
Saat ini Revan, Rania dan Arian berada dimobil menuju bandara. Mereka akan langsung pulang ke negara A, dan soal masalah yang terjadi di negara M akan diselesaikan oleh anggota dragon night.
Revan menatap sayu Rania yang duduk dipangkuannya dan sudah terlelap, setelah tadi menangis dengan tubuh yang gemetar.
Mengingat hal itu membuat hati Revan seakan teriris, ini sudah kedua kalinya hal seperti ini terjadi pada Rania.
Revan menoleh sekilas pada Arian yang duduk disampingnya dengan menatap keluar jendela, ia tahu ada hal yang tengah difikirkan oleh ayahnya itu dan sudah jelas jika itu adalah hal besar.
"Daddy mengenalnya?" ucap Revan, bertanya dengan suara pelan agar tidak menganggu tidur Rania yang begitu nyenyak dipangkuannya.
"Iya, anak dari seorang penghianat dipangkalan militer dulu. Demi melindungi keluarganya agar tidak dibunuh oleh beberapa petinggi dan juga agar informasi yang ia tahu tidak tersebar luas, dia meminta Daddy untuk menembakkan peluru dikepalanya," ucap Arian tanpa menoleh pada Revan.
Revan terdiam mendengar hal itu, lalu menunduk dan menatap wajah Rania yang sedikit kotor.
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Revan lalu melirik sang ayah, yang masih mengenakan baju yang penuh dengan cipratan darah.
"Daddy hanya mengarahkan pistol itu dikepalanya, lalu dia sendiri yang menarik pelatuknya. Daddy menepati janji untuk menyelamatkan putra dan istrinya, tapi tiba-tiba istrinya menghilang bersama dengan anaknya tanpa jejak yang bisa dilacak," jelas Arian panjang lebar.
Setelah mendengar hal itu, Revan memilih bungkam dengan mengusap lembut rambut Rania.
"Sepertinya pernikahanmu harus ditunda beberapa hari," ucap Arian menoleh kearah anak dan calon menantunya.
Revan semakin terdiam, ditunda? Mendengar kata itu membuatnya menghembuskan nafas lelah. Tapi jika tetap dilangsungkan lima hari lagi, mungkin Rania belum siap setelah kejadian seperti ini.
"Aku rasa begitu," ucap Revan tertunduk lesuh.
"Kita tidak akan menundanya sepihak, Revan. Kita juga akan bertanya pada Rania saat dia sadar nanti," ucap Arian lalu mengacak rambut putranya itu.
"Mungkin dia akan memandangku dengan takut, dad. Terlebih dia sudah melihat hal yang aku lakukan tadi," lirih Revan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Rania yang berada dipangkuannya itu.
"Jika dia takut padamu, dia tidak akan lari kepelukanmu," ucap Arian lalu kembali menatap keluar jendela. Kisah percintaan putranya ternyata lebih sulit dari kisah percintaannya.
Dua puluh menit kemudian.
Mobil berhenti tepat didepan bandara, Revan keluar saat Gi membukakan pintu untuknya, sedang Arian sudah keluar sedari tadi.
Revan berjalan dengan cepat mendekat ke jet yang akan kambali membawanya ke negara A. Arian menghembuskan nafasnya melihat hal itu, lalu menoleh pada Gi yang masih setia berdiri disampingnya.
__ADS_1
"Aku serahkan semuanya padamu, Gi. Jangan buat aku kecewa," ucap Arian dan Gi mengangguk dengan patuh.
Arian bergegas mendekat ke jet itu, yang tidak lama lagi akan lepas landas untuk kembali ke negara A.
* * *
Sementara di negara A, acara resepsi pernikahan Carlos sudah selesai satu jam yang lalu. Semua tamu telah pulang dan kini mereka tengah duduk diruang tamu dirumah Carlson.
Sarah mengusap punggung Ana yang duduk disampingnya, yang terlihat lesuh menanti kedatangan suami dan putranya.
"Mom,minum air dulu ya," ucap Reana mencoba membujuk sang ibu itu minum air, karena sedari tadi Ana terus menangis tanpa henti, takut jika terjadi sesuatu pada suami dan putranya.
Ana mengelengkan kepalanya dan menjauhkan gelas yang disodorkan oleh Reana.
Revin yang melihat hal itu seketika duduk didepan kaki ibunya, lalu mendogak untuk menatap wajah ibunya.
"Mom, mereka pasti baik-baik saja. Percaya padaku, jangan seperti ini, Mom. Nanti kalau Daddy pulang dan melihat mommy seperti ini, maka dia pasti aku mengeluarkan aku dari kartu keluarga," ucap Revin mencoba menghibur ibunya dengan sedikit candaannya yang garing.
"Emang bisa?" tanya Reana menimpali ucapan Revin yang terdengar sedikit aneh di telinganya.
Reana memandang datar kakaknya itu, lalu menghembuskan nafasnya.
"Mom, jangan begini," ucap Revan lagi, dengan menggenggam erat tangan ibunya.
Ana tetap diam, dengan air mata yang perlahan-lahan kembali menetes dan membasahi pipinya.
Tiba-tiba ponsel Carlson berdering, membuat semua orang menoleh padanya. Carlson segera mengangkat telfon dari Desta, yang tengah berada ditempat resepsi pernikahan Carlos tadi.
"Halo," ucap Carlson lalu berbalik dan berjalan menjauh dari ruang tamu.
"Halo, tuan. Kami sudah menyelesaikannya dan sudah bersih sempurna," ucap Desta membuat Carlson bernafas lega.
"Bagus," ucap Carlson singkat dan memutuskan panggilan sepihak dan kembali melangkah ke ruang tamu.
Rafael menoleh pada Carlson yang kini sudah kembali berdiri disampingnya.
"Bagaimana?" tanya Rafael dengan menatap sahabatnya itu.
__ADS_1
"Selesai," ucap Carlson singkat membuat Rafael bernafas lega.
* * *
Dua jam kemudian.
Jet pribadi milik Revan telah mendarat sempurna dibandara pribadi keluarga Li dinegara A, Arian dan Revan segera turun dan berjalan mendekat kearah mobil yang tadi mereka gunakan.
Arian sudah rapi dengan memakai kemeja berwarna putih, yang lengannya digulung hingga siku dan tak lupa dengan celana kain berwarna hitam.
Penampilan Revan pun tidak jauh berbeda dengan sang ayah, ia segera mengendong tubuh Rania ala bridel style ke mobilnya, meski sebenarnya Rania sudah mengatakan akan berjalan.
Rania sudah terbangun satu jam yang lalu, dan sama sekali tidak merasa takut pada Revan.
Revan segera menurunkan Rania perlahan dikursi samping kemudi, lalu menutup pintu mobil perlahan dan segera mengitari mobil untuk ke kursi kemudi.
Tiba-tiba ponsel Arian berdering, dengan malas ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
"Iya, ada apa?" tanya Arian saat mengangkat telfon dari Carlson.
"Kau di mana? Segera ke rumahku, Ana terlihat tidak enak ....," ucapan Carlson terhenti saat mendengar panggilan telfonnya yang terputus sepihak.
Arian bergegas berlari mendekat kearah mobilnya, setelah memutuskan panggilan sepihak dari Carlson. Arian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumah Carlson, sedang Revan tadi pergi ke rumah sakit untuk memastikan juga Rania baik-baik saja.
* * *
"Kenapa, Carl?" tanya Rafael yang penasaran dengan ekpresi Carlson yang berubah sedetik saat Arian mengangkat telfon darinya.
"Dia memutuskan panggilan sepihak," ucap Carlson dengan menatap tidak percaya pada layar ponselnya.
"Sebentar lagi juga sudah ada disini," ucap Rafael dengan berusaha menahan tawanya, karena melihat ekspresi Carlson yang begitu lucu menurutnya.
"Iya, aku baru ingat. Jika dia itu bucin," ucap Carlson dengan wajah datarnya.
"Ngga nyadar pak," ucap Rafael membuat Carlson menatap malas padanya.
"Kena kamu juga dong," ucap Carlson membuat tawa Rafael terhenti seketika dan melirik malas padanya.
__ADS_1