
Revin mematikan motornya saat sudah tiba digarasi rumahnya, Revin segera membuka helmnya kemudian segera berjalan masuk kedalam rumah.
Revin berjalan dengan cepat untuk segera naik kekamarnya dilantai 2, Revin melewati Revan yang tengah duduk disofa dengan laptop dipangkuannya.
'Dia kenapa? tumben tidak berbicara,' ucap Revan bingung pada Revin yang tidak seperti biasanya.
Revan segera mengelengkan kepalanya kemudian kembali fokus pada laptopnya untuk segera menyelesaikan tugas sekolah yang dikirimkan Reon lewat email.
"Revan, kamu liat Revin? mommy dengar ada suara motor diluar rumah," ucap Ana yang baru keluar dari dapur.
"Iya, Mom. Revin udah naik kekamarnya diatas," ucap Revan membuat Ana mengernyit heran.
"Tumben ngga teriak," ucap Ana dengan menatap ke lantai 2, arah kamar Revin.
"Mungkin lagi capek kali, Mom. makanya gitu," ucap Revan tanpa menoleh pada sang ibu.
Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan putranya itu.
"Ya udah, kamu cepat selesaiin tugas sekolah kamu itu, habis itu istirahat dikamar," ucap Ana dan Revan hanya mengangguk mengerti.
* * *
Sementara itu, Revin segera masuk kedalam kamarnya dan kemudian mengunci pintu kamarnya.
Revin membuang ranselnya keatas tempat tidur kemudian mengambil laptopnya yang berada diatas meja didalam kamarnya.
Revin mendudukkan diri diatas tempat tidurnya kemudian membuka laptopnya lalu segera melakukan sesuatu yang ingin ia lakukan sedari tadi.
Dengan lincahnya tangan Revin mengetik dilaptopnya untuk menemukan sesuatu dan juga meretaa cctv sekolah Vivian.
Revin meretas cctv sekolah Vivian untuk mengetahui siapa yang sudah membuat Vivian seperti tadi dan tega mengurung gadis itu didalam gudang yang gelap.
Revin mengepalkan tangannya saat melihat rekaman cctv yang memperlihatkan 4 orang gadis tengah menyiksa Vivian yang baru saja keluar kamar kecil dan berniat untuk pulang.
Revin semakin mengepalkan tangannya saat melihat 4 gadis itu menyiksa Vivian dengan menaril lengan seragam Vivian hingga robek dan tidak lupa menarik rambut Vivian.
"Sia**n," geram Revin kesal dengan apa yang ia lihat.
Tangan Revin gemetar, bukan karena takut, melainkan karena marah yang ia tahan agar tidak meledak, pasalnya Revin melihat seorang gadis yang begitu familiar yang tidak lain adalah pacar pria yang Vivian sukai yaitu Syila.
__ADS_1
"Sia**n, kalian berempat, tidak akan kumaafkan," ucap Revin dengan mengertakkan giginya dan tidak lupa dengan tangan yang terkepal.
Revin segera menutup laptopnya kemudian mencari keberadaan ponselnya.
"Ponselku mana?" ucap Revin dan kemudian menarik ranselnya mendekat padanya kemudian mencari keberadaan ponselnya diantara buku-buku didalam ranselnya, tapi sama sekali tidak menemukannya.
"Mana nih, giliran mau dipake ngga ada, maunya tuh barang apa," ucap Revin semakin kesal.
Tiba-tiba Revin mengingat jika ia menaruh ponselnya didalam skau jaketnya.
"Bodoh, bisa-bisanya aku lupa," ucap Revin dengan menepuk keningnya pelan.
Revin segera membuka seragamnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Dua belas menit kemudian.
Revin keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah dan juga dengan hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya hingga memperlihatkan perut sixpack nya.
Revin membuka lemari bajunya dan segera mencari pakaian yang nyaman yang akan ia kenakan untuk pergi kerumah Vivian mengambil ponselnya.
Lima menit kemudian.
Revin menuruni anak tangga dengan sesekali mengacak rambutnya membuatnya terlihat semakin keren.
"Mau kemana?" Revin menghentikan langkahnya yang sudah hampir melewati ruang tamu, tapi tiba-tiba suara sang kakak membuatnya menoleh dan tersenyum.
"Mau pergi, ada urusan penting," ucap Revin dan segera berlari keluar rumah untuk segera naik kemotornya.
Revan menatap penuh curiga pada Revin, Revan merasakan jika sang adik seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Revin segera melajukan motornya tanpa memakai helm dan meninggalkan pekarangan rumah menuju kerumah Carlson.
Lima menit kemudian.
Revin memasuki gerbang kediaman Carlson dan segera memarkirkan motornya disamping motor Carlos yang belum masuk kegarasi.
Revin memencet bel rumah dan tidak lama kemudian, pintu terbuka, dan terlihat Fania yang tersenyum pada Revin.
"Eh, Revin, masuk!" ucap Fania mempersilahkan Revin untuk masuk.
__ADS_1
"Itu bibi, aku kesini untuk mengambil ponselku yang berada disaku jaket, aku lupa mengambilnya tadi," ucap Revin dengan tersenyum kikuk pada Fania dan tidak lupa dengan tangannya yang mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh iya, Revin. bibi mau tanya, apa yang terjadi dengan Vivian, kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu, dia tidak banyak bicara seperti sebelumnya dan juga dia bahkan hanya terdiam ditempat tidur dan tidak menjawab ketika Carlos mengajaknya berbicara, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Fania yang begiti khawatir dengan perubahan sikap Vivian yang begitu tiba-tiba seolah mendapat guncangan dijiwanya.
Revin terdiam mendengar perkataan Fania.
"Semuanya baik-baik saja, Bibi. aku janji akan menjaga Vivian baik-baik, percaya padaku," ucap Revin dengan senyum diwajahnya.
"Kalau begitu, aku keatas dulu, Bibi," ucap Revin kemudian segera berjalan menaiki anak tangga untuk segera kekamar Vivian dan melihat gadia itu.
Fania mengernyitkan alisnya bingung dengan ucapan Revin tadi.
"Apa jangan-jangan Revin dan Vivian pacaran ya?" ucap Fania menebak.
Sementara itu, Revin segera berjalan kearah pintu kamar Vivian yang terbuka dengan Felisia yang berdiri diambang pintu melihat kedalam dengan tatapan khawatir.
Felisia berjingkat kaget saat tiba-tiba Revin sudah berada disampingnya dengan raut wajah yang aneh menurut Felisia.
Revin menatap kedalam kamar Vivian dimana sudah ada Carloa yang mencoba berbicara dengan Vivian, tapi sama sekali tidak mendapat respon meski hanya sekedar anggukan kepala.
Revin menghembuskan nafasnya membuat Felisia menatap bingung kearahnya, Revin mengetuk pintu kamar Viviam membuat Carlos menoleh dan sedikit terkejut saat melihat Revin yang tengah berdiri diambang pintu dengan menatap kearahnya.
Carlos berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekat pada Revin.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Vin? coba kau ceritakan padaku, aku tidak bisa melihat adikku seperti ini," ucap Carloa tidak tega jika harus melihat Vivian yang seperti sekarang, jika bisa memilih, Carlos lebih suka jika Vivian cerewet dari pada diam seperti sekarang.
"Aku akan menceritakannya padamu nanti, biarkan aku bicara dengan Vivian sebentar," ucap Revin dengan menepuk bahu Carlos.
Carlos menghembuskan nafasnya kemudian menganggukkan kepalanya lalu perlahan-lahan berjalan melewati Revin kemudian menarik tangan Felisia untuk menjauh dari sana.
Felisia terkejut melihat hal itu dan hanya menurut saat Carlos menariknya menjauh, padahal dia sangat kepo dengan apa yang akan dibicarakan oleh Revin pada Vivian.
Revin menutup pintu kemudian berjalan mendekati Vivian yang hanya terduduk diatas tempat tidur dengan memeluk lututnya dan dengan pandangan yang kosong kedepan.
Revin menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya, Revin terus melakukan hal itu hingga merasa siap untuk memulai percakapan dengan Vivian.
Revin mendudukkan diri sitepi tempat tidur dihadapan Vivian, Vivian masih terdiam, tidak bergeming sama sekali.
"Vivian," suara Revin yang begitu lembut membuat Vivian mendongan dan menatap Revin yang juga menatapnya.
__ADS_1