
Pesawat telah mendarat disalah satu bandara pribadi milik keluarga Su, di Negara S.
Enam orang turun dari pesawat, dengan seorang pria parubaya yang berjalan didepan, dan asisten disampingnya, dan empat pria dibelakangnya.
"Aduh, ternyata capek juga ya, duduk terus didalam pesawat," ucap seorang pria dengan merengangkan ototnya, yang tidak lain adalah Carlos.
"Apa kalian sama sekali tidak merasa sakit pinggang kah?" tanyanya pada ketiga sahabatnya yang menoleh padanya dengan tatapan datar.
"Tidak!" ucap Revan, Revin dan Reon bersamaan.
Mereka pun berjalan mendekat kearah dua mobil yang sudah terparkir diluar bandara.
Revan menghentikan langkahnya sebelum tiba disamping mobil itu, ketiga pria itu menoleh padanya, sedang sang kakek telah tiba disamping mobil dan siap untuk masuk.
"Ada apa brother?" tanya Revin heran karena Revan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Tidak apa-apa," ucap Revan lalu berjalan mendahului ketiga orang itu, yang menatap aneh padanya.
Revan menghampiri Daenji yang siap untuk masuk kekursi samping kemudi.
"Grandpa!" panggil Revan sedikit berteriak dan berlari kecil menghampiri Daenji.
Daenji menoleh dan menatap bingung pada Revan yang kini berdiri dihadapannya.
"Ada apa?" tanya Daenji dengan raut wajah seriusnya.
"Aku tidak bisa satu mobil dengan Grandpa," ucap Revan membuat Daenji terdiam, "Aku ingin ke suatu tempat terlebih dahulu, aku akan kembali sebelum pukul 6 sore," lanjutnya membuat Daenji nampak berfikir sejenak.
Revin, Reon dan Carlos yang mendengar hal itu terdiam, dan kemudian saling bertukar pandang satu sama lain, bertanya pada diri sendiri.
"Baiklah, kau bisa mengunakan mobil itu. Tapi ingat untuk pulang jam 6 tepat," ucap Daenji dan Revan segera mengangguk mengerti.
"Brother, aku ....," ucap Revin yang terhenti kala mendengar Daenji berdehem, yang membuat ketiga pria itu menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1
Revan segera masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesinnya dan melajukannya meninggalkan tempat itu, untuk ke suatu tempat yang kini membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"Kalian bertiga, masuk!" titah Daenji menyadarkan ketiga remaja itu.
Revin, Reon dan Carlos segera masuk kedalam mobil dan duduk dikursi penumpang dengan sesekali menelan salivanya dengan susah payah.
Mobil melaju meninggalkan bandara itu, dengan diikuti oleh 2 mobil hitam dibelakang mereka, yang tidak lain anak buah Daenji yang akan mengawal mereka hingga tiba dirumah.
'Aku tiba-tiba merasakan firasat buruk,' ucap Revin dalam hati dengan menelan salivanya dengan susah payah.
'Apa keputusanku sudah benar?' tanya Reon dalam hati pada dirinya sendiri.
'Aku berharap apa yang aku putuskan ini tidak akan salah, aku bahkan harus terpisah jauh dari Felisia, jika hal ini buruk, maka aku akan berteriak frustasi,' ucap Carlos dalam hati dengan melirik kedua sahabatnya yang juga meliriknya.
Mereka bertiga menelan saliva mereka dengan susah payah.
'Kami berharap ini seperti uji nyali didalam rumah hantu,' ucap mereka bertiga dalam hati dengan meneguhkan hati dan raga mereka.
"Kalian bertiga!" ucap Daenji tiba-tiba membuat tiga remaja itu tersentak.
"Reon dan Carlos, kalian juga bisa memanggilku seperti Revan dan Revin, jangan sungkan, mengerti!" ucap Daenji pada Reon dan Carlos, dan segera diangguki oleh dua remaja itu.
"Aku akan memberi tahu kalian sesuatu, aku juga akan memberi tahu hal ini pada Revan nanti," ucap Daenji membuat ketiga remaja itu lagi-lagi menelan saliva mereka dengan susah payah.
"Mulai besok, kalian tidak akan keluar dari mansion sesuka hati, kalian hanya akan keluar seminggu sekali, hal itu akan terjadi bahkan jika kalian sudah masuk universitas 1 bulan lagi, kalian hanya akan keluar setiap libur, jika hari lain tidak bisa!" ucap Daenji penuh penekanan.
"WHAT!" teriak mereka bertiga yang begitu terkejut.
"Yang benar saja Grandpa?" ucap Revin tidak percaya sedang kedua sahabatnya itu mulai memengang kepala masing-masing, yang seakan ingin pecah mendengar tidak boleh keluar dari mansion kecuali hari libur.
"Iya, dan oh iya satu lagi ...," ucap Daenji mengantung ucapannya, membuat ketiga pria itu kembali menatapnya, sedang sang sopir hanya terdiam dan fokus pada jalan didepan.
"Kalian harus bangun pagi, untuk merengankan otot-otot kalian, agar tidak tertutup lemak," ucap Daenji yang membuat ketiga pria itu terdiam, bahkan mulut mereka sedikit terbuka mendengar hal itu.
__ADS_1
"Yang benar saja, Grandpa. Bahkan tanpa berolah raga sehari pun, ototku tidak akan kaku," ucap Revin dengan sedikit meninggikan suaranya, karena apa yang ia katakan benar adanya.
"Tidak ada bantahan! Jika kalian ingin kembali ke negara A, sudah terlambat! Karena aku tidak akan mengantar kalian kembali kenegara A, kecuali jika kalian sudah lulus nanti," ucap Daenji yang tidak terbantahkan, membuat ketiga remaja itu bungkam seketika.
'Mama, maafkan aku. Apakah ini karma karena telah berbohong padamu, kalau iya maka ampuni aku mama,' rengek Carlos dalam hati dengan mengigit bibir bawahnya.
'Papi, ternyata kau memang selalu berkata benar, maafkan aku yang tidak mendengar ucapanmu malam itu, maafkan aku papi, aku menyesal,' sesal Reon dalam hati yang tubuhnya sudah gemetar menahan emosi yang siap meledak kapan saja.
'Mommy, aku rindu ingin pulang. Daddy harusnya kau mengatakan jika Grandpa Army lebih kejam dari yang ku tau, aku menyesal mengikutimu Brother,' tangis Revin dalam hati.
Kini mereka bertiga menyadari, jika penyesalan memang selalu datang belakangan, sungguh nasib sial yang akan dimulai hari esok.
* * *
Sementara itu, Revan menghentikan mobilnya diparkiran dan segera turun. Revan berlari kecil mendekat kearah danau, tempat ia dan Rania terakhir kali bertemu hari itu.
Revan berjalan pelan saat tiba ditempatnya dan tidak melihat seseorang yang ia cari, Revan melihat sekeliling dan tidak menemukan gadis yang membuatnya tidak bisa tidur setiap malam tanpa melihat foto gadis itu terlebih dulu.
Revan menghembuskan nafasnya lelah dengan kepala yang menunduk, ia mengepalkan tangannya kemudian berbalik berniat untuk pergi dari sana.
Belum ada tiga langkah Revan melangkahkan kakinya, ia terdiam melihat seseorang yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan terkejut.
Revan tersenyum melihat seseorang yang kini berdiri dihadapannya, seseorang yang sangat ia rindukan, ia berjalan pelan mendekat pada gadis itu, gadis yang sudah menempati seluruh hati dan fikirannya.
"Aku fikir kau tidak datang," ucap Revan saat tiba dihadapan gadis itu yaitu Rania.
Rania bingung harus mengatakan apa, ia tidak mampu berkata-kata lagi, ia mengigit bibir bawahnya saat melihat Revan yang kini berdiri dihadapannya dengan tersenyum.
"Jangan digigit, nanti akan luka tau," ucap Revan dengan tersenyum dan menyentuh pipi Rania dan tiba-tiba memeluk gadis itu.
Rania semakin terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, ia mencoba menyadarkan dirinya dan terus bertanya dalam hati, apakah yang ia rasakan ini mimpi atau bukan.
"Aku merindukanmu, aku sangat-sangat merindukanmu. Aku fikir kau tidak datang, hampir saja aku pergi kerumah paman dan bibi, untuk segera membawamu ke kantor catatan sipil," ucap Revan lirih yang masih dapat didengar Rania meski samar.
__ADS_1
Rania membalas pelukan Revan dan terisak, ia tidak percaya jika akan benar-benar bertemu dengan Revan. Hampir setiap hari sejak hari itu, ia selalu datang ke danau ini, berharap agar Revan hadir disana, berharap agar apa yang dikatakan oleh pria itu, bukan kebohongan, dan akhirnya penantiannya terbalaskan.