
Tiga puluh menit kemudian.
Sudah tiga puluh menit mereka menunggu dan dua orang itu belum juga kembali membuat Revan, Revin, Carlos dan Felisia bosan.
Saat Carlos ingin berdiri dari duduknya tiba-tiba Reon dan Liona berjalan mendekati mereka membuat Carlos mengurungkan niatnya untuk pergi mencari Reon.
"Fel, ayo pulang!" ucap Liona dan Felisia pun berdiri dari duduknya lalu melirik tajam ke arah Carlos kemudian membuang muka.
Carlos mengepalkan tangannya kesal melihat hal itu, seandainya saja Felisia bukan wanita, mungkin ia sudah memberi pelajaran sedari tadi.
Liona mengecup pipi Reon singkat kemudian berpamitan pada Revan, Revin dan Carlos dan pergi dari sana bersama dengan Felisia.
Carlos bergidik ngeri melihat apa yang baru saja terjadi sedang Revan dan Revin terdiam melihat hal itu, terutama saat Reon tersenyum manis pada Liona.
Kini mereka berada di parkiran untuk segera pulang ke rumah masing-masing.
"Reon ...," ucap Revan memanggil nama sahabatnya itu.
Reon menoleh pada Revan begitu pun dengan Revin dan Carlos dan menatap Revan yang berwajah serius.
Mereka bertiga menelan salivanya dengan susah payah, karna tau jika Revan sudah berwajah serius seperti itu pasti akan ada hal yang akan terjadi.
Revan mendekat pada ketiga pria itu, Lalu berbicara dengan suara yang begitu pelan.
"Arah jam 2, setelah keluar dari parkiran ini, berpencar," ucap Revan dengan suara yang begitu pelan tapi mampu di dengar oleh ketiga orang itu.
Revin, Reon dan Carlos menoleh ke arah jam 2 yang di katakan oleh Revan dan sedikit terkejut ketika melihat seseorang yang berjas hitam sedang menatap ke arah mereka.
Revin, Reon dan Carlos saling bertukar pandang dan berdecak kesal dalam hati.
'Sia**n, mereka pasti suruhan dari orang yang tidak suka dengan keluarga Li, Sia dan Sang, sia**n,' ucap Revin, Reon dan Carlos dalam hati kemudian mengangguk.
Revin menatap sang kakak yang sudah naik ke motornya dan bersiap untuk memakai helm.
__ADS_1
'Untung saja tingkat kewaspadaan Brother tinggi, jadi dia bisa merasakan bahaya lebih cepat dari siapa pun,' ucap Revin dalam hati kagum pada sang kakak.
Mereka berempat menyalakan motor mereka kemudian mengangguk dan melajukan motor mereka dengan kecepatan tinggi meninggalkan parkiran mall itu.
Revan dan Reon pergi ke arah kanan sedang Revin dan Carlos ke arah kiri, orang yang mengikuti mereka menjadi pusing kemudian membagi kelompok untuk berpecah, 3 mobil mengikuti Revan dan Reon, 2 mobil mengikuti Revin dan Carlos.
Revan dan Reon melajukan motor mereka ke arah jalan sepi dan masuk ke dalam gang yang cukup untuk mereka menyelesaikan hal yang menganggu.
Revan dan Reon mematikan motornya kemudian membuka helm mereka dan turun dari motor di ikuti oleh lebih dari sepuluh orang yang turun dari mobil yang mengikuti mereka.
Revan dan Reon di kepung, tapi bukannya takut, Reon malah tersenyum sedang Revan masih dengan wajah datarnya.
"Kemarilah, dasar banci," ucap Reon dengan senyum meremehkan.
Sepuluh orang itu kesal dengan apa yang di katakan oleh Reon yang mengatai mereka Banci.
Mereka pun mulai menyerang secara bersamaan tapi Revan dan Reon dengan lihay menghindar dan memberikan orang-orang itu pukulan.
Hampir 15 menit Revan dan Reon berkelahi dengan para pria itu atau bisa dibilang pembunuh bayaran.
Revan berjongkok dan menatap pria itu yang sudah gemetar.
"Siapa yang memberikan kalian perintah untuk menangkap kami?" tanya Revan dengan menatap tajam pria di hadapannya yang sudah gemetar.
"Sampai mati pun aku tidak akan memberitahukannya padamu!" sarkas pria itu yang tetap tidak mau memberitahukan siapa yang memerintahkannya pada Revan.
Revan meraih tangan pria itu yang gemetat dam kemudian.
"AAAA!" teriak pria itu kala Revan mematahkam jari telunjuk pria itu.
Reon menelan salivanya dengan susah payah dan kemudian mengalihkan pandangannya ke segala arah agar tidak melihat hal yang di lakukan oleh Revan selanjutnya.
"Sekali lagi aku tanya, siapa yang memerintahkan kalian?" tanya Revan dengan nada suara yang sedang menahan amarah.
__ADS_1
Pria itu bungkam tidak berbicara sedikit pun membuat Revan kesal dan sedetik kemudian pria itu tewas saat Revan memukul kepalanya hingga mengeluarkan darah di dinding di belakangnya.
Revan berdiri dari duduknya kemudian mengambil sapu tangan lalu membersihkan darah yang menempel di tangannya.
"Bereskan," ucap Revan dingin pada anggota Dragon night yang sedari tadi berada di sana tapi hanya menonton karna mendapat isyarat dari Revan untuk tetap di tempatnya.
"Persiapkan nanti malam, kita akan pergi ke markas pembunuh di kota ini," titah Revan pada salah satu anggota Dragon night.
Revan dan Reon menaiki motornya dan segera memakai helm kemudian meninggalkan tempat itu untuk segera pulang.
Sementara itu di waktu yang bersamaan, Revin dan Carlos tiba di jalan yang cukup sepi kemudian menghentikan motor mereka lalu membuka helm dan turun dari motor.
Revin merengangkan otot-ototnya kemudian menatap delapan orang di hadapannya lalu mengangkat kepalannya dan dengan sigap Carlos melakukan tos kepalan tangan dengan Revin dan mulai menyerang.
Pukulan demi pukulan Revin berikan pada para pembunuh itu tanpa ampun begitu pun dengan Carlos.
Tiba-tiba dari arah belakang Revin seseorang bersiap untuk menikam Revin dengan pisau tapi dengan sigap Revin menghindar kemudiam memengang tangan pria itu lalu mematahkannya dan mengambil alih pisau itu dan.
Revin menusukkannya pada perut pria itu berulang-ulang hingga pria itu terjatuh dengan darah yang terus keluar dari perutnya.
Lima orang yang tersisa terdiam melihat hal yang terjadi dan kemudian menatap Revin yang membuang pisau itu ke atas dan dengan sigap ia tangkap dan kemudian menyerang lima orang yang tersisa dengan membabi buta.
Tujuh menit kemudian.
Revin dan Carlos berjalan kembali ke motor mereka dengan melewati mayat para pembunuh itu dan 2 mobil hitam pun mendekat.
Para anggota Dragon night keluar dari mobil dan berjalan mendekati Revin dan Carlos.
"Bos Revin anda terluka," ucap salah satu anggota Dragon night saat melihat goresan di lengan Revin.
"Tidak apa-apa, hanya luka kecil, kalian bereskan," ucap Revin santay kemudian kembali berjalan ke motornya dengan Carlos yang mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.
Revin dan Carlos naik ke motor mereka lalu kembali memakai helm dan melajukan motor mereka untuk segera pulang.
__ADS_1
'Aku berharap, Mommy tidak ada di rumah,' ucap Revin dalam hati berharap agar Ana tidak ada di rumah, karna bisa berbahaya jika ibunya sampai melihat luka goresan itu, Revin tidak ingin membuat sang ibu khawatir.