
Revan dan Revin menoleh kebelakang dan terkejut mendapati Daenji yang berjalan mendekat kearahnya dan kakaknya.
"Tuan Su?!" ucap dosen itu menatap Daenji dengan sedikit membungkukkan badannya.
Daenji hanya menganggukkan kepalanya, lalu menatap Revin bergantian dengan Revan.
"Maaf, karena saya menelfon dan menganggu kegiatan anda," ucap dosen itu dengan raut wajah bersalah, ia tidak percaya jika yang tadi ia telfon benar-benar Daenji.
"Tidak masalah. Sebenarnya apa yang cucuku lakukan?" tanya Daenji membuat dosen yang melihat kearah mereka, terkejut.
"Revin telah memukul te ....," ucapan dosen itu terhenti, kala Revin menyela ucapannya.
"Dia bukan temanku!" sarkas Revin kesal, ia tidak suka seseorang yang ia benci harus disebut-sebut sebagai temannya.
Daenji menatap datar cucunya itu, lalu menghembuskan nafas lelah.
"Aku yakin jika dia tidak akan melakukan hal yang nekat, jika bukan orang lain yang memulainya lebih dulu," ucap Daenji membela cucunya itu.
"Tapi, Tuan Su. Bukan saya lancang atau tidak menghargai anda. Tapi dilihat dari segimanapun, mahasiswa itu yang menjadi korban," ucap dosen itu tegas.
"Saya akan membayar biaya rumah sakitnya, jika sampai ia merenggang nyawa, maka saya sendiri yang akan membawa cucuku kepihak berwajib," ucap Daenji dengan wajah seriusnya.
Revan dan Revin menatap tidak percaya pada kakeknya itu. Mereka berdua mengerang kesal dalam hati, ingin sekali berteriak dan memaki. Tapi masih mereka tahan, karena menghargai Daenji.
"Baiklah, tuan Su. Sekali lagi maaf, karena menganggu anda yang pasti sangat sibuk sekarang," ucap dosen itu, lagi-lagi membungkukkan setengah badannya pada Daenji.
"Apa cucuku sudah bisa kembali belajar?" tanya Daenji dan dengan cepat diangguki oleh dosen itu.
* * *
Daenji, Revan dan Revin beserta Franco keluar dari ruangan dosen, dan berjalan beriringan, berniat untuk mengantar Daenji keparkiran kampus.
"Lain kali jangan terlalu kasar, Revin. Kau bisa membunuh seseorang yang kau pukuli itu, dan jika hal ini sampai terdengar ditelinga Nana, maka akan sangat sulit untuk menjelaskannya," ucap Daenji panjang lebar, menasehati cucunya itu.
Revin terdiam dan sedikit melirik Daenji yang hanya berwajah datar dan menatap lurus kedepan dengan Franco yang setia berjalan disamping kanannya.
__ADS_1
"Baik, hal ini tidak akan terulang. Jika mereka tidak mencari masalah denganku," ucap Revin yang membuat Revan menoleh kearahnya, lalu menghembuskan nafas.
"Setelah melihat hal tadi, apa mungkin mereka ingin mencari masalah denganmu?" tanya Daenji dengan sedikit nada mengejek pada cucunya itu.
"Grandpa mana tahu, mungkin tidak dikampus. Tapi beda lagi kalau diluar kampus," ucap Revin kesal karena mendengar sindiran tidak langsung dari kakeknya itu.
Daenji hanya terkekeh, lalu menghentikan langkahnya saat hampir melewati kelas Revan dan Revin.
"Ingat untuk menahan emosimu," ucap Daenji dan berlalu bersama Franco untuk segera keparkiran.
Revin menatap kepergian Daenji dengan sesekali menghembuskan nafasnya, mereka mungkin mudah untuk mengatakan menahan emosi. Tapi yang menjalaninya itu, yang susah.
"Berdoalah agar pria tadi hidup, jika tidak ... maka kakek akan benar-benar menyeretmu kepenjara," ucap Revan yang hanya diangguki pelan oleh adiknya itu.
Tiba-tiba Revan memberikan kacamata pada Revin, pria itu mengerjap bingung dengan hal itu, hingga perkataan yang keluar dari bibir sang kakak, membuatnya terlonjak kaget.
"Pakai, aku tidak ingin kau mengundang masalah untukku," ucap Revan membuat Revin menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan perkataan kakaknya itu.
Revan menoleh kearah Revin dan menyadari jika adiknya itu tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan.
Revin terdiam ditempatnya dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Walaupun aku memakai kacamata ini, tetap saja tidak akan berpengaruh," ucap Revin dan dengan kesal memakai kacamata yang diberikan Revan, yang entah ia ambil dari mana.
Revin masuk kedalam kelas, dan para mahasiswi yang melihatnya, mulai melirik padanya dengan senyum malu-malu kucing.
"Astaga, kenapa ketika ia memakai kacamata sekarang ini, malah semakin membuat ia tampan sih."
"Owh, ingin sekali aku menghampirinya dan menyatakan cintaku ini."
"Ya Tuhan, aku sudah jatuh cinta pandangan pertama pada pria itu."
Bisik-bisik para mahasiswi yang masih dapat didengar oleh Revin.
Revan, Reon dan Carlos memutar bola mata malas mendengar ucapan para mahasiswi itu, sepertinya penderitaan mereka berempat baru dimulai.
__ADS_1
Revin melewati kursi yang diduduki oleh mantannya itu, tanpa berniat melirik ataupun menoleh pada wanita itu.
"Penderitaanmu baru saja dimulai," ucap Carlos menepuk pelan bahu sahabatnya itu, yang kini telah duduk di kursinya.
* * *
Pukul 1 siang.
Hari ini adalah hari minggu dan mereka berempat menikmati libur mereka dengan berdiam diri dirumah dan bermain game dikamar Revan, membuat pemilik kamar itu menatap datar pada tiga pria yang bersantai di kamarnya dengan memainkan ponsel masing-masing.
"Bisakah kalian kembali kekamar masing-masing," ucap Revan dengan sabar, karena jujur jika saat ini kesabarannya hampir melampaui batas.
"Brother, kau mengusir kami?" tanya Revin melirik sekilas kearah kakaknya itu, yang hanya menatap datar kearah mereka.
"Apakau tidak kasihan pada adikmu ini, yang begitu lelah dikelilingi oleh para wanita menyebalkan dikampus itu. Jadi biarkanlah aku beristirahat disini hari ini," ucap Revin memelas, karena ia benar-benar lelah.
Setelah penyamarannya terbongkar, para mahasiswi mulai mendekat padanya, dan mulai menggoda bahkan menyatakan cinta. Dan Revin dengan terang-terangan menolak mereka, tapi tidak membuat wanita-wanita itu patah semangat.
Revin menghembuskan nafas lelah mengingat hal itu, andai ia bisa memutar waktu, ia akan memilih bertukar dengan kakaknya yang jomblo akut itu.
"Terserah kalian sajalah," ucap Revan pasrah, mulutnya sudah lelah meminta ketiga pria itu keluar dari kamarnya, jadi biarkan saja.
Revin melirik kearah Reon dan bergidik ngeri melihat sahabatnya itu senyum-senyum tidak jelas seperti orang gila.
"Hey, bucin! Ngapain senyam-senyum kayak orang gila gitu. Bikin merinding aja," ucap Revin dengan menatap aneh pada Reon.
"Pusing banget Lo, Vin. Suka-suka akulah senyam-senyum sendiri, lagian hari ini itu, hari valentine, khusus buat orang yang udah punya pacar!" ucap Reon dengan kesal, lalu kembali fokus pada ponselnya, karena saat ini ia dan Liona tengah berbalas pesan dengan begitu mesra.
Revan, Revin dan Carlos terdiam mendengar bahwa hari ini adalah hari valentine, hari dimana seorang pria memberi bunga beserta coklat pada wanita yang mereka sukai.
Revin dan Carlos beranjak dari duduk mereka dan dengan tergesa-gesa keluar dari kamar Revan, membuat Reon tersentak dan seketika berdiri dari duduknya.
"Mau kemana mereka?" tanya Reon pada dirinya sendiri, lalu menoleh kebelakang dan terkejut mendapati Revan yang telah rapi bersiap untuk keluar dari kamarnya.
"Kalau kau ingin kekamarmu, jangan lupa tutup pintu kamarku," ucap Revan lalu bergegas keluar dari kamarnya, meninggalkan Reon yang mematung ditempatnya dengan mulut sedikit terbuka.
__ADS_1