SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
PERSIAPAN 2


__ADS_3

Arian tengah berdiri dalam ruang kerjanya dengan terus berusaha menelfon seseorang, untuk mengabari sesuatu yang penting.


Setelah tadi kembali dari kediaman Carlson, Ana sudah masuk kedalam kamar untuk beristirahat sedang Reana dan Revin juga masuk ke kamar masing-masing.


Cukup lama berdering, akhirnya seseorang diseberang telfon mengangkat telfon dari Arian dengan suara lesuhnya.


"Halo, kak. Ada apa?" tanya Kimso dengan nada suara parau karena takut dan khawatir.


"Kau di mana?" tanya Arian yang membuat Kimso mengacak rambutnya frustasi diseberang telfon.


"Di tengah jembatan dikota S, kak. Aku harus segera menemukan Rania yang tiba-tiba menghilang," ucap Kimso lirih dan terselip kekhawatiran disana.


"Kau tenang dulu, pulang ke rumah dan beritahu pada Fira untul tenang. Aku sudah menemukan Rania dan juga sudah ada bersamaku disini," jelas Arian membuat Kimso seketika bernafas lega.


"Benarkah, kak? Kau tidak berbohong kan?" tanya Kimso membuat Arian menghembuskan nafasnya.


"Iya, aku tidak berbohong. Dua hari lagi, kamu dan Fira segera ke negara A, untuk segera mempersiapkan pernikahan Rania disini. Kita akan mengadakan setiap acara dinegara A, tidak perlu di negara S," ucap Arian panjang lebar dan diangguki oleh Kimso, seolah Arian tengah berdiri dihadapannya.


"Ya sudah, beristirahatlah dirumahmu, minta Fira untuk menjaga kesehatannya," ucap Arian dan lagi-lagi Kimso mengangguk patuh.


"Baik, kak. Terima kasih, karena sudah memberitahuku bahwa Rania baik-baik saja dan bersama denganmu disana," ucap Kimso dengan memijit pankal hidungnya dan menyeka air mata dipelupuk matanya.


"Iya, tidak perlu kau fikirkan. Sudah menjadi kewajiban ku untuk tetap membuat mereka semua aman," ucap Arian dengan tersenyum kecil.


"Ya sudah, aku matikan panggilannya. Aku ingin segera tidur untuk melakukan sesuatu besok," ucap Arian lalu memutuskan panggilan sepihak setelah mendengar Kimso berkata iya diseberang telfon.


Arian menghembuskan nafasnya, lalu berbalik untuk keluar dari ruang kerjanya menuju kamarnya.


Arian sedikit terdiam saat keluar dari ruang kerjanya dan melihat Revan dan Rania yang sudah berjalan mendekat kearah ruang tamu.


"Ekhem," Arian berdehem, membuat kedua insan itu menatapnya.


Arian berjalan perlahan mendekati Revan dan Rania yang terdiam dengan kepala tertunduk, seperti orang yang kedapatan melalukan kesalahan.

__ADS_1


"Baru pulang," ucap Arian yang diangguki kecil oleh kedua orang itu. "Segera antar Rania untuk tidur dikamar tamu malam ini, jangan coba-coba untuk melakukan hal yang tidak-tidak," ancam Arian lalu berbalik dengan menahan senyum karena mengerjai putra dan calon menantunya.


Revan menatap punggung sang ayah yang perlahan-lahan menghilang dengan tertutupnya pintu kamar.


"Ayo!" ucap Revan, lalu menarik pelan tangan Rania menuju ke kamar tamu.


Revan membuka pintu kamar tamu, dan menarik tangan Rania masuk kedalam.


"Apa kamu yakin, tidak ingin menunda dua hari untuk memulihkan diri?" tanya Revan dengan berbalik dan menatap Rania lekat.


Rania mengangguk mantap, membuat Revan tersenyum meski masih khawatir dengan keadaan Rania.


"Kalau ada apa-apa, segera ke kamarku," ucap Revan, lalu mengecup singkat kening calon istrinya itu.


"Good night," ucap Revan lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar tamu.


Rania tersenyum kecil melihat hal itu, perhatian kecil Revan, rasa sayangnya yang kadang-kadang kelebihan dosis dan tidak lupa dengan sikap manjanya ketika hanya berdua dengan Rania.


Rania merebahkan tubuhnya perlahan diatas tempat tidur dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, tidak lama lagi ia akan menjadi istri dari seorang pria yang sangat ia cintai. Meski tidak pernah terlintas dibenaknya, jika apa yang menjadi angan-angannya akan terkabulkan dan menjadi nyata.


Revan menutup pintu perlahan dan berjalan mendekat kearah tempat tidurnya. Ia tersenyum ketika mengingat hal yang tadi mereka lakukan ditaman. Hampir saja ia melalukan kesalahan tadi, untung saja akal sehatnya segera kembali karena suara seorang pasangan paruh baya menegurnya.


"Aku sangat berterima kasih pada kakek dan nenek itu, karena mereka aku tidak melakukan hal yang gila ditaman," ucap Revan dengan menghembuskan nafasnya lega, lega karena tidak merusak calon istrinya sebelum menikah.


"Tidur dan bersiap untuk besok," ucap Revan, lalu memejamkan matanya untuk tidur.


* * *


Pukul 6:05 pagi.


Revan terbangun dair tidurnya saat mendengar suara alarm yang terus berbunyi dari ponselnya.


"Apa dia tidak tahu, kalau aku masih ingin tidur," ucap Revan malas lalu meraih ponselnya dan mematikan alarm yang berbunyi tanpa henti itu.

__ADS_1


Revan bergegas untuk segera ke kamar mandi dan membersihkan diri sebelum keluar dari kamarnya.


Tiga puluh menit kemudian.


Revan menuruni anak tangga perlahan, lalu menatap kearah ruang tamu, di mana Reana tengah menaruh air panas perlahan diata meja dihadapan ayahnya.


Revan tersenyum melihat hal itu, hingga ia tiba-tiba meremas tangan seseorang yang membuat orang itu berteriak kesakitan.


"AAKH! Brother, tanganku sakit!" teriak Revin saat Revan semakin mengenggam kuat tangannya. Padahal niatnya hanya untuk menepuk pelan bahu kakaknya itu, tapi malah harus mendapat hal seperti ini.


Arian dan Rania menoleh kearah tangga dan terkejut mendapati Revan dan Revin disana sedang didapur, Reana dan Ana terkejut mendengar suara teriakan dari Revin.


"Ada apa itu, sampai teriak-teriak seeprti itu," ucap Reana bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Mungkin tengah melakukan sesuatu yang tidak biasa," ucap Ana dengan mengaduk kopi untuk kedua putranya.


Revan melepaskan tangan Revan yang ia remas kuat-kuat, sedang Revan meniup tangannya sendiri, seolah akan segera sembuh jika ia melalukan hal itu.


"Makanya, jangan mengangetkkan orang," ucap Revan acuh, lalu melangkah menuruni anak tangga untuk mendekat kearah sofa tempat Rania berdiri sekarang.


'Dasat kakak kejam,' ucap Revin dalam hati, lalu segera mengikuti langkah Revan mendekat ke sofa.


Rania menundukkan kepalanya malu, lalu bergegas melangkah kembali ke dapur, meninggalkan Revan yang sedikit kecewa karena Rania tiba-tiba pergi kembali kedapur.


"Dia cuma pergi ambil kopi, bukan pergi dari hidupmu," ucap Revin acuh, membuat Revan seakan ingin memukul adiknya itu.


"Jomblo!" ucap Revan, lalu melangkah mendekat kesoga tunggal disamping sofa yang diduduki oleh Arian.


"Aku tidak jomblo ya, aku sudah punya kekasih," ucap Revin yang tidak terima diejek jomblo oleh kakaknya itu. Padahalkan dia sudah ada Vivian.


"Statusmu sama saja! Kau masih harus menunggu tidah tahun atau empat tahun baru bisa menikah dengan Vivian," ucap Revan membuat wajah Revin datar.


"Dasar saudat kampret!" ucap kesal Revin, lalu mendudukkan dirinya disofa yang berhadapan dengan sang ayah.

__ADS_1


Arian menghembuskan nafasnya, lalu mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku dua putranya itu.


__ADS_2