SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
KETAHUAN


__ADS_3

Revin mematikan motornya diparkiran depan Cafe dan melihat motor disebelah motornya.


'Brother sudah datang!' ucap Revin kemudian segera membuka helmnya dan tidak lupa memakai topi jaketnya lalu masker.


Revin masuk ke dalam cafe dan mencoba mencari kakaknya, Revin segera berjalan kearah meja yang berada di belakang Revan.


Revin duduk dengan membelakangi sang kakak yang juga duduk membelakanginya.


Revin mencoba menajamkan pendengarannya agar bisa dengan jelas mendengar obrolan orang di belakangnya setelah memesan jus dari pelayan dicafe.


"Ini baju seragam dan jaket kak Revan yang hari itu, udah aku cuci kok," ucap Rania dengan menundukkan kepalanya dan menaruh paperbag yang berisi jaket dan baju seragam Revan hari itu.


Revan hanya menatap datar gadis dihadapannya lalu menghembuskan nafasnya.


"Terima kasih karna sudah menolongku hari itu, kak Revan," ucap Rania lagi berterima kasih pada Revan.


Revim mengernyit bingung dan tidak lama kemudian, pesanannya pun datang dan Revin pun mulai membuka maskernya lalu meminum jusnya setelah mengaduknya dengan sedotan.


"Dan ... dan soal ciuaman tadi pagi aku mibta maaf!" ucap Rania dengan wajah yang merona merah.


Revin yang mendengar hal itu tersedak dengan jus yang ia minum.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk," batuk Revin yang tersedak jus.


Revan mengernyit kemudian menoleh ke belakang karna merasa familiar dengan suara barusan.


'Tidak mungkin Revin, dia pasti sudah sampai dirumah sekarang,' ucap Revan dalam hati kemudian kembali menatap Rania.


'Apa aku tidak salah dengar! Brother hebat sekali bisa langsung mendapatkan ciuman penyambutan PDKT,' ucap Revin dalam hati dengan mengelengkan kepalanya tidak percaya.


'Eh, itu berarti ... bibir Brother sudah tidak suci lagi dong!' ucap Revin dalam hati terkejut bukan main.


"Tidak perlu difikirkan, yang harusnya minta maaf itu aku," ucap Revan membuat Rania menganggukkan kepalanya sedang Revin.


"Uhuk ... uhuk," lagi-lagi tersedak jus yang ia minum.


Revan menghembuskan nafasnya, karna kesal dengan pria dibelakangnya yang sedikit berisik dan itu sangat menganggu.


'Brother barusan minta maaf? apa aku tidak salah dengar,' ucap Revin dalam hati bertanya pada dirinya sendiri.


Saat Revin ingin kembali mendengar percakapan kakaknya dengan Rania, tiba-tiba seseorang memanggil namanya membuatnya membeku seketika.


"Revin, ngapain kamu disini?" tanya Reon yang baru saja datang dengan Liona.


Revin mendongak dan kemudian tersenyum canggung karna dirinya telah ketahuan oleh Reon.

__ADS_1


Revan terkejut mendengar Reon menyebut nama Revin, ia pun menoleh ke belakang lalu menatap Revin yang juga menatapnya dengan cengegesan.


Revin perlahan berjalan mendekati Reon kemudian menepuk bahu Reon.


"Kamu yang bayar," ucap Revin kemudian segera berlari keluar cafe dan segera menaiki motornya dan menancap gas pergi dari cafe itu.


Reon terdiam mendengar perkataan Revin sedang Revan mengepalkan tangannya kesal, bisa-bisanya adiknya itu menguping pembicaraannya.


"Aku yang bayar?" tanya Reon pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba seorang pelayan mendekati Reon dan Liona dengan senyum diwajahnya.


"Maaf tuan, tuan yang lari tadi itu apakah teman anda?" tanya pelayan itu dan Reon hanya mengangguk.


"Dia belum membayar minuman yang ia pesan tuan, dan tadi saya dengar anda yang akan membayarnya," ucap pelayan itu membuat Reon mematung di tempatnya.


Reon menatap Revan yang sudah berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Rania kemudian mendekat pada Reon.


"Kamu yang bayar," ucap Revan lalu keluar dari cafe dengan mengenggam tangan Rania menuju parkiran.


Reon semakin terdiam di tempatnya mendengar perkataan Revan.


"Tuan ...," ucap pelayan itu menyadarkan Reon dari keterkejutannya.


'Dasar sia**n, saudara kembar sint*ng,' umpat Reon dalam hati yang ditujukan untuk Revan dan Revin.


Reon dan Liona tidak jadi makan di cafe itu dan memutuskan untuk pulang karna mood Reon tiba-tiba buruk, sedang Liona hanya menurut saja, toh masih ada besok.


* * *


Kini Revan tengaj dalam perjalanan mengantar Rania pulang, Rania hanya mampu memeluk pinggang Revan dengan erat dengan degup jantung yang begitu cepat.


Sepuluh menit kemudian.


Revan menghentikan motornya diparkiran bangunan apartemen Kimso. Rania turun dari motor kemudian berterima kasih pada Revan.


"Terima kasih, kak Revan," ucap Rania kemudian sedikit membungkukkan badannya.


Revan hanya menganggukkan kepalanya kemudian merogoh ponselnya lalu mengetik nama seseorang disana.


Rania berbalik untuk segera naik ke apartemen orang tuanya tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.


Revan menatap Rania lama hingga hilang dari pandangannya, Revan menghembuskan nafasnya lalu segera mengelengkan kepalanya mencoba untuk membuang semua perasaan yang sempat singgah dihatinya.


"Halo, kamu dimana?" tanya Revan saat orang diseberang telfon mengangkat telfonnya.

__ADS_1


"Aki udah dirumah," jawab Reana diseberang telfon dengan nada sedikit kesal.


"Maaf, kakak tidak bermaksud untul tidak menjemputmu," ucap Revan merasa bersalah pada adiknya.


"Tidak apa-apa, kak." ucap Reana yang tahu jika sang kakak merasa bersalah padanya.


"Terus ... kenapa tadi nada suaramu sedikit kesal begitu, itu karna kakak tidak menjemputmu 'kan," tebak Revan membuat Reana mengelngkan kepalanya seolah kakaknya ada dihadapannya.


"Bukan begitu, kak. aku tidak kesal dengan kakak, sudahlah, jangan bahas lagi, nanti aku tambah kesal deh," ucap Reana membuat Revan hanya mampur menghembuskan nafasnya.


"Baiklah kalau begitu, bye," ucap Revan berniat untuk mengakhiri panggilan.


"Bye, kak. hati-hati di jalan," ucap Reana yang hanya dibalas deheman oleh Revan dan kemudian mematikan panggilan.


Revan kembali memakai helmnya untuk segera pulang dan memberi pelajaran pada adik nakalnya yang sudah berani menguping pembicaraannya tadi.


* * *


Revin segera mematikan motornya saat tiba dirumah Carlos.


"Kamu kenapa?" ucap Carlos sedikit berteriak di atas balkon kamarnya.


Revin mendongak dan menatap sahabatnya itu yang menatapnya dari atas balkon kamar.


"Aku titip motorku ya, Car. aku pergi dulu," ucap Revin kemudian segera keluar dari gerbang rumah Carlos dan berlari menuju rumahnya yang hanya berjarak 30 meter dari rumah Carlos.


Revin segera berlari dan masuk ke dalam rumah dengan keringat yang bercucuran membuat Reana yang duduk di sofa, menatapnya heran.


"Kakak kenapa?" tanya Reana pada kakak keduanya itu.


"Ambilkan aku air, Rere," ucap Revin dan Reana pun segera bangkit dari duduknya untuk segera mengambilkan air minum untuk kakaknya itu.


Beberapa saat kemudian.


Reana segera menyodorkan segelas air pada Revin dan Revin segera menenguk air minum itu hingga tandas.


Revin memberikan gelas kosong itu pada Reana kemudian berbicara.


"Kalau Brother pulang dan bertanya padamu, apakah kakak sudah pulang, jawab saja belum pulang ya," ucap Revin kemudian segera berlari menaiki tangga untuk segera ke kamarnya dan mengunci pintu.


Reana menatap Revin dengan tatapan aneh dan tidak lama kemudian, terdengar suara motor yang masuk ke dalam garasi.


Dan beberapa saat kemudian, Revan masuk ke dalam rumah lalu menghampiri Reana yang masih setia berdiri di tempatnya.


"Revin udah pulang," tanya Revan pada Reana.

__ADS_1


__ADS_2