SON OF THE RULER (S 1 & 2 )

SON OF THE RULER (S 1 & 2 )
BERBAHAYA


__ADS_3

Pukul 6 pagi.


Revan mengeliat dari tidurnya kemudian mendudukkan diri diatas tempat tidur. Revan turun dari tempat tidur; kemudian berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dua belas menit kemudian.


Revan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, Revan segera memakai kemeja dan juga celana kainnya, hari ini ia akan berpenampilan layaknya bos besar.


Sebenarnya Revan sangat malas memakai pakaian formal seperti ini, tapi karena ia harus datang keperusahaan sang ayah dan baru pulang ketika sore, maka ia tidak punya pilihan selain berpakaian formal.


Revan keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi, kecuali rambutnya yang sedikit acak-acakan, karena ia tidak terlalu suka memakai pomade.


Revan berjalan keluar dari apartemen, pagi ini ia akan sarapan diapartemen Kimso dilantai 1.


Revan menutup pintu apartemen kemudian berjalan ke lift, Revan memasuki lift dengan wajah datarnya.


'Apa sebaiknya aku membeli bahan makanan ya, aku merasa merepotkan bibi dan paman,' ucap Revan dengan sesekali menghela nafasnya panjang.


Ting


Pintu lift terbuka, Revan berjalan kearah pintu apartemen milik Kimso, Revan menghentikan langkahnya didepan pintu apartemen kemudian memencet bel.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka, memperlihatkan Fira yang memakai celemek dengan senyum diwajahnya.


Fira mempersilahkan Revan masuk kemudian segera berlari kearah dapur, meninggalkan Revan yang terdiam diruang tamu.


Revan berniat mendudukkan diri disofa, hingga tiba-tiba ia mendengar suara dari dalam kamar yang tidak jauh dari ruang tamu.


Revan berjalan mendekat kearah pintu kamar berwarna putih itu. Revan terdiam sejenak kemudian memengang knock pintu itu dan membukanya.


"Ibu, tolong Rania, Bu. ini rambut Rania ngga bisa diatur," ucap Rania dengan berusaha untuk menyisir rambutnya yang mendadak sulit sekali diatur.


Rania menoleh kearah pintu kamarnya yang terbuka, dan terkejut ketika melihat Revan berdiri diambang pintu dan melihat kearahnya.


Revan berjalan perlahan memasuki kamar Rania dan mendekat kearah gadis itu, yang sudah mengenakan seragam sekolahnya.


Rania menelan salivanya dengan susah payah, saat Revan semakin mendekat kearahnya.


Revan meraih sisir yang dipengang oleh Rania kemudian menyisir rambut Rania pelan. Rania hanya diam dengan wajah yang merah bak tomat matang dipohonnya.


'Bagaimana aku bisa move on, kalau begini? ya tuhan, kenapa dia begitu perhatian padaku, itu benar-benar membuatku sulit untuk melupakannya,' ucap Rania dalam hati dengan sesekali mencuri pandang kearah Revan yang memperlakukannya dengan lembut.

__ADS_1


Revan menyisir rambut Rania yang kusut itu, dengan begitu lembut, dan akhirnya selesai.


Revan menatap wajah Rania yang menunduk dengan kuping yang memerah.


Revan mendekatkan wajahnya perlahan kewajah Rania. Rania mendongak dan terkejut ketika wajah Revan sangat dekat dengan wajahnya.


Rania seperti terhipnotis melihat iris mata Revan yang begitu menangkan, dan bahkan tidak sadar jika bibir Revan sudah menempel dibibirnya.


Rania terkejut dan mematung ditempatnya, Revan hanya mengecup singkat bibir Rania kemudian menaruh sisir diatas meja didepan mereka, lalu keluar dari kamar Rania, meninggalkan Rania yang masih mematung ditempatnya.


Rania menyentuh bibirnya dengan tangan yang gemetar.


"Di ... dia melakukan .. itu," ucap Rania dengan raut wajah terkejut.


Beberapa saat kemudian.


Saat ini, Kimso, Fira, Revan dan Rania tengaj duduk dimeja makan dan memakan sarapan mereka dengan keadaan yang cukup hening.


"Jadi Revan, apa saja yang ingin kamu ketahui tentang perusahaan Daddymu?" ucap Kimso memecah keheningan yang begitu mencengkam.


"Aku akan mengetahuinya dikantor nanti, paman dan juga ... aku ingin membicarakan penting denganmu," ucap Revan membuat Kimso menatapnya.


Rania hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Revan atau pun meliriknya, karena hal yang terjadi beberapa saat yang lalu, akan kembali keingatannya, jika melihat wajah Revan.


Selesai sarapan, Revan, Kimso dan Rania pun berpamitan pada Fira untuk segera berangkat.


Revan memutuskan untuk mengunakan motor keperusahaan, dan menunggu Kimso dibasemant, karena Kimso akan mengantar Rania terlebih dahulu.


Revan ingin menawarkan diri, tapi melihat Rania yang sama sekali tidak ingin melihat kearahnya, membuatnya mengurungkan niatnya.


Tiga puluh menit kemudian.


Saat ini, Revan dan Kimso berada diruangan Presdir diperusahaan Arian, ruangan kebesaran milik Arian.


"Ini adalah semua berkas yang perlu diselesaikan hari ini, dan ini semua data-data yang perlu kamu periksa," ucap Kimso dengan meletakkan setumpuk berkas dimeja kebesaran Arian dengan Revan yang duduk dikursi kebesarannya.


"Terima kasih, paman," ucap Revan dan Kimso hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, aku ingin bertanya pada, paman," ucap Revan membuat Kimso menatapnya.


"Apa daddy memiliki musuh dinegara S ini," ucap Revan membuat Kimso mengernyit.

__ADS_1


"Daddymu memiliki musuh dimana-mana, terutama dinegara S ini, tapi jarang dari mereka yang ingin mengusik daddymu, karena ia adalah cucu seorang jendral, dan juga orang yang cukup ditakuti," ucap Kimso dengan menatap Revan serius.


"Ada apa?" tanya Kimso dengan raut wajah seriusnya.


Revan menghembuskan nafasnya kemudian menatap Kimso dan mulai menceritakan semua hal yang terjadi belakangan ini, tentu saja Revan tidak menceritakan hal yang menimpa Rania hari itu.


Kimso terkejut mendengar cerita Revan, ia benar-benar tidak tahu, jika hal seperti ini akan terjadi.


"Sepertinya, orang yang kalian hadapi, adalah orang yang cukup berbahaya," ucap Kimso membuat Revan tersentak.


"Maksud paman?" tanya Revan mencoba memperjelas hal yang dimaksudkan oleh Kimso.


"Jika kalian sangat sulit untuk menemukan orang itu, itu berarti dia berbahaya, hanya beberapa orang saja yang berani menantang daddymu, soal dia siapa, aku tidak bisa menebaknya, tapi kita harus tetap hati-hati, sekarang keselamatan kalian masih bisa dibilang aman, tapi untuk selanjutnya kita tetap harus waspada, kau tenang saja, paman akan membantumu menemukan orang itu, karena penganggu harus disingkirkan," ucap Kimso dengan raut wajah seriusnya.


Revan menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Kimso.


"Sebaiknya hal ini harus diberitahukan pada kak Arian, agar hal yang tidak diinginkan, tidak terjadi," ucap Kimso membuat Revan sedikit berfikir.


"Baik, paman!" ucap Revan dan Kimso pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu ya, masih ada beberapa berkas yang harus aku ambil untuk kamu periksa," ucap Kimso dan kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.


Pukul 3:45 siang.


Revan selesai dengan pekerjaannya, kini penampilannya benar-benar berantakan, dengan rambut yang semakin acak-acakan.


"Aku tidak percaya, jika kamu dan Daddymu ternyata 11/12 ya," ucap Kimso dengan terkikik, melihat Revan yang ternyata tidak jauh berbeda dengan Arian.


Revan hanya tersenyum kecil mendengar hal itu, ia pun bangkit dari duduknya, lalu berjalan kearah pintu.


"Kalau begitu, aku pamit dulu, paman. aku yang akan menjemput Rania disekolahnya," ucap Revan lalu tersenyum pada Kimso dan keluar dari ruangan itu.


Revan tiba didepan motornya setelah tadi melewati para karyawan yang menatapnya penuh minat, Revan naik kemotornya kemudian memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya, lalu melajukannya meninggalkan basemant perusahaan.


Lima belas menit kemudian.


Revan menghentikan motornya didepan gerbang sekolah Rania, Revan membuka helmnya lalu melihat kesegala arah, untuk mencari Rania.


Revan mengernyitkan alisnya saat melihat sesuatu yang mendadak membuatnya marah, hingga mengepalkan tangannya.


"Sia**n," umpat Revan kemudian turun dari motornya dan berjalan kearah Rania dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2