
Arian dan Rania kini berdiri tepat didepan pintu apartemen Kimso, Rania menghembuskan nafasnya lalu membuka pintu apartemen dan mempersilahkan Arian untuk masuk.
"Ibu, aku pulang," ucap Rania sedikit berteriak lalu menutup pintu pintu setelah Arian masuk dan berjalan ke sofa.
"Udah pulang Ra .... eh, kak Arian," ucap Fira yang terkejut melihat Arian yang kini duduk disofa dan menatapnya dengan tersenyum.
"Kimso ada?" tanya Arian dan Fira segera mengelengkan kepalanya, sedang Rania pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Arian.
"Dia belum pulang, kak," ucap Fira mendudukkan diri disofa dihadapan Arian.
Arian hanya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. Sedang Fira yang melihat hal itu sedikit gugup sendiri, terutama dengan penampilan Arian yang sedikit berantakan, seperti tidak tidur semalaman.
"Kak Arian baik-baik saja?" tanya Fira yang khawatir pada kakak iparnya itu.
"Iya, baik-baik saja," ucap Arian dengan tersenyum.
Rania berjalan keluar dari dapur dengan nampan ditangannya, lalu berjalan perlahan untuk meletakkannya diatas meja dihadapan Arian.
Arian tersenyum senang melihat hal yang dilakukan oleh calon menantunya, tanpa diminta sudah pergi untuk membuatkan air panas untuknya.
Setelah meletakkan kopi diatas meja, Rania segera berlalu untuk kembali meletakkan nampan didapur untuk segera memasuki kamarnya dan membersihkan diri.
Tidak lama setelah itu, pintu terbuka menampilkan Kimso yang terkejut melihat Arian duduk disofa ruang tamu bersama istrinya.
"Kakak," panggilnya lalu berjalan mendekat kearah Arian. "Sudah lama?" tanyanya lalu mendudukkan diri disofa disamping Arian.
"Belum lama kok, kau baru pulang kerja atau bolos kerja?" tanya Arian sedikit menyindir adik angkatnya itu.
Kimso yang mendengar hal itu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena sindiran yang tepat sasaran mengenainya.
"Aku ingin membicarakan hal penting dengan kalian berdua," ucap Arian serius membuat Kimso dan Fira menatapnya dengan alis yang mengerut.
"Dua tahun lagi setelah Revan lulus, dia akan menikah," ucap Arian dengan wajah seriusnya membuat Kimso dan Fira terkejut.
"Benarkah?! Syukurlah jika begitu, siapa wanita yang sudah membuatnya jatuh hati?" tanya Kimso yang berbinar senang mengetahui jika keponakannya akan menikah dua tahun lagi, meski sebenarnya itu masih sangat lama.
__ADS_1
"Rania," ucap Arian membuat Kimso mematung, sedang Fira semakin mengerutkan alisnya lalu menoleh kebelakang untuk melihat apakah putranya itu berdiri disana atau tidak.
"Maksudnya kak?" tanya Kimso dengan raut wajah penuh tanda tanya, begitupun dengan istrinya.
"Rania yang akan menikah dengan Revan," ucap Arian membuat Kimso dan Fira mematung. "Aku kesini untuk memberi lamaran, anggap saja seperti pertunangan antara Revan dan Rania," lanjutnya.
"Ta-tapi kak itu ....," ucap Kimso yang terhenti karena Arian sudah berbicara.
"Tidak ada tapi-tapian, Kimso! Mereka saling mencintai, jadi kita sebagai orang tua hanya perlu memberi restu! Soal Rania yang masih kuliah saat itu, tidak akan menjadi masalah untuk Revan. Kebahagian anak-anak jauh lebih penting dari apapun Kimso," jelas Arian panjang lebar membuat Kimso dan Fira terdiam seketika.
Pintu kamar Rania sedikit terbuka, ia sedang menguping pembicaraan ayah pacarnya dan kedua orang tuanya. Ia mengigit bibir bawahnya, menanti jawaban yang akan keluar dari mulut ayahnya.
"Jika itu yang terbaik, maka kami hanya bisa merestuinya kak. Jika mereka saling mencintai, maka kami tidak bisa menghalangi. Semua keputusan ada pada Rania," ucap Kimso dengan tersenyum kecil.
Ia tahu, jika putrinya pasti akan menikah suatu saat nanti. Tapi diluar dari apa yang ia fikirkan, bahwa ternyata putrinya menyukai anak dari kakak angkatnya, memang tidak ada larangan ataupun hal tabu jika mereka menikah. Tapi hal itu justru membuat Kimso ingin menangis sejadi-jadinya, sungguh tidak bisa dipercaya.
"Kau ingin menangis Kimso?" ucap Arian dengan menatap Kimso yang terlihat mengedipkan matanya berkali-kali.
"Tidak," kilah Kimso. Namun air mata lolos membasahi pipinya.
"Tidak, aku tidak menangis kak," ucapnya dengan terus menerus mengusap wajahnya kasar.
Fira yang melihat hal itu tertawa kecil dengan air mata yang mengalir dipipinya, jujur saat ini ia bahagia bercampur dengan terkejut.
"Jangan menangis seperti itu, Rania tengah menatapmu," ucap Arian membuat Kimso mendogak dengan air mata yang membasahi pipinya, sedang Rania terkejut mendengar ucapan Arian yang seperti tahu jika ia tengah menguping pembicaraan.
Rania membuka pintu kamarnya lalu berlari menghampiri ayahnya dan bersimpuh dibawah kaki ayahnya itu.
Fira berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekat kearah sofa yang diduduki oleh suaminya.
"Ayah jangan menangis, Rania ikut nangis kalau ayah nangis," ucap Rania dengan air mata yang menbasahi pipinya.
"Ayah hanya bahagia sayang, tidak percaya jika kau akan menikah dua tahun lagi," ucap Kimso yang terdengar seperti anak kecil membuat Arian menahan tawanya.
"Jaga baik-baik dirimu ya, jangan sakiti Revan ataupun berniat untuk menyukai pria lain. Karena jika kamu melepaskan Revan, kau tidak akan menemukan orang yang lebih baik dari dia," ucap Fira dengan mengelus rambut putrinya.
__ADS_1
Rania menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang ibu, sedang Arian sedikit menyeka air mata yang berada dipelupuk matanya, ia terharu melihat keluarga kecil adiknya itu.
"Kau menangis kakak?!" ucap Kimso dengan menatap Arian yang juga menatapnya dengan malas.
"Tidak, aku tidak menangis. Hanya kemasukan debu sedikit," kilah Arian membuat mereka semua tertawa lepas.
'Aku berharap agar kehidupan mereka selalu bahagia, tanpa ada orang yang berusaha untuk merusak hubungan itu. Sepetinya Revan harus segera mengerjakan perusahaannya sendiri, untuk masa depan dirinya dan Rania,' ucap Arian dalam hati dengan menatap Rania yang terus menerus mendapat kecupan dikepalanya yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
* * *
"Kamu baik-baik saja kan?" ucap seseorang diseberang telfon dengan kekhawatiran yang begitu terasa dari nada suaranya.
"Iya, aku baik-baik saja. Cuma kecelakaan kecil saja, dan cuma luka ditangan saja," ucap Reon berbohong pada Liona diseberang telfon, jelas ia tidak akan jujur pada pacarnya itu jika ia terluka cukup parah.
"Syukurlah jika begitu," ucap Liona dengan menghembuskan nafas lega diseberang telfon.
"Liona," panggil Reon pada kekasihnya itu.
"Iya," jawab Liona yang sedikit bingung.
"Saat lulus nanti, aku akan kerumahmu ya, bersama dengan kedua orang tuaku," ucap Reon membuat Liona terdiam diseberang telfon.
Reon mengernyit saat Liona tidak juga bersuara, hingga terdengar suara Isak tangis yang tertahan membuat Reon terkejut.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan, kok nangis?" tanya Reon yang semakin membuat Liona terisak diseberang telfon.
"Sayang, jangan buat khawatir dong. Jangan nangis gitu, nanti cantiknya hilang loh," ucap Reon mencoba menghibur Liona yang entah menangis karena apa.
"Aku ngga nangis kok, aku cuma bahagia aja," ucap Liona membuat Reon mengernyit.
"Aku tunggu, jika dua tahun lagi kau tidak datang, maka aku tidak akan memaafkan mu," ucap Liona membuat Reon tersenyum kecil.
"Aku janji, aku akan ke kota M setelah pulang dari negara S dua tahun lagi," ucap Reon serius.
"Oke, aku pengang janji kamu," ucap Liona dengan berusaha untuk menghentikan suara isaknya.
__ADS_1
"Iya, i'm promise you," ucap Reon yang semakin membuat air mata Liona jatuh tanpa henti.