SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PENJELASAN


__ADS_3

Revin memasuki kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan kesal, ia kesal pada sang kakak, yang sama sekali tidak menyadari perasaanya sendiri.


Belum 3 langkah Revin melangkah menjauhi pintu kamarnya, ia kembali berbalik dan segera keluar dari kamarnya untuk meminta maaf pada sang kakak.


Semarah apapun Revin pada Revan, ia tidak akan pernah bisa tidak meminta maaf lebih dulu pada sang kakak, Revin pasti akan merasa bersalah seumur hidupnya jika tidak segera meminta maaf pada kakaknya itu.


Kini Revin merasa bersalah karena membentak Revan tadi dan jika ia tidak segera meminta maaf, maka ia akan menjadi adik durhaka seumur hidup, dan Revin tidak mau itu terjadi.


Revin terdiam saat membuka pintu kamar Revan dan terkejut dengan apa yang ia lihat, hati Revin sakit, sangat sakit melihat kakaknya yang menangis dengan raut wajah tersiksa dipelukan sang ayah.


Arian menoleh kearah pintu dimana Revin tengah berdiri melihat kearah mereka, dan perlahan-lahan berjalan mendekati Arian dan Revan.


Revan menatap adiknya itu dengan tatapan mata sayu, membuat Revin yang melihat hal itu, merasa teriris dihatinya, sakit melihat kakaknya seperti itu.


"Aku minta maaf, aku minta maaf Brother," ucap Revin dengan menundukkan kepalanya dihadapan Revan dan Arian.


Revan perlahan-lahan mengusap wajahnya dan kini sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.


"Tidak apa-apa, kau tidak perlu minta maaf, tadi itu juga salahku," ucap Revan lirih membuat Revin mendongak dan segera berjalan mendekati sang kakak, kemudian memeluknya erat.


"Maaf, Brother. aku tidak akan melakukan itu lagi, aku janji," ucap Revin dengan memeluk Revan erat dengan perasaan bersalah.


Revan menghembuskan nafasnya lalu membalas pelukan sang adik.


"Jangan seperti itu, bodoh. para pacarmu itu akan kecewa melihat penampilanmu sekarang," Sindir Revan dengan suasana hati yang mulai baik.


Revin melepaskan pelukannya pada sang kakak, kemudian berbicara.


"Aku tidak memiliki pacar lagi, aku sudah jomblo," ucap Revin membuat Revan menatap datar adiknya itu.


"Hah, sejak kapan? bukankah kau punya banyak pacar, bagaimana mungkin kau bisa jomblo? tidak mungkin 'kan," ucap Revan dengan raut wajah mengejek pada adiknya itu.


"Aku serius, aku sudah memutuskan mereka!" ucap Revin tersirat keseriusan dalam ucapannya.


"Kapan?" tanya Revan penasaran.

__ADS_1


"Baru saja," ucap Revan pede dengan ucapannya.


Revan menghembuskan nafasnya, ia sudah tidak bisa lagi berbicara.


Arian yang melihat tingkah kedua putranya, hanya tersenyum kecil, ia tahu jika kedua putranya itu tidak akan bisa berkelahi dalam kurung waktu melewati 5 menit.


Karena Revan atau pun Revin akan mengalah lebih dulu, jika memang mereka merasa bersalah dengan apa yang mereka ucapkan atau lakukan, keakuran itu akan terus bertahan hingga maut memisahkan, karena Arian selalu mengajarkan kedua putranya untuk selalu bersama dan membantu satu sama lain.


"Baiklah, Revin. sebaiknya kamu berbicara pada mommymu tentang hubunganmu dan Vivian, daddy tidak mau jika hal yang tidak kau inginkan terjadi," ucap Arian membuat kedua putranya itu menatapnya.


Revin nampak berfikir sejenak, Revan yang melihat hal itu, menghembuskan nafasnya kemudian menepuk bahu adiknya itu.


Revin menoleh pada Revan yang tersenyum kecil padanya dengan rambut yang berantakan dan mata yang sedikit sembab kerena menangis tadi.


"Aku akan menjelaskannya pada mommy nanti, aku tidak akan membuat masalah ini lebih besar lagi," ucap Revin dengan tersenyum pada kedua pria itu.


"Baiklah, ayo Revin! kita keluar, Revan mandilah, bersihkan dirimu, jangan memikirkan hal itu lagi," ucap Arian mengelus puncuk kepala putra sulungnya itu.


Revan hanya memgangguk kecil dengan raut wajah yang kembali sendih.


Arian kemudian keluar dari kamar Revan, diikuti oleh Revin yang mengekor dibelakangnya.


Revan teringat perkataan Revin beberapa saat yang lalu, dan ia mulai meresapi setiap hal itu didalam fikirannya, bayangan Rania tergiang dikepalanya.


"Terima kasih, Revin. kau sudah menyadarkan kakaknya yang bodoh ini, kau benar! aku menyukainya, menyukai gadis itu," ucap Revan dengan tersenyum miring pada dirinya sendiri karena baru menyadari perasaannya saat Rania telah kembali ke negara S.


"Aku akan menyelesaikan masalah kelompok mafia itu secepatnya. Rania Su, aku akan menemuimu di Negara S, beberapa bulan lagi. setelah kelulusan, aku akan pergi ke negara S dan melanjutkan kuliah disana, dan juga mengawasimu dan menjagamu," ucap Revan dengan dengan mengepalkan tangannya yang menyentuh dadanya.


"Meski terlambat, aku tidak akan menyerah, masih ada 4 tahun lagi, Rania ... kau milikku, tidak akan menjadi milik orang lain, hanya Revan Li," ucap Revan dengan sorot mata yang penuh tekat bulat yang sulit dihancurkan.


"Aku harus segera menghancurkan semua tembok sia**n yang menganggu, baru setelah itu aku bisa tenang," ucap Revan kemudian berjalan memasuki kamar mandi dikamarnya untuk segera membersihkan diri dan mencoba untuk melupakan masa lalu kelam itu menguburnya bersama kenangan Denia bersamanya, sahabatnya yang ia rindukan.


'Revin sia**n,' umpat Revan dalam hati dengan tersenyum kecil dibawa guyuran shower yang membasahi tubuhnya.


* * *

__ADS_1


"Hachu," Revin tiba-tiba bersin karena mendadak hidungnya gatal.


Revin menatap sang ibu yang duduk disampingnya, sedang sang ayah duduk disofa tunggal yang berhadapan dengan mereka.


Ana mengernyitkan alisnya menatap putra keduanya itu, Ana hanya bisa menghembuskan nafasnya setelah tadi Revin menjelaskan pada Ana, jika dirinya dan Vivian sama sekali tidak memiliki hubungan apapun, seperti yang ibunya dan Fania fikirkan.


"Mommy fikir kalian sepasang kekasih, mommy sangat senang mendengar hal itu, tapi ternyata kalian ..." lagi-lagi Ana menghembuskan nafasnya, membuat Revin lagi-lagi merasa bersalah pada ibunya.


Ana beranjak dari duduknya kemudian berjalan memasuki dapur untuk segera memasak makan malam.


Revin menoleh pada Arian yang tersenyum kecil dan kemudian menganggukkan kepalanya.


* * *


Pukul 6:30 malam.


Revan turun dari tangga dengan berlari kecil dengan jaket yang ia pengang ditangan kirinya.


"Revan, kamu mau kemana?" tanya Ana yang tengah duduk diruang tamu dengan Arian yang duduk disampingnya.


"Mau keluar sebentar, mom. aku akan kembali jam 9 nanti, aku pergi dulu, mom, dad," ucap Revan kemudian berlari keluar rumah untuk segera pergi ketempat yang akan membuatnya bersenang-senang malam ini. bersenang-senang dalam artian lain,(kalian tahu kan).


"Brother, Tunggu!" teriak Revin yang turun dari tangga dengan berlari cepat untuk segera menyusul sang kakak.


"Mom, Dad, aku pergi dulu!" teriak Revin tanpa menoleh kearah kedua orang tuanya dengan tangan yang memakai jaket sambil berlari.


Ana hanya terdiam melihat hal itu, sedang Arian hanya bisa berdoa dalam hati, agar kedua putranya baik-baik saja.


"Mau apa kau?" tanya Revan yang sudah berada diatas motornya dan bersiap untuk memakai helmnya.


"Aku ikut!" ucap Revin dan segera naik kemotornya setelah menarik res jaketnya.


"Tidak boleh!" ucap Revin yang terdengar seperti perintah ditelinga Revin.


"Aku tetap pergi, aku tidak akan membiarkan Brother menanggung semuanya sendiri mulai dari sekarang!" ucap Revin yang tidak ingin dibantah, dengan raut wajah seriusnya.

__ADS_1


Revan yang melihat hal itu, hanya bisa menghembuskan nafasnya lalu menganggukkan kepalanya dan segera memakai helmnya.


Revin tersenyum senang dan segera memakai helmnya lalu segera menancap gas motornya mengikuti Revan yang sudah berangkat mendahuluinya.


__ADS_2