SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PENCULIKAN


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Sudah dua hari sejak kepulangan Vivian, dan juga sudah dua hari wajah Revin murung seperti tidak memiliki jiwa, membuat Reon dan Carlos menatap aneh padanya.


"Van, adikmu kenapa?" tanya Reon pada Revan yang duduk disampingnya. Saat ini mereka berada dikantin kampus, karena sudah waktunya untuk istirahat.


Revan menoleh pada Reon, menatap Revin dengan tatapan sulit diartikan.


"Lagi galau," ucap Revan singkat, membuat Carlos tersedak jus yang ia minum.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk."


Reon menatap tidak percaya pada Revan, sedang Revin hanya acuh mendengar hal itu.


Carlos menoleh pada Revin yang duduk disampingnya dengan kepala yang ia tidurkan diatas meja, sungguh terlihat begitu dramatis sekali hidupnya.


"Oh iya, aku baru ingat. Kalau aku dan Carlos akan pergi ke toko buku nanti siang saat pulang," ucap Reon mencoba mengalihkan pembicaraan yang akan berujung pada tanda tanya itu.


"Untuk apa?" tanya Revan penasaran, sedang Revin memilih acuh enggan untuk ikut berbicara.


"Ada buku yang ingin ku beli," ucap Reon dengan tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Revin mengernyit mendengar hal itu, ia kemudian mengangkat kepalanya dan menatap Reon dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kamu mau beli novel bejat lagi?" tanya Revin, membuat Carlos dan Reon menatapnya.


"Maksudnya?" tanya Reon yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Revin.


Revan yang mengetahui arah pembicaraan adiknya, memilih untuk diam dan meminum jusnya.


"Kamu kan suka baca buku begituan, Reon. Bahkan sampai ajak brother buat baca yang gituan," ucap Revin yang semakin membuat Reon mengernyit bingung.


Carlos meminum jusnya, semakin menikmati pembicaraan dua sahabatnya yang entah akan berujung pada apa.


Reon menoleh kearah Revan yang memilih untuk mengalihkan pandangannya ke segala arah, untuk menghindari tatapan mata Reon.


"Kamu bilang apasih, Vin?" ucap Reon, ia benar-benar tidak mengerti.


"Bukankah kau merekomendasikan buku bejat, maksudku novel bejat itu pada brother! Novel BL," ucap Revin akhirnya membuat Carlos menyemburkan jus yang ada dimulutnya.


Beberapa orang menoleh pada mereka dengan tatapan yang sulit diartikan, sedang Reon terdiam mendengar hal itu. Ia menoleh pada Revan yang sama sekali tidak ingin menatapnya sekarang.


"Masa sih, Vin? Reon suka batang?" tanya Carlos pada Revin, saat ia selesai membersihkan jus yang keluar dari mulutnya.


"Iya, aku udah liat hari itu," ucap Revin dengan mengedikkan bahunya, tanda ngeri mengingat hal itu.

__ADS_1


Reon terdiam dengan kepala yang tertunduk, sedang Revan segera bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari kantin membuat Carlos dan Revin menatap aneh padanya.


"REVAN!" teriak Reon dan bangkit dari duduknya untuk segera mengejar Revan yang sudah keluar dari kantin.


Revin dan Carlos terdiam melihat hal itu, mereka bingung dengan apa yang terjadi pada dua orang itu.


"Tapi kok aneh ya," ucap Carlos akhirnya, memecah keheningan yang mendadak itu.


"Aneh kenapa?" tanya Revin yang penasaran dengan apa yang di maksud sahabatnya itu.


"Kan aku sudah tidur satu kamar sama dia, tapi dia tidak melakukan hal yang aneh tuh," ucap Carlos mengingat saat ia dan Reon tidur satu kamar dihotel waktu itu.


"Mungkin saja kamu tidak merasakannya, kamu kan tidur kayak kerbau," ucap Revin membuat Carlos terdiam dan mendadak menundukkan kepalanya.


DUK!


"Aduh!" rintih Carlos saat sebuah sepatu mengenai wajahnya.


"Siapa yang berani melem ....," Carlos menjeda ucapannya saat melihat Reon yang berjalan mendekat kearah mereka.


"Sepatumu pak," ucap Carlos meletakkan sepatu Reon diatas meja, kemudian perlahan-lahan memundurkan kursi yang ia duduki.


"KABUR!" teriak Revin dan Carlos lalu segera berlari keluar dari kantin, sementara Reon memakai sepatunya.


* * *


Pukul 3 siang.


Reon dan Carlos kini berjalan menuju toko buku yang berada tidak jauh dari kampus, sedang Revan dan Revin sudah pulang ke rumah.


Hari ini mereka tidak mengunakan motor ataupun diantar oleh Franco, mereka memilih untuk berjalan kaki. Karena menurut mereka, hal itu akan menyehatkan. Entah sejak kapan mereka berfikir seperti itu.


"Reon ...," panggil Carlos pada Reon yang berjalan disampingnya.


"Apa?" ucapnya malas, malas maladeni Carlos yang terlihat seperti orang bodoh sekarang.


"Maaf karena mengejekmu tadi," ucap Carlos tulus, sungguh tidak bermaksud untuk mengejek sahabatnya itu.


"Hm," Reon hanya berdehem, dan kemudian menoleh kebelakang.


"Ada apa?" tanya Carlos yang penasaran, lalu tiba-tiba ikut menoleh kebelakang.


"Kau merasakannya?" tanya Reon dengan masih menatap kebelakang.


"Iya," ucap Carlos membuat mereka mengepalkan tangan lalu saling bertukar pandang satu sama lain.

__ADS_1


"Sebaiknya kita harus bergegas untuk membeli buku itu," ucap Reon yang diangguki oleh Carlos.


Mereka segera berlari menuju toko buku, agar bisa segera pulang dengan taksi nanti. Tapi tanpa diduga, saat mereka melewati gang kecil yang cukup sepi. Tiba-tiba seseorang memukul belakang leher mereka membuat kesadaran keduanya perlahan-lahan menghilang.


"Segera bawah mereka dari sini, ke tempat yang sudah di siapkan. Aku akan menelfon bos dan memberitahukan hal ini,"


Empat orang mulai mengangkat tubuh Reon dan Carlos memasuki mobil untuk dibawah kesuatu tempat, yang pastinya akan membuat mereka sedikit kesulitan.


* * *


Revan dan Revin tiba dirumah dengan perasaan sedikit tidak enak.


"Revin, coba telfon Carlos ataukan Reon. Tiba-tiba perasaanku tidak enak," ucap Revan saat melangkahkan kakinya memasuki rumah.


"Baik," ucap Revin lalu segera merogoh ponselnya disaku celana dan menghubungi salah satu sahabatnya itu. Karena jujur, perasaannya juga tidak enak.


Revan menatap Revin yang mengernyitkan alisnya, membuat ia semakin dipenuhi dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, yang jelas itu bukan hal yang akan berakhir baik.


"Ada apa?" tanya Revan yang penasaran, mereka masih berada didepan pintu belum memasuki rumah.


"Reon tidak mengangkat telfonnya," ucap Revin saat ia memutus sambungan telfon Reon yang hanya di jawab oleh operator.


Ia kemudian menelfon nomor Carlos, dan tetap saja sama. Hanya operator yang menjawabnya setelah cukup lama berdering.


Revan dan Revin saling menatap satu sama lain, kemudian membuang ransel mereka dan berlari kearah garasi untuk segera mengambil motor dan pergi menyusul dua sahabat mereka.


* * *


Dua puluh menit kemudian.


Revan dan Revin kini berada diluar toko buku, tempat yang akan dikunjungi oleh Reon dan Carlos tadi.


Revin mengacak rambutnya frustasi, saat tadi masuk dan bertanya pada penjaga toko buku itu, yang mengatakan jika mereka tidak melihat orang dengan ciri-ciri yang dikatakan olehnya.


"Pergi kemana mereka?" ucap Revin dengan menggerakkan giginya.


Revan mengepalkan tangannya, lalu menatap sekeliling mungkin saja akan menemukan dua sahabatnya.


Tiba-tiba ponsel Revan berdering, menandakan pesan masuk. Ia segera membuka pesan itu dan terkejut dengan apa yang tertera disana.


"Datanglah ke hotel xxx, jika kau ingin kedua sahabat kalian selamat,"


***


Aku deg-degan nulis part ini, jangan sampai sakit jantung ya🤭🤣. selamat membaca😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2