
Revin, Reon dan Carlos begitu terkejut, bahkan mereka tidak menghiraukan pandangan para pengunjung yang menatap aneh pada mereka.
Mereka bertiga menatap Rania yang hanya menundukkan kepalanya dengan wajah yang merona merah.
"Kau yang benar saja, Revan!" ucap Carlos tidak percaya dengan suara yang sedikit meninggi, membuat para pengunjung kembali menatap aneh kearah mereka.
Revan tidak menjawab, ia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi tanda ia sedang tidak bercanda.
"Jadi dia benar-benar calon istrimu?" tanya Reon yang masih tidak percaya.
Revan mengerutkan keningnya, merasa kesal karena tiga pria itu tidak juga menganggap serius perkataannya.
"Rania," panggil Revan membuat gadis itu mendogak lalu menoleh kearah Revan.
Tiba-tiba Revan menarik tengkuk Rania hingga bibir mereka berdua bertemu, Revan melu**t bibir Rania lembut membuat gadis itu terkejut dengan wajah yang memerah.
Revin, Reon dan Carlos terkejut dengan mulut yang sedikit terbuka, mereka tidak percaya jika Revan berani mencium Rania ditempat umum seperti ini.
Revan melepaskan ciumannya membuat Rania segera memeluk pria itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Revan, saat ini ia benar-benar malu.
Revan tersenyum kecil lalu mengelus rambut Rania lembut, ia tahu jika gadis itu sangat malu saat ini. Ia menoleh kearah tiga orang yang masih menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Tutup mulut kalian, nanti ada lalat yang masuk," ucap Revan menyadarkan ketiga pria itu yang segera mengatupkan mulut mereka.
"Tidak waras," ucap Revin pada kakaknya itu.
"Gila!" umpat Reon kesal.
"Pedofil!" ucap Carlos kesal membuat Revan terdiam sejenak, lalu menatap Revin yang membeku dengan wajah merah padam menahan emosi agar tidak memukul kepala sahabatnya itu. Karena jujur, kata-kata itu tepat mengenai jantungnya dan lebih parahnya lagi, itu diucapkan oleh calon kakak iparnya.
Revan menahan tawanya membuat tubuhnya gemetar, dan hal itu membuat Rania mendogak dan menatap wajah Revan yang juga menatapnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar keterlaluan, Revan! Bagaimana mungkin kau tidak memberitahu kami lebih dulu, dan memilih merahasiakannya!" ucap kesal Reon, lalu menghentikan ucapannya saat pelayan membawa pesanan mereka.
Mereka berlima terdiam sejenak, menanti pelayan itu selesai menyusun pesanan mereka diatas meja.
Pelayan itu sedikit membungkuk, lalu berbalik untuk mengerjakan yang lain. Setelah kepergian pelayan itu, Revan diserbu dengan begitu banyak kata-kata kemarahan dari sahabatnya, membuat Rania hanya mampu melihat tidak bisa berbicara lagi.
"Sangat-sangat keterlaluan. Dasar pedofil! Kau sudah mengotori otak seorang gadis manis seperti Rania. Apa pria pedofil ini mengancammu Rania? Pria pedofil ini pasti telah mengotori otakmu kan?" ucap Carlos kesal dengan tidak henti-hentinya memanggil Revan pedofil, padahal usia Revan dan Rania hanya berbeda 2 tahun saja.
Revan hanya menahan tawanya, karena ia sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Carlos. Revan malah sangat menikmati wajah adiknya yang begitu kesal pada Carlos karena terus-menerus menyebut pedofil.
"Carlos, bisakah kau berhenti menyebutkan kata-kata itu. Jika kau tidak berhenti juga, maka aku akan membuatmu jalan kaki dengan mendorong motormu pulang kerumah!" ancam Revin dengan tangan terkepal kuat, kali ini ancamannya sungguh-sungguh. Ia sudah bosan mendengar Carlos menyebut kata pedofil, sungguh ia merasa seperti om-om berotak mesum yang menyukai anak berusia 10 tahun.
Carlos terdiam, ia takut melihat raut wajah Revin yang begitu menyeramkan. Ia menghentikan ocehannya dan memilih untuk memakan makanan dihadapannya dengan lahap.
Sedang Reon mengerutkan keningnya, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa sahabatnya itu seperti marah besar ketika Carlos menyebut kata pedofil, padahalkan itu bukan ditunjukkan untuk dirinya. Tapi kenapa ia yang tersinggung! Seolah ia menyukai gadis dibawah umur.
Rania hanya terdiam melihat hal yang terjadi dihadapannya, Revan mengusap puncuk kepala Rania, membuat gadis itu menatapnya.
Revan tersenyum manis pada Rania, sedang tiga orang dihadapannya berusaha untuk menahan umpatan yang ingin keluar dari mulut mereka.
'Kapan aku juga bisa bermesraan seperti ini dengan Felisia ya? Tanpa harus mengenakan kacamata bulat dan pakaian cupu itu, aku sudah rindu lagi padanya. Padahal aku baru saja menelfonnya tadi,' ucap Carlos mendesah frustasi.
'Apa wajah Vivian juga akan merona saat aku melakukan hal romantis padanya? Entah bagaimana caraku untuk mengungkapkan perasaanku padanya, aku berharap agar dia tidak marah saat aku mengatakan hal itu,' ucap Revin dalam hati dengan termenung memikirkan reaksi Vivian saat ia mengutarakan isi hatinya.
* * *
Dua puluh menit kemudian.
Kini mereka bersiap untuk pulang, setelah menghabiskan semua pesanan mereka tadi.
"Akhirnya aku bisa menguras uang Revan untuk membayar makanan," ucap Carlos penuh kemenangan saat mereka keluar dari cafe itu.
__ADS_1
Revan hanya berwajah datar menanggapi ucapan sahabatnya itu, ia memilih untuk terus menarik lembut tangan Rania mendekat kearah motornya.
"Hati-hati dijalan!" teriak Carlos yang hanya diabaikan oleh Revan.
Revan akan mengantar Rania pulang terlebih dahulu, karena hari ini sudah cukup untuknya menghabiskan waktu bersama dengan Rania, hari pun sudah menjelang sore dan sudah waktunya bagi mereka kembali kerumah.
Revin, Reon dan Carlos mendekat kearah motor mereka yang terparkir ditepi jalan. Mereka menatap motor Revan yang berlalu pergi untuk mengantar Rania pulang.
Saat Revin berniat naik ke motornya, sebuah mobil berwarna hitam melintas disamping motornya dengan jendela mobil yang sedikit terbuka.
Revin mengernyit saat melihat tatapan pria didalam mobil tersebut yang terkejut melihatnya, Revin mengerutkan keningnya, lalu melihat plat nomor mobil itu. Karena sepertinya ia menemukan seseorang yang mencurigakan.
"Revin! Sampai kapan kau akan melamun!" ucap Carlos yang menyadarkan Revin lalu menoleh pada pria yang sudah duduk cantik diatas motornya itu.
"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Carlos pada Revin, membuat Reon menoleh kebelakang untuk melihat kedua sahabatnya itu.
"Tidak ada, ayo!" ucap Revin lalu memakai helmnya dan naik ke motornya, bersiap untuk kembali kemansion dengan beberapa hal yang harus ia selidiki.
* * *
Dua puluh menit kemudian.
Mereka bertiga tiba dirumah dan segera memasukkan motor mereka ke garasi, mereka kemudian turun dari motor masing-masing, berniat untuk masuk kedalam rumah. Tapi suara motor Revan yang baru masuk garasi, membuat mereka bertiga menoleh.
"Bagaimana? Kau tidak sengaja mengerem mendadak dijalankan?" ucap Carlos menggoda pria yang tengah membuka helmnya itu.
Revan hanya menatap malas pada Carlos, dan kemudian tatapannya terhenti pada Revin yang terdiam tanpa ekspresi.
Revan turun dari motornya dan berjalan mendekat kearah tiga orang itu dan memilih untuk merangkul bahu adiknya, menyadarkan Revin dari lamunannya.
"Kita bicarakan dikamarku," ucap Revan lalu berjalan dengan merangkul bahu adiknya itu.
__ADS_1
Reon dan Carlos hanya terdiam, lalu mengedikkan bahu mereka, tanda tidak tahu apa yang sedang difikirkan kakak adik itu.
Mereka pun berjalan dibelakang Revan dan Revin untuk segera masuk kekamar masing-masing.