
Revin menghentikan tangannya yang mengedor pintu kamar Revan dan mencoba untuk membuka pintu yang ternyata sama sekali tidak dikunci.
Revin menghembuskan nafas kesalnya menyesal tidak mencoba membuka pintu tadi.
Revin memutar knock pintu dan perlahan-lahan membuka pintu, Revin membelalakkan matanya saat melihat bantal melayang kearahnya.
BUK
Revin memengang bantal yang mengenai wajahnya dengan kesal dan menatap kakaknya yang melihat kearahnya dengan tatapan datar.
"Ada apa?" ucap Revan singkat padat dan jelas ditelinga Revin.
Revin menghembuskan nafasnya kemudian berjalan mendekat kearah tempat tidur lalu mendudukkan dirinya ditepi tempat tidur sedang Revan menyandarkan punggungnya disandaran tempat tidur.
"Brother sedang ada masalah besarkah? kalau ada cerita padaku, aku akan menyelesaikannya dengan cepat," ucap Revin menatap kakaknya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bukan hal besar, aku akan menyelesaikannya saat tanganku sudah sembuh, jadi kau tidak perlu khawatit," ucap Revan tidak ingin membuat Revin mengkhawatirkannya.
Revin terdiam dengan kepala yang menunduk.
"Brother, aku bukan lagi anak umur 10 tahun yang suka memukul orang lalu mendapat pukulan balasan dari mereka tanpa tahu menghindar, jangan menganggapku seperti dulu, aku tahu jika kau khawatir, tapi setidaknya jangan pendam sendiri masalah itu, aku 'kan ada, untuk menjadi pendengar yang baik," ucap Revin penjang lebar menatap sayu sang kakak yang hanya terdiam dengan raut wajah yang sama sekali tidak bisa dibaca oleh Revin.
"Baiklah, jika Brother tidak ingin menceritakannya juga tidak apa-apa, aku tahu jika Brother akan memendam hal itu dan tidak akan menceritakannya pada orang lain," ucap Revin dengan tersenyum dan memaklumi sang kakak yang memang tidak ingin membuatnya khawatir.
"Apa aku pantas menyukai seseorang, Revin," lirih Revan yang masih bisa didengar oleh Revin.
Revin terdiam mendengar perkataan sang kakak yang baru pertama kali ia dengar.
"Brother menyukai seseorang? siapa?" tanya Revin dengan raut wajah terkejut.
Revan menoleh pada Revin yang menatapnya dengan tatapan terkejut yang membuat Revan seakan ingin memukul kepala adiknya itu.
__ADS_1
"Aku tidak mengatakan jika aku menyukai seseorang, aku bertanya apa aku masih pantas menyukai seseorang?" ucap Revan dengan mengulang pertanyaannya dengan nada suara kesal.
Revin terdiam mendengar ucapan sang kakak, dapat ia lihat rasa trauma dimata Revan, meski Revan dapat menutupi dari orang luar tentang rasa takutnya, tapi tidak dengan Revin dan Arian yang dapat melihat rasa takut itu dimata Revan.
Revan menghembuskan nafasnya perlahan, lalu berbicara.
"Brother ... apa kau masih trauma dengan kejadian yang menimpa Denia," ucap Revin dengan menatap wajah Revan yang mendadak pucat pasi.
"Bukankah aku sudah bilang, kalau hal itu bukan kesalahanmu, itu adalah kesalahan orang lain, para pembunuh itu yang melakukannya, bukan dirimu." ucap Revin panjang lebar yang membuat wajah Revan semakin pucat.
Revan menarik nafasnya perlahan terus menerus hingga merasa sedikit tenang, mengingat kejadian satu tahun lalu, yang membuatnya dan Revin harus menempuh hidup sebagai mafia.
"Sebaiknya Brother istirahat saja, tidak baik mengingat hal yang seharusnya dilupakan," ucap Revin kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar Revan.
Revin menutup pintu kamar Revan lalu menghembuskan nafasnya.
"Kenapa kau harus ingat hal itu disaat-saat seperti ini, apakah ini ada hubungannya dengan Rania? apa Brother menyukai Rania?" ucap Revin bertanya pada dirinya sendiri.
"Sepertinya aku harus berbicara dengan uncle Desta, kakak pasti mengetahui sesuatu tentang seseorang yang memata-matai kami saat ini, Aku harus segera menyelesaikan hal ini, jika tidak ... maka bisa saja sesuatu yang tidak terduga terjadi," ucap Revin kemudian berjalan kekamarnya untuk segera menyelesaikan pekerjaan kantor yang diberikan sang ayah padanya, baru kemudian mencari tahu, hal apa yang masih ditutupi oleh sang kakak.
"Aku tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi lagi, tidak akan pernah!" ucap Revan dengan nafas yang memburu, perasaannya benar-benar kacau saat ini.
Revan beranjak dari tempat tidur lalu segera membuka laci meja disamping tempat tidurnya. Revan mengambil botol obat didalam laci itu kemudian segera mengambil 2 butir dan kemudian meminumnya.
Revan meminum air digelas didalam kamarnya hingga tandas kemudian membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan sedetik kemudian tertidur.
* * *
Revin segera menyelesaikan pekerjaan yang diberikan sang ayah padanya, butuh waktu 1 jam untuk Revin menyelesaikan pekerjaan yang sama sekali tidak ingin disentuhnya itu.
Revin menghembuskan nafasnya lalu merengangkan otot-ototnya yang serasa kaku duduk selama 1 jam diatas tempat tidur dengan memangku laptop.
__ADS_1
"Sungguh melelahkan, bagaimana Brother bisa menyelesaikan hal seperti ini selama 30 menit, memang gila kerja," gerutu Revin dengan sesekali menghembuskan nafasnya.
Revin segera mengambil ponselnya yang terletak diatas meja disamping tempat tidur, kemudian mecari nomor seseorang lalu segera menelfon nomor itu.
Drrrt ... drrrt ... drrrt.
"Halo, Tuan Revin. ada apa?" jawab orang diseberang telfon yang tidak lain adalah Desta.
"Halo, uncle. ada yang ingin aku tanyakan, ini mengenai seseorang yang sedang mengintai kami, apa uncle tahu sesuatu," ucap Revin membuat Desta terdiam diseberang telfon.
Mendapat tidak ada jawaban, Revin kembali berbicara.
"Apa uncle berusaha untuk menyembunyika sesuatu dariku, uncle! aku tidak ingin membuat Brother berada dalam masalah lagi, jadi aku ingin menolongnya, ayolah! jangan terus merahasiakan hal seperti itu dariku," ucap Revin yang mulai tidak sabaran karena selalu saja sang kakak merahasiakan sesuatu darinya, sesuatu yang menurut Revan berbahaya dan tidak ingin melibatkan Revin atau pun yang lain.
Desta menghembuskan nafasnya perlahan, lalu berbicara.
"Maaf tuan Revin, soal itu saya ...," belum selesai Desta berucap, Revin sudah menyelanya.
"Uncle, apa kamu ingin, istrimu tahu jika kamu sering ke bar untuk minum," ucap Revin menekan kata istri membuat Desta menelan salivanya dengan susah payah.
"Tuan muda Revin, saya mohon jangan, jangan beritahu istri saya, bisa-bisa saya berada dalam masalah besar," ucap Desta dengan nada suara memelas.
"Kalau begitu, beritahu padaku, apa yang Brother sembunyikan, jika tidak maka jangan salahkan aku melakukan hal seperti apa yang aku bilang tadi!" ucap Revin dengan suara yang mulai meninggi pada Desta.
Desta terdiam dan kemudian menghembuskan nafasnya lalu mengigit bibir bawahnya dan berbicara.
"Saya minta maaf, saya lebih baik tidur diruang tamu karena dimarahi oleh istri saya, dari pada harus mengataka hal yang dirahasian oleh tuan Revan pada anda tuan muda Revin," ucap Desta yang memilih dihukum istri dari pada membeberkan rahasia yang Revan sembunyikan, palingan hanya 1 minggu saya tidur diruang tamu, mungkin begitu fikir Desta.
"Uncle ... aku mohon padamu, aku hanya ingin membantu Brother menyelesaikan masalah, aku tidak ingin dia merasa kesepian, meski dia sering berbicara dengan Daddy tentang hal yang dia sembunyikan, tapi itu jelas tidak semuanya, aku hanya ingin membantunya menyelesaikan masalah dengan cepat, ku mohon, Uncle," ucap Revin dengan nada memelas pada Desta diseberang telfon.
Desta tidak tega mendengar hal itu, ia pun menghembuskan nafasnya kemudian mengatakan hal yang ingin Revin ketahui, meski ia sebenarnya merasa bersalah pada Revan, tapi apa boleh buat, ia tidak tega mendengar Revin memohon padanya.
__ADS_1
Revin mematikan panggilan saat Desta selesai berbicara, Revin menghembuskan nafasnya berkali-kali.
"Bisa-bisanya kau merahasiakan hal sebesar ini pada adikmu sendiri, hanya karena kau takut jika aku terluka, bukan Revin namanya jika tidak bisa mengurus hal seperti ini," ucap Revin dengan tersenyum penuh arti.