
Dua hari kemudian.
Pukul 6 pagi.
Revin segera bangun dari tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri dan bersiap.
Hari ini adalah hari di mana Vivian akan kembali ke negara A, dan Revin sudah mengatakan jika ia akan mengantar gadis itu ke bandara, karena pesawat yang akan membawanya pergi berangkat pagi ini.
Bisa saja Vivian mengunakan jet pribadi, tapi gadis itu menolak dan kedua orang tuanya hanya mampu menganggukkan kepala.
Sepuluh menit kemudian.
Revin segera keluar dari kamarnya, bergegas turun ke lantai dasar. Revan terkejut saat keluar dari kamarnya dan melihat Revin yang berlari dengan terburu-buru menuruni anak tangga.
"Apakah dia tidak bisa santai saja," ucap Revan lalu melangkahkan kakinya dan ketika melewati kamar Carlos, ia terkejut karena pintu kamar Carlos yang tiba-tiba terbuka menampilkan seorang pria yang berpenampilan acak-acakan.
"Pagi, Van," sapa Carlos dan berlari melewati Revan untuk segera turun ke lantai dasar.
"Tumben dia keluar lebih awal dari kamar," ucap Reon yang baru saja membuka pintu kamarnya.
"Revin juga sudah keluar tuh," ucap Revan, membuat Reon menatap tidak percaya padanya.
"Yang benar? Aku tidak percaya, kalau dia bisa terburu-buru juga," ucap Reon yang hanya membuat Revan mengedikkan bahu, acuh dengan apa yang terjadi sekarang. Karena ia sudah tahu penyebabnya.
* * *
Daenji menatap Vivian yang sudah rapi dengan koper kecil disampingnya, mereka menoleh kearah tangga, saat mendengar seseorang yang menuruni tangga dengan terburu-buru.
"Grandpa," ucap Revin dengan nafas yang memburu saat tiba didepan Daenji dan Vivian.
"Ada apa?" tanya Daenji pada cucunya itu, tidak biasanya dia terburu-buru seperti ini.
"Aku ingin mengantar Vivian ke bandara, sebelum ke kampus," ucap Revin membuat Daenji mengernyit.
Daenji menatap Revin dan Vivian secara bergantian, seperti tengah menyelidiki sesuatu yang rahasia.
"Baiklah," ucap Daenji, mengiyakan keinginan cucunya itu.
Revin tersenyum senang mendengar sang kakek yang mengijinkannya untuk mengantar Vivian sebelum ke kampus.
"Vivi!" teriak Carlos yang baru saja menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
__ADS_1
Carlos menatap adiknya itu dengan tatapan sedih, ingin rasanya ia menangis sekarang juga. Tapi mengingat jika hal itu hanya akan membuatnya malu.
"Ingat untuk hati-hati dijalan. Dengarkan apa yang dikatakan oleh papa dan mama. Jangan bandel jadi anak perempuan, ingat untuk belajar dengan giat. Ini hadiah dariku, dan juga untuk papa dan mama," ucap Carlos menyodorkan paperbag pada adiknya.
"Iya, kak. Aku janji ngga akan repotin mama dan papa," ucap Vivian dengan tersenyum, lalu Carlos mengusap puncuk kepala adiknya dengan sayang.
"Hati-hati dijalan. Maaf, kakak tidak bisa mengantarmu ke bandara," ucap Carlos merasa sedih karena tidak bisa mengantar adiknya ke bandara.
"Iya, kak. Ngga apa-apa kok. Kakak jaga kesehatan ya, aku bakal jagain kakak ipar dari jauh," ucap Vivian sedikit mengoda kakaknya itu.
"Dasar," ucap Carlos lalu mengacak poni adiknya.
Vivian hanya tersenyum mendapat perlakuan kakaknya itu, ia menoleh sedikit kearah Revin yang hanya terdiam menatap keakraban dua saudara itu.
"Ya udah, kak. Vivi berangkat dulu ya," ucap Vivian lalu mencium pipi kakaknya dan berjalan keluar dari rumah diikuti oleh Revin.
Carlos mengernyit melihat Revin yang berjalan mengikuti Vivian, ia menatap Daenji yang hanya terdiam setelah Vivian berpamitan padanya.
"Car, Vivian udah berangkat?" tanya Reon yang baru saja tiba dilantai dasar.
Carlos menoleh dan menatap Reon dengan menautkan alisnya.
"Revin mana?" tanya Reon yang penasaran, sedang Revan memilih untuk masuk ke dapur dan memakan sarapannya sebelum berangkat ke kampus.
"Sebaiknya kalian pergi sarapan terlebih dahulu, Revin sudah berangkat untuk mengantar Vivian ke bandara," jawab Daenji membuat dua pria itu terdiam.
"Mengantar?" ucap Reon dan Carlos bersamaan.
"Masa sih?!" ucap mereka tidak percaya dengan saling menatap satu sama lain.
"Aku pergi dulu, Grandpa," ucap Revan acuh, lalu segera keluar dari rumah dengan menguyah roti ditangannya.
Carlos dan Reon terdiam melihat hal itu, mereka tersadar jika harus pergi ke kampus, bukannya terdiam seperti orang bodoh.
"Revan, tunggu!" ucap mereka lalu bergegas ke dapur untuk mengambil roti dan segera menyusul Revan.
Daenji hanya mengelengkan kepalanya melihat hal itu. Semakin kesini, semakin ia melihat tingkah konyol empat sahabat itu.
* * *
Lima belas menit kemudian.
__ADS_1
Revin dan Vivian tiba di bandara, pria itu segera menyeret koper Vivian untuk masuk ke bandara.
Revin menatap wajah Vivian yang kini berdiri dihadapannya bersiap untuk segera naik ke pesawat, karena dua puluh menit lagi akan segera lepas landas.
Revin memeluk Vivian erat, sangat erat seolah tidak ingin gadis itu meninggalkannya.
"Jaga dirimu ya, untuk sementara kita hanya bisa terhubung dari jauh," ucap Revin masih dengan memeluk tubuh mungil gadis itu.
"Iya," ucap Vivian singkat lalu melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Revin.
Revin mensejajarkan wajahnya dengan wajah Vivian, lalu mengecup singkat bibir gadis itu dan menatap Vivian lekat.
"Aku janji, tidak akan melakukan hal aneh disini. Kamu juga jangan melakukan hal yang tidak-tidak disana, mengerti!" ucap Revin dan gadis itu menganggukkan kepalanya patuh.
"Aku akan secepatnya kembali ke negara A, jika rindu segera hubungi aku. Aku akan mengangkatnya, meski mungkin akan lama. Tapi aku janji akan mengangkatnya," ucap Revin dan Vivian dengan cepat menganggukkan kepalanya.
Vivian menyentuh pipi Revin, lalu tersenyum manis pada pria itu, pria yang akan membuatnya rindu, pria yang akan membuatnya tersenyum saat berbicara lewat telepon ataupun SMS nantinya.
"Aku pergi," ucap Vivian dan mencium pipi Revin lalu duduk berbalik untuk segera naik ke pesawat.
Revin melambaikan tangannya pada Vivian yang perlahan-lahan hilang dari pandangannya.
'Aku janji, hanya ada kamu dihati, tidak akan ada yang lain,' ucap Revin dalam hati kemudian berbalik untuk segera memasuki mobil dan ke kampus.
'Tunggu aku, my little girl,' ucap Revin dalam hati lalu segera memasuki mobil.
* * *
"Maaf ya, harus menunggu lama," ucap Rania pada Revan yang menunggunya diatas motor.
"Iya, tidak apa-apa. Baru juga lima menit," ucap Revan dengan tersenyum simpul pada Rania.
"Lima menit itu lama loh, bisa puter satu lagu full," ucap Rania lalu segera bersiap untuk naik ke motor.
"Menunggu selama lima menit untuk bertemu kamu itu, tidak ada apa-apanya. Karena aku rela melakukan apapun untuk calon istriku. Bahkan jika harus ke langit dan mengambil bintang pun, aku bersedia," ucap Revan, membuat wajah Rania bersemu merah.
"Dasar gombal," ucap Rania lalu segera naik ke motor dan memeluk pinggang Revan, menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu.
"I Love you," ucap Revan lalu menyalakan mesin motornya.
"I Love you too," balas Rania membuat Revan tersenyum.
__ADS_1