
Pukul 7:30 malam.
Saat ini, Arian, Ana beserta ketiga anaknya tengah makan malam bersama. Entah mengapa malam ini terasa begitu sunyi, Arian menoleh pada putra pertamanya yang memakan makanannya dengan lahap, kemudian menoleh pada putrinya yang juga makan dengan lahap, dan terakhir, Arian menoleh pada Revin yang memakan makanannya dengan malas, membuat Arian mengernyit bingung.
"Revin, kau baik-baik saja?" tanya Arian dengan raut wajah khawatir.
Revin mendongak kemudian tersenyum kecil.
"Baik-baik saja, Dad." Ucap Revin dengan senyum diwajahnya, senyum yang dipaksakan.
Arian yang melihat hal itu menghembuskan nafasnya, dan kembali makan dengan sesekali melirik kearah putra keduanya.
Selesai makan malam, Revin memutuskan untuk segera naik kakamarnya dilantai 2.
"Apa yang terjadi dengan Revin, Revan?" tanya Ana pada putra sulungnya yang duduk disofa tunggal disamping Arian dengan fokus pada ponselnya.
Revan mendongak dan menatap sang ibu yang juga menatapnya penuh tanda tanya, begitu pun dengan Ayah dan adik perempuannya.
"Hanya masalah biasa, Mom." Ucap Revan dengan senyum diwajahnya, membuat ketiga orang itu semakin bertanya-tanya dalam hati.
* * *
Seorang pria berdiri dengan belati ditangannya yang berlumuran darah segar dan menatap seorang gadis yang tergeletak tak bernyawa dihadapannya dan juga mayat sepasang suami istri dan satu pria yang ia bunuh.
Ia tersadar dan belati yang ia pengang perlahan-lahan terjatuh keatas lantai.
Suara pintu terbuka terdengar ditelinga pria itu, membuat pria itu menoleh dan terkejut mendapati seorang gadis berdiri diambang pintu dengan melihat kearahnya dengan tatapan terkejut, sangat terkejut.
Pria itu terdiam dan segera berjalan mendekat pada gadis itu dengan wajah datarnya, gadis itu gemetar, sangat gemetar dan segera berlari menjauh dari pria itu.
Pria itu mengejar gadis itu hingga hampir tiba dijalan raya, dimana mobil berlalu lalang.
"AWASS," teriak pria itu saat gadis itu menyebrang jalan tanpa menoleh kekanan dan kekiri, hingga mobil menabrak tubuh mungilnya hingga terpental cukup jauh.
* * *
"TIDAAAK," teriak Revin terbangun dari tidurnya, dengan tubuh yang berkeringat, keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya.
Revin mengusap wajahnya kasar dengan nafas yang memburu.
"Mimpu buruk itu lagi," ucap Revin dan lagi-lagi mengusap wajahnya kasar.
Entah mengapa akhir-akhir ini, mimpi itu selalu saja datang, membuatnya terbangun dari tidurnya. Setelah Revin menyadari perasaannya, Ia selalu saja bermimpi buruk, dan mimpi yang sama, yang berhubungan dengan masa lalunya.
__ADS_1
Revin menoleh pada jam diatas nakas disamping tempat tidurnya, yang menunjukkan pukul 3 pagi.
Revin beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi.
Revin membasuh wajahnya diwestafel didalam kamar mandi dikamarnya, ia mendongak dan menatap pantulan dirinya dicermin.
"Kau pria yang tidak berperasaan," ucapnya pada pantulan dirinya sendiri penuh penekanan.
Revin membasuh wajahnya sekali lagi, kemudian keluar dari kamar mandi untuk kembali tidur.
Tiga puluh menit kemudian.
Revin belum juga tertidur, dia benar-benar gelisah, sudah membalik badannya kekanan dan kekiri, tapi tidak juga mendapat kenyamanan.
"Oh ayolah, kenapa mata ini begitu susah untuk kembali terpejam," ucap Revin kesal.
Revin terus saja mengubah posisinya, hingga kini posisinya menjadi kepala bawah dan kaki diatas mengunakan bantal.
Pukul 5 pagi.
Kini nafas Revin sudah teraturr yang tandanya ia sudah tertidur pulas, bukan diatas tempat tidur, melainkan dilantai disamping tempat tidurnya.
* * *
Revan keluar dari kamarnya dengan seragam yang sudah sudah melekat sempurna ditubuh atletisnya.
Revan menghentikan langkahnya didepan pintu kamar Revin, ia menoleh dan kemudian memengang knock pintu dan membukanya.
Revan mengernyit saat tidak melihat sang adik diatas tempat tidur, ia pun mengedarkan pandangannya kesegala arah, tapi tidak menemukan Revin dimana-mana.
Saat Revan ingin melangkahkan kakinya keluar kamar, suara dengkuran halus membuatnya menghentikan langkahnya lalu kembali menoleh ketempat tidur.
Revan melangkahkan kakinya mendekat pada tempat tidur dan perlahan-lahan mengitari tempat tidur.
Revan membulatkan matanya dengan sempurna, melihat Revin yang tertidur dilantai dengan meringkuk dan dapat Revan tebak, jika adiknya itu kedinginan.
Revan menatap sayu adiknya itu, kemudian berjalan mendekat kemeja disamping tempat tidur dan mengambil gelas yang berisi air minum.
Revan mengambil gelas itu kemudian meletakkan penutup gelas itu diatas meja dan berjalan mendekat pada Revin yang masih tertidur meringkuk dilantai.
"Hm, aku tuang dimana ya?" tanya Revan pada dirinya sendiri dengan menatap Revin dari ujung kaki, hingga kepala.
Revan tersenyum saat melihat tempat yang cocok, ia pun berjongkok dan melihat wajah adiknya itu, dengan mulut yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Dengan kejahilannya, Revan sedikit menyentuh dagu adiknya itu, dan sedikit memiringkan kepala Revin hingga menghadap padanya.
Revan meminumkan Revin air yang digelas dengan perlahan, hingga tiba-tiba Revin terbatuk, tersedak air yang diberikan oleh Revan.
Revan segera berdiri dari duduknya, membuat tangannya sedikit bergerak membuat air didalam gelas tumpah diwajah Revin yang belum bangun sepenuhnya.
Revin terduduk seketika dengan wajah dan baju yang sedikit basah.
Nafas Revin memburu akibat terkejut, dan tanpa sengaja, matanya menangkap sepasang kaki yang berdiri tidak jauh darinya dan bersiap untuk naik keatas tempat tidur.
Revan hanya cengegesan melihat Revin menatapnya dengan mata yang membulat sempurna seolah ingin keluar dari tempatnya.
Dan tidak lama setelah itu ....
"BROTHEERRR!!" teriak Revin membuat Revan naik keatas tempat tidur kemudian berlari keluar kamar dengan diikuti oleh Revin yang mengejarnya.
Dikamar Reana.
Reana terkejut saat mendengar teriakan sang kakak, yang terdengar hingga kedalam kamarnya, yang memang berseblahan dengan kamar Revin.
"Astaga, jantungku copot," ucap Reana yang terkejut dengan mengelus dadanya yang kembang kempis dengan nafas yang memburu.
Dimeja makan.
Arian terkejut dengan teriaka Revin yang terdengar lebib awal dari biasanya, bahkan membuatnya tersedak makanan yang ia kunyah.
"Uhuk ... uhuk," batuk Arian segera meminum air yang berada disampingnya.
"Tumben terdengar lebih cepat, bahkan aku belum memakai penyumbat telinga," ucap Arian dengan menaruh gelas kembali ditempatnya.
Arian terkejut saat sebuah sepatu melayang kearahnya, sebelum sepatu itu menyentuh wajahnya, ia menangkapnya, dan menatap tajam pada dua putranya.
Revan dan Revin terdiam ditempat mereka dan kemudian menundukkan kepala mereka, takut melihat tatapan tajam sang ayah.
"Aku pergi mandi dulu," ucap Revin kikuk, kemudian berbalik dan menaiki tangga untuk kekamarnya dan segera membersihkan diri.
Revan menelan salivanya dengan susah payah, kemudian berjalan perlahan ke meja makan dan duduk disamping sang ayah.
Arian menghembuskan nafasnya, kemudian membuang sepatu itu disamping kursinya dan menatap lekat putra sulungnya itu.
Arian kembali memakan sarapannya setelah mengacak rambut putranya itu, untuk menghilangkan ketengangan yang melanda mereka.
Arian tersenyum pada Revan, membuat Revan tersenyum kikuk dengan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Sudah sejauh mana?" tanya Arian dengan tersenyum pada Revan.