
Reon berjalan mendekati ruang latihan musik yang terbilang sangat sepi, Reon membuka pintu lalu menutupnya.
Reon berjalan mendekati Liona yang duduk dikursi dengan menundukkan kepalanya.
"Maaf ya, soal yang tadi," ucap Reon dengan nada yang begitu lembut.
Liona mendongak dan tersenyum lalu memeluk Reon.
"Maaf, pasti sakit," ucap Liona setelah melepas pelukannya dan menyentuh pipi Reon yang ia tampar tadi.
"Tidak apa-apa, sama sekali tidak sakit kok," ucap Reon dengan senyum diwajahnya.
Beberapa saat yang lalu.
Reon mendekatkan wajahnya kewajah Liona dan kemudian berbisik.
"Bisa kamu lakukan sesuatu untukku," ucap Reon dengan nada suara yang begitu kecil ditelinga Liona.
"Apa," bisik Liona.
"Tampar aku, lalu katakan putus padaku, aku akan menjelaskan semuanya padamu di ruang latihan musik," bisik Reon membuat Liona mengernyit heran lalu menghembuskan nafasnya.
* * *
"Sekarang bisa jelaskan ...," ucap Liona menanti penjelasan sang kekasih.
"Tadi ada sedikit masalah dan aku lihat banyak wanita yang menatapmu dengan tatapan tidak suka, jadi aku memintamu untuk melakukan itu agar mereka tidak menatapmu seperti itu lagi," ucap Reon berbohong dengan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Liona mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh pacarnya itu.
"Kalau cuma hal itu, kenapa harus takut," ucap Liona mengembulkan pipinya.
"Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, mungkin untuk saat ini, sebaiknya kita jaga jarak, Oke! tunggu sampai semuanya kembali baik-baik saja," ucap Reon membuat Liona hanya mampu mengangguk.
Liona keluar lebih dulu dari ruangan itu, setelah 2 menit, baru Reon keluar dari ruangan itu dan segera menuju ke kantin.
Sementara itu, Revan masih duduk di tempatnya dengan fokus pada ponselnya.
"Ada apa, Brother?" isi pesan Revin yang baru saja masuk setelah tadi Revan mengiriminya pesan singkat.
* * *
__ADS_1
Sebenarnya Revin masih kesal dengan kakaknya, tapi apalah daya, dia tidak bisa mendiami sang kakak begitu lama.
"Jadi saudara kok ngeselin ya," ucap Revin membuat Carlos mendongak dan menatapnya heran.
"Ada apa lagi, Bro?" ucap Carlos bertanya pada Revin dengan mengelengkan kepalanya, bingung sekaligus pusing mendengar coletehan yang Revin keluarkan sedari tadi tanpa henti.
"Tidak ada apa-apa, moodku lagi buruk," ucap Revin kemudian menaruh ponselnya diatas meja.
Belum ada 3 detik Revin melepaskan ponselnya diatas meja, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan pesan masuk, Revin mengepalkan tangannya dan dengan kasar mengambil ponselnya lalu membukanya.
Revin terdiam saat melihat isi pesan dari sang kakak.
"nanti jemput Reana di sekolah, ada hal penting yang harus ku selesaikan, dan beritahu juga pada Carlos untuk menjaga Vivian baik-baik, kita semua dalam bahaya, aku sudah meminta beberapa orang untuk menjaga Vivian dan Reana saat kita jauh dari mereka, tapi aku khawatir, ada mata-mata di Dragon night, dan itu bisa membahayakan kita," isi pesan Revan yang membuat wajah Revin mendadak serius.
"Ada apa?" tanya Carlos yang menatap Revin dengan serius.
"Zona merah! awasi Vivian baik-baik, jangan sampai keluar dari pengawasanmu," ucap Revin serius.
"Apa Revan yang mengirim pesan?" ucap Carlos bertanya pada Revin.
Revin menganggukkan kepalanya membuat Carlos menelan salivanya dengan susah payah.
"Aku tidak bisa menjemput Vivian nanti, karena ada Felisia, aku yakin saat ini gadis itu dalam bahaya!" ucap Carlos membuat Revin nampak berfikir sejenak.
"Bagaimana dengan Dion?" ucap Carlos tiba-tiba membuat Revin menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Maksudnya?" ucap Revin berusaha untuk memperjelas apa yang dikatakan oleh Carlos.
Pasalnya, Dion tidak perluh dikhawatirkan lantaran dirinya juga bisa beladiri dan bahkan pernah membunuh seorang pembunuh yang mengincarnya.
"Bagaimana jika Dion menjemput Reana, karna jarak sekolah Dion dan Reana tidak terlalu jauh seperti kita, jadi mudah bagi Dion untuk mengantar Reana pulang," ucap Carlos yang sukses membuat Revin membelalakkan matanya.
"Enak aja, aku ngga mau kalau adikku harus di antar pulang oleh Dion!" ucap Revin yang mulai meninggikan suaranya bahkan menggebrak meja dan berdiri dari duduknya.
Carlos tersentak dan mendadak mengingat jika pria dihadapannya ini sangat posesif pada adik perempuannya.
Carlos menghembuskan nafasnya lalu menatap Revin lalu melihat sekeliling, dimana para siswa dan siswi melihat kearah mereka.
"Duduk dulu!" ucap Carlos pada Revin yang menatapnya tajam.
"Aku yakin anak itu tidak akan berbuat yang tidak-tidak, lagi pula kepada siapa kita akan meminta bantuan lagi, kita tidak bisa membuat ayah kita semakin repotkan? mereka tidak mungkin bisa menjemput Reana atau Vivian tepat waktu, kita hanya bisa saling membantu satu sama lain, dan anggota Dragon night bisa membantu kita untuk mengawasi mereka dan menjaga mereka, tapi kita tidak bisa berharap sepenuhnya pada mereka, karna mereka juga memiliki batasan!" bisik Carlos menjelaskan pada Revin.
__ADS_1
Revin terdiam dan mengernyitkan alisnya, karna tumben sahabatnya yang satu ini memberi penjelasan panjang lebar seperti tadi.
"Kenapa bukan adikmu saja!" ucap Revin lagi-lagi meninggikan suaranya.
Carlos terkejut dan menatap Revin dengan tatapan horor.
"Enak aja, 'Kan Reana yang dekat dengan Dion, dan lagi, sampai kapanpun aku ngga akan biarin adikku di bonceng sama laki-laki!" ucap Carlos menekan kata terakhir.
Semua siswa dan siswi dikantin menatap mereka dengan tatapan bingung, Revin menatap Carlos serius kemudian berbicara.
"Terus aku bukan laki-laki gitu?" ucap Revin dengan menunjuk dirinya sendiri.
Carlos terdiam mendengar ucapan Revin lalu kemudian berbicara.
"Kamu 'kan beda, Vin." ucap Carlos membuat Revin mengernyitkan alisnya.
"Beda gimana?" tanya Revin mencoba memperjelas perkataan sahabatnya itu.
"Kamu ngga kira Homo 'kan," ucap Revin menekan kata Homo.
"Menurut aku gitu, 'Kan kamu belum pernah ciuman sama ...," ucap Carlos yang terhenti saat tangan Revin melayang dikepalanya.
Plak.
"Sakit WOY!" ucap Carlos yang memengang kepalanya dan menatap tajam pada pria dihadapannya.
"Dasar sinting, Gue normal, B*go!" ucap Revin setengah berteriak.
Bisa-bisanya Carlos mengira jika dirinya Homo, sungguh membuat Revin marah besar.
"Santay Bro, jangan ngegas," ucap Carlos dengan tangan yang mengelus kepalanya yang sedikit nyut-nyut.
"Aku DO dari daftar teman baru tahu rasa!" ucap Revin membuat Carlos menatapnya bingung.
"Emang bisa?" ucap Carlos yang mendadak jadi bodoh.
"Bisalah," ucap Revin semakin meninggikan suaranya membuat semua siswa dan siswi menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Baiklah sudah kuputuskan, kalau Reana yang akan dijemput oleh Dion," ucap Carlos bersiap untuk kabur.
Revin memejamkan matanya kemudian mengangguk dan tersadar dengan ucapan Carlos lalu membuka matanya dimana Carloa sudah berlari keluar dari kantin.
__ADS_1
"DASAR TEMAN KAMP**T!" teriak Revin dan segera berlari mengejar Carlos.
Para siswi menatap Revin dengan tatapan terkejut bukan main, pria yang biasanya kalem dan selalu tersenyum alias tebar pesona, berteriak begitu keras, sungguh tidak bisa di percaya.