SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PERPISAHAN


__ADS_3

Setelah kepergian Arian dan Ana, kini tinggal Revan, Revin dan Daenji diruang tamu.


"Kalian bersiaplah, seminggu lagi, kita akan berangkat kenegara S, kalian tidak masalahkan?" tanya Daenji pada kedua cucunya itu.


"Baik, Grandpa," ucap mereka bersamaan dengan kepala tertunduk menatap lantai.


Daenji berjalan mendekat kearah kedua cucunya itu lalu mengelus kepala mereka berdua bersamaan.


"Jika ingin menjadi lebih baik, maka kalian harus siap menghadapi semuanya dengan baik, anak laki-laki tidak boleh cengeng, Kakek pulang dulu," ucap Daenji dan diangguki oleh kedua remaja itu.


Tidak lama setelah Daenji keluar dari rumah, seseorang datang menghampiri mereka berdua.


"Kakak," ucap Reana lirih membuat kedua kakaknya itu mendongak dan menatapnya.


Revan dan Revin terkejut melihat adik perempuan mereka menangis.


"Reana, kenapa menangis seperti ini?" ucap Revan menghampiri adiknya itu, diikuti oleh Revin.


Reana memeluk erat tubuh kakak pertamanya itu dan menangis kerar, hingga membuat kedua pria itu terkejut.


"Hey, jangan menangis! Kenapa Reana yabg cantik ini menangis, nanti cantiknya hilang loh," ucap Revin mencoba menghibur adiknya itu, yang semakin memeluk erat tubuh Revan.


"Kenapa kak Revan sama kak Revin pergi ke Negara S, disini kan juga ada universitas terbaik, kenapa harus ninggalin Reana," tangis Reana semakin keras membuat kedua kakaknya itu merasa bersalah.


Revan dan Revin menatap satu sama lain, kemudian menghembuskan nafas mereka bersamaan.


"Reana, dengarkan kakak, meski kami jauh, kami akan tetap terhubung denganmu, jika kamu rindu dengan kami, kamu bisa menelfon kami kapan saja, dan jika ada yang menyakitimu, kami pasti tau, dan akan membuat orang itu menyesal," ucap Revan mencoba menenangkan adiknya itu, meski sebenarnya ia tidak tau merangkai kata-kata.


Revin yang mendengar hal itu, menatap datar pada kakaknya, kemudian menghembuskan nafasnya.


"Brother, cara bicaramu itu kaku sekali," protes Revin yang mendapat tatapan tajam dari Revan.


"Dengar adikku yang cantik, kami tidak meninggalkanmu sendirian, lagi pula masih ada Mommy dan Daddy, jika kau menangis seperti ini, siapa yang akan menenangkan Mommy, dan juga kami kesana bukan hanya untuk melanjutkan pendidikan, tapi juga untuk membuat Brother menikah dengan cepat," ucap Revin dengan sedikit candaan yang membuat Reana terdiam, dan sedetik kemudian ....


"Aduhhhhh," rintih Revin dan melompat-lompat dengan satu kaki, karena mendapat injakan keras dari kaki kakaknya.


"Brother, kau kejam!" ucap Revin dengan mengelus kakinya yang bernasib malang.


"Karena kesalahanmu sendiri," ucap Revan santai dan pecahlah tawa Reana.


Reana tertawa dengan sesekali menyeka air matanya dan menatap kakak keduanya itu, yang masih meringis kesakitan dengan wajah terkejut.


"Jika aku tau kau akan berhenti menangis dan tertawa lepas seperti ini, mungkin aku akan menginjak kaki Revin sedari tadi," ucap Revan santai membuat Revin menatap ngeri padanya.


"Sia**n," umpat kesal Revin yang berhasil membuat tawa Reana semakin pecah.


Revan dan Revin tersenyum kecil melihat adiknya yang sudah tidak menangis lagi.


"Ya sudah, masuk kedalam kamarmu untuk beristirahat, jangan tidur terlalu malam, oke," ucap Revan menyeka air mata adiknya itu, lalu mengecup kening Reana.


Reana mengangguk dan berniat untuk melangkahkan kakinya menjauh dari kedua saudaranya itu.


"Ehem," Revin berdehem membuat Reana menoleh padanya, begitu pun dengan Revan.


Revin menunjuk pipinya membuat Reana tersenyum dan berjalan mendekat kearah Revin lalu mengecup singkat pipi kakaknya itu.


Reana juga mencium pipi Revan lalu berjalan mendekat kearah tangga untuk naik ke kamarnya.

__ADS_1


Revan dan Revin yang melihat hal itu, hanya mampu menghembuskan nafas lelah mereka.


* * *


Enam hari kemudian.


"Carlos bangun!" ucap Reon mencoba membangunkan sahabatnya itu, yang masih bergelut dengan selimut, sedang ia sudah tapi sedari tadi.


Reon melihat arloji yang melingkar ditangannya dan mengerang kesal, saat melihat angka yang tertera disana.


Reon merogoh saku celanannya dan menelfon nomor seseorang yang bisa memberitahunya cara ampuh membangunkan seseorang.


Cukup lama berdering, akhirnya seseorang diseberang telfon, mengangkat telfonnya.


"Halo, kenapa?" tanyanya to the point.


"Revan, bagaimana cara ampuh membangunkan seseorang yang tidur seperti kerbau," ucap Reon pada Revan diseberang telfon.


"Oh, siram dengan air, kalau tidak mampan juga, tarik kakinya hingga jatuh dari tempat tidur dan seret kekamar mandi," ucap Revan santai diseberang telfon membuat Revin yang berada disampingnya bergidik ngeri.


'Akhirnya kau mendapatkan hal yang serupa denganku, Carlos,' ucap Revin dalam hati dengan mengelus dadanya.


"Oke," ucap Reon dan Revan pun mematikan panggilan sepihak.


* * *


Pukul 1 siang.


"Sia**n kau! Kau kejam sekali jadi teman satu kamar!" umpat Carlos kesal pada Reon yang duduk dengan santai dihadapannya.


Saat ini Reon dan Carlos berada dikota M, ikut dengan Carlson dan Rafael melakukan perjalan bisnis untuk terakhir kali sebelum mereka kenegara S dan juga untuk Reon berpamitan pada Liona.


Mereka kini berada di mall dikota M, dan menunggu seseorang.


"Reon," ucap seseorang yang kini berdiri disamping mereka.


Reon dan Carlos menoleh dan mendapati Liona dan Felisia yang berdiri disamping mereka dengan tersenyum kecil.


Liona pun duduk dikursi disamping Reon, saat Felisia ingin duduk dikursi, Carlos menarik tangannya menjauh dari meja itu, membuat Reon dan Liona menatap bingung pada Carlos.


Reon segera tersadar dan kini menyentuh tengah Liona, membuat gadis itu menatapnya.


"Aku kesini untuk memberitahukan seseuatu padamu," ucap Reon sedikit ragu.


"Apa?" ucap Liona dengan wajah tanda tanya.


"Besok aku akan pergi kenegara S untuk melanjutkan pendidikan disana, dan mungkin tidak akan kembali dalam waktu dekat, kamu tidak masalahkan jika kita LDR lebih lama lagi?" ucap Reon membuat gadis itu terdiam.


"Jika aku tidak kembali dari negara S dalam waktu dekat, dan kamu menemukan seseorang yang membuatmu nyaman dan juga kamu menyukainya, maka aku tidak akan melarangmu untuk menjalin hubungan bersamanya, aku ....," ucap Reon terhenti saat hari telunjuk Liona berada dibibirnya.


Liona mengelengkan kepalanya, kemudian tersenyum sendu.


"Jangan berbicara seperti itu, aku tidak janji bisa setia disini, tapi aku akan tetap menantimu kembali, dan jika kau kembali, segera bawa kedua orang tuamu untukbertemu dengan kedua orang tuaku, jika saat itu aku masih bertahan menunggumu," ucap Liona dan Reon segera menganggukkan kepalanya dan mereka pun berpelukan dengan erat untuk terakhir kalinya.


* * *


Ditempat lain.

__ADS_1


Carlos terus menarik tangan Felisia hingga keluar dari mall dan tiba diparkiran barulah Carlos melepaskan tangan Felisia yang sedari tadi terus meronta.


"Dasar pria gi*a," umpat kesal Felisia saat Carlos melepas pengangan tangannya.


"Tidak perlu marah-marah seperti itu, aku menarikmy kesini karena ingin memberitahukan sesuatu yang penting," ucap Carlos membuat gadis itu mengernyit.


"Besok aku akan pergi kenegara S," ucap Carlos semakin membuat Felisia bingung.


"Terus urusannya denganku apa?" ucap Felisia sewot.


"Aku takut jika kau akan rindu denganku," ucap Carlos dan Felisia yang mendengar hal itu, bergidik ngeri.


"Yang benar saja! memangnya kau siapaku, kau hanya pria menyebalkan yang selalu menganggu hidupku dan juga ...." ucapan Felisia terhenti saat Carlos mengecup singkat bibirnya.


"DASAR MESUM!" teriak Felisia yang membuat Carlos tertawa.


"Tapi aku yakin, kau akan merindukanku," ucap Carlos dengan PD nya, membuat gadis itu mengerang kesal kemudian pergi meninggalkan Carlos yang terdiam dengan senyum kecil dibibirnya.


"Kau mungkin tidak akan merindukan Carlos, tapi kau akan merindukan Carlie," ucap Carlos kemudian berjalan mengikuti Felisia kembali masuk ke mall.


* * *


Esoknya jam 10 pagi.


Saat ini semua keluarga Li, Sang dan Sia berada di bandara untuk mengantar keempat orang yang akan berangkat ke negara S.


Fania memeluk erat Carlos dengan tangis yang pecah, ia tidak ingin melepas putranya itu untuk pergi ke negara S, tapi Carlos meminta sabga ibu untuk memenuhi keinginannya dengan alasan akan menuruti semua yang dikatakan oleh Daenji, dan dengan berat hati Fania mengijinkannya.


Disamping Fania, Sarah memeluk putra pertamanya itu dengan menangis tersedu-sedu, dan Reon membalas pelukan sang ibu dengan erat.


Dan Ana tidak jauh berbeda, ia memeluk Revan dengan erat dan juga Revin, meski ia sudah setuju, tapi hatinya benar-benar tidak mampu.


"Ingat untuk mendengarkan perkataan kakek Daenji, mengerti!" ucap Ana dengan linangan air mata.


Revan mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu, sedang Revin berjalan mendekat kearah seorang gadis yang sedari tadi menundukkan kepalanya.


"Hey bocil," ucap Revin membuat Vivian mendongak dengan pelupuk mata yang mulai berair.


"Jangan memanggilku bocil, dasar pria gi*a," ucap Vivian dengan mengalihkan pandangannya, agar Revin tidak melihatnya menangis.


Revin yang melihat hal itu terkikik geli.


"Ingat ya untuk tidak merindukanku, jika kau rindu, kau juga bisa menelfonku kok, bocil," ucap Revin mengacak rambut Vivian gemas dengan tersenyum paksa.


"Ish, siapa juga yang akan rindu denganmu, pergi sana! kau akan ditinggalkan nanti," ucap Vivian membuat Revin tersenyum kecil.


Revin segera berbalik dan berjalan menjauh dari Vivian, yang mulai meneteskan air mata, entah untuk kakaknya ataukah untuk Revin.


"JANGAN LUPA UNTUK MENELFONKU JIKA KAU RINDU, BOCIL!" teriak Revin sebelum pintu pesawat tertutup sempurna.


Semua mulai melambaikan tangan mereka, sedang Reana dan Vivian menangis dengan keras, dan Dion menatap sayu kakaknya itu.


Season 1 End☺️


* * *


Makasih semua, season satu SOTR telah end, atau tamat, terima kasih karena udah mau baca☺️☺️😁 jangan sedih, jangan murung karena season ke 2 nya dalam proses. tapi ngga tau kapan😁😁

__ADS_1


jangan lupa


Nantikan season keduanya☺️☺️☺️😉


__ADS_2