
Saat ini Revin tengah menunggu didepan gerbang sekolah Vivian tanpa turun dari motornya, setelah tadi berdebat cukup panjang dengan Carlos akhirnya Revin mengalah.
"Sia**n, dasar teman kamp**t, Aku sumpahin ketemu setan gila!" ucap Revin kesal pada Carlos yang seenak jidatnya memintanya untuk menjemput Vivian.
Beberapa saat yang lalu.
"Ogah, Aku ngga mau, titik tidak pake koma, Vivian aja yang dijemput sama Dion, kenapa harus Reana!" ucap Revin kesal pada Carlos yang tengah duduk dikursi dikelas sambil menunggu bel masuk berbunyi.
Carlos mengelus kepalanya yang menjadi samsak empuk cap 5 Revin, masih terasa hangat dikepalanya bekas pukulan dan jitakan Revin.
"Tidak apa-apa kali, Vin. kalau Dion yang jemput Vivian, itu terlalu jauh jaraknya, tapi kalau Dion jemput Reana 'kan dekat jadi ...," ucap Carlos mencoba membujuk Revin.
"Tidak! dan lagi, mana mau Brother membiarkan Dion mengantar Reana pulang! sudah jelas tidak akan dia ijinkan!" ucap Revin meninggikan suaranya.
Carlos menghembuskan nafasnya berulang-ulang.
"Kamu Posesif banget sih jadi kakak!" ucap Carlos yang tidak sadar jika dirinya juga posesif pada Vivian.
Revin mengepalkan tangannya berusaha untuk menahan emosinya yang sudah sampai diubun-ubun dan siapa meledak kapan saja.
"Soal Revan, aku yang akan bicara dan membujuknya," ucap Carlos santay, selow yang membuat cap 5 Revin kembali melayang di kepalanya.
PLAK
"Aduh, sakit woy, otakku bisa miring nanti!" ucap Carlos mengelus kepalanya dan menatap pria yang berdiri disampingnya dengan tatapan waspada.
"Biarin, biar sekalian masuk rumah sakit jiwa sana!" ucap Revin kesal setengah mati.
Revin mengatur nafasnya yang memburu karna emosi, sedang Carlos merongoh ponselnya disaku celana kemudian menekan nomor seseorang lalu menelfonya.
"Halo, Van." ucap Carlos saat Revan mengangkat telfon darinya.
"Hm," ucap Revan singkat diseberang telfon.
Carlos menjauhkan ponselnya dari telinga kemudian menoleh pada Revin yang menatapnya tajam.
"Aku mau bilang, kalau sebaiknya Reana diantar pulang oleh Dion!" ucap Carlos membuat Revan terdiam.
Carloa mengernyit kemudian melihat panggilannya yang sama sekali tidak terputus, tapi kenapa bisa tidak ada suara Revan terdengar ditelinganya.
Carlos menatap Revin seolah meminta jawaban kenapa mendadak Revan tidak bersuara.
Revin hanya memutar bola matanya malas dan bersikap seolah tidak melihat Carlos.
__ADS_1
'Sia**n,' umpat Carlos dalam hati ketika Revin mengabaikan pertanyaannya.
"Halo, Van. gimana?" ucap Carlos berharap Revan menjawab disebarang telfon.
"Tidak!" ucap Revan diseberang telfon dengan penuh penekanan.
"Hah ... tadi kamu bilang apa?" ucap Carlos mencoba memastikan.
"Aku bilang tidak, Reana akan dijemput oleh Revin!" ucap Revan yang seperti perintah ditelinga Reon yang berada disampingnya.
Carlos menghembuskan nafasnya, ternyata Revan dan Revin meski kadang sifat mereka bertolak belakang, tapi tetap saja, mereka kembar, dan satu keras kepala sudah pasti yang satunya juga.
"Tapi, Van ... aku tidak bisa menjemput Vivian lantaran aku membonceng Felisia, jika Dion yang menjemput Vivian dan mengantarnya pulang, sudah pasti akan sangat lama, apa kamu mau jika Vivian menjadi sandera atau calon mayat!" ucap Carlos membuat Revin tersedak air liurnya sendiri.
Revan terdiam sejenak mendengar ucapan Carlos yang ada benarnya. Revan menghembuskan nafasnya perlahan-lahan kemudian berbicara.
"Baiklah, tapi ingat! tidak ada lain kali!" ucap Revan mematikan panggilan sepihak tanpa mendengar ucapan terima kasih dari Carlos.
Carlos berdecak kesal saat Revin mematikan panggilan sepihak padahal dia belum mengucapkan terima kasih.
"Jadi," ucap Carlos membuat Revin mengernyitkan alisnya bingung.
"Jadi apaan?" tanya Revin mencoba memastikan.
"Kamu jemput Vivian dan Dion jemput Reana, dan sudah disetujui oleh Bos," ucap Carlos yang sukses membuat Revin membulatkan matanya dengan sempurna.
"Kenapa kau memberi cobaan pada cogan ini," ucap Revin dengan melihat keatas langit yang berwarna biru cerah dengan sedikit awan.
Vivian keluar dari gerbang sekolah dan terkejut saat melihat seseorang yang tadi pagi mengantarnya menatapnya dari kejauhan.
Vivian berjalan mendekati Revin yang duduk diatas motornya dengan helm yang masih melekat dikepalanya.
"Ngapain kamu disini? kakakku mana?" tanya Vivian berturut-turut membuat Revin menghembuskan nafasnya.
"Naik!" titah Revin yang membuat Vivian menatapnya bingung.
Revin menghembuskan nafasnya berusaha untuk tetap tenang.
'Kakak sama adik, sama saja!' ucap Revin dalam hati kesal pada Carlos dan Vivian.
"Cepetan naik! aku yang akan mengantarmu pulang," ucap Revin tidak sanggup jika harus mengulang lagi ucapannya.
"Aku ngga mau! aku lagi nungguin kak Carlos atau Papa dari pada sama kamu," ucap Vivian membuang muka dari Revin.
__ADS_1
Revin benar-benar kesal, ia pun segera menyalakan mesin motornya lalu pergi meninggalkan Vivian.
Vivian hanya mendegus kesal melihat hal itu, ia pun berjongkok dan menopang dagu sambil menunggu Carlson atau Carlos datang menjemputnya.
Vivian menghembuskan nafasnya, suda hampir 30 menit ia menunggu dan belum juga ada tanda-tanda kedatangan Carlos.
Vivian mengernyit saat melihat seorang pria berjas hitam diseberang jalan, yang kemudian berjalan mendekatinya dengan tersenyum devil.
Vivian menelan salivanya dengan susah payah dan berdiri seketika dan mundur perlahan, selangkah demi selangkah.
Tiba-tiba terdengar suara motor yang melaju dengan kecepatan tinggi membuat Vivian dan pria itu yang berada ditengah jalan menoleh.
Motor itu menanbrak pria itu hingga terpental beberapa meter dan meringis kesakitan.
Pengemudi motor itu yang tidak lain adalah Revin segera memutar motornya dengan ekstrim hingga meninggalkan bekas di aspal.
(Coba banyangkan sendiri)
"CEPAT NAIK!" teriak Revin dan Vivian segera berlari dan naik ke jok motor Revin dna segera memeluk pinggang Revin erat.
Tanpa ba bi bu, Revin segera melajukan motornya dengan kecepatan tang sangat tinggi hingga membuat pelukan Vivian semakin erat.
Revin melihat dari spion motornya dimana sudah ada 2 mobil berwarna hitam yang mengikutinya.
Revin berdecak kesal lalu menambahkan kecepatan motornya lalu melewati semua mobil yang berada dihadapannya.
'Ya tuhan, tolong selamatkan kami,' ucap Vivian dalam hati dengan mata yang terpejam.
Revin memperlambat laju motornya ketika sudah berada cukup dekat dengan kawasan perumahan elit tempat mereka tinggal.
Revin menghentikan motornya didepan gerbang kediaman Carlson, Revin terdiam saat Vivian belum juga melepaskan pelukannya.
Revin merasakan jika tangan Vivian gemetar membuatnya jadi merasa bersalah pada gadis itu.
"Kita sudah sampai," ucap Revin membuat Vivian segera membuka matanya yang terpejam dengan tubuh yang masih gemetar.
Vivian memiliki trauma yang menimpanya saat usia 5 tahun yang membuatnya tidak bisa naik kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Vivian melepaskan pelukannya dengan tubuh yang gemetar kemudian turun dari motor.
Revin tidak tega melihat hal itu, ia pun menghembuskan nafasnya lalu mengelus puncuk kepala Vivian dengan lembut.
"Tidak apa-apa," ucap Revin dengan tersenyum dibalik helm.
__ADS_1
Revin pun menyalakan mesin motornya lalu melaju ke gerbang rumahnya meninggalkan Vivian yang terdiam.
Vivian mengatur nafasnya yang tidak beraturan akibat takut, Vivian melangkahkan kakinya perlahan masuk kedalam gerbanh rumahnya.