SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
MASA LALU R DAN C


__ADS_3

Dua tahun yang lalu.


Reon tengah bersiap untuk pergi ke sekolah, sedang Dion adiknya sudah pergi lebih dulu.


"Aku pergi dulu, Ma, pa," ucapnya berpamitan pada kedua orang tuanya yang tengah duduk disofa ruang tamu.


"Hati-hati dijalan," ucap Sarah yang diangguki oleh Reon dan segera bergegas keluar dari rumah.


* * *


"Aku pergi dulu, Ma," pamit Carlos yang baru saja menuruni anak tangga dan bergegas mengambil roti diatas meja makan yang sudah diolesi selai oleh sang ibu.


Fania mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku putranya itu, benar-benar duplikatnya.


Carlos segera menaiki motornya untuk bergegas ke sekolah, sedang adiknya sudah berangkat dengan sang ayah sejak tadi.


* * *


Pukul 3 siang.


"Aduh, kenapa pelajaran tadi begitu membosankan," ucap Carlos pada tiga sahabatnya yang hanya menatap datar padanya.


"Otakmu saja yang malas mencerna," ucap Revin dengan pandangan yang fokus pada ponselnya, karena saat ini ia tengah berbalas pesan dengan pacarnya.


Carlos melirik sekilas Revin, kemudian menghembuskan nafasnya. Ingin sekali rasanya dia memukul kepala pria itu, pria yang entah mengapa beberapa hari ini terlihat aneh, begitupun dengan saudara kembar pria itu.


Reon dan Carlos bertukar pandang satu sama lain, seolah bertanya tentang apa yang terjadi pada dua sahabat mereka itu.


* * *


Tiga puluh menit kemudian.


Kini tinggal Reon dan Carlos didalam cafe itu, karena saudara kembar itu telah pamit untuk pulang lebih dulu.


"Kedua orang itu benar-benar aneh, kau tau mereka seperti orang lain," ucap Carlos dengan menundukan kepalanya diatas meja.


Tiba-tiba ponsel Reon berdering menendangkan pesan masuk.


Ia mengeryit saat melihat nama adiknya tertera dilayar ponselnya, ia pun membuka pesan itu dan terkejut dengan apa yang ia lihat.


"Reon, ada apa?" tanya Carlos yang penasaran dengan raut wajah Reon yang berbah drastis.

__ADS_1


"Dion, dalam bahaya," ucap Reon dan segera bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari cafe meninggalkan Carlos yang terdiam dan mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.


Carlos segera berlari menyusul Reon diparkiran dan sedikti terkejut karena pria itu sudah melajukan motornya dengan cepat pergi meninggalkan parkiran.


"Sial!" ucap Carlos kesal dan segera mendekat ke motornya untuk segera menyusul sahabatnya itu.


Dua puluh menit kemudian.


Reon menghentikan motornya tidak jauh dari gudang didekat dermaga, dan tidak lama setelah itu Carlos pun tiba dan memarkirkan motornya disamping motor Reon.


Reon segera berlari mendekat kearah gudang itu, membuat Carlos berdecak lalu segera meraih ponselnya untuk menghubungi Rafael.


Cukup lama berdering, akhirnya Rafael pun mengangkat telfonnya membuat Carlos bernafas lega.


"Halo, Car. Ada apa?" tanya Rafael saat mengangkat telfon dari remaja itu.


"Halo, paman. Bisakah paman segera ke dermaga dijalan xxx, kami berada disini sekarang. Dan sepertinya ... REON!" ucap Carlos yang tiba-tiba berteriak saat melihat tubuh Reon terpental keluar dari gudang itu dengan luka diwajahnya.


Carlos memutus sambungan telfon dan segera berlari menghampiri Reon yang memengang perutnya dan menatap marah pada seseorang yang berjalan keluar dari gudang.


Rafael yang mendengar hal itu segera keluar dari ruang kerjanya dan berlari melewati sang istri yang duduk disofa ruang tamu.


"Reon, kau tidak apa-apa?" tanya Carlos khawatir saat melihat wajah Reon yang penuh


Carlos melirik kearah pria yang berdiri tidak jauh darinya dan menatap remeh kearah mereka berdua. Carlos terdiam, saat melihat Dion yang terikat dikursi didalam gudang yang pintunya terbuka sangat lebar.


"Hari ini adalah hari kematian kalian," ucap pria itu dan mengarahkan pistol kepada dua remaja itu.


Carlos dan Reon terkejut melihat hal itu, mereka menelan saliva dengan susah payah.


DOR!


Suara tembakan mengema, tapi sayangnya tidak mengenai salah satu dari Reon maupun Carlos. Karena Carlos mendorong tubuh Reon hingga berguling kesamping sedang dirinya mundur seketika.


Pria itu berdecak kesal lalu mengarahkan pistolnya pada Carlos yang bersiap untuk bangkit. Carlos berniat untuk berlari agar peluru tidak mengenainya tapi sesuatu berkata lain.


Pria itu membidik kepala Carlos dan bersiap untuk menembaknya, Reon yang melihat hal itu segera bangkit dan berlari lalu memeluk perut pria itu hingga terjatuh bersamanya dan perluru yang keluar dari pistol itu mengenai perut Carlos, membuat remaja itu berteriak kesakitan.


DOR!


"Akh!" pekik Carlos dengan memengan perutnya yang terkena tembakan, sedang Reon berusaha untuk memanfaatkan situasi untuk memukul pria yang kini berada dibawah tubuhnya.

__ADS_1


Reon melayangkan pukulan kewajah pria itu tanpa ampun, tapi karena tenaga pria itu yang cukup kuat menghempaskan tubuh Reon hingga terlempar cukup jauh darinya. Sebuah batu tepat mengenai pipi pria itu hingga mengakibatkan luka yang menganga sempurna dengan darah yang terus mengalir.


Pria itu mengerang dan berniat untuk menghampiri Carlos dan memukul remaja itu tanpa ampun, tapi kedatangan seseorang membuat ia mengurungkan niatnya dan segera pergi dari tempat itu.


Samar-samar Reon dan Carlos mendengar seseorang berteriak memanggil nama mereka, dan perlahan-lahan kesadaran mereka pun menghilang.


Satu hari sejak kejadian itu, Reon sadarkan diri dengan perban ditangan kanan dan juga kepalanya. Wajah Reon tidak lagi seperti dulu, ia mulai sedikit menutup diri, hingga satu hari saat ia dan ayahnya berdua diruang rawat, ia menanyakan semua hal yang ingin ia tahu. Rafael menceritakan semuanya tanpa menutupi satupun rahasia lagi dari putranya itu.


Sedang Carlos tidak sadarkan diri selama.3 hari, karena kehilangan cukup banyak darah dan juga harus melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru diperutnya.


Setelah sadar, Carlos hanya terdiam dan tidak berbicara. Hingga Reon menceritakan semua yang ia tahu dari ayahnya membuat Carlos juga memberanikan diri untuk bertanya pada sang ayah.


Mereka berdua mulai menyimpulkan, kejadian yang menimpa Revan hari itu adalah salah satu orang yang ingin membunuh mereka yang adalah penerus keluarga Li, Sia dan Sang.


Dua Minggu sejak kejadian itu, mereka mulai sering berkumpul dimarkas dragon night dan membahas sesuatu yang membuat ayah mereka terkejut.


Bahkan mereka menawarkan diri pada sang ayah untuk bisa meneruskan kelompok itu, membuat Arian, Carlson dan Rafael hanya mampu mengangguk.


* * *


"Bagaimana keadaan mereka, Dok?" tanya Rafael pada dokter yang memeriksa putranya dan Carlos.


"Mereka mengalami pukulan keras dibagian perut, wajah, dan beberapa bagian yang cukup mempegaruhi kesadaran mereka hingga membuat mereka pingsan saat itu. Untuk sekarang, akan lebih baik jika mereka beristirahat dirumah sakit beberapa hari," jelas dokter tersebut, membuat Rafael dan Carlson yang berdiri disampingnya hanya mampu menghembuskan nafas mereka.


"Terima kasih, Dok," ucap Carlson dan Rafael.


"Kalau begitu, saya permisi," ucap dokter itu lalu berbalik dan pergi meninggalkan dua pria itu.


Rafael mengacak rambutnya frustasi, untung saja mereka tiba tepat waktu di bandara dan segera bergegas ke lokasi yang diberitahukan oleh anggota dragon night yang menyadap lokasi Reon dan Carlos.


Arian, Carlson dan Rafael segera ke negara S karena situasi yang kritis, orang yang berbahaya mulai bergerak mengincar keselamatan putra-putra mereka.


Dan tadi mereka sedikit terkejut saat membuka pintu dan melihat Carlos dan Reon yang perlahan-lahan tumbang dengan posisi saling menopang tubuh agar bisa berjalan dengan baik.


Dan hati mereka sedikit teriris melihat kondisi putra mereka, sedang Arian segera menuju lokasi putra-putranya yang berada cukup jauh dari bandara pribadi tempat itu jet pribadinya mendarat.


"Aku berharap dua anak itu baik-baik saja, dan Arian bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkan putra-putranya," ucap Carlson dengan menatap kedalam kamar tempat Carlos dirawat.


"Iya, semoga dia bisa tiba tepat waktu," ucap Rafael dengan menatap ke dalam kamar disamping kamar rawat Carlos, di mana putranya terbaring dengan perban yang melilit tubuh memarnya.


'Jangan sampai terlambat Arian,' ucap Carlson dan Rafael dalam hati, berdoa agar sahabatnya bisa tiba tepat waktu ditempat Revan dan Revin.

__ADS_1


***


Jantungku olahraga lagi malam ini😌😌harus senam jantung nulis part ini begitupun dengan part sebelumnya😌 pada senam jantung juga ngga?🤭🤣🤣


__ADS_2