
Pukul 4 sore.
Revan dan Reana tiba di rumah, Reana segera turun saat Revan menghentikan motornya dan segera masuk ke dalam rumah, untuk menonton film kesukaannya yang tayang hari ini.
Revan mematikan motornya dan tidak lama kemudian, motor Revin masuk ke dalam garasi dan memarkirkannya di samping motor Revan.
Revin membuka helmnya dan memperhatikan penampilan kakaknya yang terlihat seperti anak nakal (meski sebenarnya memang iya😂).
"Seragam kakak mana?" tanya Revin pada Revan yang mulai berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kotor," jawab Revan singkat padat dan jelas.
Revin mengernyitkan alisnya heran lalu segera berlari kecil mengejar Revan yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Kotor bagaimana?" tanya Revin lagi yang membuat Revan menghentikan langkahnya.
Revan menghentikan langkahnya dan kemudian menatap Revin yang juga menatapnya.
"Mommy, kami pulang!" ucap Revan kemudian meninggalkan Revin yang terdiam di tempatnya.
'Dasar, kirain tadi mau cerita,' ucap Revin kesal dalam hati kemudian berjalan mengikuti Revan.
"Selamat datang, Revan baju seragammu mana?" tanya Ana pada putra sulungnya itu.
Saat Revan ingin menjawab pertanyaan sang ibu, Revin sudah berbicara yang membuat raut wajah Revan berubah kesal.
"Kotor katanya, Mom. abis di pakai sama pacarnya, katanya," ucap Revin menjawab pertanyaan Ana.
"Bye, mom." ucap Revin segera berlari menaiki tangga karna melihat raut wajah kakaknya yang berubah kesal.
Ana terdiam mendengar perkataan Revin, sedang Revan mengepalkan tangannya berusaha untuk menahan emosinya yang hampir naik ke ubun-ubun.
Revan menghembuskan nafasnya kemudian menatap sang ibu yang masih terdiam karna ucapan Revin.
"Aku naik dulu, mom," ucap Revan dan kemudian menaiki tangga setelah mendapat anggukan kepala dari sang ibu.
Revan membuka pintu kamarnya dan masuk lalu segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Sementara itu di kamar Revin, Revin tengah membaringkan badannya yang begitu pegal akibat berkelahi tadi dengan Vivian.
* * *
Satu jam yang lalu.
Carlos dan Revin sedang berada di dalam kelas menyimak pelajaran terakhir sebelum pulang.
Carlos menulis sesuatu di kertas kemudian membuangnya ke arah samping tepatnya di meja Revin.
__ADS_1
Revin menatap Carlos yang kemudian memberinya kode untuk membaca kertas itu.
"Pulang sekolah nanti, tolong antar Vivian pulang ya,"
Revin mengernyit membaca tulisan di kertas itu dan kemudian menatap sahabatnya itu.
Revin membalik kertas itu lalu menulis sesuatu lalu membuangnya ke meja Carlos.
"Kenapa aku, kamu 'kan ada,"
Carlos menatap Revin yang raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi badmood.
Carlos menulis sesuatu lagi di belakang kertas itu lalu kembali membuangkannya ke meja Revan.
"Motorku masih ada di bengkel, aku juga tidak memberi tahu pada papaku soal ban motorku yang pecah dan tadi, aku hanya di antar oleh Paman Desta sedang motorku di bawah ke bengkel oleh anggota lain,"
Tulisan dari Carlos yang panjang kali lebar menjelaskan pada Revin.
Revin menghembuskan nafasnya kemudian berdehem tanda setuju untuk menjemput Vivian di sekolahnya.
Waktu pulang sekolah pun tiba, Revin dan Carlos berada di parkiran sekolah.
"Vin, hati-hati, jangan ngebut kalau lagi boncengin Vivian, dia suka kasar soalnya," ucap Carlos memperingati Revin.
Revin hanya mengangguk mengerti kemudian pergi meninggalkan Carlos yang tengah menunggu Desta untuk menjemputnya ke bengkel untuk mengambil motornya yang mungkin bannya sudah selesai di ganti.
Sepuluh menit kemudian.
Revin menatap dari kejauhan seorang gadis yang tertawa bersama temannya dengan begitu lepas seperti tidak memiliki masalah.
'Si bocil bisa ketawa kayak gitu juga ya,' ucap Revin dalam hati kemudian membuka helmnya dan segera memanggil Vivian.
"HEY BOCIL, CEPETAN, AKU UDAH CAPEK NUNGGUIN KAMU TAU," teriak Revin yang membuat seluruh siswa dan siswi yang baru kekuar gerbang menatapnya.
Vivian terkejut mendengar suara seseorang yang selalu membuatnya kesal dengan panggilan yang tidak ia sukai.
Vivian tersenyum pada teman-temannya dan segera berlari kecil ke arah Revin.
Para siswi memperhatikan Revin dari jauh dengan tatapan kagum dengan ketampanannya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Vivian dengan kesal saat sudah berada di dekat Revin.
"Buruan pake helmmu, aku buru-buru mau pulang ini," ucap Revin malas.
"Siapa juga yang minta kamu jemput aku, ngga ada tuh," ucap Vivian dengan nada judesnya.
Revin menghembuskan nafasnya secara perlahan agar tidak marah pada anak di bawah umur ini, menurutnya.
__ADS_1
"Bocil, sebaiknya kamu naik cepat, kalau kamu ngga naik, maka kamu harus nunggu sampai nanti malam dan tidak akan ada yang menjemputmu, mau naik atau tidak!" ucap Revin yang mulai hilang kesabarannya.
Vivian tersentak kemudian naik ke atas motor setelah memakai helm yang ia bawa tadi.
Setelah Vivian naik, Revin kembali memakai helmnya dan kemudian menyalakan mesin motornya lalu segera meninggalkan tempat itu untuk segera pulang.
Revin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Vivian mau tidak mau hatus memeluk pinggang pria gesrek di hadapannya itu.
Revin menghentikan motornya di tepi jalan dan kemudian membuka helmnya lalu berbicara panjang kali lebar.
"Kamu mau bunuh aku ya, peluknya erat banget bikin aku susah nafas tau ngga," ucap Revin sedikit menoleh kebelakang dan menatap Vivian kesal.
Vivian mengigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan isak tangisnya karna Revin yang membentaknya.
Tiba-tiba Vivian memukul punggung Revin lalu bahunya kemudian mengigit telinga pria itu membuat Revin berteriak.
"Aaa ... sakit Bocil," ucap Revin di sela-sela teriakannya.
Untung saja kondisi jalan sedang sepi, jika tidak mereka pasti akan masuk ke dalam koran besok.
Revin segera menjauhkan kepalanya dari Vivian dan menatap bocil di hadapannya dengan tatapan horor.
Revin segera memakai helmnya dan tiba-tiba Vivian memgigir bahunya membuat lagi-lagi berteriak.
"Kamu itu manusia apa Zombie," teriak Revin membuat Vivian mengembulkan pipinya.
"Makanya jangan suka bentak aku, dan juga jangan suka balap motor kalau boncengin aku, kalau ngga aku gigit," ucap Vivian membuat Revin bergidik ngeri dan segera menyalakan motornya dan melajukannya dengan kecepatan sedang agar tidak menjadi santapan zombie di belakangnya.
* * *
'Dasar bocil, coba aja kamu bukan perempuan, udah aku kasih pelajaran berat,' ucap Revin dalam hati kemudian segera masuk ke kamar mandi.
Revin membuka bajunya dan kemudian berdiri di depan cermin dan seketika berteriak.
"Aaaa!" teriak Revin saat melihat pantulan dirinya di cermin.
* * *
Revan baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
Revan mendekati tempat tidurnya dan berniat untuk membuka laptopnya tapi, tiba-tiba Revan mendengar suara Revin yang berteriak membuatnya segera meletakkan laptopnya di atas tempat tidur dan segera berlari keluar dari kamarnya menuju ke kamar saudara kembarnya.
Revan masuk ke dalam kamat Revin tapi tidak melihat Revin dimana-mana, ia pun segera berlari ke kamar mandi di kamar Revin dan membukanya.
"Ada apa?" tanya Revan dengan raut wajah khawatir.
Revin terkejut saat melihat Revan di ambang pintu kamar mandi di kamarnya.
__ADS_1
Revan melihat Revin dari atas hingga bawah, hingga pandangannya terkunci pada sesuatu di badan Revin yang membuatnya menatap horor adiknya itu.
Revin menelan salivanya dengan susah payah saat Revan menatapnya horor.