SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
MENYELIDIKI


__ADS_3

Revan berniat untuk menutup pintu kamarnya, saat adiknya itu masuk. Tapi pergerakannya terhenti, kala Reon dan Carlos mendorong pintu kamarnya, padahal Revan ingin menutupnya.


Kedua orang itu tidak peduli dengan raut wajah Revan yang tiba-tiba berubah datar, mereka berdua segera berjalan mendekat kearah Revin yang telah duduk diatas tempat tidur.


Revan menghembuskan nafasnya, lalu menutup pintu dan menguncinya, takut jika ada seseorang yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk.


"Jadi, ada apa?" tanya Revan tiba-tiba dengan menatap Revin.


Reon dan Carlos mengikuti arah pandang Revan yang menatap serius pria yang mirip dengannya itu.


"Aku melihat seseorang yang mencurigakan tadi saat ingin pulang," ucap Revin dengan membalas tatapan mata kakaknya.


"Orang mencurigakan? Yang mana?" tanya Carlos berturut-turut, ia penasaran dimana Revin melihat orang mencurigakan sedang mereka sedari tadi tidak pernah berpisah jalan pulang.


"Saat kita keluar dari cafe tadi, aku melihat mobil yang melintas samping motor kita. Aku melihat sedikit tatapan matanya yang terkejut melihat wajahku, tapi bukan hanya tatapan terkejut yang dapat kulihat tadi ... ada tatapan lain seperti menemukan mangsa yang sudah lama dicari," jelas Revin panjang lebar membuat ketiga pria itu terdiam.


"Apa yang kau dapatkan?"


"Aku mengingat plat mobilnya, dan itu bisa digunakan untuk melacak siapa orang itu. Karena aku yakin, jika brother juga memiliki firasat yang sama denganku," ucap Revin menatap Revin yang kini wajahnya benar-benar berubah serius.


"Sebaiknya kita periksa sekarang saja!" seru Carlos yang ingin mengetahui siapa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.


Reon beranjak dari duduknya untuk mengambil laptop Revan yang ada diatas meja disamping tempat tidur.


Reon memberikan laptop itu pada Revin dan pria itu dengan cepat membuka laptop itu. Mereka bertiga terdiam saat melihat foto yang terlihat dilayar laptop saat mereka membukanya, mereka mendogak dan menatap Revan yang hanya melipat tangan didada dengan wajah serius.


'Tidak waras!' ucap mereka bertiga dalam hati dengan tatapan ngeri pada Revan.


"Berhenti memandang foto Rania!" ucap Revan menyadarkan ketiga orang itu.


Revin segera melakukan hal yang sedari tadi ingin ia lakukan, Reon dan Carlos hanya menatap datar tangan Revin yang begitu lincah mengetik tanpa merasa terganggu dengan mereka berdua.

__ADS_1


Revin menatap serius pada layar laptop itu, ia paling tidak suka menunggu dan laptop itu malah loading begitu lama, membuat Revin seakan ingin melemparkan laptop itu ke lantai.


Reon dan Carlos mengusap punggung Revin agar pria itu sabar menunggu, sedang Revan hanya menatap datar pada ketiga pria yang duduk ditepi tempat tidurnya.


Mereka bertiga tersentak saat melihat informasi tentang plat mobil tersebut, dan hal itu membuat Revan mengernyit.


"Ada apa?" tanyanya penasaran karena raut wajah ketiga orang itu agak sedikit aneh.


"Hanya ada beberapa orang yang memiliki mobil itu, dan salah satunya adalah Devan Chu anak tunggal dari jendral besar Ditra Chu yang kini menjadi seorang dewan negara," ucap Revin panjang lebar menjelaskan apa yang ia lihat dilayar laptop itu.


"Balik laptopnya!" ucap Revan dan dengan cepat Revin membalik laptop itu menghadap pada Revan, hingga membuat Revan melihat jelas foto pria itu dilaptopnya.


Revan mengernyitkan alisnya melihat wajah pria dilayar laptopnya itu.


"Apa Brother mengenalnya?" tanya Revin penasaran karena melihat raut wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah semakin serius.


"Tidak terlalu, hanya bertemu tanpa sengaja saja," ucap Revan dan Revin hanya ber oh riah tanpa suara menanggapi ucapan kakaknya.


Dalam hitungan detik, semua informasi Devan Chu telah ada dilayar laptop itu, ada beberapa foto Devan dengan seorang pria berjas hitam yang dapat Revin yakini adalah tangan kanan pria itu.


"Tunggu!" ucap Reon dan Carlos saat Revin berniat melewati foto tangan kanan Devan.


"Dia itukan pria dua tahun yang lalu itu!" ucap Reon dan Carlos bersamaan dengan saling menatap satu sama lain, sedang Revin memejamkan matanya mencoba untuk menahan amarahnya, karena kedua orang itu bebicara didekat telinganya dengan suara yang sedikit keras.


'Sepertinya mereka anak kembar beda ibu,' ucap Revin dalam hati dengan wajah datarnya.


"Kalian mengenalnya?" tanya Revan penasaran dan hal itu membuat wajah Reon dan Carlos memerah karena emosi.


Revin yang melihat hal itu, segera bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat kearah sang kakak dengan membawa laptop ditangannya.


"Kami tidak akan lupa wajah pria itu, terlebih lagi dengan luka wajahnya itu," ucap Reon dengan rahang mengeras dan tangan yang terkepal, dan Carlos tidak jauh berbeda dengan Reon.

__ADS_1


Revan dan Revin bertukar pandang satu sama lain, lalu teringat akan kejadian yang menimpa Reon dan Carlos saat mereka duduk di bangku sekolah menengah atas kelas sebelas.


"Biar aku tebak, luka yang dijahit di pipinya itu adalah oleh-oleh dari kalian kan?!" tebak Revin yang membuat kedua pria itu mengangguk, membuat Revin semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Reon dan Carlos. Karena saat itu yang datang menolong Carlos dan Reon adalah Rafael.


Revan semakin berfikir keras, dan pemikirannya mulai tertuju pada satu kepastian.


Revan berdecak kesal, menyadarkan Reon dan Carlos dari kemarahan mereka. Sedang Revin menatap bingung pada kakaknya itu, yang tiba-tiba saja berdecak kesal.


"Ada apa?" tanya Revin, Reon dan Carlos bersamaan ketika melihat Revan mengacak rambutnya.


"Jika yang kufikirkan ini benar! Maka kita harus ektra berfikir sebelum bertindak lebih," ucap Revan semakin membuat tiga pria itu bingung.


"Memangnya apa yang kau fikirkan?" tanya Carlos penasaran.


"Kita begitu sulit untuk menemukan orang yang menjadi masalah kita, itu karena dia memiliki kekuasaan yang bisa membuat jejaknya hilang tanpa sisa. Saat aku dan Revin pergi untuk membereskan orang itu, aku tidak menemukan mereka dan hanya para pemimpin lain," ucap Revan mengacak rambutnya, sedang ketiga pria itu semakin tidak mengerti ucapannya.


"Langsung ke intinya saja, Revan!" ucap Reon yang mengerutkan keningnya.


"Orang itu mengatakan, jika orang kelima itu ada dinegara S. Dan orang itu saat aku mencari sendiri keberadaan dan petunjuk yang ku temukan, aku sama sekali tidak bisa menemukannya. Tapi mendengar kalian mengatakan jika pria yang ada difoto bersama Devan Chu itu adalah pria yang telah membuat rencana penculikan terhadap Dion ... maka tidak salah lagi, pria yang kita cari adalah dia," ucap Revan, membuat otak Reon dan Carlos loading sejenak.


Revin terdiam mendengar ucapan kakaknya, lalu menatap Reon dan Carlos yang juga menatap mereka.


"SIALAN!" umpat kesal mereka saat mengetahui hal itu.


Pantas saja mereka sulit menemukannya, ternyata orang yang mengincar mereka bukan pengusaha biasa.


"Masalah ini sudah lebih dari beban untuk kita, dia bukan orang yang bisa kita kalahkan dengan mudah. Apa kita beritahu pada orang tua kita saja," usul Reon yang mulai berfikiran terbuka dan luas.


Tiba-tiba ponsel Revan berdering dan ia pun melihat siapa yabg mengirimkannya pesan. Revan mengernyit melihat nomor baru, ia melihat pesan itu dengan malas dan terkejut melihat isi pesan tersebut.


"Akhirnya, aku menemukan kalian,"

__ADS_1


__ADS_2