SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
RAHASIA 2


__ADS_3

Vivian terdiam mendengar ucapan Revan yang mengatakan untuk tidak memberitahukan kakaknya akan hal ini, yaitu hubungan mereka.


"Kenapa?" tanya Vivian yang penasaran.


"Tidak apa-apa, hanya saja ... aku tidak ingin dia tahu untuk saat ini. Tunggu waktu yang tepat untuk memberitahukannya," jelas Revin yang membuat Vivian mengangguk mengerti.


"Baiklah," ucapnya dan tersenyum pada Revin.


"Dasar bocah," ucap Revan yang tengah menguping percakapan dua orang itu dari dalam kamar dengan pintu yang tidak tertutup rapat.


Revin menatap Vivian lekat, membuat wanita itu mengernyit bingung.


"Kenapa liatin aku kayak gitu?" tanyanya yang membuat Revin tersenyum kecil.


"Vi ...," panggil Revin membuat Vivian menoleh padanya.


Revin perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah Vivian, saat bibirnya hampir menyentuh bibir gadis itu. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang ditutup dengan keras, membuat Vivian terkejut dan menoleh ke sumber suara.


Revin menatap malas kakaknya yang berjalan mendekat kearah sofa, setelah menutup pintu kamar dengan keras sehingga menggagalkan niatnya untuk mengecup bibir gadisnya.


Revan mendudukkan diri dengan santai disofa tunggal disamping Vivian, sedang gadis itu menatap aneh pada Revan yang seolah mengundang amarah seseorang.


'Dasar brother sialan!' umpat kesal Revin dan menatap kesal kakaknya itu.


"Vivian, bagaimana keadaan keluarga di negara S?" tanya Revan, mencoba berbasa-basi pada kekasih adiknya itu.


"Baik, kak. Semuanya baik-baik saja, tidak ada hal aneh yang terjadi," jawab Vivian dengan tersenyum.


"Bisakah kau menjauhkan wajahmu, Revin!" ucap Revan penuh penekanan pada adiknya itu, yang wajahnya masih berada begitu dekat dengan wajah Vivian.


Revin menatap malas kakaknya itu, lalu menjauhkan wajahnya dan bersandar dengan malas dan melirik kearah Vivian yang wajahnya kini merona karena ucapan saudara kembarnya itu.


Lima belas menit kemudian.


Revin menghembuskan nafas kesabarannya yang entah sudah keberapa kalinya, ia menatap malas kakaknya yang tak kunjung beranjak dari duduknya.


'Kenapa sih ngga pergi-pergu juga, jangan-jangan brother sengaja lagi, biar aku ngga bisa berduaan dengan Vivian,' ucap Revin dalam hati dan menatap tidak percaya pada kakaknya itu, yang dengan teganya menganggu kebersamaannya dengan Vivian.

__ADS_1


"Brother, apakau tidak menelfon Rania dan berbicara dengannya saja. Daripada duduk diam disini," ucap Revin membuat kakaknya itu menoleh padanya, begitupun dengan Vivian.


"Kau mengusirku?" tanya Revan yang tepat sasaran.


"Tidak, siapa bilang aku mengusirmu?!" tanya Revin, mengelak.


'Udah tau malah ngga pergi, gimana sih nih saudara!' umpat kesal Revin dalam hati.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu, membuat Revan bangkit dari duduknya untuk segera membuka pintu. Karena dia tahu siapa yang datang.


Sementara Revin menelan salivanya dengan susah payah, entah mengapa ia merasakan firasat buruk, yang mengatakan jika nyamuk akan bertambah.


"Vivian," panggil seseorang yang baru saja masuk ke apartemen Revan dan Revin.


Revin menghembuskan nafasnya kasar melihat Carlos yang berjalan mendekat kearah mereka. Kan dia benar, jika nyamuk akan bertambah.


"Kakak, bagaimana kau tau ...


kalau aku ada disini?" tanya Vivian heran.


"Kenapa kalau disini?" ucap Revin malas, dengan berusaha menahan kekesalan pada kakaknya itu.


Revan menahan tawanya, melihat wajah masam Revin saat ini. Seandainya ia bisa merekamnya, pasti akan sangat menghibur jika dia bosan.


"Tidak apa-apa sih. Hanya saja kau itu kan laki-laki, jadi sangat berbahaya meninggalkan seorang gadis diapartemen ini," jujur Carlos yang sangat mengkhawatirkan adik perempuannya.


"Tapi aku kan tidak akan menekannya, Car," ucap Revin dengan malas, 'Paling cuma ciuman aja,' lanjutnya dalam hati.


"Iya, tidak akan menekannya, Tapikan tetap saja." ucap Carlos lalu duduk ditengah-tengah antara Vivian dan Revin.


"Kenapa kau duduk disini?" ucap Revin kesal, karena tiba-tiba Carlos duduk ditengah, menajdi pemisah antara dirinya dan Vivian.


"Kenapa? Mau-mau aku. Takut ada setan gila nyangkut sama kamu," ucap Carlos membuat Revin mengernyit, sedang Revan menahan tawanya.


"Apa hubungannya, CARLOS!" geram Revin yang batas kesabarannya hampir menyampai batasnya.

__ADS_1


"Adalah, bisa saja kan, setan itu ingin memeluk seorang gadis cantik seperti adikku," ucap Carlos membuat Revin memijit pangkal hidungnya.


Revin bangkit dari duduknya, lalu berjalan memasuki dapur membuat ketiga orang itu menatap aneh padanya.


Tidak lama kemudian, Revin berjalan keluar dari dapur dengan sebotol air dingin ditangannya.


Revin meneguk air dibotol itu hingga setengah, ia kemudian berjalan mondar-mandir seperti orang yang tengah banyak masalah.


Carlos menatap Revan, seolah minta jawaban. Revan mengedikkan bahunya, tanda tidak tahu dengan apa yang membuat Revin mondar-mandir seperti orang pusing tujuh keliling.


'Bagaimana caranya untuk membuat Carlos pergi dari sini, sudah cukup hanya Brother saja yang jadi nyamuk. Jangan bertambah lagi,' ucap Revin masih dengan mondar-mandir tanpa henti dengan tangan yang memengang botol air dingin yang isinya tinggal setengah.


Pintu terbuka, membuat keempat orang itu menoleh dan mendapati Reon yang berjalan masuk mendekat ke sofa.


'Ya tuhan, kenapa kau malah menambah satu lagi nyamuk penganggu,' ucap Revin dalam hati, lalu kembali meneguk air dingin itu.


"Dia kenapa?" tanya Reon yang baru saja mendudukkan dirinya disofa panjang disamping Revan.


"Ada setan haus yang masuk kedalam tubuhnya, itu hampir 1 botol air dingin habis diminum," ucap Revan menyindir Revin.


"Tidak apa-apa menjadi setan, yang penting bukan nyamuk penganggu," ucap Revin ketus lalu kembali berjalan memasuki dapur.


"Nyamuk?" ucap Reon dan Carlos bersamaan, yang bingung dengan ucapan sahabatnya itu.


Revan hanya mengelengkan kepalanya mendengar hal itu, sedang Vivian hanya mampu terdiam dengan kepala menunduk dan menatap jarinya yang mere**s ujung kaos yang ia gunakan.


"Revan, aku ingin bertanya," ucap Reon memecah keheningan sesaat itu.


"Apa?" ucap Revan singkat.


"Tadi aku menelfon Liona, dia bilang ... katanya ada seorang pria yang menyatakan perasaan padanya disekolah. Tapi dia menolaknya mentah-mentah, dan pria itu tidak terima lalu terus menerus menganggu hari-harinya. Jadi menurutmu aku harus melakukan ....," Reon mengantung ucapannya karena menyadari jika ada Vivian disana.


"Kalau menurutku jangan, lebih baik melakukan hal kecil. Tapi jika ia tetap tidak ingin berhenti, maka lakukan saja," ucap Revan santai yang membuat Reon menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


Vivian mengernyit aneh mendengar ucapan Revan yang sedikit membingungkan baginya.


'Mereka ngomongin apa sih? Aneh banget. Apa dunia mereka itu diliputi oleh bahasa isyarat yang membingungkan untuk orang sepertiku?' ucap Vivian dalam hati dan menatap satu persatu orang disana, hingga ia menoleh kearah dapur dan terkejut melihat Revin yang tersenyum padanya.

__ADS_1


Vivian membalas senyum Revin lalu segera menundukkan kepalanya, karena wajahnya kini memerah bak tomat matang dipohonnya.


__ADS_2