
Saat ini Revan tengah berada dimarkas Dragom night untuk menyelidiki sesuatu. Revin masuk kedalam markas dan membuat semua anggota Dragon night menunduk hormat padanya.
"Selamat datang, Tuan Revan," ucap Desta setengah membungkukkan badannya.
"Ada yang ingin ku bicarakan, paman," ucap Revan segera berjalan keruangan rahasia.
Desta mengikuti langkah Revan yang berjalan dengan kedua tangan yang masuk ke saku celananya.
Revan membuka pintu lalu masuk diikuti oleh Desta.
Desta mengunci pintu karna tahu jika hal yang ingin dibahas oleh Revan adalah hal penting.
Revan menatap Desta dengan raut wajah serius dengan posisi duduk diatas meja yang ada diruangan itu.
"Ada mata-mata di Dragon night!" ucap Revan membuat Desta terkejut dan menatap Revan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Orang itu pasti masih ada disini, aku minta bantuan paman untuk memberikan rekaman cctv markas agar aku bisa melihat jelas siapa yang mencurigakan," ucap Revan dan Desta pun mengangguk.
Desta segera keluar dari ruangan itu untuk segera mengambilkan hal yang Revan inginkan.
'Orang itu sedang mengawasi disini!' ucap Revan dalam hati dengan mata yang mulai mencari keberadaan seseorang yang tengah mengawasinya.
Revan menarik nafas secara perlahan kemudian turun dari meja dan berjalan kekursi yang sering Arian gunakan saat berada dimarkas.
Revan duduk dikursi kebesaran sang ayah dengan menyandarkan punggungnya pada punggung kursi lalu memejamkan matanya.
Tiba-tiba terlintas wajah Rania membuat Revan segera membuka matanya.
'Gadis itu, Kenapa aku jadi memikirkannya,' ucap Revan dalam hati dengan memijit keningnya yang mendadak sedikit pusing.
Pintu terbuka, Desta segera mendekati meja dan memberikan Revan laptop yang ia pengang.
Revan segera membuka laptop itu lalu mengetik dengan cepat untuk menemukan seseorang yang berani menjadi tikus didalam markas mafianya.
Revan mulai melihat dengan teliti siapa saja yang terlihat mencurigakan didalam rekaman cctv itu.
Revan menghentikan rekamannya saat melihat seorang pria yang terlihat asing berjalan dengan melihat kanan kiri, terlihat mencurigakan menurut Revan.
"Siapa dia?" tanya Revan dan Desta pun memperhatikan rekaman itu dengan baik.
"Saya juga tidak tahu, sepertinya dia anggota baru, tapi kapan kita menerima anggota baru?" ucap Desta bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Revan mengepalkan tangannya lalu berdiri dari duduknya berniat untuk keluar dari ruangan itu tapi ... tiba-tiba ponselnya berdering dan Revan pun segera merogoh ponselnya dan mengernyitkan keningnya saat melihat nomor yang menelfonnya adalah nomor baru.
"Halo ...," ucap Revan saat mengangkat telfon dari nomor tersebut.
"Halo tuan muda Revan, bagaimana kabar anda, apa anda tertarik untuk bernegosiasi denganku," ucap seorang pria diseberang telfon dengan tersenyum devil.
Revan mengernyitkan alisnya lalu melihat nomor itu sekali lagi.
"Apa yang kau inginkan?" ucap Revan dingin tanpa basa-basi.
"Anak dari seorang jenius memang sangat peka, aku rasa kau akan tertarik dengan foto yang kukirimkan padamu," ucap pria itu dengan tersenyum devil.
Panggilan berakhir, Revan mengernyit dan ponselnya berdering tanda pesan masuk.
Revan terkejut saat melihat foto yang dikirim oleh nomor asing itu, yang tidak lain adalah foto Rania yang masih mengenakan seragam sekolah dan diikat dikursi dengan mulut yang di sumpal dengan kain.
Nomor itu kembali menelfon dan dengan cepat Revan mengangkatnya.
"Bagaimana? apa kau tertarik?" ucap pria diseberang telfon dengan tersenyum iblis.
Revan mengepalkan tangannya dan sudah mengertakkan giginya berusaha untuk menahan amarahnya.
'Ada hal buruk yang terjadi,' ucap Desta dalam hati yang tau jika sesuatu yang buruk sedang terjadi.
"Apa yang kau inginkan, sia**n?" ucap Revan to the point dengan mengumpat pada orang itu.
Pria diseberang telfon tertawa keras membuat Revan semakin mengepalkan tangannya.
"Kau benar-benar tidak sabaran ya, datanglah ke gudang tua dihutan sebelah barat kota A, kau harus datang sendiri, jangan ada siapapun yang mengikutimu, jika tidak ... nyawa gadis kecil ini akan melayang setelah aku menikmatinya," ucap Pria diseberang telfon lalu mematikan panggilan sepihak.
Revan melempar ponselnya ke lantai hingga pecah, Desta terkejut melihat hal itu lalu menatap Revan yang nafasnya memburu karna emosi.
"Tuan ...," ucap Desta yang terhenti saat Revan menatapnya dengan iris mata yang sudah berubah menjadi merah.
Desta menelan salivanya dengan susah payah melihat hal itu, orang dihadapannya itu benar-benar sudah emosi tingkat tinggi.
"Jangan ada yang mengikutiku ke hutan sebelah barat kota A, jika ada yang berani ... maka aku akan membunuhnya!" ucap Revan dingin kemudian pergi dari ruangan itu.
Desta mengernyit lalu kemudian menyadari jika Revan memberinya kode untuk mengikutinya ke hutan sebelah barat kota A.
Desta menoleh kearah kiri dan melihat siluet seseorang membuatnya mengerti jika Revan menyadari ada seseorang yang menguping, karna itulah dia mengatakan kebalikan dari perkataannya.
__ADS_1
Revan segera berjalan kearah motornya untuk segera pergi ke hutan disebelah barat kota A yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya sekarang.
Revan memakai helmnya dan menyelipkan sesuatu dibelakang celananya, sesuatu yang akan berguna nanti.
Revan menyalakan mesin motornya lalu menancap gas setelah memakai helm, Revan menancap gas dengan kecepatan tinggi untuk segera pergi ke hutan, temlat Rania ditahan oleh pria yang tidak tahu siapa.
Sementara itu, seorang pria dilemparkan ketengah ruangan introgasi oleh anggota Dragon Night.
"Siapa yang memintamu untuk memata-matai kami," ucap Desta dingin pada orang yang tadi menguping pembicaraannya.
"Cih ... kau fikir aku akan mengatakannya, MIMPI SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN MENGATAKAN ...," teriak pria itu yang terpotong karna Desta sudah menendang perutnya hingga tubuhnya mengenai dinding.
Pria itu meringis kesakitan, tapi Desta dan anggota Dragon night hanya menatapnya datar.
"Kalau begitu, maka kau pantas mati!" ucap Desta dingin lalu mengeluarkan pistol yang ia selipkan di pinggangnya dan menembak pria itu berkali-kali.
DOR
DOR
DOR
DOR
Suara tembakan menggema diruangan instrogasi dimarkas Dragon night.
Desta kembali menyimpan pistolnya ditempatnya lalu memberi isyarat pada anggota Dragon night untuk membuang mayat itu.
"Semuanya bersiap, kita akan ke hutan sebelah barat kota A, tuan Revan sudah menuju kesana, kita harus membunuh orang itu dan melindungi tuan muda, Bergerak!" titah Desta dan 50 anggota Dragon night segera bergerak dan bersiap untuk berangkat menuju tempat tujuan menggunakan mobil yang sudah mereka siapkan.
* * *
Tiga puluh menit kemudian.
Revan mematikan motornya ditempat yang cukup sepi dan tentu saja sedikit jauh dari gudang tua tempat Rania ditahan.
Revan berjalan dengan santay dengan masih mengenakan seragam sekolahnya yanh hanya ditutupi oleh jaketnya.
Dua orang yang menjaga diluar gudang itu menatap Revan dengan tatapan dingin.
"Kemana ketua kalian!" ucap Revan dingin membuat kedua orang itu tersentak.
__ADS_1