SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
REVAN DAN REVIN


__ADS_3

BUK!


Satu pukulan Revan mendarat diwajah pria yang berada dibawahnya, pria yang wajahnya telah hancur karena pukulan yang tak kenal ampun.


Ia perlahan-lahan bangkit dan menatap seorang pria kekar berjumlah 3 orang tengah menatap kearahnya dan juga Revin yang tengah memukul pria yang ia tindih tanpa ampun.


"Ternyata kalian memang memiliki kemampuan yang bagus. Tapi sayangnya tidak akan berguna bagi kami," ucap salah satu pria itu dan menatap datar pada Revan dan Revin yang sudah membunuh lebih dari sepuluh bawahannya dikamar itu. Kamar yang sudah dipenuhi mayat tergeletak dengan wajah yang hancur.


Revan dan Revin berdiri berdampingan dengan tangan yang terkepal kuat dan penuh darah, darah dari orang-orang yang kini sudah tergeletak tak bernyawa dikamar itu menyusahkan tiga orang yang menatap mereka dengan tatapan datar.


Nafas Revan dan Revin sedikit tersengal-sengal karena pertarungan dengan sepuluh orang lebih itu, tapi mereka masih harus melawan tiga orang yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Aku yakin, anggota dragon night tengah bertarung diluar pintu itu," bisik Revin dengan menatap pintu yang berada dibelakang tiga orang itu.


Revan hanya terdiam dengan tangan semakin terkepal kuat dan menatap tiga pria itu.


"Kalian punya waktu satu jam untuk mengalahkan kami dan keluar dari sini, jika tidak ... maka bersiaplah untuk meledak bersama dengan bangunan ini," ucap pria yang berdiri ditengah dengan wajah datarnya.


Revan dan Revin terdiam, mereka mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria dihadapannya itu, yang artinya ada bom dihotel ini.


Tiba-tiba tanpa diduga, salah satu dari pria itu melayangkan bogem mentahnya pada Revin. Revan yang melihat hal itu, segera mendorong tubuh Revin, hingga mengakibatkan pukulan itu mengenainya.


BUK!


Revan terpental cukup jauh hingga mengenai dinding dikamar itu, membuat Revin terkejut dan segera melayangkan bogem mentahnya pada pria itu yang dengan sigap menghindar.


Revin kembali melayangkan kakinya untuk menendang pria itu, tapi sayangnya pria itu dengan sigap menahan seragangan Revin lalu tiba-tiba satu bogem mentah melayang dan mengenai pipi Revin, membuatnya mundur beberapa langkah.


Revin menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah dengan punggung tangannya, sedang Revan berusaha bangkit untuk membantu adiknya.


"Kau baik-baik saja, Brother?" tanya Revin pada Revan yang kini berdiri disampingnya.


"Iya," ucapnya singkat dengan terus menatap dua orang yang juga menatapnya, sedang satu orang dibelakang hanya terdiam dengan wajah datarnya.


"Kita tidak bisa menang jika mengunakan tangan kosong, karena kekuatan mereka masih diatas kita," ucap Revan membuat Revin menoleh pada kakaknya itu.


"Sayangnya tidak ada senjata dikamar ini, hanya ada pisau buah. Itupun berada diseberang sana," ucap Revin dengan menatap pisau buah yang berada dimeja sedikit jauh dari mereka.


"Aku berharap mereka berdua baik-baik saja," ucap Revan yang masih begitu khawatir pada dua sahabatnya, yang ternyata tidak ada ditempat mereka sekarang.

__ADS_1


"Mereka pasti baik-baik saja, anggota dragon night akan menolong mereka," lirih Revin dengan berusaha untuk memejamkan matanya.


Terdengar suara teriakan dari luar, dan sepertinya itu adalah suara-suara penghuni kamar dihotel itu, mungkin karena terkejut melihat perkelahian diluar kamat itu, perkelahian antara dragon night dan para bawahan pria dihadapan mereka.


Revan dan Revin saling menatap satu sama lain, lalu menganggukkan kepala mereka. Dua pria itu hanya berwajah datar, dan seketika bersiap untuk memukul saat mereka melihat dua remaja itu bersiap untuk menyerang.


Revan dan Revin melayangkan pukulan pada kedua pria itu, yang dengan sigap ditangkis oleh kedua pria itu.


Mereka serentak melayangkan tendangan kepada dua pria itu, tapi lagi-lagi ditahan dengan sempurna.


Pria itu melayangkan pukulan pada Revin hingga membuat remaja itu terpental cukup jauh hingga hampir mengenai meja didalam ruangan itu, meja yang masih utuh dengan sepiring buah dan pisau buah.


Revin tersenyum, lalu berteriak membuat dua pria itu menole padanya.


"BROTHER!" teriak Revin dengan melemparkan pisau buah pada Revan, yang dengan sigap ditangkap oleh kakaknya itu.


Revan menangkap pisau buah itu lalu menusukkannya disalah satu perut pria itu, dan satunya bersiap untuk melayangkan pukulan pada Revan. Tapi dengan sigap Revan menghindar tanpa melepaskan pisau yang tertancap diperut pria dihadapannya.


Revin bangkit lalu berlari dan mendekat pada Revan, lalu menendang pria yang ingin memukul kakaknya itu.


Pria itu mundur beberapa langkah karena tendangan Revin yang tepat mengenai perutnya, sedang Revan mencabut pisau dari perut pria itu lalu menusukkannya tepat dijantung pria itu tanpa henti.


BRUK!


"Masih ada 40 menit lagi," ucap Revin dengan nafas yang tidak beraturan, jujur perutnya sangat sakit saat ini. Tapi lagi-lagi ia harus kuat agar bisa membunuh dua orang tersisa itu.


"Ini," Revan menyodorkan pisau itu pada Revin, yang dengan senang hati menerimanya.


"Mulai!" ucap Revan dan mereka berdua pun kembali menyerang pria yang berdiri dihadapan mereka.


Pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh Revan dan Revin pada pria itu, hingga membuat ia kewalahan untuk menahan serangan bertubi-tubi dari dua remaja itu.


Revin mendapat cela, ia dengan cepat menusukkan pisau itu ke jantung pria itu, sama seperti Revan. Ia terus menusukkannya bertubi-tubi tanpa ampun, hingga suara tembakan mengema dikamar itu.


DOR!


Revan terdiam lalu menoleh kebelakang di mana pria yang sedari tadi diam kini memengang pistol dan membidik kearah mereka, dan tepat mengenai perut Revin.


"REVIN!" teriak Revan pada Revin yang kini bejongkok dengan memengang perutnya.

__ADS_1


"SIALAN!" umpat kesal Revan lalu berbalik dan menghampiri pria itu yang kini mengarahkan pistol padanya.


DOR!


Revan menghindar dan segera melayangkan pukulannya pada wajah pria itu hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.


Revan tidak berhenti disitu, ia segera melayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi yang masih dapat ditahan oleh pria itu.


DOR!


Satu tembakan mengenai lengan Revan, membuat ia semakin marah dan memukul pria itu, tapi masih dapat ditahan oleh pria itu.


"AKH!" teriakan mengema diruangan itu kala Revan mematahkan lengan pria itu, karena sebenarnya ia mengincar cela agar bisa mengecoh pria itu dan segera mematahkan salah satu tangannya.


"SIALAN!" umpat kesal Revan lalu membabi buta menghujamkan pukulannya pada pria itu tanpa ampun.


Revan tidak peduli dengan rasa sakit dilengannya, ia terus memukul pria itu tanpa ampun.


Satu tendangan mengenai pria itu hingga terpental dan membentur dinding. Revan menunduk dan mengambil pistol pria itu, lalu mengarahkannya pada pemiliknya yang kini menatapnya dengan wajah penuh luka.


DOR!


DOR!


DOR!


DOR!


Empat tembakan mengenai pria itu tepat dikepala dan jantung, Revan berbalik dan menatap adiknya yang masih duduk dengan memengang perutnya.


Ia membuang pistol itu dan segera berlari menghampiri adiknya. Revan da Revin segera berjalan mendekat kearah pintu untuk segera keluar, dengan saling menopang tubuh agar bisa berjalan.


Nafas mereka berdua sudah tidak beraturan, seperti akan segera merengang nyawa saat itu juga. Pintu terbuka, Revan dan Revin berjalan dengan tertatih dan terkejut melihat seseorang yang berdiri dihadapan mereka dengan wajah dan tangan penuh darah.


"Dad-dy," lirih Revan dan Revin dan pandangan keduanya mulai mengabur.


BRUK!


"REVAN! REVIN!" teriak Arian saat melihat dua putranya ambruk dihadapannya.

__ADS_1


****


๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜ŒJantung senam lagi nih, dag Dig dug ser๐Ÿ˜Œ


__ADS_2