Brother sint*ng," umpat Revin kesal kemudian segera berlari kebelakang sang ayah dengan kening yang sedikit merah.


Reana terdiam mendengar hal itu, sedang Revan hanya berwajah datar.


"Ada apa ini?" ucap Arian yang bingung dengan apa yang terjadi.


"Daddy, bibir Brother sudah tidak su ...," ucap Revin yang terhenti saat bantal sofa melayang dengan tepat mengenai wajahnya.

__ADS_1


Arian menghindar saat melihat bantal sofa melayang ke arahnya dan melupaka jika putra keduanya berada di belakangnya.


Revan mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Revin dan kemudian mengambil bantal sofa di dekatnya dan kembali melemparkannya pada Revin.


"Sini kau sia**n," ucap Revan di sela-sela umpatannya pada adiknya itu.


Dan terjadilah aksi kejar-kejaran antara Revan dan Revin yang membuat Reana dan Arian menghembuskan nafasnya.


"Kesini kau mulut ember!" sarkas Revan dengan berlari mengejar Revin mengelilingi ruang tamu itu layaknya anak kecil.


"Daddy, bibir Brother sudah tidak suci lagi," ucap Revin setengah berteriak.


Arian dan Reana terkejut mendengar hal itu.


"Kesini kau mulut ember sia**n, adik sia**n," umpat Revan yang sudah kesal tingkat dewa.


Revin segera berlari menaiki tangga di ikuti oleh Revan. Revin segera masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu membuat Revan mengedor pintu kamar Revin dengan keras.


Arian dan Reana masih terkejut dengan apa yang mereka dengan barusan.


"Bibir Revan sudah tidak suci lagi?" ucap mereka berdua pada diri sendiri.


* * *


Pukul 7:30 malam.


Saat ini, Arian dan Ana beserta ketiga anaknya tengah makan malam dengan keadaan hening di tambah lagi dengan Revan yang menatap tajam ke arah Revin membuat Revin sulit untuk menelan makanan yang ia makan.


Revin segera meminum air putih di sampingnya lalu kembali menguyah dengan berusaha untuk mengabaikan tatapan maut dari sang kakak.


'Akan ku balas kamu besok,' ucap Revan dalam hati siap dengan pembalasannya pada adiknya itu yang memiliki mulut ember bocor.


* * *


Pukul 6:15 pagi.


Ana, Arian dan Reana tengah duduk di maja makan dan menatap heran Revan yang keluar dari dapur dengan memengang benda yang entah untuk apa.


Revan berjalan naik ke lantai dua untuk segera membangunkan adiknya itu dengan cara spesial minta ampun.


Lima menit kemudian.

__ADS_1


"BROTHER SIAL*AN" teriak Revin dari lantai atas lebih tepatnya di kamarnya yang terdengar sampai ke bawah.


__ADS_2