SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PESTA


__ADS_3

Pukul 7 malam.


Semua orang keluar dari ruangan rawat Revan untuk makan malam, meninggalkan Rania untuk menjaga Revan.


"Kenapa kamu tidak pergi makan malam? aku bisa merawat diriku sendiri, jadi kau tidak perlu menjagaku," ucap Revan dengan nada suara datar.


Rania hanya tersenyum dan kemudian menyendokkan bubur pada Revan. Revan memakan bubur yang disuapkan oleh Rania dengan lahapn tentu saja dengan wajah datarnya.


Tadi sebelum pergi, Ana sudah mengajak Rania untuk makan malam, tapi Rania menolak dan memilih untuk menjaga Revan.


Ana hanya bisa mengangguk saja, sedang Revin dan Arian saling bertukar pandang satu sama lain.


"Aku tidak mungkin meninggalkan kak Revan sendiri, lagi pula, aku tidak akan merasa tenang jika harus meninggalkan kak Revan dan pergi makan malam," ucap Rania dengan tersenyum kecil dan wajah yang merona merah.


"Terserah kau saja," ucap Revan mengalah.


Rania tersenyum dan kembali menyuapi Revan bubur dengan begitu telaten.


'Seharusnya kau tidak boleh dekat denganku, kamu hanya membahayakan nyawamu jika dekat dengan orang sepertiku,' ucap Revan dalam hati menatap wajah Rania lama dengan ekspresi datarnya.


* * *


Sementara itu, Revin berjalan keluar dari kantin rumah sakit untuk pergi ke toilet. saat Revin hendak memasuki toilet, tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis yang terlihat kebingungan.


Revin menghentikan langkahnya yang ingin berbelok kearah toilet dan kemudian berjalan mendekati gadis itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Revin saat sudah berada disamping gadis itu yabg tidak lain adalah Vivian.


Vivian terdiam melihat Revin yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Aku mencari kakakku," ucap Vivian membuat Revin sedikit mengernyit bingung.


"Carlos sedang makam malam bersama Daddy dan Mommyku dikantin rumah sakit," ucap Revin santay.


Vivian nampak berfikir kemudian melihat Revin dari atas sampai ujung kaki kemudian tersenyum.


'Kok perasaanku tidak enak ya,' ucap Revin mendadak mendapat firasat buruk.


Dan benar saja, Tiba-tiba Vivian menarik tangan Revin lalu membawanya keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


"Hey Bocil, lepasin tangan Gue!" ucap Revin yang sudah tidak bisa bicara sopan lagi dengan Vivian.


Vivian tidak peduli dengan teriakan Revin yang meminta agar tangannya dilepaskan.


Vivian terus menarik tangan Revin hingga tiba diparkiran barulah ia melepaskannya.


Revin menarih tangannya lalu menatap tajam pada gadis dihadapannya.


"Temenin aku pergi kepesta ulang tahun temanku!" ucap Vivian bagaikan perintah ditelinga Revin.


"Hey bocil, jangan macam-macam, lebih baik kamu pulang sekarang dari pada pergi kepesta yang tidak ada untungnya untukmu, ini sudah malam, tidak baik anak gadis keluar, jangan-jangan kamu lari dari rumah ya, agar bisa pergi kepesta temanmu itu," ucap Revin menceramahi sekaligus menebak dengan menatap Vivian tajam.


"Apaan sih, aku udah minta ijin sama papa dan mamaku tau, dia bilang aku bisa pergi asal ditemani dengan kak Carlos, karna kak Carlosnya lagi makan, jadi kamu aja yang gantiin!" ucap Vivian dengan melipat tangan didepan dadanya.


Revin membelalakkan matanya mendengar perkataan gadis dihadapannya.


"Hey bocil, mana ada peraturan kayak gitu, kalau kakak kamu ngga bisa, kenapa harus aku, lah bujuk kakak kamulah, sampai bisa! jangan nyusahin orang," ucap Revin tidak terima jika harus menemani Vivian.


"Tapi 'kan ... aku udah kenalin kamu sama mereka sebagai pacar aku, jadi harus kamu yang temani aku, ngga boleh nolak, kalau nolak aku aduin sama Bibi Ana kalau kamu suka ...," ucap Vivian yang terhenti. saat tiba-tiba Revin membekap mulut Vivian dengan tangannya.


Revin mendengus kesal lalu melepaskan tangannya yang membekap mulut Vivian, kemudian naik ke motornya dan segera memakai helmnya.


Vivian tersenyum lalu mengambil helm dimotor kakaknya dan kemudian memakainya.


Vivian segera naik kemotor dan memengang bahu Revin erat agar tidak terjatuh.


"Kamu mau pengangan atau mau buat aku masuk rumah sakit!" ucap Revin kesal dan Vivian pun melepaskan pangangnnya dibahu Revin.


Vivian dengan gugup memeluk pinggang Revin dengan jantung yang berdetak tak karuan.


'Apaan sih nih jantung, bikin gugup aja,' rutuk Vivian dalam hati kesal.


Revin melajukan motornya meninggalkan parkiran rumah. Di tengah perjalanan, Revin pum berbicara.


"Dimana pesta temanmu itu," ucap Revin dengan memperlambat laju motornya agar Vivian bisa mendengar suaranya.


"Di alamat xxx," ucap Vivian sedikit meninggikan suaranya agar Revin bisa mendengarnya.


Revin menghembuskan nafasnya lalu mempercepat laju motornya menuju alamat yang dikatakan oleh Vivian.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian.


Revin menghentikan motornya didepan rumah yang bisa dibilang cukup mewah.


Vivian segera turun dari motor lalu membuka helmnya dan memberikannya pada Revin. Revin menatap kesal gadis dihadapannya itu dan ingin sekali marah tapi tidak bisa.


Revin mengambil helm yang diberikan Vivian kemudian menaruhnya diatas motornya.


"Cepetan! kita telat nanti!" titah Vivian yang seketika membuat Revin mengepalkan tangannya.


"Iya-iya, dasar bawel!" ucap Revin kesal kemudian membuka helmnya lalu sedikit mengacak rambutnya yang membuatnya terlihat semakin tampan.


Vivian terdiam melihat hal itu dan kemudian mengelengkan kepalanya.


Mereka berdua pun masuk kedalam rumah dengan Vivian yang menautkan tangannya dan tangan Revin dengan begitu mesra bagaikan pasangan yang saling mencintai.


Revin hanya menurut saja, tidak berniat berdebat atau pun mengeluarkan suara.


Mereka berdua pun tiba diruang tamu dimana sudah banyak orang disana, teman sekolah Vivian dan tentu saja orang yang berulang tahun.


Vivian semakin mengeratkan gengamannya pada tangan Revin membuat Revin menoleh pada gadis itu.


"Hay Vivian, hay juga kak," sapa seorang pria yang mendekat kearah Revin dan Vivian dengan gadis yang terus merangkul lengannya.


Revin menoleh ke sumber suara dan menatap datar pada pria yang tersenyum padanya dan wanita yang tersenyum malu-malu padanya.


"Hay juga kak, selamat ulang tahun ya," ucap Vivian kemudian memberikan paperbag yang sedari tadi ia bawa kepada pria itu yang tidak lain adalah Vino Luo, teman sekelas Vivian sekaligus pria yang disukai Vivian secara diam-diam.


"Makasih, Vivian." ucap Vino tersenyum manis pada Vivian.


"HALO SEMUA, VIVIAN UDAH DATENG, AYO KITA MULAI ACARANYA!" teriak Vino membuat semua teman-temannya yang hadir diruangan itu menoleh padanya dan terkejut saat melihat pria yang berada disamping Vivian.


"Astaga, siapa pria itu, tampan sekali,"


"Apakah pria itu pacar Vivian atau bukan ya, aku ingin sekali menjadi kekasih pria tampan itu,"


Begitulah bisik-bisik para gadia yang kagum melihat Revin yang begitu menawan dan juga tampan.


Entah mengapa, Revin seolah ingin cepat pergi dari tempat itu, benar-benar tidak seperti biasanya, dimana dirinya akan tersenyum manis pada para gadis.

__ADS_1


__ADS_2