
Semua tamu undangan mulai berdatangan dan menghampiri Carlos dan Felisia untuk mengucapkan selamat. Revan memilih untuk bersandar pada tembok dipojok ruangan itu, sedang Revin tengah bersama dengan Vivian dan adiknya Reana bersama dengan Ana dan Arian.
Tiba-tiba ponsel Revan berdering menandakan panggilan masuk, dengan malas ia mengangkat telfonnya tanpa melihat nomor yang menelfonnya.
"Halo," ucap Revan malas dengan wajah datarnya.
"Sudah lama tidak bertemu ya, Revan Li," ucap seseorang diseberang telfon, membuat Revan mengernyit.
"Siapa?" tanya Revan malas, masih dengan wajah datarnya.
"Menurutmu siapa?" orang itu malah balik bertanya, membuat Revan seakan ingin membantin ponselnya sekarang juga, hingga dia mendengar suara seorang wanita yang berteriak memanggil namanya.
"REVAN! JANGAN KESINI! JANGAN DATANG EMH," belum selesai berucap, mulut wanita itu sudah di bekap oleh salah satu bawahan pria yang menelfon Revan.
"Rania!" ucap Revan yang sangat mengenal suara Rania.
"Wah! Wah! wah! Ternyata mau memang sangat mencintai wanitamu ya," ucap orang itu membuat Revan berteriak hingga semua orang menoleh padanya.
"APA MAUMU SIALAN!" ucap kesal Revan dengan tangan yang terkepal kuat.
Revin, Reon dan Carlos mengernyit mendengar teriakan Revan, begitupun dengan orang tua mereka dan semua tamu undangan disana.
"Nyawamu, jika kau tidak datang ke Negara M dengan cepat, maka jangan salahkan jika wanitamu telah ternoda atau mungkin mati," ucap pria itu membuat Revan mambanting ponselnya lalu berlari dengan cepat keluar dari ruangan itu.
Revin, Reon dan Carlos segera berlari mengikuti Revan keluar dari ruangan itu, membuat beberapa tamu menatap aneh pada mereka.
"BROTHER!" teriak Revin dengan terus berlari mengejar kakaknya itu
"REVAN!" teriak Carlos dan Reon bersamaan dibelakang Revin.
Revan menghentikan langkahnya saat tiba didepan mobilnya, ia berdecak lalu berbalik dan menatap ketiga orang yang berlari menghampirinya.
"Ponselmu!" ucap Revan saat Revin tiba dihadapannya dan segera mengulurkan tangannya meminta ponsel adiknya itu.
Revin segera memberikan ponselnya pada Revan, dan pria itu denga cepat mengetik sesuatu disana yang akan dikirimkan untuk bawahannya di Negara M.
"Brother ada apa?" tanya Revin hati-hati, karena takut jika emosi kakaknya akan meledak seketika.
"Rania, Rania dalam bahaya," ucap Revan tanpa menghentikan tangannya mengetik diponsel adiknya itu.
__ADS_1
"Maksud kakak, Rania ....," Revin mengantung ucapannya dan segera mengatupkan bibirnya, lalu bergegas memasuki mobilnya, sedang Reon dan Carlos saling menatap satu sama lain.
"REVIN, BERHENTI!" teriak Revan membuat Revin menghentikan tangannya yang siap untuk menyalakan mesin mobilnya.
"Keluar dari sana!" titah Revan dan mau tidak mau Revin. menurutinya.
"Aku akan pergi lebih dulu ke negara M, kalian pastikan semua aman disini, beritahu juga pada Daddy," ucap Revan lalu segera masuk ke mobil untuk pergi ke bandara setelah mengirim pesan pada tangan kanannya untuk menyiapkan jet pribadi yang akan ia gunakan ke negara M.
Revin, Reon dan Carlos terdiam melihat mobil Revan yang perlahan-lahan menjauh dari sana.
"Ada apa?" tanya Arian yang baru saja tiba diparkiran dengan Carlson dan Rafael disampingnya.
Revin, Reon dan Carlos tersentak lalu menoleh dan menatap pada orang tua mereka.
"Rania diculik, Daddy aku harus segera mengikuti brother ke negara M," ucap Revin yang memohon pada Sanga ayah yang terlihat sedikit terkejut.
"Tetap disini, aku yang akan menyusulnya," ucap Arian, lalu segera melangkahkan kakinya untuk memasuki mobil.
Revin yang mendengar hal itu terdiam, begitupun dengan Reon dan Carlos.
"Carl, El, jaga semua orang disini. Pasti ada mata-mata disekitar kita," ucap Arian lalu segera masuk kedalam mobil, setelah melihat Carlson dan Rafael menganggukkan kepala mereka.
"Segera masuk ke dalam, Car. Kau harus menyelesaikan acaramu, istrimu menanti didalam," ucap Carlson pada putranya itu.
"Kalian juga masuklah, Revan pasti akan baik-baik saja. Karena Arian ikut bersamanya," ucap Rafael pada Reon dan Revin.
"Baik," ucap mereka bersamaan dan segera berjalan untuk kembali masuk ke dalam aula.
"Kenapa harus disaat-saat seperti ini,'' ucap Carlson dengan tangan yang memengang ponselnya ditelinganya.
"Aku berharap ini yang terakhir," ucap Rafael dan segera menoleh kesamping lalu tersenyum kecil.
"Pergi dan bereskan tikus itu," ucap Carlson tanpa menoleh pada Rafael.
Rafael segera berjalan untuk segera membereskan penganggu kecil yang tengah mengawasi mereka.
"Pergi ke negara M, dan separuhnya ke hotel tempat pernikahan Carlos. Kita harus membereskan tikus sampai selesai hari ini," ucap Carlson saat telfonnya diangkat oleh bawahannya dan segera memutuskan sambungan telfon sepihak setelah selesai mengatakan hal itu.
* * *
__ADS_1
Revan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke bandara, tempat jet pribadi yang akan membawanya ke negara M.
Ia mencengkram setir mobilnya kuat-kuat, menyalurkan rasa takutnya, takut jika terjadi sesuatu dengan Rania.
Jika hal itu terjadi, maka siapapun orang yang sudah membuat Rania terluka akan mati dengan mengenaskan. Kekuatan Revan sudah tidak seperti dua tahun yang lalu, kini dia sudah hampir menyamai kekuatan sang ayah.
"Jangan sampai terjadi sesuatu denganmu," ucap Revan dan semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sepuluh menit kemudian.
Revan mengerem mendadak mobilnya saat tiba didepan bandara dan segera keluar dari mobil, ia terdiam dan menoleh pada mobil yang berhenti dibelakang mobilnya.
"Daddy?!" ucapnya terkejut dan menatap Arian yang berjalan cepat mendekatinya.
"Kita pergi bersama!" ucap Arian dan kemudian melangkahkan kakinya memasuki bandara dengan Revan yang mengekor dibelakangnya.
"Nomor mana yang menghubungimu tadi?" tanya Arian dengan terus berjalan cepat mendekat ke jet pribadi yang sudah siap untuk terbang itu.
"Ada diponsel yang ku banting," ucap Revan membuat Arian menghembuskan nafasnya lalu segera mengambil ponsel disaku celananya, tanpa menghentikan langkahnya.
Cukup lamam berdering, akhirnya seseorang disebrang telfon mengangkatnya.
"Iya dad?" ucap seseorang yang tidak lain adalah Revin.
"Aktifkan kembali ponsel Revan, lalu cek nomor yang menelfonnya tadi. Kemudian lacak tempatnya," ucap Arian dan Revin segera mengerjakan apa yang dikatakan ayahnya itu.
"Jika sudah selesai, kirim lokasinya pada Daddy," ucap Arian, lalu memutuskan panggilan sepihak dan masuk ke dalam jet pribadi yang akan segera mmebawa mereka berdua ke negara M.
* * *
Seorang wanita terus berusaha untuk melepas ikatan tali pada lengannya, tapi sama sekali tidak bisa. Mungkin sekarang pergelangannya sudah membiru karena ikatan yang begitu kuat.
"Aku sama sekali tidak percaya, kalau kamu adalah wanita yang disukai oleh pria tidak berhati itu," ucap Seorang pria yang berdiri dihadapan Rania.
Rania menatap benci pada pria itu, sedang orang yang ditatap benci hanya tersenyum kecil.
"Setelah pria itu mati, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menikahimu," ucap pria itu membuat Rania membulatkan matanya dengan sempurna karena terkejut.
'Ya tuhan, tolong lindungi Revan, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya,' ucap Rania dalam hati dengan menunduk dan mengigit bibir bawahnya.
__ADS_1