SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
MEMAAFKAN


__ADS_3

Pukul 4 sore.


Revin kini duduk diatas tempat tidurnya dengan punggung yang bersandar pada sandaran tempat tidur.


Pintu terbuka membuat Revin menoleh dan mendapati sang ibu yang berjalan mendekat kearahnya dengan nampan ditangannya.


Ana meletakkan nampan itu diatas nakas disamping tempat tidur, kemudian mengecek suhu tubuh Revin.


"Udah mendingan? sekarang makan bubur ini terus minum obat," ucap Ana dengan tersenyum pada putranya itu.


"Ayolah, mom. Kenapa harus bubur hambar itu," rengek Revin dengan wajah memelasnya.


"Tidak ada bantahan, sayang. Makan ini terus minum obat, biar kamu tidak terbaring sakit lari ditempat tidur," ucap Ana membuat Revin menghembuskan nafasnya.


"Lain kali jangan lakukan itu lagi, kau membuat kami khawatir," ucap Ana dengan wajah sendunya.


Revin tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.


"Baik, mom. Tidak akan ku ulang lagi," ucap Revin kemudian mengambil bubur diatas nakas disamping tempat tidurnya, lalu memakannya dengan lahap, meski sebenarnya sangat sulit untuk masuk ke tenggorokan, karena rasanya yang hambar.


Sepuluh ment kemudian.


Revin mengetik sesuatu dilaptopnya, untuk menghilangkan rasa bosannya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan terlihat dua orang gadis remaja berjalan masuk mendekat ketempat tidurnya.


"Kakak, gimana? udah baikan?" tanya Reana yang kini duduk ditepi tempat tidur disamping Revin.


"Iya, udah mendingan kok," ucap Revin dengan mata yang menatap lekat gadis yang menunduk dihadapannya.


"Oh iya, Vivi. Aku ke kamar dulu ya, ganti baju. Terus kita main bareng," ucap Reana kemudian beranjak dari duduknya keluar dari kamar itu, meninggalkan Revin dan Vivian yang dalam keheningan.


"Bagaimana ... keadaanmu?" tanya Vivian dengan kepala menunduk.


"Baik, maaf," ucap Revin lirih dengan raut wajah bersalahnya.


Vivian yang mendengar hal itu menghembuskan nafasnya, kemudian menatap pria dihadapannya dengan tatapan ibah.


"Tidak perlu diingat lagi, itu masalalu. Lagipula aku tidak ingin mengingat hal seperti itu, jadikan masalalu saja," ucap Vivian dengan kepala tertunduk dan tangan yang meremas ujung kaos seragamnya.


Revin tersenyum kecil kemudian menatap gadis itu lekat.


"Kemarilah, ada yang ingin aku beritahu padamu," ucap Revin membuat Vivian mendongak dan mengernyitkan alisnya, kemudian berjalan mendekat kearah Revin.


Revin memberi isyarat pada Vivian untuk sedikit menundukkan kepalanya dan Vivian dengan polosnya menuruti hal itu.


Revin mendekatkan bibirnya ketelinga Vivian berniat untuk berbisik tapi yang terjadi adalah .....

__ADS_1


Cup.


Vivian terkejut saat benda kenyal itu menyentuh pipinya dan dengan cepat ia mengangkat kepalanya menjauh dari Revin, kemudian menatap horor pada pria itu yang tersenyum penuh penekanan.


"Ah, pipi suciku, dasar pria sia**n," umpat kesal Vivian dengan menyentuh pipinya.


"Hahaha," tawa Revin melihat reaksi gadis itu.


"Bukankah aku juga sudah menyentuh itu," ucapnya dengan nada jahil dan menunjuk ke bibir Vivian.


"Dasar pria mesum," ucap Vivian dan segera berjalan keluar dari kamar Revin dengan wajah merona.


Revin masih terus tertawa melihat tingkah lucu Vivian, sangat lucu menurutnya.


Tanpa Revin sadari, seseorang telah melihat semua hal yang terjadi tadi, hingga membuat orang itu tersenyum yang tidak lain adalah Revan.


Revan segera berjalan kembali ke kamarnya saat melihat Vivian yang berjalan keluar dari kamar Revin.


* * *


Revan menidurkan tubuhnya dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamarnya dengan seksama.


"Kapan aku juga bisa melakukan hal seperti itu dengan Rania ya? Tinggal beberapa bulan lagi hingga kelulusan, tunggu aku Rania," ucap Revan dengan menatap wallpaper ponselnya yang memperlihatkan wajah Rania yang tersenyum.


* * *


Arian, Revan dan Reana menatap tidak percaya pada seseorang yang duduk dihadapan mereka.


"Kau makan obat apa semalam, hingga bangun sepagi ini?" tanya Revan tidak percaya melihat Revin yang sudah duduk manis dimeja makan, bahkan sebelum dirinya.


Revin nampak berfikir kemudian menjawab, "Tidak minum apapun, hanya air putih. Kenapa?" tanyanya sedikit heran dengan pertanyaan sang kakak.


"Masa sih? Apa kemungkinan karena Vi ....," Revan menghentikan ucapannya saat merasakan kaki seseorang yang berniat menginjak kakinya.


Revan menatap datar pada Revin, yang juga menatapnya datar.


Arian dan Reana yang melihat itu, terdiam dengan mulut yang mengunyah makanan, seolah menonton film yang akan menayangkan aksi menegangkan.


Ana keluar dari dapur dengan membawa nampan ditangannya, membuat kedua saudara itu menghentikan kegiatan saling menatap itu.


* * *


Revin menghentikan motornya diparkiran sekolahnya, dimana sudah ada Carlos yang menunggunya disana.


"Pagi," sapa Carlos yang dibalas senyuman oleh Revin.

__ADS_1


"Kau kenapa? sepertinya sedang bernasib baik," ucap Carlos menebak membuat Revin menoleh padanya dengan alis yang dinaik turunkan.


Carlos yang melihat hal itu bergidik ngeri.


"Kenapa denganmu? sepertinya setelah sakit kau jadi sedikit ....," ucap Carlos dengan jari tangan yang mengukir garis miring dikeningnya.


"Sia**n kau! Aku masih waras tau, hanya saja suasana hatiku sangat baiikkk sekali," ucap Revin dengan bersiul ria.


"Oh, gitu. Revin, pacarmu itu selingkuh dengan pria lain dibelakangmu loh," ucap Carlos membuat Revin menghentikan langkahnya.


"Siapa?" tanyanya penasaran.


"Ketua kelasnya," ucap Carlos santai.


Revin hanya ber oh ria yang membuat raut wajah Carlos menjadi datar.


'Ya ampun, apa yang aku harapkan, seharusnya aku tidak memberitahunya Soal hal itu, karena pasti jawabannya hanya Oh saja,' ucap Carlos dalam hati dengan sesekali menghembuskan nafasnya.


"Kenapa kau?" tanya Revin pada Carlos yang mendadak diam saat mereka tiba didalam kelas.


"Tidak apa-apa," ucap Carlos datar membuat Revin mengernyit.


"Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Fel ....," ucapan Revin terhenti saat Carlos membekap mulutnya dengan tangan dan memberi isyarat untuk diam, dengan melirik kearah luar kelas.


Carlos menarik tangannya yang membekap mulut Revin dan kemudian menghembuskan nafasnya.


"Selamat," ucap Carlos dengan mengelus pelas dadanya.


"Bisa diam tidak! Kau hampir saja membuatku ketahuan tau!" ucap Carlos sedikit meninggikan suaranya.


"HAH, jangan bilang jika Felisia belum mengetahui jika itu kau?" ucap Revin yang mendapat anggukan kepala oleh Carlos.


Revin yang melihat hal itu terkejut.


"Yang benar saja kau! Kau tinggal serumah dengannya dan dia tidak tau jika kamu yang ....," Revin tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia memijit pangkal hidungnya pusing dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu.


'Ya ampun, aku kira hanya aku yang gila, ternyata Carlos lebih gila lagi,' ucap Revin dalam hati menatap tidak percaya pada Carlos.


"Diamlah! Hanya kamu yang tau tentang ini, aku belum memberitahukan hal ini pada Revan dan Reon, jadi hal ini masih rahasia," ucap Carlos yang hanya mampu diangguki oleh Revin.


"Jadi ... kapan kau akan jujur padanya?" tanya Revin membuat Carlos menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Soal itu ... mungkin saat aku akan menikahinya," ucap Carlos santai membuat Revin membulatkan matanya dengan sempurna seolah ingin keluar dari tempatnya.


"Dasar pria gila!" umpat Revin dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


__ADS_2