
Pukul 13:00.
Saat ini, Carlos tengah tiduran ditempat tidur empuknya, karena hari ini adalah hari minggu.
Carlos tersenyum dengan mata yang fokus pada layar ponselnya, melihat pesan dari pujaan hatinya.
"Lili, *hari ini hari minggu, gimana kalau kita ketemua**n*," isi pesan Carlos dengan senyum diwajahnya.
"Oke, hari ini aku juga ngga ada kerjaan," balasan dari Lisia yang membuat Carlos terbangun dari tidurnya dan melompat seperti anak kecil yang berhasil mrmenangkan mainan yang ia inginkan.
"Oke, aku kirim alamatnya ya lewat chat, kita ketemu jam 2 siang, bye Lili," isi pesan Carlos dengan panggilan sayangnya pada Lisia.
"Oke, bye,"
Carlos segera memakai jaketnya menyambar kunci motornya diatas nakas disamping tempat tidur.
Carlos segera berlari keluar dari kamarnya, untuk segera pergi ke tempat seseorang yang akan membantunya, mengubah penampilannya.
Vivian mengernyit bingung saat mendengar suara langkah kaki yanf begitu terburu-buru menuruni anak tangga.
Vivian menatap aneh kakaknya itu, yang tersenyum dengan sesekali bersiul ria.
"Kakak mau kemana? buru-buru banget," tanya Vivian menatap bingung kakaknya itu.
"Mau jalan, bye," ucap Carlos singkat kemudian melambaikan tangannya pada adiknya itu dan berlari keluar rumah.
Vivian memiringkan kepalanya dengan sesekali mengerjapkan matanya bingung.
"Emang dia udah punya pacar? tumben keluar rumah hari minggu?" tanya Vivian pada dirinya sendiri.
Tiga menit kemudian.
Carlos menghentikan motornya didepan rumah Arian, disamping motor Revin yang terparkir disana.
Carlos segera turun dari motornya dan berjalan mendekat pada pintu dan memencet bel rumah Arian.
"Halo Bibi, Revinnya ada?" tanya Carlos pada Ana saat pintu rumah itu terbuka.
"Masuk Carlos, Revin ada dikamarnya," ucap Ana mempersilahkan Carlos masuk kedalam.
Carlos tersenyum manis pada Ana, kemudian berjalan masuk untuk segera bertemu sahabatnya itu.
Saat Carlos tiba diruang tamu, terlihat Revan dan Reana yang tengah duduk disofa, dengan Reana yang fokus pada TV dan Revan yang fokus pada laptopnya.
"Pagi, Van," sapa Carlos mendekat kearah sofa yang diduduki oleh Revan.
Revan mengernyit kemudian menoleh pada sumber suara, dan menaikkan satu alisnya.
"Apa kau salah minum obat, Car. Ini siang, bukan pagi," ralat Revan membuat Reana menoleh padanya.
Carlos yang mendengar hal itu, hanya tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya.
"Malam kak Car," sapa Reana dengan senyum diwajahnya pada Carlos.
Carlos yang mendengar hal itu memberikan jempol pada Reana, sedang Revan menatap aneh adiknya itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kau segera pergi kekamar Revin, sebelum sepatuku melayang kekepalamu, kau mengajarkan yang tidak-tidak pada adikku," ucap Revan penuh penekanan membuat Carlos dan Reana tertawa keras.
Carlos segera berlari menaiki tangga, sedang Reana tidak henti-hentinya tertawa, dan kemudian kembali fokus pada tv.
'Dasar Carlos sia**n, mengajarkan Reana yang tidak-tidak,' umpat kesal Revan dalam hati.
* * *
Carlos berjalan perlahan kearah pintu kamar Revin yang masih tertutup rapat, Carlos membuka pintu kamar Revin perlahan, dan terkejut melihat pria itu sedang tertidur pulas diatas tempat tidur empuknya.
Carlos yang melihat hal itu berjalan mendekat kemudian menyibakkan selimut Revin, lalu membuangnya kelantai.
"Astaga, pria ini masih betah dengan tempat tidurnya dijam seperti ini?" tanya Carlos pada dirinya sendiri dengan mengelengkan kepalanta tidak percaya.
"Revin, bangun! Revin! bangun teman sia**n," ucap Carlos dengan menepuk pelan pipi sahabatnya itu, yang lama-lama menjadi keras, tapi tetap saja Revin tidak bangun dari tidurnya.
Karena kekesalannya sudah sampai dibatas maksimal, Carlos melayangkan cap 5 nya dipipi mulus sahabatnya itu, dengan keras.
PLAK.
"WOY SIA**N," teriak Revin tiba-tiba dan kemudian duduk dengan nafas yang memburu.
"BROT ...." Revin menghentikan bibirnya yang ingin berteriak saat melihat siapa yang membangunkannya, yang ternyata bukan kakaknya.
Revin menatap datar pada Carlos, yang juga menatap datar padanya.
"Dasar teman sia**n kau," umpat Revin menatap kesal Carlos.
Carlos mengabaikan umpatan Revin dan memilih duduk ditepi tempat tidur dengan menyilangkan tangannya didada.
"Bodo amat, apa yang kau lakukan disini, menganggu tidur nyenyakku saja," ucap Revin beranjak dari tempat tidur dan berjalan kekamar mandi.
"Bantu aku mengubah penampilanku, aku ingin bertemu dengan teman kencanku," ucap Carlos membuat Revin menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Carlos.
"What! kenapa kau datang padaku, pergi kesalon saja sana! aku tidak tau mengubah penampilan seseorang," ucap Revin kesal dan kembali melanjutkan langkahnya kekamar mandi.
"Dasar teman sia**n, dimana aku bisa meminta bantuan ya?" ucap Carlos pada dirinya sendiri, hingga bayangan wajah Reana melintas difikirannya.
Carlos segera berlari keluar kamar Revin dan menuruni anak tangga, bergegas bertemu dengan Reana.
"Reana, apa kamu sibuk?" tanya Carlos saat tiba diruang tamu, dengan menatap Reana yang masih pada aktifitas sebelumnya, menonton tv.
"Eh kak Car. aku tidak sibuk, kenapa?" ucap Reana yang membuat Carlos tersenyum senang, sedang Revan sudah menatap Carlos dengan tatapan horor.
"Kau itu kenapa sih, Van. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak, aku hanya ingin Reana mengubah penampilanku menjadi culun," ucap Carlos panjang lebar membuat Revan dan Reana mengernyit heran.
"Bisakan Reana?" tanya Carlos memastikan.
Reana terdiam, kemudian menatap Carlos dari kepala hingga ujung kaki.
"Bisa kak Car," ucap Reana membuat Carlos tersenyum senang, hingga perkataan Reana selanjutnya membuat senyum dibibirnya luntur seketika.
"Tapi tidak gratis, harus ada bayarannya," ucap Reana dengan senyum diwajahnya, sedang Revan yang mendengar hal itu, terkikik geli.
'Ya tuhan, Reana dan Vivian sama saja,' ucap Carlos dalam hati dengan menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengabulkan apapun yang kau minta, tapi jangan yang aneh-aneh," ucap Carlos pasrah dan dengan sigap Reana bangkit dari duduknya berjalan menaiki anak tangga untuk mengambil sesuatu.
Carlos mendudukkan dirinya disofa, disamping Revan yang masih terkekeh geli.
"Kau memang suka menertawakan kemalanganku," ucap Carlos membuat Revan tertawa lepas.
Carlos memutar bola matanya malas dan terus bertanya dalam hatinya, kenapa harus memiliki teman yang selalu menertawkan kemalangannya.
Tidak lama kemudian, Reana datang dengan berbagai hal ditangannya, diikuti oleh Revin dibelakangnya, dengan wajah lesuhnya.
Carlos yang melihat hal itu terdiam, ia bingung harus berkata apa.
"Kenapa kau tidak membawa perlengkapan dari rumahmu sih, 'kan jadi aku yang kena," ucap Revin kesal, karena Reana mengambil semua barang dikamarnya, yang diperlukan untuk mengubah penampilan Carlos.
"Cuma sebentar juga kok dan juga, aku tidak memakai semuanya, 'kan Reana?" ucap Carlos dan diangguki oleh Reana.
"Baiklah kak Car, aku akan mulai," ucap Reana yang entah mengapa membuat Carlos menelan salivanya dengan susah payah.
Beberapa saat kemudian.
Reana telah selesai dengan apa yang ia kerjankan, dan ia sangat kagum dengan apa yang ia lakukan.
"Perfect," ucap Reana saat sudah selesai mendandani Carlos seperti yang diinginkan oleh pria itu.
Revan dan Revin yang sedari tadi fokus pada ponsel dan laptop mereka, mendongak dan terdiam sejenak saat melihat Carlos, kemudian ....
"Hahahaha," tawa Revan dan Revin pecah seketika, sangat keras bahkan sampai membuat Ana yang tengah berada didapur terkejut.
"Kenapa sih? apa coba yang salah?" tanya Carlos pada kedua sahabatnya itu, kemudian meraih cermin yang diberikan oleh Reana.
Carlos membelalakkan matanya, sedang Revan dan Revin tidak henti-hentinya tertawa.
"Aduh si culun, aku cap hari ini kau bukan temanku," ucap Revin disela-sela tawanya, sedang Revan hanya bisa memengang perutnya yang begitu sakit karena tertawa.
Carlos menatap datar kedua sahabatnya itu, kemudian tersenyum pada Reana yang juga tersenyum padanya.
"Makasih ya, Reana. Apa yang kau minta? mungkin aku bisa membelinya nanti, karena aku akan ke mall," ucap Carlos berdiri dari duduknya.
"Ice cream rasa coklat, kak Car. Itu aja," ucap Reana dan Carlos mengusap puncuk kepala gadis itu, membuat kedua pria yang sedari tadi menertawakannya menatap tajam, menusuk sampai ke sumsum tulang, membuat Carlos menelan salivanya dengan susah payah.
"Ya udah, aku pergi dulu, Bye," ucap Carlos segera berlari keluar rumah untuk segera pergi ketempat tujuan.
"Eh, Carlos mana?" tanya Ana yang baru saja keluar dari dapur dan mendekat pada 3 orang diruang tamu.
"Udah pulang, Mom. Baru aja," ucap Revin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Ana.
* * *
Dua puluh menit kemudian.
Carlos tengah duduk disalah satu kursi, didalam cafe dimall itu, menunggu seseorang yang sudah membuat hari-harinya sedikit berwarna.
"Maaf membuatmu menunggu," ucap seseorang yang berdiri disamping meja Carlos.
Carlos yang sedari tadi menunduk membalas pesan dari pacae onlinenya itu, memberi tahu dimana ia berada, mendongak dan membulatkan matanya dengan sempurna, seperti ingin keluar dari tempatnya
__ADS_1