SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
BINGUNG


__ADS_3

Semua orang di dalam klinik itu terkejut kemudian segera memanggil dokter.


"Dokter! cepetan! itu istrinya anak muda ini pendarahan!" ucap ibu-ibu di dalam klinik itu mulai panik dan segera mengantar Revin ke ruangan dokter.


Revin mengernyitkan alisnya sambil menatap ibu-ibu yang berteriak histeris.


Revin masuk ke dalam ruang pemeriksaan kemudian meletakkan Vivian di atas brangkar.


Vivian masih memengang perutnya yang semakin sakit bagai di lilit.


Dokter wanita itu menatap Revin dari atas hingga bawah dengan tatapan menyelidik. Revin mengernyit heran dengan tatapan dokter itu padannya, seolah dirinya adalah seorang pedofil.


Revin keluar dari ruangan pemeriksaan dan kemudian menutup pintu dan duduk di kursi tunggu di depan ruangan dengan sesekali memijit keningnya.


Tiba-tiba seorang ibu-ibu mendekati Revin dan menepuk bahu Revin pelan. Revin mendongak dan menatap ibu-ibu itu dengan mengernyitkan alisnya bingung.


"Istrimu pasti akan baik-baik saja, semoga anak kalian juga selamat," ucap Ibu-ibu itu kemudian pergi keluar dari klinik meninggalkan Revin yang terdiam seperti orang bodoh.


'Hah, istri? anak? apaan coba,' ucap Revin dalam hati tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh ibu-ibu tadi.


Tiga puluh menit kemudian.


Sudah 30 menit Revin menunggu di kursi tunggu di luar ruangan pemeriksaan membuatnya benar-benar bosan, bahkan klinik itu pun sudah sepi, tinggal perawat 1 atau 2 yang berlalu lalang mengerjakan tugas mereka.


Tiba-tiba pint ruang rawat terbuka, dokter wanita yang memeriksa Vivian pun keluar dan menghampiri Revin.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Revin pada dokter wanita itu.


Dokter wanita itu menghembuskan nafasnya kemudian berbicara.


"Keadaannya baik-baik saja," ucap Dokter wanita itu pada Revin.


Revin mengernyitkan alisnya dan kemudian berdiri dari duduknya dan menatap dokter wanita itu serius.


"Bagaimana anda bisa mengatakan baik-bauk saja, Kalau baik-baik saja, dia tidak akan kesakitan seperti tadi!" ucap Revin yang mulai meninggikan suaranya.


"Itu adalah hal wajar bagi wanita saat datang bulan," ucap Dokter wanita itu membuat Revin terdiam.


"Maksud dokter, dia sedang ...," Revin mengantung ucapannya dan menatap dokter itu yang menganggukkan kepalanya.


'Astaga! aku kirain apa,' ucap Revin dalam hati kemudian memijit keningnya.


"Kalau begitu, saya permisi dan juga saya ingin bertanya, apa kalian menikah muda?" tanya dokter itu yang membuat Revin membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Yang benar saja, Dok. kami sudah seperti saudara, dan lagi mana mau saya nikah sama anak kecil," ucap Revin yang mulai ngegas.


Doktet wanita itu menghembuskan nafasnya dan menatap Revin yang juga menatapnya dengan tatapan kesal.


"Baiklah, dia sudah bisa pulang dan hanya butuh istirahat saja, kalau begitu saya permisi," ucap dokter wanita itu kemudian pergi meninggalkan Revin.


Revin masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan terkejut mendapati Vivian yang berjalan mendekati Pintu.


Vivian terdiam saat melihat Revin di ambang pintu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


Revin melangkah masuk kemudian membuka jaket yang ia pakai. Revin berdiri di hadapan Vivian lalu mengikat jaketnya di pinggang Vivian hingga menutupi celana jeans Vivian yang terkena bercak darah.


"Bisa jalan?" tanya Revin pada gadis yang mematung di hadapannya.


"bisa," ucap Vivian kemudian berjalan keluar melewati Revin.


* * *


Kini mereka berada di parkiran di depan toko es cream itu, setelah tadi Vivian beberapa kali hampir terjatuh karna masih merasakan sakit di perutnya hingga membuatnya lemas.


Revin naik ke motornya di ikuti oleh Vivian yanh duduk di boncengannya, Vivian memeluka pinggang Revin erat dan menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.


Revin hanya menghembuskan nafasnya ketika teringat dengan perkataan ibu-ibu di klinik tadi.


'Dasar ibu-ibu, langsung menyimpulkan saja,' ucap Revin dalam hati kemudian melajukan motornya meninggalkan parkiran itu menuju ke rumah Vivian.


Revin tiba di depan rumah Vivian, Revin mematikan motornya dan Vivian pun turun dan berjalan memasuki rumahnya dengan keadaan lemas.


Revin lagi-lagi menghembuskan nafasnya kemudian turun dari motornya menghampiri gadis itu lalu memapahnya mendekati pintu rumah yang tertutup.


Vivian tidak menolak pertolongan Revin karna dirinya benar-benar lemas dan ingin segera masuk ke kamarnya.


Revin memencet bel rumah Vivian dan tidak lama kemudian pintu terbuka.


"Revin? Vivian kenapa?" tanya Fania ketika membuka pintu dan melihat Revin di depan pintu.


Vivian berhambur ke pelukan sang ibu membuat Fania sedikit terkejut.


"Kamu kenapa?" tanya Fania yang khawatir melihat wajah putrinya yang pucat.


"Perut Vivi sakit, Ma," ucap Vivian lirih.


"Kalau begitu, saya pamit bibi, masih ada urusan," ucap Revin berpamitan pada Fania.

__ADS_1


"Oh ngga masuk dulu, Vin?" ucap Fania dan Revin segera mengelengkan kepalanya.


"Ya udah, hati-hati ya, terima kasih, karna udah antar Vivian," ucap Fania berterima kasih pada putra sahabatnya itu.


Revin hanya tersenyum kemudian segera menghampiri motornya dan naik.


Revin tersenyum pada Fania dan kemudian melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah itu.


Fania segera memapah putrinya naik ke lantai atas ke kamar Vivian.


Fania membuka pintu kamar Vivian lalu masuk dan segera menidurkan Vivian di atas tempat tidur.


Saat Fania ingin keluar dari kamar untuk mengambilkan air untuk Vivian, tiba-tiba Vivian memanggilnya membuat Fania menoleh.


"Ma ...," ucap Vivian lirih memanggil sang ibu.


"Iya, sayang. ada apa?" tanya Fania mendekati putrinya itu lalu duduk di tepi tempat tidur dan mengelus rambut Vivian lembut.


"Pembalut Vivian abis, Ma. Vivian lupa beli tadi," ucap Vivian lirih dan menatap sayup ibunya itu.


Fania menghembuskan nafasnya kemudian berdiri dari duduknya dan segera keluar dari kamar Vivian.


Fania berjalan ke kamar putranya dan kemudian mengetuk pintu.


Carlos membuka pintu dan menatap sang ibu yang juga menatapnya.


"Ada apa, Ma?" tanya Carlos pada Ibunya.


"Car, bisa pergi ke supermarket buat beliin Vivian pembalut," ucap Fania membuat Carlos tersedak air liurnya sendiri.


Carlos menatap ibunya itu dengan tatapan tidak percaya kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk dirinya sendiri.


"Aku, Ma?" tanya Carlos yang mendadak seperti orang bodoh.


"Ya iyalah, siapa lagi, buruan gih, mama mau pergi dulu ke dapur buat ambilin Vivian air buat minum obat," ucap Fania kemudian meninggalkan Carlos yang mematung di tempatnya.


Carlos menghembuskan nafasnya kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengambil jaketnya, dengan berat hati Carlos turun dari tangga untuk segera pergi membelikan adiknya pembalut.


'Sia**n, mama sungguh sadis dengan anak laki-lakinya ini,' rintih Carlos dalam hati kemudian segera menyalakan mesin motornya dan melajukannya untuk segera ke supermarket terdekat.


Lima menit kemudian.


Carlos tiba di parkiran supermarket dan kemudian memakai topi jaketnya tidak lupa masker dan kemudian berjalan masuk ke dalam supermarket.

__ADS_1


Semua orang menatap aneh ke arah Carlos yang terlihat seperti penguntit, Carlos tidak peduli dengan tatapan orang-orang dan memilih untuk segera mencari barang yang di minta oleh sang ibu.


Saat Carlos ingin mengambil barang di raknya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya membuatnya tersentak dan refleks menjatuhkan barang yang ia pengang.


__ADS_2