SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
SIAL 2


__ADS_3

Sepuluh menit kemudian.


Revin segera memarkirkan motornya diparkiran sekolah kemudian membuka helmnya dan turun dari motor.


Revin berlari dengan cepat menuju kelas, ia benar-benar terlambat seperti kemarin.


Dua hari Revan berada dinegara S, dua hari juga Revin telat bangun, meski sebenarnya Reana dan Ana sudah membangunkannya dengan cara lembut, tapi Revin tetap tidak terbangun dari tidur nyenyaknya.


Revan terdiam diambang pintu saat melihat bahwa guru yang mengajarnya sudah ada didalam kelas.


'Mati aku,' ucap Revin dalam hati kemudian melihat Carlos yang juga melihat kearahnya, begitu pun dengan siswa dan siswi dikelas itu, kecuali guru yang mengajar, karena fokus pada buku yang ia baca.


Revin berjalan perlahan memasuki kelas dengan begitu pelan, saat guru ingin mengangkat kepalanya, Carlos berteriak tiba-tiba dan menunjuk kearah luar jendela.


"ASTAGA, HELIKOPTER!' teriak Carlos membuat guru itu menoleh keluar jendela.


Revin segera berlari kecil dan menghembuskan nafansya, saat sudah duduk dikursinya, kemudian bertos ria dengan Carlos dibawa meja.


Guru itu menoleh kearah Carlos dengan tatapan tajam, sedang siswa dan siswi didalam kelas itu hanya bungkam, tidak bermiat bersuara.


"Revin ... sepertinya tadi kamu tidak ada dikursimu," ucap guru itu menatap curiga kearah Revin, karena perasaan tadi ia sama sekali tidak melihat keberadaan murid nakal yang satu itu.


"Dari tadi saya disini, Bu. bu guru saja yang tidak melihat saya dengan jelas," ucap Revin dengan santaynya membuat guru itu hanya mampu menghembuskan nafasnya.


"Baiklah anak-anak! segera selesaikan tugas kalian!" titah guru itu, kemudian kembali fokus pada buku yang ia baca.


Carlos melirik sekilas Revin kemudian melihat kearah guru, lalu kemudian mengopor bukunya dibawa meja pada Revin.


Revin mengambil catatan Carlos lalu segera menulis semuanya dengan cepat.


Bel istirahat berbunyi, Revin dan Carlos keluar dari kelas berjalan kearah kantin, untuk makan siang.


Revin mendudukkan dirinya diatas kursi, diikuti oleh Carlos yang duduk dihadapannya.


"Kenapa 2 hari ini, kau selalu telat berlebihan, apa karena Revan tidak membangunkanmu dengan cara spesialnya," ucap Carlos setengah menyindir Revin.


"Diamlah! aku benar-benar ketiban sial, aku berharap dia tidak akan pergi jauh lagi, aku lebih baik dibangunkan dengan cara mengerikan dari pada harus masuk kelas dengan mengendap-endap, sama sekali bukan gayaku," ucap Revin kemudian memejamkan matanya, berusaha untuk rileks.


Carlos hanya mengelengkan kepalanya, kemudian memanggil pelayan kantin dan memesan makanan mereka.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba, Carlos memakan sarapannya dengan lahap dan tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan tatapan mata Felisia yang menatapnya dari meja yang tidak jauh dari mejanya.


Felisia memalingkan wajahnya saat tatapannya bertemu dengan tatapan Carlos.


"Kenapa tuh cewek?" tanya Carlos lirih dengan mengernyitkan alisnya menatap Felisia yang kini kembali fokus pada teman-temannya.

__ADS_1


Revin mengernyitkan alisnya, kemudian menoleh kebelakang, melihat kearah pandang sahabatnya itu dengan mulut yang mengunyah makanan.


"Ada apa?" tanya Revin yang kini menatap Carlos dengan tatapan tanda tanya.


"Tidak ada," ucap Carlos singkat membuat Revin menatapnya malas.


* * *


Pukul 4 sore.


Tidak terasa bel pulang sekolah pun berbunyi, Revin dan Carlos berjalan kearah parkiran untuk segera pulang kerumah.


"Wah, sepertinya calon istrimu suda menunggumu tuh," ucap Revin membuat Carlos mengernyit kemudian menatapnya aneh.


"Enak saja kau, siapa juga yang ingin menikah dengannya, dih," ucap Carlos dengan raut wajah bergidik ngeri.


Revin yang melihat hal itu, mengelengkan kepalanya kemudian menghentikan langkahnya yang sudah berjarak sepuluh meter dari parkiran.


Carlos refleks menghentikan langkahnya karena Revin menyentuh pundaknya lalu menatapnya serius.


"Jangan berkata seperti itu, karena bisa saja, hal yang tidak kau inginkan akan menjadi kenyataan, dan lagi ...," Revin menjeda kalimatnya lalu menarik tangannya yang menyentuh pundak Carlos.


"Aku sudah merasakan jika dia ... adalah istrimu dimasa depan," ucap Revin kemudian berlari kearah perkiran membuat Carlos mengumpat padanya.


Felisia hanya terdiam melihat Revin yang tiba-tiba melewatinya dan naik keatas motornya dengan terburu-buru, lalu segera menyalakan mesin motornya dan memakai helmnya lalu pergi dari parkiran itu.


"Dasar teman Sia**n," umpat Carlos pada Revin yang sudah melajukan motornya pergi meninggalkan parkiran sekolah.


Felisia menatap Carlos yang kini berdiri dihadapannya, dengan nafas yang memburu karena kesal dengan Revin.


Carlos menoleh kearah Felisia yang menatapnya dengan tatapan terkejut.


Carlos berjalan kearah motornya, lalu naik dengan perasaan kesal, lalu kemudian memakai helmnya.


"Naik!" ucap Carlos dengan nada memerintah.


Felisia yang mendengar hal itu berdecak kesal, dan kemudian berjalan mendekat lalu naik kemotor.


Carlos menyalakan mesin motornya lalu segera menancap gas motornya meninggalkan parkiran sekolah.


* * *


Revin menghentikan motornya digarasi, Reana segera turun dari motor kakaknya itu.


"Siapa yang mengantarmu tadi pagi?" tanya Revin tiba-tiba pada adik perempuannya itu, setelah melepas helmnya.

__ADS_1


Reana menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada sang kakak, yang berjalan mendekat kearahnya.


"Dion," ucap Reana malas kemudian berjalan memasuki rumah dengan wajah cemberutnya.


"What!" ucap Revin terkejut dengan apa yang ia dengar.


Revin segera melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, ingin meminta keterangan adiknya lebih lanjut.


Revin menghentikan langkahnya saat melihat Reana memeluk seseorang diruang tamu, dengan suara manjanya.


"Aku kangen banget, untung aja kakak cepat pulang," ucap Reana manja dengan memeluk Revan erat, dengan posisi duduk disofa.


"Brother? kapan datang?" tanya Revin berjalan mendekat kearah Revan lalu tiba-tiba ....


Revin memeluk kakaknya itu dengan raut wajah yang dibuat seimut mungkin, membuat Revan geli dan menjauhkan wajah Revin dengan tangannya.


"Apa-apaan wajahmu itu, sana menjaub dariku," ucap Revan dengan tangan yang mendorong wajah Revin menjauh.


"Apa kau sama sekali tidak rindu denganku," ucap Revin dengan suara yang sengaja dibuat manja.


Revan yang mendengar hal itu memasang wajah ngerinya, sedang Reana berusaha untuk menahan tawanya.


"Sana naik kekamarmu, nanti malam kita pergi makan dicafe," ucap Revan membuat Revin berbinar senang, dan seketika bangkit dari duduknya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Kak Revan akan makan diluar?" ucap Reana menatap kakaknya itu.


Revan hanya tersenyum kemudian mengelus rambut adiknya itu lembut.


"Lain kali aku akan mengajakmu jalan-jalan ke mall, untuk makan es cream," ucap Revan membuat Reana tersenyum senang, lalu mengecup pipi kakaknya itu lembut.


"Aku sayang kakak," ucap Reana dan berjalan ketangga untuk segera naik kekamarnya.


Pukul 6:30 malam.


Revan dan Revin bersiap untuk keluar untuk makan dicafe malam ini, Revan mengenakan kemeja berwarna merah dengan kaos berwarna hitam sebagai dalemannya, tentu saja tanpa mengancing kemejanya.


Sedang Revin mengenakan kemeja berwarna biru dengan kaos berwarna hitam sebagai dalemannya, tentu sama dengan Revan, sama sekali tidak mengancing kamejanya.


"Mom, Dad, kami pergi dulu," ucap Revan dan Revin bersamaan pada Ana dan Arian yang duduk disofa.


"Baiklah, ingat untul segera pulang, saat kalian selesai," ucap Ana dan kedua bersaudara itu menganggukkan kepalanya.


Revan dan Revin berjalan keluar rumah dengan motor yang sudah terparkir didepan rumah.


Mereka segefa naik keatas motor masing-masing, dan segera memakai helmnya lalu menyalakan mesin mereka dan melajukannya meninggalkan kediaman mereka.

__ADS_1


__ADS_2