
Revin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi menuju kesuatu tempat. Revin menghentikan motornya tepat didepan basecamp anak sekolah yang satu sekolah dengan Vivian.
Revin membuka helmnya dan melihat dari kejauhan 5 orang anak sekolah yang berseragam sama dengan Vivian tengah bercanda dengan tangan yang memengang puntung rokok dimasing-masing tangan mereka.
"Ck, belum cukup umur sudah melakukan hal yang tidak baik," ucap Revin kemudian turun dari motornya dan menaruh ranselnya diatas motor bersama dengan helm.
Revin melonggarkan dasinya kemudian berjalan mendekati kelima pria remaja itu.
"Hey, lihat siapa itu yang datang kesini?" ucap salah satu remaja itu dengan menatap Revin yang berjalan mendekati mereka.
"Ck, palingan cuma orang menyebalkan saja," ucap remaja pria itu yang adalah ketua dari 4 temannya.
"Hey lihat! seragam sekolahnya, dia murid dari sekolah elit nomor 2 itu," ucap salah satu teman remaja pria itu dengan menepuk bahu temannya yang bernama Kiu.
Kiu hanya tersenyum meremehkan hingga Revin semakin dekat dan tiba-tiba berlari mendekatinya dan melayangkan bogem mentahnya membuat Kiu terjatuh dari duduknya.
Keempat teman Kiu terkejut melihat hal itu dan dengan segera membantu Kiu berdiri.
Kiu mengusap pipinya yang terkena bogem mentah Revin dengan punggung tangannya.
"WOY SIA**N, GUE NGGA ADA MASALAH SAMA LO YA, NGAPAIN LO ...," belum selesai Kiu berbicara, bogem mentah Revin kembali mengenai pipi sebelah kirinya yang belum terkena bogem mentah.
Saat ke 4 orang sahabat Kiu ingin membantu Kiu untuk berdiri, Revin sudah memukul mereka satu persatu hingga meringis kesakitan.
Kiu memundurkan dirinya perlahan dengan raut wajah takut melihat Revin yang berjalan mendekatinya.
Revin kembali melayangkan bogem mentahnya berkali-kali hingga membuat Kiu meringis kesakitan dan meminta ampun tapi Revin sama sekali tidak mendengarkannya.
Revin baru menghentikan pukulannya saat Kiu sudah benar-benar tidak berdaya dengan wajah yang babak belur.
Ke 4 teman Kiu terkejut melihat hal itu, mereka menelan saliva mereka dengan susah payah dan menatap Revin yang berdiri dan sedikit menjauh dari tubuh Kiu yang sudah tergeletak sekarat.
"Sebaiknya kalian segera membawanya kerumah sakit, jika tidak ... maka nyawanya akan melayang," ucap Revin santay kemudian meninggalkan ke 4 orang itu yang mulai kebingungan dan segera menelfon almbulanc dan juga orang tua Kiu.
Revin segera naik kemotornya dan memakai helmnya untuk segera pulang, karena nanti malam masih ada hal yang harus ia lakukan.
* * *
__ADS_1
Di sisi lain, Revan kini berada diparkiran sekolah berniat untuk pulang dan segera menjemput Reana disekolahnya, Revan menatap keluar gerbang sekolah dimana Rania tengah berdiri ditepi jalan menunggu taksi dengan sesekali menghembuskan nafasnya.
Revan segera memakai helmnya dan naik kemotornya untuk segera berangkat dan menjemput Reana.
Rania menatap nanar motor yang melintas dihadapannya, Rania memengang dadanya yang mendadak sesak mengingat hal yang tadi.
"Apa yang harus aku lakukan? perasaan ini benar-benar menyiksaku," ucap Rania dengan menyentuh dadanya yang sesak dengan pulupuk mata yang mulai mengenang air mata.
* * *
Sepuluh menit kemudian.
Revan mematikan motornya didepan gerbang sekolah Reana. Revan menunggu tanpa berniat untuk membuka helmnya hingga suara deringan ponselnya membuatnya mengernyit bingung.
Revan semakin mengernyitkan alisnya kala melihat siapa yang menelfonnya, yang tidak lain adalah Desta.
Tanpa fikir panjang, Revan segera membuka helmnya dan mengangkat telfon dari Desta.
"Halo, paman. ada apa?" tanya Revan yang penasaran, kenapa tiba-tiba Desta menelfonnya.
"Maaf Tuan, Jika saya menganggu anda, saya ada berita yang harus saya beritahu, ini tentang Mafia yang memata-matai kita, mereka adalah saingan kita, sekaligus saingan perusahaan Tuan besar Arian," ucap Desta panjang lebar pada Revan diseberang telfon.
"Kita akan atur penyerangannya beberapa hari kedepan, untuk sekarang terus awasi saja, mereka mengawasi kita dan kita juga harus mengawasi mereka dan perlahan-lahan melakukan hal yang seharusnya." ucap Revan dan Desta pun mengangguk diseberang telfon seolah Revan berada didekatnya dan melihat anggukan kepalanya.
"Baik, Tuan." ucap Desta dan Revan pun mematikan panggilan sepihak karena ia tidak bisa terlalu leluasa untuk menelfon dengan waktu yang lama, karena ia tahu, jika ia tidak sendiri disana melainkan ada tikus yang selaku mengikutinya.
Dari kejauhan, Reana segera berlari kecil mendekati sang kakak yang berada diatas motor dengan menatap kearahnya.
"Kakak Revan," ucap Reana berteriak kecil kemudian segera memakai helmnya agar bisa segera pulang bersama sang kakak.
Revan hanya tersenyum kecil melihat hal itu, Reana pun segera naik ke jok motor agar bisa segera pulang kerumah.
Revan menyalakan mesin motornya lalu segera melajukannya meninggalkan gerbang sekolah Reana.
* * *
Lima belas menit kemudian.
__ADS_1
Revan menghentikan motornya digarasi rumahnya lebih tepatnya disamping motor Revin.
Reana segera turun dari motor sang kakak dan tidak sengaja memengang lengan kanan Revan yang terluka, membuat Revan refleks berteriak.
"AAAH!" teriak Revan saat Reana dengan tidak sengaja memengang lengannya yang luka dan bahkan mencengkram kuat membuat lengan Revan sedikit berdarah bahkan menembus perban dan lengan seragamnya.
Reana terkejut saat melihat hal itu, dan reflesl menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Reana segera menarik pelan tangan kiri Revan untuk segera masuk kedalam rumah dan segera mengobati lengan Revan yang berdarah.
Revan hanya menurut ditarik seperti itu oleh Reana.
Reana meminta Revan untuk duduk disofa dan Revan hanya menurut dengan wajah datarnya.
Reana kembali dari dapur dengan kotak P3k ditangannya dan segera mendekati Revan dan mengobati lengan Revan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Revin yang baru saja menuruni anak tangga dan segera berjalan mendekati Reana dan Revan yang duduk disofa.
"Astaga! kok berdarah lagi sih itu lengan, ngga kasian apa sama pemiliknya!" ucap Revin dengan nada menyindir Revan yang hanya menatapnya datar.
"Ish, kak Revin! Reana tadi ngga sengaja pengang lengan kak Revan bahkan sampai cekram kuat banget, jadinya gini deh," ucap Reana dengan raut wajaha khawatir.
Reana segera membersihkan semua sisa-sisa perban lalu kembali menaruh kotak P3K ditempatnya semula.
Revan beranjak dari duduknya untuk segera naik kekamarnya dan beristirahat meninggalkan Revin yang menatapnya dengan tatapan sedikit bingung.
'Masalah apa yang ia alami sampai seperti itu, apakah masalah sulit?' ucap Revin bertanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Revin tersenyum begitu senang saat mengingat apa yang ia lakukan beberapa saat yang lalu.
Revin meretas semua data pribadi kepala sekolah Vivian bahkan membongkar semua aib dan rahasianya kepublik.
"Besok tuh bocil, bakalan pergi kesekolah dan akan mendapat kejutan yang menyenangkan," ucap Revin dengan tersenyum kecil kemudian kembali naik kelantai atas untuk segera masuk kekamarnya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Pekerjaan yang diberikan oleh Arian untuk Revin selesaikan karena Revan belum bisa mengerjakan pekerjaan kantor karena Ana memintanya untuk istirahat setelah pulang sekolah.
Revin menghentikan langkahnya yang berniat untuk masuk kedalam kamarnya, Revin menoleh kearah kamar Revan yang tertutup rapat.
__ADS_1
Revin segera menghampiri pintu kamar Revan dan mengedornya dengan keras di iringi dengan teriakan.
"BROTHER! buka pintunya, cepat bantu aku menyelesaikan pekerjaan kantor ini, selagi Mommy tidak ada dirumah!" ucap Revin sedikit berteriak dengan tidak henti-hentinya mengedor pintu kamar Revan dengan keras.