
Tiga jam kemudian.
Revin dan Carlos tiba dikota M setelah naik pesawat selama dua jam, lalu mengurus sesuatu satu jam dan berakhir di restoran disalah satu mall dikota M.
Revin melirik kearah Carlos yang mendadak gugup seketika, Revin menghembuskan nafasnya melihat penampilan Carlos yang begitu menggelikan untuknya, mengingatkannya pada saat di mana dia harus menjadi pria culun.
"Santai saja. Jujur lebih baik daripada bohong," ucap Revin membuat Carlos menatapnya.
"Iya, tapi bagaimana jika dia menolakku setelah melihat aku yabg sebenarnya. Bagaimana jika dia tidak bisa menerimaku," ucap Carlos lesuh dengan kepala menunduk.
Revin menghembuskan nafasnya, lalu menatap lekat calon kakak iparnya itu.
"Kalau begitu, kejar dia sampai dapat, jangan menyerah!" ucap Revin dengan santainya dan kembali memainkan ponselnya.
Carlos hanya terdiam mendengar ucapan Revin padanya, hingga tiba-tiba pria itu kembali berucap.
"Ini pertama kalinya aku melihat CEO gugup bertemu perempuan," ucap Revin terkekeh geli.
Carlos menatap datar pria dihadapannya itu, ingin sekali rasanya menendang bokong Revin.
"Memangnya kenapa kalau aku CEO! Aku juga manusia kali, Vin!" ucap kesal Carlos membuat Revin semakin terkekeh geli.
Mereka berempat sudah memiliki perusahaannya sendiri, yang mereka bangun dari hasil jerih payah mereka. Hanya meminjam dana dari sang ayah, tapi sudah mereka kembalikan saat perusahaan mereka berjaya.
CEO muda diusia 21 tahun, membuat beberapa orang iri pada mereka.
Keheningan kembali melanda mereka berdua, hingga suara seseorang mengejutkan Carlos.
"Eh, Revin?! Apa yang kau lakukan disini?" tanya seorang wanita yang kini berdiri dibelakang Carlos yang menunduk.
Carlos menelan salivanya dengan susah payah, ia mengenal suara itu, sangat kenal. Ia menoleh dengan perlahan dan menatap wajah cantik calon istrinya yang menatap Revin dengan tatapan tanda tanya.
"Menemani temanku untuk menemui calon istrinya," ucap Revin santai, sedang Carlos semakin berkeringat dingin. "Kamu sendiri?" lanjut Revin, seolah tidak tahu.
Felisia tersenyum lalu menatap Carlos yang juga menatapnya.
"Bertemu calon suamiku," ucap Felisia lalu duduk disamping Carlos.
__ADS_1
Revin hanya ber oh riah tanpa suara menanggapi ucapan gadis dihadapannya. Sedang Carlos mati-matian menelan salivanya dengan susah payah.
"Sayang, maaf ya, jadi harus nunggu," ucap Felisia pada Carlos dengan tersenyum.
"I-I-iya, tidak apa-apa," ucap Carlos tergagap, dengan berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Oh, iya Revin. Teman kamu mana?" tanya Felisia penasaran dimana sahabat pria datar dihadapannya itu.
Revin menunjuk Carlos dengan dagunya, membuat Felisia melirik kearah calon suaminya itu.
"Kamu temannya Carlie?!" tanya Felisia tidak percaya.
"Iya, lebih tepatnya Carlos," ucap Revin membuat Felisia mengernyit.
Felisia menatap kebelakang tapi tidak menemukan orang yang dikatakan oleh Revin.
"Dia juga ada disini?" tanya Felisia sedikit penasaran.
"Iya, tuh," ucap Revin lagi-lagi menunjuk Carlos dengan dagunya.
Felisia semakin mengernyit, lalu menatap Carlos dengan penuh tanda tanya.
"Carlos dan Carlie adalah orang yang sama!" ucap Revin dengan wajah datarnya.
Felisia terdiam lalu menoleh pada Carlos, berusaha untuk mencerna maksud perkataan Revin. Masa iya Carlie adalah Carlos?! Sangat tidak mungkin!
"Sudah deh, Revin. Jangan menganggu kencan sepasang calon suami istri ini, lebih baik jika kamu pergi mencari temanmu itu," ucap Felisia ketus, tapi wajah Revin tetap datar dan enggan untuk beranjak dari sana.
"Segitu susahnya kah, untuk menerima Carlos sebagai suamimu," ucap Revin membuat Felisia menghembuskan nafasnya.
"Carlos bukan calon suamiku, Carlie nama calon suamiku dan ini orangnya!" ucap Felisia lalu menunjuk Carlos yang terdiam mendengar ucapan Felisia.
"Sampai kapan kau akan diam, Car!" ucap Revin yang sudah bosan berdebat dengan calon istri sahabatnya itu.
Carlos menghembuskan nafasnya dalam-dalam, lalu mendogak dan menatap wajah Felisia yang juga menatapnya.
"Apa yang dikatakan oleh Revin itu benar, Feli. Maaf, karena selama ini aku tidak memberitahukannya padamu. Tapi aku ingin jujur sebelum kita menikah," ucap Carlos lalu perlahan melepaskan kacamatanya.
__ADS_1
Felisia terdiam seribu bahasa saat perlahan-lahan Carlos melepaskan kacamatanya, lalu mengajak rambutnya hingga memperlihatkan wajahnya yang sebenarnya.
Felisia terdiam, ia bingung harus mengatakan apa sekarang. Pria yang sudah menjadi kekasihnya selama lebih dari tiga tahun ternyata adalah orang yang selalu membuat ia kesal.
Felisia mengepalkan tangannya dan beranjak dari duduknya, berlari keluar dari restoran itu. Carlos tidak tinggal diam, dia segera berlari menyusul Felisia untuk meluruskan semuanya agar pernikahan mereka bisa terjadi.
Revin menatap datar pada Carlos dan Felisia, ia menghembuskan nafasnya melihat hal itu.
"Susah juga ya, kalau cinta diawali dari kebohongan seperti ini. Harus jujur, dan ketika sudah jujur malah seperti ini. Sungguh tragis sekali hidupmu calon kakak ipar," ucap Revin dengan mengelengkan kepalanya.
"Tapi lebih tragis lagi aku, masih harus menunggu selama tiga tahun," ucap Revin lesuh lalu menidurkan kepalanya diatas meja.
* * *
Sementara itu, Carlos terus mengejar Felisia yang sudah keluar dari mall dan berisao untuk menaiki taksi yang sudah terparkir disana.
"FELI!" teriak Carlos, tapi gadis itu seolah menutup rapat telinganya.
"FELISIA!" teriak Carlos dan menarik lengan gadis itu hingga berbalik dan menabrak dada bidangnya.
Carlos segera memeluk tubuh Felisia dengan erat, membuat gadis itu terus-menerus memberontak.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku mau pulang!" teriak Felisia dengan terus memukul dada bidang Carlos.
"Lepaskan Aku!" Teriak Felisia dengan keras, dan semakin membuat Carlos memeluk erat tubuhnya.
"Aku minta maaf, aku bisa jelaskan semuanya. Beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya, Feli," ucap Carlos lembut, membuat Felisia berhenti memberontak.
"Aku benci pembohong," ucap Felisia dengan air mata yang lolos dipipinya.
"Iya, aku tau. Aku tidak bermaksud membohongimu, sungguh," ucap Carlos mencoba menyakinkan Felisia.
Felisia diam, tidak menjawab dan memilih untuk menumpahkan air mata didada bidang pria yang memeluknya erat, seolah tidak ingin melepaskannya.
"Aku menyembunyikan kebenarannya padamu karena tidak ingin kamu pergi jauh, atau menjauh dariku. Awalnya aku juga terkejut melihat bahwa kamu adalah orang yang menerima aku apa adanya, meski difoto itu aku cupu dan jelek. Tapi kamu tetap menerima aku," ucap Carlos panjang lebar membuat Felisia menghentikan tangisnya.
"Aku tidak bermaksud berbohong lebih lama denganmu, hanya saja aku ragu untuk mengatakan kebenarannya padamu. Karena mungkin kamu akan menolakku mentah-mentah, seperti tadi," ucap Carlos lagi ketika melihat ekspresi Felisia tadi.
__ADS_1
"Tapi aku sungguh-sungguh ingin serius sama kamu, Feli. Aku serius. Aku tidak main-main dengan ucapanku yang akan melamarmu dan menikahimu," ucap Carlos lagi dan menghembuskan nafasnya.
"Aku benar-benar mencintaimu, Felisia Di. I Love you," ucap Carlos mencium puncuk kepala Felisia berulang-ulang.