
Saat ini Revan, Revin, Reon dan Carlos tengah duduk di meja di salah satu restoran di mall itu, Revin masih menatap kedua sahabatnya yang membuatnya harus malu semalu-malunya.
Revin menatap kedua sahabatnya dengan tatapan tajam setajam silet dan kemudian berkata.
"Dasar sinting!" ucap Revin membuat Reon dan Carlos menatapnya heran.
"Apaan sih, Vin. masih emosi aja gara-gara yang tadi, sabar aja kali," ucap Reon santay membuat Revin naik darah.
"Sabar pala lu, Kalian berdua benar-benar sinting! yang satu ajak masuk ke dalam toko yang satunya lagi remas barang di toko itu, Sinting emang!" ucap Revin yang mulai ngegas.
"Cuma segitu aja langsung marah," ucap Reon santay, membuat Carlos menoleh pada Reon yang duduk di sampingnya.
"Kalau toko boneka atau apapun ngga masalah, tapi itu toko pakaian dalam wanita, sia**n. dan lagi, kamu juga, ngapain pake remas tuh bra, bikin urat malu gue putus!" ucap Revin dengan nafas yang memburu karna benar-benar kesal pada kedua sahabatnya itu.
Awalnya Revin menolak saat Reon mengajaknya masuk ke dalam toko pakaian dalam wanita, tapi Reon tetap memaksa katanya buat pilih hadiah untuk pacarnya dan akhirnya Revan dan Revin pun masuk ke dalam, belum lama mereka melihat-lihat di rak bagian Bra, tiba-tiba Carlos datang dan langsung mengambil salah satu bra tanpa melihat dan meremasnya dengan keras membuat Urat malu Revin benar-benar putus.
Carlos hanya mampu menundukkan kepalanya sedang Revan hanya berwajah datar dan Reon menghembuskan nafasnya mendengar ocehan panjang lebar Revin.
"Santay aja kali, Vin. Revan aja santay tuh," ucap Reon santay membuat Revin serasa ingin memukul kepala Reon agar segera sadar dari kegilaan cintanya yang membuat sahabatnya malu bukan main.
"Brother mungkin hanya berwajah datar, tapi dalam hatinya itu malu, mungkin dia lagi marah-marah dalam hatinya!" ucap Revin membuat Reon terdiam dan kemudian menatap Revan yang memang sedikit kesal dengan wajah datarnya..
Revan hanya mampu terdiam karna apa yang di katakan oleh Revin benar adanya. meskipun diam, bukan berarti Revan tidak malu dengan kejadian tadi, hanya saja ia tetap harus terlihat sabar dan tabah.
"Permisi ...," ucap Seorang gadis membuat Reon dan Carlos menoleh ke belakang mereka sedang Revan dan Revin hanya menatap datar kedua wanita itu.
Reon tersenyum dan berniat untuk berbicara tapi Carlos tiba-tiba berteriak membuat semua orang menatap mereka.
"CEWEK GILA! ngapain kamua kesini?" ucap Carlos membuat ketiga sahabatnya itu terkejut.
"Cowok gesrek! apa urusan kamu kalau aku ada disini!' ucap gadis di sebelah gadis yang tadi menyapa.
"Fel, kamu kenapa ngomong gitu, ngga baik tau," ucap sahabat gadis itu yang bernama Liona Wei.
__ADS_1
"Kamu ngga tau, Liona. ini tuh cowok yang tadi nabrak aku di depan toilet terus ngga tau minta maaf lagi!" ucap gadis yang bernama Felisia Di itu.
Carlos terkejut mendengar perkataan Felisia yang mengatakan jika dirinya yang menabrak padahalkan dirinya yang di tabrak.
"Eh, enak aja bicara kayak gitu, yang ada kamu yang nambrak aku, malah jadi putat balik fakta lagi!" ucap Carlos yang mulai berdiri dari duduknya.
"Ada apa sih, Car. masa ngga mau ngalah sama cewek sih," ucap Reon yang memang tidak tau masalah apa yang terjadi antara dua orang itu.
"Di dalam kamusku, tidak ada yang namanya ngalah sama cewek, kecuali mama dan adikku, kalau cewek lain, ogah!" ucap Carlos dan Revin menganggukkan kepalanya.
Reon menghembuskan nafasnya, di antara mereka berempat cuma Reon dan Revan saja yang sabar meski hanya sementara.
"Udah itu masalah kalian, aku tidak ingin ikut campur," ucap Reon mencoba untuk bersikap dewasa.
"Maaf ya, Liona." ucap Reon pada Liona dan sedikit tersenyum kecil membuat Revin dan Carlos merinding sedang Revan hanya berwajah datar dengan tangan yang di lipat di depan dada.
"Teman-teman, aku pergi kencan dulu sebentar," ucap Reon berniat untuk pergi bersama dengan Liona.
"Aku pergi dulu ya, Fel." ucap Liona membuat Felisia mengelengkan kepalanta dengan cepat.
"Enak aja ngatain aku orang gila, yang ada kamu yang gila!" ucap Carlos tidak terima.
"Ngga apa-apa kok, dia emang gila, tapi dua itu masih waras," ucap Reon membuat Carlos mengumpat dalam hati.
'Sia**n, teman kamp**t!' umpat Carlos dalam hati yang di tujukan untuk Reon.
Felisia hanya mengangguk mengerti karna memang tujuannya ke kota A hanya untuk menemani sahabatnya itu untuk bertemu dengan pacarnya, karna jam 7 malam nanti mereka akan kembali ke kota M, mereka ke kota A mengikuti ayah Liona yang sedang ada urusan kantor dan akan kembali nanti malam.
Reon dan Liona pun pergi berkencan meninggalkan Felisia bersama ketiga pria itu.
Felisia berjalan mendekat ke arah meja yang di tempati oleh Revan, Revin dan Carlos.
"Maaf kak, bisa tukar tempat ngga?" ucap Felisia pada Revin.
__ADS_1
Revin mengernyit bingung kemudian menatap gadis yang memang muda 2 tahun darinya.
Revin berdiri dari duduknya dan berpindah ke kursi di samping Carlos.
Felisia duduk di samping Revan yang masih memasang wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun.
"Halo, kak," sapa Felisia pada Revan yang hanya menoleh kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ehem, Dia uda punya pacar," ucap Revin tiba-tiba yang seketika membuat Revan menatap tajam adiknya itu.
Carlos terdiam mendengar perkataan Revin kemudian menoleh pada sahabatnya itu.
"Masa s .... Aduhhh!" ucap Carlos yang terpotong dan tiba-tiba berteriak saat Revin menginjak kakinya dengan keras.
"Sia**n, kakiku!" ucap Carlos mengumpat pada Revin.
"Aku rasa Reon benar, kalau kamu memang rada-rada gila ya, Car," ucap Revin membuat Carlos membelalakkan matanya.
"Enak aja, Aku gigit kamu baru tau rasa!" ucap Carlos kesal.
Revin yang mendengar hal itu menjadi menatap sahabatnya itu dengan tatapan ngeri.
"Jangan-jangan Tuh bocil belajar dari kamu ya, Car. suka main gigit-gigit orang," ucap Revin dengan raut wajaj ngeri mengingat terakhir kali Vivian mengigitnya.
Carlos mengernyit heran mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Apaan sih, Orang malah aku yang belajar dari dia juga," ucap Carlos dengan tubuh yang sedikit menunduk dan memangan kakinya yang di injak dengan keras oleh Revin.
"Kamp**t," umpat Revin membuat Carlos hanya memutar bola matanya malas.
Revan dan Felisia hanya menatap kedua orang itu dalam diam tidak berniat untuk ikut campur.
Felisia melirik pria di sebelahnya yang hanya berwajah datar menatap tingkah laku kedua orang di hadapannya.
__ADS_1
'Mereka berdua kembar, tapi cuma yang ini aja yang waras,' ucap Felisia dalam hati menilai Revan dan Revin.