
Revan masuk kedalam kelas dan segera duduk dibangkunya membuat Reon yang tengah fokus pada ponselnya, menoleh kearahnya.
Reon menatap datar sahabatnta itu yang seperti tertiban masalah bertubi-tubi.
"Kamu udah sehat?" tanya Reon membuat Revan menoleh kearahnya dengan malas.
"Hm," hanya itu jawaban Revan membuat Reon serasa ingin memukul sahabatnya itu.
"Aku menyesal merindukan kehadiran orang dingin sepertimu," ucap Reon kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Siapa yang memintamu merindukanku," ucap Revan malas.
Reon memutar bola matanya malas kemudian kembali fokus pada ponselnya, dimana dirinya tengah chatan dengan Liona.
"Kau tau? kemarin Rania berniat untuk menjengukmu dirumah sakit, apa kau tidak memberitahunya jika kau keluar kemarin?" tanya Reon tanpa menoleh pada Revan.
Revan hanya terdiam tidak berniat menjawab pertanyaan Reon, Reon mengernyit bingung kemudian menoleh pada Revan yang hanya terdiam.
"Kenapa diam?" tanya Reon, tapi Revan masih tetap diam tidak bergeming.
Reon memghembuskan nafasnya kemudian kembali berbicara.
"Aku rasa dia menyukaimu, Van," ucap Reon membuat Revan menoleh padanya.
"Terus ...," ucap Revan kemudian memalingkan pandangannya keliar jendela disamping kirinya.
Reon terdiam mendengar ucapan Revan yang acuh.
"Apa kau sama sekali tidak menaruh hati padanya, dia gadis yang baik, dan cocok untukmu, atau bahkan dia bisa menjadi calon istri yang baik dimasa depan," ucap Reon penuh percaya diri dengan ucapannya.
"Masa depan belum ada yang tau, aku hanya menganggapnya sebagai adik saja, tidak lebih dari pada itu," ucap Revan dengan raut wajah dinginnya.
Reon tersentak mendengar jawaban Revan yang begitu dingin dan acuh.
Revan menatap dari pantulan cermin dimana siluet seorang gadis tengah berdiri diluar pintu masuk kelas.
Revan hanya bisa bersikap seolah tidak melihat Rania yang berada luar pintu tengah mendengat percakapannya dengan Reon.
"Oh, aku fikir kau menyukainya," ucap Reon kemudian kembali fokus pada ponselnya tidak menyadari Rania yang berdiri diluar pintu tengah mengigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan isak tangisnya.
__ADS_1
Rania segera berlari menuju kesuatu tempat yang menurutnya cocok untuk keadaannya sekarang, ia benar-benar ingin sekali meluapkan segala kesedihannya, rasa sesak didadanya saat mendengar Revan mengucapkan kata-kata acuh seperti itu, dan juga mengatakan jika hanya menganggap dirinya sebagai adik tidak lebih.
Rania membuka pintu ruangan latihan musik yang sangat sepi, lalu menutup pintu dan menangis dengan suara tertahan dan air mata yang mengalir dengan deras membasahi pipinya.
Tujuh menit Rania menangis didalam ruangan itu, akhirnya Rania menyudahi tangisnya dengan sesekali menyeka airmatanya yang membasahi pipinya dengan mengunakan punggung tangannya.
Rania menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan dan kemudian merapikan penampilannya lalu membuka pintu untuk segera keluar dari ruangan musik menuju kelasnya.
* * *
Bel istirahat berbunyi, Revin dan Carlos berjalan menuju kantin sekolah untuk segera makan siang.
Carlos dan Revin duduk dikursi yang biasa mereka duduki saat makan siang, Carlos memanggil pelayan kantin lalu memesan makannya dan Revin yang asyik terdiam dengan fikiran yang menjalar kemana-mana.
"Kamu lagi mikiran soal apa, Vin?" tanya Carlos menatap heran sahabatnya itu.
Revin menatap Carlos dengan tatapan yang sulit diartikan, Carlos yang melihat hal itu, mengernyit bingung sekaligus heran.
"Apaan?" tanya Carlos yang merasa risih ditatap seperti itu ole Revin.
Pelayan datang membawa pesanan mereka dan menaruhnya diatas meja lalu pergi untuk melayani siswa lain.
"Uhuk ... uhuk," batuk Carlos kemudian menoleh pada Revin yang menatapnya.
"Makanya kalau minum itu, ngga usah terburu-buru kayak abis dikejar anjing gila aja," ucap Revin santay, padahal Carlos tersedak akibat perkataannya.
"Sia**n, aku tersedak juga karena kamu tau! memangnya siapa anak kecil yang pacaran denganmu," ucap Carlos yang tahu jika Revin pasti tengah membahas dirinya sendiri.
"Si Vivian," ucap Revin dengan malas membuat Carlos terkejut dan refleks memuncratkan jus yang ia minum.
Bukannya memberikan air pada Carlos, Revin malah mengomeli sahabatnya itu.
"Makanya kalau minum itu hati-hati, minum aja ngga hati-hati, gimana mau jagain hati cewek," ucap Revin setengah menyindir.
Carlos tidak memperdulikan sindiran sahabatnya itu, Tiba-tiba Carlos mengebrak meja membuat Revin tersentak dan menatap Carlos dengan tatapan terkejut.
"Maksud kamu apaan?" ucap Carlos dengan nada suara tidak percaya.
Semua siswa dan siswi dikantin itu menoleh kearah mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Duduk dulu Woy!" ucap Revin membuat Carlos mendudukkan kembali bokongnya dikursi.
Revin menghembuskan nafasnya lalu membisikkan tentang dirinya yang dikira berpacaran oleh Fania dan Ana.
Revin lagi-lagi menghembuskan nafasnya saat selesai menceritakan hal itu pada Carlos.
Carlos mematung setelah mendengar Revin menceritakan semuanya, Carlos menoleh pada Revin dengan tatapan tidak percaya dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Hati-hati woy, entar lalat masuk tuh," ucap Revin membuat Carlos segera membetulkan raut wajahnya menjadi datar.
"Gimana ceritanya mama bisa mikir kamu sama Vivian itu ...," ucap Carlos mengantung ucapannya dan kemudian memengang keningnya yang mendadak pusing memikirkan hal yang Revin katakan.
"Bisalah, siapa coba yang ngga salah paham, kalau liat cogan kayak aku pelukan sama cewek," ucap Revin dengan bangganya.
"PD banget," ucap Carlos dengan menatap Revin dengan tatapan ngeri.
"Mau-mau aku lah, Iri bilang Boss," ucap Revin membuat Carlos ingin sekali melayangkan tangannya dikepala sahabatnya itu.
"Cih ..," Carlos berdecak kesal dengan raut wajah ngeri membuat Revin memutar bola matanya malas menanggapi sikap sahabatnya itu.
"Sebaiknya kamu selesaikan kesalahpahaman itu, jika tidak maka akan menjadi musibah yang berat bagimu, terlebih lagi aku tidak akan setuju, jika adikku harus pacaran denganmu," ucap Carlos tidak terima jika Revin yang harus menjadi kekasih adiknya.
Carlos tau jika Revin sama sekali tidak pernah berbuat yang tidak-tidak pada pacar-pacarnya, tapi tetap saja, Carlos tidak ingin adiknya sakit hati, dan Carlos jelas akan marah besar, jika tau Vivian menangis karena pria, Carlos akan memukul pria itu tanpa ampun.
Dan Carlos jelas tidak ingin hubungan persahabatannya dengan Revin hancur hanya karena hal seperti itu.
"Tanpa kau beritahu pun, aku akan melakukan apapun agar kesalahpahaman ini segera berakhir," ucap Revin dan kemudian meminum jusnya yang berada dihadapannya.
Pukul 4 sore.
Revin dan Carlos segera berjalan kearah parkiran setelah bel pulang berbunyi. Revin berjalan dengan cepat agar bisa segera pergi dari sekolah itu menuju kesuatu tempat yang akan membuatnya senang hari ini.
"Kamu yakin, aku ngga perlu ikut?" tanya Carlos yang sudah berada diatas motornya dan siap untuk memakai helmnya.
"Kau tenang saja, aku akan menyelesaikan hal ini dengan cepat," ucap Revin yang sudah memakai helmnya dan bersiap untuk pergi.
"Aku duluan," ucap Revin kemudian pergi meninggalkan Carlos yang hanya bisa menghembuskan nafasnya.
"Aku harap kau segera menyelesaikannya, Vin," ucap Carlos yang masih berada diatas motor dengan helm yang sudah terpasang dikepala tinggal menunggu Felisia saja yang belum keluar dari kelasnya.
__ADS_1