
Reon tiba dirumahnya dengan perasaan kesal dan juga dengan raut wajah masamnya.
"Kakak kenapa?" tanya Dion yang tengah duduk diruang keluarga dengan mata yang fokus menonton film kesukaannya ditv.
"Tidak apa-apa," jawab Reon cepat kemudian berjalan mendekat kearah tangga dan naik kelantai 2.
Dion yang melihat hal itu terdiam dengan mengerjapkan matanya, tanda bingung.
"Dia kenapa lagi?" tanya Dion pada dirinya sendiri kemudian kembali fokus pada TV.
Sementara itu, Reon membuka pintu kamarnya dan masuk dengan cepat membuang ranselnya diatas tempat tidur.
"Revan sia**n, entah apa yang difikirkan oleh orang-orang tadi, teman sia**n," umpat Reon kesal, sangat kesal.
Ini pertama kalinya ia membeli hal yang ia anggap bej*t, Reon mengacak rambutnya gusar bercampur kesal.
Tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan pesan masuk. Dengan cepat Reon mengambil ponselnya yang tergeletak disamping ranselnya diatas tempat tidur.
Reon tersenyum senang saat melihat siapa yang mengirimkannya pesan.
"Halo sayang, udah sampai rumah?" isi pesan Liona yang membuat Reon tersenyum dan melupakan kejadian memalukan ditoko buku tadi.
"Iya, udah sampai nih," isi pesan Reon diiringi dengan emot senyum😊.
"Udah makan belum? ingat loh, ngga boleh telat makan, nanti sakit lagi," isi pesan Liona yang penuh perhatian, membuat Reon seakan ingin segera menikahinya.
"Makasih sayang, udah ingetin aku, ya udah aku mau mandi dulu ya, abis itu makan, kamu juga jangan lupa makan, Love you," isi pesan Reon yang membuat Liona tersenyum bahagia.
"Love you too, my Honey," isi pesan Liona membuat Reon melupakan masalahnya sejenak.
Reon pun segera membuka seragamnya dan masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Lima belas menit kemudian.
Reon keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan juga handuk putih yang melilit pinggangnya memperlihatkan perut Sixpacknya.
Saat Reon tengah memakai bajunya, tiba-tiba ponselnya berdering, menandakan pesan baru saja dikirim oleh seseorang.
__ADS_1
Reon meraih benda pipih itu masih dengan menganakan handuk tapi sudah mengenakan baju kaos berwarna hitam polos.
"Hey sia**n! buku apa yang kau beli ini? kenapa kau membeli buku lakn*t ini, bukankah aku sudah mengirimkan foto contoh bukunya, kenapa malah buku lakn*t ini yang kau beli," isi pesan Revan penuh dengan kekesalan.
Reon yang melihat hal itu kembali kesal dan dengan cepat membalas pesan teman sia**nnya itu.
"Bukankah kau sendiri yang minta untuk dibelikan buku itu .... bukan buku tapi novel sia**n itu, dan sekarang kau memarahiku, yang benar saja, coba lihat foto yang kau kirim padaku," isi pesan Reon yang begitu kesal.
Reon segera membuang ponselnya diatas tempat tidur lalu kembali melanjutkan aktifitasnya yang tadi tertunda.
Selesai memakai celana pendek rumahannya, lagi-lagi ponselnya berdering, membuatnya mau tak mau, kembali meraih benda pipih itu.
"Akh sia**n, maafkan aku, aku benar-benar tidak tau jika novel yang ia baca dengan sesekali tersenyum adalah novel lak**t, maafkan aku Reon," isi pesan Revan yang merasa bersalah pada sahabatnya itu, karena memintanya untuk membeli novel sia**n itu, yang membuat Reana memikirkan yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Dia? dia siapa?" ucap Reon tiba-tiba membelalakkan matanya, "Apa Revan sudah ...." Reon mengantung ucapannya, sungguh tidak bisa dipercaya.
* * *
Beberapa saat yang lalu.
Revan kini berada didalam kamarnya dan menaruh laptopnya diatas nakas disamping tempat tidur, karena pekerjaannya sudah selesai.
Awalnya biasa-biasa saja, hingga tiba dipertengahan cerita, membuat Revan membelalakkan matanya terkejut.
Tiba-tiba pintu kamar Revan terbuka, membuat Revan mendongak dan melihat Reana yang berdiri diambang pintu.
"Kak Aku ...." Reana mengantung ucapannya saat melihat buku yang dipengang oleh sang kakak.
Reana menatap Revan yang terkejut bergantian dengan buku itu, Reana mengelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat, sedang Revan mulau bingung harus menjelaskan pada Reana.
"Aku tidak percaya, kakak ..." ucap Reana kemudian menutup pintu kamar Revan dengan perasaan geli lalu kembali masuk kekamarnya, melupakan niat awalnya kekamar Revan.
"Reana tunggu!" teriak Revan berniat berlari mengejar Reana.
"Sia**n, Reon!" ucap Revan geram dengan melempar novel itu ke tempat sampah didalam kamarnya, lalu mengambil ponselnya mengirim pesan pada Reon.
* * *
__ADS_1
Sekarang Revan mondar mandir didalam kamarnya, berusaha untuk berfikir apa yang harus ia katakan pada adiknya yang sudah salah paham padanya.
Revan keluar dari kamarnya berjalan mendekat kearah pintu kamar Reana.
Tok ... tok ... tok.
Revan mengetuk pintu berharap agar sang adik membukanya.
"Reana kakak masuk ya?" ucap Revan didalam hati berharap agar sang adik mengijinkannya masuk.
"Masuk aja kak, ngga Reana kunci kok," ucap Reana dari dalam kamar, sedikit berteriak.
Revan pun masuk perlahan kedalam kamar Reana lalu menutu pintu dan mendekat pada adiknya itu, yang tengah duduk diatas tempat tidurnya.
"Reana ... kakak bisa jelasin semua ...." belum selesai berucap, Reana sudah menyela perkataan kakaknya itu.
"Reana ngerti kok kak," ucap Reana membuar Revan menghembuskan nafasnya dan perkataan Reana selanjutnya membuatnya terkejut bukan main.
"Reana janji ngga akan kasih tau Daddy dan Mommy, dan juga kak Revin. Jadi kakak ngga perlu khawatir, oke," ucap Reana menatap prihatin pada kakaknya itu.
Revan terkejut bukan main, kemudian dengan cepat mengenggam tangan adiknya itu.
"Kamu salah paham, Rere. Kakak tidak seperti yang kamu lihat tadi, itu semua salah paham," ucap Revan dengan raut wajah yang begitu serius.
"Salah paham gimana sih kak? orang tadi jelas-jelas kakak baca buku gituan juga, kakak tenang aja, aku ngga akan kasih tau mommy sama Daddy, dan juga kak Revin. Semua rahasia kakak aman sama Reana," ucap Reana dengan gerakan tangan seolah mengunci mulutnya.
"Reana dengarkan kakak, tadi itu kakak minta Reon untuk beli buku itu, karena kakak kira itu buku yang bagus, karena Rania senyum-senyum pas baca buku itu, jadi kakak mau baca juga," ucap Revan keceplosan menyebut nama Rania.
Reana terdiam, dengen mengerjapkan matanya berulang-ulang hingga seutas senyum terbit dibibirnya, sedang Revan jangan ditanya, ia mulai gelagapan sendiri.
"Oh jadi kakak suka sama kak Rania ya? cie yang lagi kasmaran, kok ngga kasih tau sama Reana sih kak, malah rahasiin segala," ucap Reana dengan mulut yang sengaja dimanyunkan, pura-pura kesal.
Revan yang mendengar hal itu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tersenyum kikuk pada adiknya itu.
"Ya sudah deh kak, kita kebawa yuk," ajak Reana kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan menarik tangan kakaknya itu.
Mereka pun bersenda gurau menuruni anak tangga hingga tiba diruang tamu. Reana dan Revan terdiam, saat Ana dan Revin menatap kearahnya, tidak percaya dengan hal yang baru saja mereka temukan.
__ADS_1
Sedang Arian hanya mampu menghembuskan nafasnya, ingin menjelaskan tapi takut jika hal yang sengaja dirahasiakan putranya itu terbongkar.
Revan dan Reana saling bertukar pandang satu sama lain, dan kemudian melihat kearah Ana dan Revin, hingga pandangan mereka jatuh pada sesuatu diatas meja, yang membuat Reana dan Revan membelalakkan mata mereka.